Naomi kaget bukan main karena Adrian mengiyakan soal mereka akan menginap semalam lagi di hotel. Astaga. Satu malam saja badannya terasa remuk redam, bagaimana kalau dua malam? Apa mungkin tulangnya akan patah? Tapi, entah kenapa pula, Naomi tak pernah bisa menolak sentuhan yang Adrian berikan untuknya. Ia merasa gila setiap kali Adrian memasukinya. "Mas, aku mau tanya sesuatu boleh?" tanya Naomi disela-sela kegiatan panas mereka. Kening Adrian yang berada di atasnya mengerut. "Soal apa, sayang?" Menggigit bibir, Naomi sebenarnya ragu hendak bertanya, tapi pertanyaan itu sudah terlanjur sampai ke tenggorokannya. Jadi, sekalian bertanya saja. Semoga Mas Adrian nggak marah deh. "Kamu kok belum pernah ngenalin aku sama keluarga kamu, Mas?" Adrian tak menyangka Naomi akan bertanya seperti itu. Sebisa mungkin dia mencari alasan agar Naomi tak banyak bertanya. "Elang kan keluarga aku, dia anak aku." "Ya... maksud aku, mama kamu. Bi Inah bilang, mama kamu ada di Bandung. Kenapa kamu belum ngenalin aku sama beliau, Mas?" Adrian tidak bisa langsung menjawab. Padahal alasannya waktu itu tak memberitahu mamanya soal pernikahannya karena ia tak benar-benar menikah karena cinta. Lalu sekarang, saat ia sudah mencintai Naomi, tetap saja dia belum mengenalkan istrinya ke sang mama. "Kenapa nggak bisa jawab, Mas? Apa kamu malu mengenalkan wanita seperti aku sebagai istri ke mama kamu? Apa aku nggak layak, Mas?" "Nggak kok. Nggak sama sekali." Adrian menggeleng cepat. Kalau nggak, kenapa sampai sekarang belum mengenalkan aku? Naomi juga ingat, Bi Inah bilang mama Mas Adrian adalah pribadi yang baik walaupun memiliki penampilan yang berkelas. Naomi jadi penasaran ingin bertemu dengan mama mertuanya itu, apalagi sudah lama sekali dia tak merasakan cinta kasih seorang ibu yang sesungguhnya. "Terus?" "Oke, lain waktu, kita ke Bandung, aku kenalin kamu sama mama, ya." Mau tak mau, Adrian mengiyakan juga mengajak Naomi bertemu mamanya. Pertanyaan Naomi tidak salah, ia yang salah karena menyembunyikan semuanya dari Naomi selama ini. "Benar, Mas? Wah, senangnya." Naomi masih bisa bergerak kesenangan padahal milik Adrian yang besar panjang tertanam sempurna di dalamnya. Adrian saja sampai heran melihat tingkah kesenangan istrinya. Apa sebegitu bahagianya? "Nanti aku akan masak yang enak untuk kita bawa ke Bandung. Mama kamu harus tau kalau menantunya ini pintar masak. Beliau pasti senang." Mata Naomi berkilat-kilat hanya dengan memikirkan dia pergi membawa makanan saat bertemu mama mertuanya. Adrian sampai kesal karena gerakan tusuk-menusuknya jadi terhenti akibat Naomi terlalu banyak bertanya. "Sayang, tolong jangan bertanya lagi. Kamu hanya mengganggu aktivitasku untuk mencapai kenikmatan surga dunia ini." Naomi cekikikan menyadari wajah Adrian memerah menahan sesuatu. "Hehe, iya Mas iya." Naomi pun memejamkan mata, kembali menikmati permainan Adrian pada tubuhnya. Sama seperti Adrian yang kecanduan akan tubuhnya, Naomi juga sangat menyukai sentuhan Adrian. "Oh ya Mas, apa aku harus ke salon dulu sebelum ketemu mama kamu? Aku minder kalau bertemu dengan penampilan seperti biasanya, aku ingin tampil layaknya wanita cantik dan berkelas." Naomi memperintil rambutnya. Di atasnya, Adrian mengerang frustasi, rahang mengeras dan nafasnya memburu turun naik. Berani-beraninya Naomi masih mengajaknya bicara padahal dia sedang enak-enaknya, ia hampir mencapai klimaks, seperti ada bom besar yang bersiap meledak dahsyat di dalam sana, tapi begitu mendengar Naomi bicara panjang lebar, bom itu bocor secara perlahan. Tidak seru sama sekali. "Naomi, sudah aku bilang, jangan bertanya lagi." "Iy—iya, tapi aku cuma ingin tau pendapat kamu, Mas. Apa sebaiknya aku ke salon, merubah penampilan. Kamu pasti tau, wanita seperti apa yang diidamkan mama kamu untuk menjadi menantunya." Argghhh! Dia masih mengajak bicara, padahal sudah kubilang jangan bicara lagi. Apa kurang paham bahasa? Geram, Adrian bungkam, dia tidak peduli dengan pertanyaan Naomi. Dia hanya fokus melajukan gerakannya sampai Naomi menggeliat-geliat keenakan. Dengan begitu, tidak ada waktu untuk Naomi berbicara. "Mas— ahhh rasanya aku ingin pipis! Nggak tahan lagi." pekik Naomi sekuat tenaga mendorong Adrian menjauh. Pipis apanya? Itu adalah pelepasan. Sel telur kamu akan muncrat keluar. Masa begitu saja tidak tahu? Katanya seorang Sarjana. "Sebentar lagi, kita akan keluar bersama, Sayang." "Aku udah nggak tahan, Mas. Entar aku pipis di kasur, bagaimana?" "Biarkan saja. Rasanya akan lebih nikmat." "Nikmat apanya? Pesing iya." "Sayang, itu bukan pipis. Itu... Akhhh—" Tubuh Adrian mengejang, di dalam sana miliknya sedang menyemprotkan laharnya membuat rahim Naomi terasa hangat. Di bawahnya, Naomi juga sedang menahan agar pipisnya tak sampai keluar dan merembes di kasur. Tapi, sekuat apapun dia menahan, rasa itu terus melesak keluar. Entah kenapa, Adrian merasa Naomi konyol sekali hari ini. Berapa lama mereka menikah, sudah berapa kali mereka berhubungan badan, masa hal seperti itu saja dia tidak mengerti sih? Lalu, yang dia merem melek karena merasa kenikmatan selama ini apa? "Mas, kita pulang besok pagi, kan? Aku nggak kuat loh kalau harus 11 ronde sehari," keluh Naomi kepenatan seraya mengerucut bibirnya. "Kenapa? Aku ingin membuat anak banyak, jadi kita harus sering-sering melakukannya, Sayang." "Astaga Mas. Tubuhku ini bisa kurus kering!" Tapi, kenapa tiba-tiba ngomong soal anak? Apa Mas Adrian berencana memiliki anak dariku? Banyak? ***
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (122)
Valda
kl update yang cepett ya soalnya cerita nya bagus bangetttt
kl update yang cepett ya soalnya cerita nya bagus bangetttt
08/05/2022
0bagusss cepetan lanjut😄
18/04/2022
4seru bangt
07/06
0Lihat Semua