Only You #22 Sehabis berbicara dengan Armin, Adrian menghubungiku jika ia menemukan sesuatu di akun twitter milik Arjun. "Kau harus melihat sendiri," katanya. Kudownload aplikasi twitter terlebih dahulu di iPad peninggalan Arjun. Setelah terdownload aku masuk ke dalam twitter dengan salah satu akun google milik Arjun yang Adrian berikan padaku. Setelah masuk kedalam akun twitter milik Arjun, aku mengklik profilenya. "Asem!" Umpatku, "kenapas sih? Si Adrian ga bilang langsung!" Ternyata di akun milik Arjun berisi beberapa twit porno. Tidak kaget sih, jika Arjun menonton porno. Memang kebanyakan cowok juga menonton film-film biru ini di twitter. Aku hanya tak ingin melihatnya. Ilfil rasanya melihat orang telanjang sambil bergulat. { kalo cuma porno kenapa ga bilang langsung aja? Ga penting! Udah tau aku jika cowok-cowok pake akun twitter buat nonton film porno!! } ketusku pada Adrian. { lu kayaknya perlu disekolahin ke Auschwitz* bentar deh, biar ga nethink mulu sama belajar sabar } { Iya! Memang porno! Tapi bukan porno! Temanmu si Arjun tidak hanya menonton porno cuma buat melepaskan nafsu! Tapi dia juga berusaha mencoba menjadi normal } { maksudmu? } aku tidak mengerti wa Adrian. { dia mencoba menonton film porno straight buat mencoba apakah itu bisa berhasil mengubah orientasi seksualnya. Arjun menontonnya bukan untuk bahan bacol! dia ingin mengetes apakah menonton film porno straight bisa membuatnya menyukai perempuan } { darimana kamu tahu jika niat Arjun begitu? } { baca DM twitternya, ada komunitas online yang membahas orang-orang sakit disana } Aku kembali ke akun twitter Arjun, membuka ikon surat dan menemukan DM komunitas yang dimaksud Adrian. Komunitas online ini tidak hanya membahas kaum lagiebete, juga berbagai masalah lainnya. Ada beberapa anak yang ingin sembuh karna suka menggigit kuku-kukunya hingga hampir habis. Ada yang curhat jika ia memiliki jiwa psikopat karna suka membunuh ayam tetangganya sampai menyiksa kelinci milik adiknya. Kenapa Arjun selalu mencoba mencari solusi lewat online? Orang-orang networld ini bukanlah pakarnya. Mereka tidak memiliki kredibiltas hanya karna mereka bisa menuliskan saran yang terdengar menyakinkan. Arjun butuh pertolongan! Tapi bukan dari orang-orang networld. Arjun meminta saran, apakah ia bisa menyembuhkan dirinya dari gay menjadi normal, dan orang-orang ini malah menyuruh Arjun menonton film porno. "Itu tidak akan mengubah apapun Arjun!" Andai saja aku tak pernah pergi, meninggalkan Arjun sendirian tiap kali Arjun terlibat masalah. Mungkin Arjun tidak akan mengalami sebagian penderitaan yang pernah ia alami. Seperti dulu waktu aku memfitnahnya mencuri uangku, aku malah pergi dan pindah sekolah. Aku memang seorang pengecut. Selalu pergi meninggalkannya ketika ia butuh. Kuberanikan diri kembali ke beranda tweet-nya Arjun, melihat tweet yang di re-tweet Arjun. Ada lima belas film porno pendek yang telah Arjun tonton, hanya ada satu porno sesama jenis. Aku hanya melihat thumbnail-nya saja tidak membukanya sambil men-scrolling sampai bawah. Film-film porno ini tidak menyelamatkan Arjun. { sudah kau cek? } wa Adrian membuyarkan lamunanku tentang Adrian yang sedang frustasi menangani orientasi esksualnya yang menyimpang. { sudah, kau benar } balasku. { aku memang selalu benar! Kau mau mendengar sebuah cerita? } { cerita apa? } aku sok penasaran. { ada berita di India, ada seorang anak lelaki yang diperkosa ibunya sendiri karna ketauan gay, bisa kau bayangkan itu? Mengerikan sekali pokoknya. Ibunya berpikir jika anaknya bisa merasakan lebih nikmat lubang wanita dari pada lubang anus maka anaknya akan jadi sembuh, dan normal lagi } aku sama sekali tidak tahu jika Adrian juga suka cerita semacam ini. { jadi menurutmu, jika dulu aku memperkosa Arjun maka Arjun akan sembuh? Begitu maksudmu? Cukup Adrian! } sumpah! Berita dari Adrian sama sekali tidak membantu. Hanya memperburuk mood-ku saja. { kau ini kenapa sih? Tentu saja tidak. Aku cuma mau bilang jika sekarang India mulai gencar-gencarnya melegalkan lagibete, dan komunitas pelangi ini menang! Pacar anak yang diperkosa ibunya sendiri melaporkan ibu itu ke polisi! Atas tindak kekerasan terhadap anaknya. Yeah, well, dunia ini memang sudah gila! } { terima kasih untuk bantuanmu hari ini Adrian, kayaknya cukup untuk hari ini obrolan kita. Aku capek banget. Mau istirahat dulu } ini pesan terakhirku umtuk Adrian hari ini. Aku tidak akan membuka wa nya lagi sampai besok. ***** Ayah pernah berkata, dia tidak pernah percaya pada istilah "jatuh cinta pada pandangan pertama" sampai ayah bertemu dengan ibuk saat reuni kampus. Akupun juga tidak mempercayainya, cintaku pada Arjun tumbuh bebarengan dengan persahabatan kami yang terjalin selama bertahun-tahun lamanya. Arjun satu-satunya lelaki yang memperlakukan wanita setara dengan kedudukan pria yang pernah kukenal. Arjun sama sekali tidak patriaki, itulah yang membuatku merasa jatuh hati pada Arjun. Mungkin jika diriku tidak pernah mengalami jatuh cinta pada pandangan pertama, mungkin aku mengalami istilah yang lain, "jatuh cinta pada pendengaran pertama." Sejak obrolan pertama kami, aku dan Armin mengembangkan hubungan kami semakin lebih dekat. Adrian sampai sekarang belum kuberi tahu, mungkin tak perlu, lagian Armin masih ada kaitannya denganku karna Arjun sering bercerita tentangku padanya sementara Adrian hanya orang luar di lingkaran ini. Beberapa kali kami melakukan video call dan kami bisa saling melihat wajah kami. Armin berusia dua puluh tiga tahun, sebagian diriku berkata jika ia masih terlalu tua dan aku terlalu muda, bagian diriku yang lain mengatakan jika usia bukanlah batasan menjalin sebuah hubungan. "Apakah kamu masih single?" Kucoba memberanikan diri bertanya. [ ya, aku masih single ] "Kenapa? Kau terlalu tampan untuk jadi single," selorohku. [ bagaimana denganmu? ] Armin nampak meneguk kopinya. Kelihatannya ia sedang duduk santai di sofanya. "Aku single, juga. Kupikir aku masih terlalu muda untuk pacaran, ayah bilang fokus pendidikan dulu." Meski ini tidak sepenuhnya benar sih, aku pernah pacaran dengan Aziz sebelumnya. Aziz pria yang baik, hanya kurang cocok dengan kepribadianku. Aziz terlalu mendalami hidup harus berpakain necis dan eksis. Kemana-mana harus rapi, harum dan tampan. Aku tak bisa menirunya selama dua puluh empat jam harus selalu nampak bak Cinderella. [ yah, ayahmu benar kok ] "...." tak tahu harus berkata apa, jadi aku hanya bisa tersenyum memandanginya. [ bukankah ini sudah tengah malam disana? ] ucap Armin, tak ingin ini jadi awkward. "ya, ini sudah pukul setengah satu pagi, disini." [ kurasa aku harus membiarkanmu tidur ] "Kurasa aku akan pergi tidur sekarang. Terima kasih telah menelponku. Terima kasih atas waktumu." [ me too, thanks for your time. See you soon! ] "Bye..." [ Bye bye... ] setelah mendengar ucapan goodbye dari Armin, kututup teleponnya. Selang beberap detik, Armin menulis pesan ucapan selamat malam padaku: { Danke } { schlaf gut } { süße Träume heute Nacht 🤗✨ } Terima kasih Semoga tidurmu nyenyak Semoga mimpimu indah { Thank you! Wish you wonderfull night, handsome } balasku pada Armin, setelah kami memgobrol selama tiga jam lamanya di Skype. Armin memiliki mata biru ke abu-abuan, rambutnya cokelat terang. Diseluruh bagian wajah bawahnya mulai dari area bawah hidung, dagu, pipi bawah dipenuhi bulu jenggot. Bibir Armin pink alami, khas orang luar dengan kulit putih kemerah-merahan karna saking putihnya. Armin membuatku galau untuk memilih, antara les atau langsung pergi ke Jerman. Seharusnya aku mengambil les bahasa Jerman terlebih dahulu sebelum pergi ke Jerman, tapi Armin bilang ia tak akan ada punya waktu untukku saat musim gugur dan dingin datang nanti. Ia akan terlalu sibuk bekerja nantinya. ***** Hari selasa pagi aku menghubungi pihak Goethe Institut Bandung untuk menanyakan informasi soal kursus bahasa Jerman. Goethe yang berada di Bandung juga jadi salah satu list tempat tujuanku. Sebenarnya sih, aku memilih tempat ini bukan hanya ada hubungan langsung dengan pihak pemerintahan Jermannya, yang menyediakan tempat untuk mendapat sertifikat berbahasa Jerman yang diakui Kedutaan Besar Jerman. Aku ingin mandiri, sendiri, tanpa ibuk dan ayah mengawasi. { aku akan pergi les bahasa Jerman terlebih dahulu, kurang lebih sebulan } kukirim pesan itu pada Armin. Setidaknya aku punya sertifikat hasil belajar bahasa Jerman. Ayah dan ibuk pasti tak akan percaya apalagi mengizinkanku jika aku langsung terbang ke Jerman. Sementara itu, Adrian dan aku juga sedang merencanakan untuk pergi ke Ngawi. Aku tidak akan bisa ke Ngawi jika aku mengambil les di Surabaya. Ini salah satu alasan lain yang melatar belakangi rencanaku untuk les di Bandung. Entah apa yang kucari dan apa yang bakal kutemukan disana, Adrian bilang tempat itu memang tempat untuk bertobat tapi bukan tempat dimana orang-orang bisa datang kesana sesuka hati lalu mewawancarai mereka. "Pasti ada jalan," harapku. Saat makan malam, inilah waktu yang tepat untukku mengatakan pada ayah dan ibuk, meminta izin mereka agar aku diperbolehkan les di Bandung. "Yah, buk, Sheila sudah menemukan tempat les yang cocok." Aku membuka percakapan. Ayah dan ibuk masih sibuk menyendok opor ayam ke dalam mulut, "Memangnya kamu mau les dimana?" Tanya ayah, yang mulutnya masih penuh. "Di Bandung, yah," jawabku mantap. "Di Bandung?" Ibuk menyela. "Kenapa ngga di Pare aja? Kan deket, Pare kan ga cuma kampung bahasa Inggris, disana juga ada les bahasa Jerman, ya kan buk?" Usul ayah. "Di Bandung lebih bagus," kilahku. "Tapi kenapa harus Bandung sih, Sel?" Ibuk mencoba mencegah, "kenapa ga yang deket-deket aja?" Aku menghela nafas dalam-dalam ini akan jadi perdebatan yang panjang. Kami berdebat seperempat abad lamanya, mungkin. Saking intens-nya perdebatan kami. Meski begitu aku sangat senang dengan hasilnya, karena aku yang menang. Hore! Ayah dan ibuk pada akhirnya mengizinkanku les ke Bandung. Sebagai tanda terima kasihku, aku memeluk mereka dengan penuh kasih sayang. "Makasih banget yah, buk, Sheila sayaaaanggggg bangeeetttt sama kalian berdua," ucapku, sambil kuciumi pipi mereka. Sehabis menghabiskan waktu bersama orang tuaku menonton tivi, aku kembali ke kamarku. Kucek smartphone-ku, mendapati Armin membalas pesanku beberapa jam yang lalu. { kenapa? Kenapa kau tak langsung datang saja? Jangan khawatir soal biayanya, kalo itu yang kau pikirkan } isi pesan dari Armin. { kedua orang tuaku akan shock berat, jika aku langsung pergi ke Jerman. Aku butuh waktu, ini tak mudah bagiku } tulisku kembali. { aku mengerti. Tidak apa-apa, hanya saja liburanku nanti akan segera habis, jadi kalo kita bertemu dipenghujung musim panas, kita hanya punya waktu sebentar } { tidak apa-apa, setidaknya kita sudah bertemu. Aku pergi tidur dulu. Selamat bekerja untukmu disana! Goodnight } tutupku. ***** "Coba kamu cek dulu, kalo-kalo ada barang yang ketinggalan," anjur ibukku. "Siap buk!" Aku memasukan koperku ke dalam mobil gocar yang telah ayah pesan. "Sudah masuk semua Sel?" "Sudah ayah." "Jangan sampai ada yang ketinggalan. Kita mau berangkat. Oh, ya! Brian tidak jadi ikut mengantarkan, katanya dia ada acara di kampus," kata ayah, yang masih sibuk bolak-balik memastikan semua barangku sudah masuk. Ayah menutup pintu kemudian masuk duduk disamping pak sopir, sementara ibuk duduk denganku di kursi belakang. Hari ini aku berangkat ke Bandung. Ada perasaan cemas sekaligus senang. Ini akan jadi hari pertamaku dan seterusnya hidup tanpa kedua orang tuaku. Ini kali pertama aku akan pergi lebih dari seminggu jauh dari orang tuaku. Sesampainya di stasiun, kami langsung menuju ke boarding pas mencetak tiket. "Untung belum terlambat! Kalian berdua sih, mandi sama dandannya lama banget!" Sindir ayah. Hanya ada kereta malam menuju ke Bandung. Kereta bakalan berangkat pukul 19.45 WIB dan baru tiba ke Bandung pukul enam pagi. Aku sengaja memilih kereta yang melewati jalur selatan, sehingga nantinya aku bisa berhenti di stasiun Ngawi. "Cepet cepet, cepet, Sel! Keretamu sudah mau berangkat!" Suruh ayah cepat-cepat. "Iya yah. Ya udah buk, yah, Sheila berangkat dulu." Aku meraih tangan kanan mereka satu-satu untuk menciumnya, "dah ayah, dah ibuk!" Ayah membalas lambaian tanganku penuh semangat, "hati-hati! Langsung kabari kami jika sudah sampai." "Iya!" Teriakku, sambil menarik koperku yang lumayan berat. Gerbong ke empat adalah gerbong andalanku tiap kali naik kereta. Soalnya enak kalo pas turun, tidak terlalu jauh dari peron pemberhentian. Meski tidak akurat seratus persen, gerbong keempat memang tetap paling rame nyatanya dibanding gerbong lain, selalu full! "Kau terlambat!" Baru juga sampai, sudah dapat bogem mentah dari mulutnya Adrian. "Iya, iya, tapi setidaknya kan aku sudah ada disini." Aku menarik koper sampai ke ujung gerbong untuk menaruh koperku terlebih dahulu sebelum kembali ke tempat duduk Adrian. "Kau membuatku khawatir setengah mati tau ngga! Aku sudah datang jauh-jauh, menunggumu berjam-jam lamanya malah kamu santai banget! Lelet kayak keong." "Iya, aku tahu. Tadi sumpah ribet banget ayah sama ibuk." "Ngga ada kata maaf nih? Sombong banget!" "Adrian.... Aku minta maaf karna terlambat." "Apa? Apa? Aku ngga denger tuan putri!" "Jangan harap kau mendapatkannya dua kali." Aku menjulurkan lidahku padanya. "Dasar, princess keong! Ga cuma cangkangnya yang keras, hatinya juga!" Adrian memaksa untuk ikut. Aku mengiyakan saja. Toh, dia tetep bakalan ikut meski aku menolaknya. Aku ngga bisa bohong kehadiran Adrian memberiku energi yang lebih baik untuk menghadapi tempat penebusan dosa itu nanti. Ada Adrian disampingku tidak hanya membuat pikiranku tenang, jiwaku juga. "Kau lapar?" Adrian menyodorkan gulungan sosis yang kelihatannya enak. "Ada racunnya ngga nih?" "Buat apa ngeracunin kamu? Ginjalmu pun ga bakal laku kalo dijual," ejek Adrian. Kucubit keras-keras lengan Adrian hingga mulutnya menjerit kesakitan, "Aduh, duh, sakit tau!" "Biarin! Rasain!" Kukunyah sosis pemberian Adrian, tidak hanya hangat ternyata lumayan enak juga. Selama di kereta, kami mengobrol sebentar-sebentar, makan snack, minum, ke toilet, tidur meski hanya sebentar, begitulah siklusnya sampai kamu tiba di Stasiun Ngawi. "Dri, Dri, hei,... bangun," ucapku lirih, mencoba membangunkan Adrian. "Beneran sudah sampai? Cepet amat." Adrian masih nampak mengantuk. Kami berhasil keluar stasiun dengan selamat, meski wajah Adrian nampak seperti zombie. Aku membiarkannya mengambil waktu secukupnya hingga Adrian benar-benar sadar. "Aku sudah memesan travel untuk pergi ke jamus, kita nanti naik motor," ucap Adrian setelah ia cukup sadar. "Huh? Naik motor? Tapi kan jauh!" "Bukan dari sini! Kita naik gocar sekali lagi, baru nanti kita naik motor sesudah sampai di kaki gunung lawu," beber Adrian. Sudah hampir tengah malam ternyata ketika kami sampai di kaki gunung lawu. Perjalanan ketiga baru akan dimulai dari sini, dari rest area Sumokaton, Ngawi. "Masih jauh ya?" Aku sudah mulai kelelahan, ditambah nantinya harus mengeteng-ngeteng tas koperku. "Tinggal sedikit lagi." "Kenapa koperku tidak dititipkan saja disini?" "Karna kita pulangnya lewat Sragen, kita bakal naik kereta dari Sragen menuju Bandung nantinya. Sambil buat balikin sepeda motor temenku." Adrian sibuk memasang tali sepatunya, "lets go!" Kami pun berangkat menuju kebun teh Jamus. Adrian dan aku melewati berbagai tempat gelap yang cukup mengerikan, gelap dan dipenuhi pohon-pohon dan cuaca gunung yang dingin menembus daging, menyebabkan tulang-tulang gemertak menimbulkan efek menggigil kesekujur tubuhku. Ada perasaan was-was mengintai selama perjalanan. Aku merasa sangat senang ketika kami sudah sampai di pintu gerbang masuk perkebunan teh Jamus. Adrian diperbolehkan masuk oleh tim penjaga gerbang karna sudah mendapat surat izin atau entah surat macam apa aku tak tahu. "Darimana kau mendapat surat izin itu?" Aku penasaran. "Begitulah untungnya punya teman banyak," jawabnya penuh kebanggaan. "Teman-temanmu memang banyak yang berguna, ya!" Pujiku. "Kecuali kau!" Cetus Adrian yang langsung dapat bogem dariku, "Cuk! Sakit tau!” Umpat Adrian. Meski Adrian mengumpat tapi tidak terdengar seperti umpatan. Adrian kadang memang sangat menyebalkan, tapi itu bagus, tandanya ia bukan orang yang membosankan. Sebelum kami sampai ke tempat tujuan, kami diharuskan melewati hutan-hutan kebun teh ini. Suasananya hampir sama dengan yang tadi, gelap mencengkam penuh suara-suara hewan malam yang menyeramkan. Aku berharap ini segera berakhir. Setengah jam berlalu, akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Kami berhenti di halaman sebuah masjid yang halamannya lumayan besar di ujung perbukitan kebun teh. Ini dia, disinilah "Tempat Penebusan Dosa" itu berada.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
mantp
19d
0sangat menyenangkan
07/08
0serruuu
16/09/2025
0Lihat Semua