"Masa sih? Aku nggak percaya." Naomi sudah mendengar alasan Leo datang lagi ke rumah, dan itu sama sekali tak masuk akal. Bagaimana mungkin, mama mertuanya yang menyuruh Leo datang? Apa mama mertuanya tidak pernah tau masalah Adrian dengan Leo dulu? Ah, tidak mungkin. Leo pasti ngarang alasan. "Masih nggak percaya aja. Gimana kalau untuk ngebuktiinnya, kita video callan sama Tante Nawang? Beliau begini karena sampai sekarang Adrian belum mengenalkan kamu padanya." Video Call? Tanpa sepengetahuan Mas Adrian, nanti dia bisa marah besar. Lagipula, Mas Adrian sudah janji akan membawakan aku pada mamanya untuk dikenalkan. "Nggak usah deh. Aku percaya aja." Naomi menjawab dengan terpaksa, Leo sadar itu. "Kalau nggak mau video call, kirim foto aja. Dia sangat ingin melihat wajah menantunya yang cantik ini." Leo nyengir ke arah Naomi lalu tanpa persetujuan pria itu secepat kilat berpindah duduk di samping Naomi, mengambil foto bersama. Cekrek. "Apa-apaan sih? Katanya mau lihat wajah aku, kenapa fotonya harus bareng kamu? Hapus!" Naomi menggeser tempat duduknya. Mana mau dia dipepet-pepetin sama Leo, walaupun modusnya mau foto buat dikirim ke mama mertua. Tetap saja, Naomi risih berdekatan dengan pria lain selain suaminya. "Ngapain dihapus? Ini udah cantik kok. Tante Nawang pasti suka." Leo tersenyum memandangi hasil fotonya sedangkan Naomi mengerucut bibirnya, tak senang. "Nggak boleh. Hapus aja fotonya! Sini biar aku foto sendirian." "Nggak perlu repot-repot, fotonya udah aku kirim." Ap—apa? Leo ini? Astaga! Seperti ada asap yang mau keluar dari ubun-ubun Naomi. Kepalanya sakit, sebentar lagi mau pecah mungkin. Tangannya mengepal, mulutnya komat-kamit menggumamkan kalimat sumpah serapah. Kalau saja dia tidak akrab dengan mama Mas Adrian, kalau saja dia bukan sepupu Mas Adrian, pasti sudah melayang sendal jepit rumah ini tepat di mulut bawelnya. Leo! Astaga! Bagaimana bisa Mas Adrian punya sepupu seperti Leo ini? Bertolak belakang sekali sifat dan sikapnya. "Awas ya kamu! Kalau sampai hal ini ketahuan sama Mas Adrian, akan aku cabik-cabik mulut kamu!" Mata Naomi menyala karena ada api kemarahan yang berkobar-kobar di dalamnya, sementara Leo yang melihatnya hanya menyengir tanpa dosa. Malah di matanya, Naomi terlihat seperti sedang memohon padanya. Memohon agar perihal foto berdua ini tak sampai diketahui oleh Adrian. Ah, lagipula Leo juga tidak mau sampai ketahuan Adrian, bisa habis babak belur dia nanti. "Tenang aja lagi. Aku ke sini kan atas perintah Tante Nawang, dia juga nggak mau ketahuan sama Adrian kalau dia sudah pernah melihat foto menantunya yang cantik ini." Mendengar kata cantik sekali lagi terlontar dari mulut Leo yang entah disengaja atau tidak, Naomi merasa geli dan tidak suka. Cuma orang terdekatnya yang boleh memujinya cantik. Siapa Leo berani memujinya? Lagipula, apa maksudnya? "Oke, kalau begitu tugas kamu sudah selesai kan di rumah ini? Silakan pergi! Aku malas melihat kamu lama-lama di sini." "Kamu ngusir? Untuk saat ini gelar aku adalah orang suruhannya Tante Nawang loh. Aku bisa aja bilang, kalau kamu ngusir aku." "Astaga! Leo, udah deh ya. Sebentar lagi, jam makan siang. Aku nggak mau sampai Mas Adrian pulang dan lihat kamu ada di sini. Nanti dia bisa marah besar. Memangnya kamu mau digebukin sama dia?" Naomi mencak-mencak saking kesalnya. Ada nggak sih cara ngusir orang dengan cara paling halus? Udah diusir secara kasar nggak mempan. "Maka dari itu, sekarang aku lapar, mau makan. Harusnya kamu nawarin aku makan dulu baru suruh pulang, bukan langsung ngusir aja." Leo mengelus perut datarnya tanpa rasa bersalah. "Nggak boleh! Pulang aja sana!" Ting. Bunyi bel berdenting sekali lagi dan hal itu sontak membuat jantung Naomi mau rubuh saat itu juga. Bagaimana kalau Mas Adrian benar-benar pulang untuk makan siang? Bagaimana reaksinya melihat Leo ada di sini? Aduuuh, bagaimana ini? Mana Leo ini bebal sekali kalau dibilangin. "Elang! Cucu kesayangan Oma!" Naomi baru mau mengecek keluar ketika suara seorang wanita membahana dari arah ruang depan. Bukannya itu suara mama mertua Mas Adrian? Ngapain sih datang lagi ke sini? Ada apa dengan hari ini? Kenapa semua orang yang tak diharapkan malah datang secara bersamaan? Argghhh! Naomi menjerit frustasi dalam hati. "Elang nggak ada. Dia masih di sekolah. Ada urusan apa lagi ya?" Karena dia memang lagi marah, jadi suara bertanyanya pun ikut besar, seperti orang ngegas. "Saya neneknya Elang. Urusan saya cuma sama Elang, jadi lebih baik kamu diam aja. Nggak usah ikut campur." Mama mertua Adrian pun tak kalah besar suaranya. "Sekarang ini, saya adalah mamanya Elang. Jadi kalau ada apa-apa yang berhubungan sama anak saya, saya wajib tau." "Berani-beraninya ya kamu mengakui sebagai mamanya Elang? Mamanya Elang itu anak saya, Regina. Bukan wanita seperti kamu. Biasa. Murahan. Kamu nggak pantas bersanding dengan Adrian dan menikmati tinggal di rumah ini layaknya seorang nyonya." Satu lagi orang yang membuat hari bahagia Naomi jadi rusak. Harusnya dia bersenang-senang sekarang, menikmati hasil masakannya yang pasti enak rasanya. Tapi, dua orang ini, aduh, bikin kepala rasanya mau pecah. Naomi memandang Leo dan mantan mama mertua Adrian bergiliran. Bisa tidak sih kalian pergi saja dari rumah ini? Begitulah isi hati Naomi. Namun, belum sempat mulutnya mampu mengucapkan kalimatnya, mama wanita itu beralih menatap Leo sinis, seolah baru menyadari kalau ada tamu lain selain dirinya di rumah ini. "Siapa pria ini? Selingkuhan kamu? Oh, jadi begini kelakuan kamu di belakang Adrian? Dasar wanita murahan!" Argghhh! Mulut Naomi gatal sekali ingin menyumpahi, kenapa orang berdua ini diizinkan lahir ke dunia sih? ***
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (122)
Valda
kl update yang cepett ya soalnya cerita nya bagus bangetttt
kl update yang cepett ya soalnya cerita nya bagus bangetttt
08/05/2022
0bagusss cepetan lanjut😄
18/04/2022
4seru bangt
07/06
0Lihat Semua