“Tolonglah, aku pusing ini, Jum. Sudah ke mana-mana belum dapat jalan juga.” “Ya, kayak yang aku bilang tadi, Bang. Maaf. Tetap belum bisa bantu. Pemasukkan turun akhir-akhir ini, bukannya tidak mau bantu.” Pundakku ditepuk Jumri sebelum ia kembali masuk tokonya. Satu jam sudah aku di sini mungkin terasa terlalu memaksanya, sampai ia keluar lagi tadi, mengingatkan aku kalau dirinya tetap tidak bisa membantu. Aku di depan deretan ruko sembako ini, sebentar lagi semua akan tutup menjelang sore. Pasar akan berganti lapak jualan pakaian di depan toko-toko sampai malam. Kuremas kepala yang terasa akan pecah, belum juga dapat jalan keluar masalah keuanganku sampai detik ini. Hari keempat bayiku dan April dirawat. Istriku sudah membaik, harusnya sudah bisa pulang, tapi aku belum punya uang untuk bayar administrasi. Sisa uang sepulang dari Jawa sudah habis untuk tebus resep obat beberapa hari lalu. Yang kupikirkan sekarang April, sementara biaya bayi masih bisa belakangan dipikir, karena itu cukup besar. Biar ku usahakan satu persatu dulu. Entah akan habis berapa totalnya, aku belum berani tanya, tunggu ada uang dulu di tangan. Wajah ini belum siap malu kalau uangku ternyata belum cukup. “Mas aku mau pulang ... capek di sini …,” keluh April kemarin dengan mata basah, ia sudah gelisah di ruang rawat kelas tiga, sulit istirahat di antara banyak pasien lain dan keluarganya, walaupun dihalangi tirai, bising suara tetap mengganggu. “Sabar, ya, mas akan usahakan.” Aku yang nunggu saja juga merasa kurang fit, badan sampai sedikit meriang ini, apalagi ia yang masih nyeri bekas lahiran. “Bang Danang, semoga dapat jalan di tempat lain, ya. Sorry ini mau tutup.” Terkejut aku saat Jumri ke luar toko, menegurku yang berdiri, bersandar pada sisi dinding tokonya. Aku mengangguk seraya menjauh, karena karyawannya akan menarik rolling door. Jumri lekas masuk mobil memberi klakson sekali, lalu pergi. Lelaki kurus itu dulu adalah salah satu teman dekat, saksi aku dan Soraya awal berjuang jualan kayu. Akhir-akhir ini hubungan kami renggang, mungkin ia terganggu aku sering merecokinya dengan pinjam dana, sempat ngadat juga bayarnya. Sebenarnya malu menampakkan muka, tapi mau gimana lagi, aku terpaksa. Kalau punya uang banyak tak mungkin juga aku begini. Ingat bagaimana dulu royalnya aku kalau kami kumpul. Teman-teman tahu aku bukanlah orang pelit. Duh, ke mana lagi ini …? Hari makin sore, kasihan April aku tinggal sendiri dari tadi pagi. Penjaga lapak topi Jerry sakit, jadi Denok sekarang jaga jualan mereka di Pasar Besar, tidak bisa menemani mama tirinya itu. Kurogoh ponsel, menyusuri satu persatu nomor kontak. Rasanya sudah hampir semua dihubungi, tapi belum ada yang mau bantu. Apa memang namaku benar-benar hancur, sampai satu pun tidak lagi percaya. Duduk di selasar Toko Jumri, aku masih memandangi nomor kontak. Nama dan nomor yang tertera langsung menarikku pada bayang sosok pemiliknya, bagaimana reaksi mereka terhadapku sekarang, bahkan ada yang pernah adu jotos, adu mulut juga gara-gara masalah uang dan janjiku yang ingkar. Kondisi ini benar-benar sulit. Hatiku ngilu, ragu, apa aku bisa melaluinya, sementara semua beban jatuh ke pundak. Terhenti jari pada nomor kontak adikku, Zadina. Sudah dua kali ia tolak bantu, akan kucoba lagi siapa tahu hatinya lagi lunak. “Iya, Mas.” Ia cepat angkat teleponku. “Dek, maaf, gimana bisa tolong, Mas, kan? Sampai sekarang belum dapat juga, Dek ….” “Benar-benar belum dapat sama sekali?” “Belum, Dek. Mas bingung ….” “Makanya, Mas. Uang jual rumah itu kemarin harusnya ditahan dulu, atau separuhnya aja dipakai usaha, sisanya disimpan untuk keadaan darurat gini.” “Iya, Dek … sudah terlanjur.” Hasil penjualan rumah langsung kuputar untuk usaha. Takut kalau sakit lagi, kemudian tidak punya apa-apa setelah semua habis. CV sudah gulung tikar, untunglah sisa barang kulelang untuk tutupi hutang, pas-pasan hanya tersisa berapa ratus ribu. Benar-benar mengerikan kondisiku saat April sakit itu. Ludes, des! Aku tidak mau terulang lagi. Seratus juta untuk kerjasama dengan teman di Hulu, buka sedot emas yang pembelian mesin dan alat-alatnya lumayan mahal, tapi hasilnya juga dijanjikan cepat kembali. Kawan itu menjanjikan sementara bagi hasil sampai ia bisa bayar modal yang kupercayakan. Sisanya kupakai bisnis lain. “Trus, Mas Danang percaya si Ujang bisa kelola tanpa Mas lihat?” “Sistem kepercayaan aja, Dek. Kan Ujang tiap bulan pasti ke sini jual hasilnya.” Terdengar decak Dina seperti meyesali keputusanku. “Sini, ambil uangnya!” Bagai tersiram air segar aku langsung berdiri. “Beneran, Dek?” “Iyo, tapi diganti lho, Mas. Aku nggak mau Mas Joni marah.” “Insyaallah, mas akan usahakan cepat ganti.” Segera kulajukan matic, satu-satunya barang berharga tersisa, menuju rumah Dina. Beginilah kalau punya saudara, sesulit apa pun, semarah gimana pun ia tetap mau bantu. * Tadi aku pulang sebentar berganti pakaian, lalu segera balik ke rumah sakit. Setelah berjam-jam sendiri April menyambutku dengan isak tertahan. Oh, kasihan istriku. Segera kugenggam tangan, kecup kening untuk menenangkannya. “Maaf, Sayang, alhamdulillah besok kamu bisa ke luar. Aku sudah dapat uangnya.” “Benar, Mas?” Mata basahnya berbinar. Aku mengangguk. Kuusap pelipisnya lembut. Sakit pun ia ini masih tampak cantik. Perjuangannya melahirkan anak kami menambah sayangku padanya. Seperti Soraya dulu, setiap usai melahirkan rasa cintaku bertambah. Sayangnya jodoh kami harus berakhir. “Sudah makan?” Ia mengangguk lemah. “Sedikit, gak selera,” ujarnya. “Besok juga di rumah. Aku akan masakin yang enak biar kamu cepat sehat.” “Emang Mas bisa masak?” Tangan kanannya menyentuh jambang di daguku. Kupandangi lekat iris mata kecoklatan miliknya. “Bisa dong, dulu punya anak empat aku semua yang mandikan bayi, masakkin buat mamanya. Mertua sampai berkali-kali bilang bangga punya menantu sepertiku.” Aku bicara itu dengan penuh semangat, meski suara kecil, takut ganggu pasien lain. Raut wajah di depan ini berubah cemberut. “Aku cemburu ….” Bibirnya mengerucut, sedikit maju. Oh, ya ampun, aku kebablasan bahas mantan. “Maaf, mas terlalu senang. Tidak maksud bikin kamu sedih, Sayang.” Bibirnya makin manyun, mata mendelik cantik. Ah, gemasnya aku. Andai ini ruang cuma kami berdua sudah kusambar bibir manis itu. “Cinta ini sekarang cuma tersisa untuk kamu, Sayang. Kita akan besarkan anak sama-sama. Kita harus sabar mulai dari awal, ya,” bisikku sambil menyentuhkan jari di garis bibirnya. April, pemilik wajah polos, cantik alami, ia selalu bisa membuatku merasakan getar itu. Getar cinta. Meski sempat ragu ini hanya pengaruh gaib peninggalan neneknya, tapi kurasa ini alami. Aku suka ia yang manja. Lelaki normal sepertiku akan tersanjung kalau dianggap hero oleh seorang wanita. Apalagi itu wanita spesial. Percayalah. * Urusan istriku ke luar rumah sakit lancar. Kami sudah di rumah. “Istirahat aja, Sayang. Mas mau masakin bayam dulu.” Kubuka jendela lebar-lebar, di luar sedang sejuk, lebih enak angin alami untuk istriku ini. Selama di rumah sakit ia keluhkan kipas angin yang berada tepat di atas kepala. Ia jadi benci kipas dan AC, katanya kepalanya seperti penuh angin, haha, ada-ada saja. Bayam, juga ikan gabus kuambil seekor dari kulkas, bahan ini kutitip Denok beli saat ke pasar Kahayan tadi pagi. Aku bersihkan sayur, sambil pikirkan bayi kami yang masih dalam perawatan. Anakku itu tetap di rumah sakit sampai bisa kuat dan ke luar dari inkubator. Tubuhnya kecil, lahir di usia kandungan 7 bulan, sungguh aku tidak tahu April hamil sebelum sakit, ia tidak bilang apa-apa. Untunglah selama sering ngamuk itu tak pengaruh, bayinya lahir dengan fisik sempurna. Hanya kasihan, April kurang perhatian, tak seperti saat Soraya hamil dulu, di mana aku selalu setia mengingatkannya minum susu hamil. “Ayah masak?” Denok mendekat, menyentak lamunan. Ia melihatku ngulek bawang dan jahe, juga sedikit merica. “Iya, mamamu harus banyak makan biar sehat.” Denok senyum-senyum melihatku. “Ayah itu masih kayak dulu. Perhatian.” Ia menyentuh lenganku. Ada haru menjalar. “Iya, dong. Beginilah kalau seorang lelaki sayang istri.” “Denok sayang Ayah.” Aku hentikan tangan, beri senyum lebar untuk bungsuku yang paling manja ini. “Ayah juga sayang Denok.” “Denok hari ini gak ke pasar lagi, Yah. Jadi kalau Ayah mau ke luar biar aku yang jaga Mama April.” “Oh, kebetulan. Ayah ada rencana juga mau pergi.” “Moga apa yang Ayah usahakan bisa lancar.” Aku membuka tutup panci yang keluarkan uap panas. Masukkan ikan dan bumbu, tutup lagi, kalau sudah mau matang baru sayurnya. “Aamiin. Maaf ya pinjaman ayah belum bisa ganti.” “Gak apa, Yah. Denok tahu Ayah terpaksa. Denok ngerti kondisi ini.” Kuusap kepala Denok. “Aku ke kamar Ma Pril dulu.” Aku mengangguk. Hatiku lebih kuat sayang pada Denok ini, ia anak yang sejak lahir hingga bisa tengkurap lekat denganku. Saat itu awal kami buka pabrik bata, Soraya yang terlihat sangat gigih dan bersemangat agar usaha bisa maju kadang lupa waktu. Sebulan setelah melahirkan Denok, ia sudah berani nyetir sendiri ke sana, memantau langsung produksi, cek kualitas, sampai bahan seperti apa yang bagus. Aku hanya bagian mencari langganan, lebih banyak kerja via telepon, hubungi teman-teman dari rumah, sambil urus anak-anak. Aku juga termasuk pintar masak, anak-anak itu pokoknya anak ayahnya, apa-apa ayah yang dicari. Bisa dibilang waktu itu aku Bapak Rumah Tangga, seperti nganggur padahal aku aktif kerja via telepon. Sesekali bertemu dengan relasi itu lebih sering di rumah, sambil ngobrol ada anak-anak duduk di pangkuan atau mengelilingiku. Jarak umur mereka dua sampai tiga tahun, jadi besarnya tampak hampir sama. Soraya termasuk orang yang sempurna mengarahkan produksi, kualitas bagus sesuai dengan keinginannya, begitu juga keuangan ia sangat hemat. Pakai perhiasan pun tidak pernah, beli emas jenis batangan, kalau untuk dipakai katanya gram bisa menyusut, rugi. Anak-anak hanya dipakaikan anting bulat kecil sejak bayi. Padahal aku mau juga anak-anak cantik pakai kalung atau gelang. Sikap hematnya kuakui berdampak bagus untuk usaha kami, cuma ia terlalu menahan diri dalam segala hal. Aku pun termasuk orang di bawah kuasanya berhemat. Sisi baiknya ia lembut tapi tegas secara bersamaan, dan anehnya semua keputusan Soraya itu tepat, aku kadang kaget dengan hasil pabrik bisa lumayan besar tersimpan. “Ayah melamun?” Denok menyentuh pundak, membuatku terperanjat. “Itu ikannya gak kemasakkan?” “Oh, ya ampun ayah lupa.” Segera kukecilkan api kompor, masukkan garam lalu kasih Roy** sedikit. Kasihan April kalau terlalu tawar, ia butuh selera makan. “Denok tahu Ayah mikirin buat bayar perawatan adik bayi. Denok doakan ada jalannya, Yah.” “Kamu memang anak ayah terbaik.” Kuangkat jempol sambil bawakan semangkuk sayur untuk April ke kamar. Aroma jahe segar enak di depan hidung. Aku sesungguhnya adalah lelaki penyayang, melakukan ini untuk orang tercinta rasanya punya kesenangan tersendiri. Soraya dulu harusnya beruntung punya suami sepertiku. * “Kenapa ke sini?” Baru lihat aku datang, turun dari motor dan belum juga naik ke teras pondoknya, pertanyaan Soraya sudah sinis. “Boleh aku duduk dulu?” Ia tanpa suara menunjuk kursi. Aku duduk di depan rumah ukuran kecil, yang memang cukup untuk dirinya sendiri. Aku prihatin, tapi sifat kerasnya sekarang seperti mendominasi. “Aku mau tanya-“ “Tanya surat rumah?” Ia sudah menebak, dan memang itu benar adanya. “Iya, aku-“ Ia menoleh cepat padaku, tatapannya tajam. “Kenapa sih, Mas, di pikiranmu itu cuma duit-duit saja? Kapan kamu bisa gak cari duit ke sini?!” Sangat tersinggung aku mendengarnya. Kalimat Soraya terasa menempeleng pipi. Belum aku jelaskan sudah diberondong begini. “Biaya rumah sakit-“ “Itu bukan urusanku! Silakan Mas Danang usahakan di tempat lain, bukan di sini!” Ia berdiri, melipat tangan di dada sambil memandangi tempat lain. Soraya, kamu sudah jauh berubah. Perih hati terasa tidak ditanggapi. Dulu ia begitu tenang saat aku kesulitan, membantu dengan solusi terbaik di kepalanya, meski uang usaha kami lumayan tetap tak ia gunakan membantu, tapi ada jalan keluar lain yang ia tunjuk sebagai solusi, tanpa aku jual aset. Salahkah kalau aku masih berharap jalan ke luar darimu? “Bisa tolong dengar aku dulu, Dik?” “Nggak! Kita gak punya hubungan apa-apa lagi, Mas. Tolong! Kecuali tentang anak aku masih mau dengar. Kalau Mas mau gadaikan rumah, mau cari pinjaman dengan surat rumah aku gak mau!” Tajam bola matanya terasa menghunus dada. Aku menghela napas. Percuma tadi ke sini ia sudah tidak mau mendengar apa-apa tentangku. Perih hati terasa ada yang menggoresnya. “Baiklah. Tapi kamu harus ingat, rumah itu sepakat untuk anak-anak, aku berhak pinjam sebentar.” Ia mencibir dengan gaya sombong, sungguh ia bukan Soraya yang ku kenal, sinar tidak suka, bisa dibilang benci dari matanya segera tertancap ke mataku. “Justru karena milik anak, Mas Danang gak boleh lakukan. Apa saja ada resikonya, Mas. Kalau gagal, lalu rumah itu jatuh ke tangan orang lain, Mas bisa apa?” Suaranya tegas, penuh tekanan. “Aku kepepet, Soraya. Ini untuk biaya anakku?!” Matanya tertahan ke sini, makin terasa tajam. Ia diam sesaat dengan tubuh lurus menghadapku. Bibirnya kemudian sedikit gemetar saat akan bicara. “Kamu pikir … itu masih urusanku, Danang Wiratama?! Hubungan kia sudah selesai. Se-le-sai! Dan … mau anakmu sakit atau kamu kepepet, bukan urusanku! Tidak ada hubungan denganku.” Ia mencibir, membuang pandang ke lain. “Jangan pernah ganggu hidupku lagi, Mas. Sakit yang sudah Mas torehkan terlalu dalam. Cukup. Jangan ditambah lagi!” Ia masuk, lalu menutup pintu. Aku terhenyak di tempat. Sebegitu sakitkah ia atas pernikahanku dengan April? Bukankah dulu ia pernah menyetujui? Entah … sering kutanyakan itu di hati, tapi belum berani lagi bertanya. Aku sungguh tidak paham isi hatinya. Sebenarnya ingin sekali tahu, tapi semua terlihat sudah terlambat. Untuk apa lagi? Masih kurasa Soraya kini berubah terlalu keras. Egois. Surat itu cuma mau kugadai ke Haji Muin, pinjam uang sementara hasil panen sarang walet dua bulan ke depan. Kami patungan beli sarang orang yang kepepet jual, akan bagi dua tiap panen. Sisa uang rumah selain untuk usaha sedot emas kusimpan di usaha sarang itu. Surat rumah anak-anak hanya sebagai tanda tanggung jawabku. Ini awal cari kepercayaan lagi dari orang lain, dengar namaku sudah buruk Haji Muin butuh agunan, sebagai jaga-jaga kalau aku ingkar. Panen gedung itu bisa sampai puluhan kilo, uangnya cukup besar, ini hanya sementara, tapi Soraya benar-benar tidak mau tahu kalau aku sedang butuh. Tidak bisakah ia mengerti? Andai ibu anak-anakku itu bisa ikhlas, kami akan tetap kompak dan tampak damai di mata semua. Toh, April tidak pernah mengganggu, gosip ia punya hal gaib itu memang kuakui, tapi itu semata turunan nenek moyang. Mudahan suatu hari Soraya menyadari egonya. Dan, ia harus tahu, aku bukan mengemis tadi, tapi ini salah satu usahaku bertanggung jawab pada keluarga. Lagian untuk apa juga surat rumah disembunyikan? Itu jelas menunjukkan ciri egoisnya seorang Soraya!
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
beri robux
15/06
0bagus cepat baru nyoba
28/04
0bagus banget
23/02
0Lihat Semua