Bagaimana pun gundah gulananya hati masing-masing peran utama dari sebuah novel, novel tersebut harus tetap berlanjut, bukan? Begitu pula dengan kehidupan rumah tangga Naomi dan Adrian. Menjalani hari seperti biasa, walau hambar itu terasa begitu kentara. Tidak ada lagi olahraga malam yang panas, karena Adrian memutuskan untuk lembur hampir setiap malam. Jika tak ada pekerjaan untuk dilemburkan, dia akan mengajak Tristan melewati malam dengan minum. Sementara Naomi, memilih untuk menunggu, kapan suaminya itu berani berkata jujur padanya. Rasanya memang menyakitkan, seperti ada duri halus yang tertancap di kaki dan tak bisa dicabut, duri tersebut akan terus membuat perih setiap kali ia berjalan. Mau pergi dari kediaman itu, dia tak punya tempat tinggal dan alasan yang tepat. Lagipula, akan ada banyak pihak yang sedih juga kecewa kalau dia pergi dari situ. Mama Nawang, Ayah Arya Satya, Elang, Bi Inah, termasuk Desy juga Tristan. Naomi beruntung karena ada Elang dan Bi Inah yang lebih sering menghiburnya, mengajaknya bicara. Elang juga mengenalkan pacarnya ke Naomi, mereka melakukan panggilan video. "Wah, cantik banget pacar kamu. Pintar ya kamu pilih cewek." Baik Elang maupun Widia, nama pacarnya yang berada di layar panggilan video itu, keduanya tampak malu-malu kucing. Tentu saja, menurut Elang, Widia adalah cewek tercantik di sekolah. Sebaliknya, Elang juga cowok tertampan di sekolah mereka. "Cantik banget, kan, Bik?" Naomi menunjukkan layar ponsel milik Elang ke Bi Inah, mengernyit kedua alisnya, meminta persetujuan. "Iya Nyonya. Cantik sekali, Den Elang memang pinter nyarinya." puji wanita tua itu seraya melambaikan tangan ke kamera. Ups, maksudnya kamera ponsel Elang. "Widia, kamu kapan-kapan pas libur sekolah, main ke sini dong. Aku bosan tahu tinggal di rumah gedongan sendirian, nggak ada teman ngomong. Kamu cantik, aku juga cantik. Kayaknya kita cocok deh." Naomi tersenyum jahil. Selera humornya receh banget, kan? Dengan masih malu-malu kucing si Widia itu mengiyakan. "Iya Tante, insyaallah." Apa? Astaga! Dia memanggil Naomi dengan panggilan apa barusan? Tidak salah dengar, kan? Tante? Iya, emang sih, Naomi itu mama sambung Elang, tapi nggak harus panggil Tante juga, kan? Berasa tua banget. Sedang, Elang aja memanggilnya dengan nama, Naomi. Dengan memaksakan senyum tipis, Naomi berkata lagi, "Panggilnya jangan Tante, dong. Aku nggak setua itu, keles. Orang cantik gini masa dipanggil Tante.” Naomi sedikit mencebik bibirnya. Widia tersenyum canggung, sementara Elang terkikik menahan geli. Dia memang belum cerita soal Naomi yang masih sangat muda. "Terus, aku panggilnya apa, dong?" tanya Widia. "Hmm, panggilnya kakak aja. Biar lebih akrab. Jangan kayak Elang, dia tahunya manggil nama. Naomi! Naomi! Meskipun aku masih muda, tetap aja kita nggak seumuran. Aku lebih tua sekitar 4 tahun dari kalian." Naomi menjeling ke arah Elang, membuat anak sambungnya itu membeku seketika. Ampun! Setelah beberapa menit sesi perkenalan, tidak ada lagi Widia yang malu-malu kucing. Dia mulai nyaman ngobrol ngarol ngidul bersama Naomi, membicarakan Elang tentunya. Ingin saja Elang merebut ponsel dari genggaman Naomi, mematikannya, supaya obrolan yang selalu berakhir menyindirnya itu tak berlarut. Panas telinganya mendengar dua orang wanita itu mengejeknya. "Eh Wid, ngobrolnya nanti aja dilanjutkan lagi kalau kamu jalan ke rumah. Soalnya aku mau rebahan dulu. Maklum, calon mama muda, bawaannya capek terus." "Iya kak." Naomi lalu melempar ponselnya ke arah Elang. Dia sengaja berpura-pura capek, ingin rebahan, padahal dia sudah melihat reaksi Elang yang tak senang karena dia bersama Widia terus-menerus mengejeknya. "Ambil tuh ponsel kamu." katanya sebelum dia melangkah hati-hati menuju kamar. Sesampainya di depan pintu, saat tangannya sudah memegang gagang pintu dan bersiap membukanya, Naomi menoleh. "Ingat ya! Minggu besok ajak Widia ke rumah. Aku bisa cepat melahirkan kalau kesepian tiap hari. Aku juga butuh teman menggosip." "Kan ada Bi Inah?" cetus Elang. "Kalau kamu jadi cewek, memangnya kamu mau menggosip apa bareng Bi Inah?” Sebagai jawabannya, Elang mengendikkan bahu. Dia cowok tulen yang tidak suka menggosip, kalau pun jadi cewek, Elang yakin dia hanyalah cewek pendiam. "By the way, kamu sama papa ada masalah ya? Kok belakangan, aku nggak pernah lihat kalian makan malam bareng? Papa juga lebih sering pulang larut malam, seolah sedang menghindari kamu." tanya Elang lagi. Naomi tidak jadi masuk kamar. Pertanyaan Elang menohok sampai ia tak bisa mengeluarkan suara untuk beberapa saat. Meremas gagang pintu kuat-kuat, Naomi berusaha mengeluarkan suaranya. "Aku sih nggak ada masalah ya. Kalau papa kamu, nggak tau deh." "Kok nggak tahu? Kamu istrinya, kan?" Naomi menjeling ke arah Elang. Kalau boleh ingin dia menggetok kepala putra sambungnya itu, yang bicara seenak jidatnya. Ya tentu lah Naomi istrinya Adrian. Kalau bukan, ngapain dia berkeliaran di rumah ini selama hampir 6 bulan? "Maksud aku, aku nggak punya masalah apa-apa sama papa kamu. Yah mungkin dia memang sedang sibuk di kantor, lembur terus, makanya pulang malam. Bisa jadi, kan?" Sudahlah, Naomi malas meladeni pembicaraan soal Adrian. Dia pun masuk dengan membanting pintu hingga menimbulkan bunyi 'BEDEBAM'. Elang yang mendengarnya sampai mengelus dada. "Kenapa dia mesti menghindar kalau merasa tidak bersalah?" Naomi bertanya sendiri seraya tersenyum miris. ***
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (122)
Valda
kl update yang cepett ya soalnya cerita nya bagus bangetttt
kl update yang cepett ya soalnya cerita nya bagus bangetttt
08/05/2022
0bagusss cepetan lanjut😄
18/04/2022
4seru bangt
07/06
0Lihat Semua