POV Danang Huh, anak itu! Menghindar, aku mengarah tongkat kaki empat jalan ke halaman samping. Memegang kuat sisi benda yang menemaniku agar tidak jatuh, karena kaki kiri ini kadang terasa kesemutan dan bisa tiba-tiba tidak kuat menapak. “Ba-pak, itu Bapak.” Suara Santi mengajari Adam menyebutku, membuat rasa makin geram. Kenapa tidak paham kalau aku sudah tidak suka anak itu. Wajahnya … makin jauh berbeda. Sangat tidak mirip denganku. Dengan anak-anak. Menampakkan diri kalau ia bukan anggota keluarga kami. Memang bukan. Entah anak siapa, sedikit pun aku tidak mau tahu! Mulut kecil itu sudah belajar mengoceh, juga sedang aktif mulai berdiri. Ocehannya membuatku ingin tuli saja. Memang sesekali aku melihat kemajuannya, tapi saat pandangan tertumbuk pada mukanya dada terasa nyeri. Anak itu adalah titik noda dari dosaku. Dosa besar yang sudah ku lempar jauh, menyisakan titik ini yang juga akan dikubur. Ya, semua dosa lalu akan kukubur habis. Melihatnya sama saja seperti menamparku. Membayangi diri pada perbuatan ibunya yang jelas berhubungan dengan orang lain. Murottal Sheikh Mishary kupasang di telinga, sambil menutup mata duduk di kursi teras. Bantuan anak-anak untukku menata hati, tapi tak kunjung kutemukan ketenangan sebenarnya. Mungkin membatu sudah gumpalan daging di dalam sana, sampai sulit untukku melunakkannya. Lelah. Sendiri. Hati kesepian, tanpa terjawab maunya apa. Sempat terucap aku minta dikirim ke Panti Jompo saja, tapi Al menolak keras, ia bahkan sempat menangis atas permintaan ini. Kurasa itu mungkin tempat terbaik. Aku akan gabung dengan orang lain yang tidak tahu masa laluku, akan dirawat dan diurus orang yang tak kukenal, sepertinya akan membahagiakan. Sudah terbayang di pelupuk, diri yang tak berguna ini tidak lagi merepotkan anak-anak. Baiklah, aku akan bicarakan lagi pada Al, berharap ia paham bebanku. * “Mas di rumah Ibu? Yaudah nanti Al nyusul ke sana, ini barusan sampe rumah.” Sore, Al baru asuk rumah, matanya langsung tertuju padaku yang duduk menunggunya di ruang depan. “Yah.” Ia mendekat, menyalim tanganku. “Ba-ba-ba.” “Santi! Bawa anak itu jauh!” Suara Adam langsung mengusikku. Suara ini sudah lama lancar, semenjak terapi rutin litak tidak lagi kaku, meski masih sedikir gemetar terdengar. Almira terpaku, masih berdiri di depanku. “Ayah mau bicara,” ujarku padanya. Terlihat lelah, ia mengusap peluh di wajahnya dengan tisu dari meja. “Iya, ada apa, Yah?” tanyanya lirih, sembari duduk di sebelahku. Kutarik napas panjang. “Al, tolong pikirkan keinginan ayah waktu itu.” Suaraku memelas sambil meremas jemari sendiri. “Keinginan yang mana, Yah?” Ia menaikkan dua alisnya. Lah, berpura lupa segala. “Panti Jompo,” sahutku singkat. Al tercenung, menatapku beberapa saat. “Kenapa … kenapa Ayah bersikeras ke sana? Ada aku, anak Ayah masih di sini ….” Ia menyentuh dadanya tanpa mengalih pandang dari mukaku. Kubuang tatapan jauh ke dinding. “Ayah mau tenang.” “Tenang …?” “Iya.” Al memutar badan untuk benar-benar menghadapku. Menyentuh tangan yang suka gemetar dan salah pegang ini. Aku mengatup mulut, gemerutukkan gigi, masih membuang pandang ke sisi lain. “Yah … apa Al gagal membuat Ayah merasa nyaman? Apa yang harus Al lakukan biar Ayah tenang?” Suaranya melemah di pendengaranku. “Tidak, Al. Ayah cuma mau sendiri!” Ia kembali terdiam, dari sudut mata terlihat pandangannya tertuju pada punggung tanganku. “Sejak kecil Ayah mau mengurus kami. Aku dan adik-adik. Masak, gendong kami, dengar kecerewetan kami, sampai bersihkan kotoran kami yang belum sempurna bersih sesudah pup. Ayah lakukan semua …” Suara Al gemetar, terdengar menahan tangis. Aku menengadahkan wajah ke atas, tidak ingin ikut mengingat kenangan kecil mereka. Ia pasti cuma cari alasan lagi menolak keinginanku. Kalau memang ingin membalas jasa, berikan aku rasa tenang di masa tua ini, ya kan? “Tangan Ayah ini pernah kena wajan. Melepuh, saat masak sambil lari-lari. Nay yang teriak takut lihat tikus lewat membuat Ayah panik, sampai lupa mau angkat wajan pakai tangan.” Tangisan Al mulai sesenggukkan. Mata ini mulai berkaca-kaca. Sial! “Ayah juga enggak jijik saat kami diare bersamaan. Cuci celana-celana kotor, lalu bercanda sambil bersihkan lantai yang berceceran kotoran kami, karena enggak tertahan. Al ingat sekali … Ayah lakukan itu tanpa pernah marah.” Ia tertawa kecil di sela isaknya. Mataku mulai basah. Segera kuusap cepat. “Lalu … setelah Ayah persis seperti kami saat kecil sekarang. Di mana Al berkesempatan mengurus, tapi Ayah menolak. Sekarang pun Al berdosa, Yah. Harusnya ngurus bapaknya dengan tangan sendiri, tapi malah membayar jasa, dengan tangan orang lain. Al sibuk cari uang. Tinggalin Ayah di rumah saja hati Al teriris, apalagi akan antar Ayah ke Panti Jompo ….” Ia menggelengkan kepala, dan aku mulai menatap wajah putriku ini dengan hati terenyuh. “Al malah sibuk dengan dunia sendiri, lebih milih kerjaan, nggak bisa kayak Ayah dulu yang bisa kerja sambil mengurus kami.” Air mata ini luruh deras, bahuku terguncang, air hidung pun terasa turun. Almira cepat mengusapnya sebelum tanganku bergerak. Kami saling berpandangan. Ada ribuan rasa haru bergemuruh dalam dada. Anakku sudah dewasa, ternyata ia masih ingat masa-masa manis itu. Masa di mana aku sangat menyayangi mereka. “Karena itu … izinkan Al lakukan apa yang bikin Ayah senang ….” Ia menyentuhkan tanganku ke pipinya. “Ke Panti Jompo tempat satu-satunya, Al.” Aku bersikeras. Bukan karena tidak memberi kesempatan padanya berbakti. Bukan. Aku hanya tidak tenang atas dosa dan kesalahanku. Aku butuh waktu menyembuhkan diri. Biarkan aku menebus salah, tanpa terganggu apa pun. Tanpa melihat Adam. Hanya sendiri. “Kenapa … kenapa Ayah bersikeras ke sana? Apa Al harus ubah rumah ini lagi agar Ayah betah?” “Tidak perlu. Ayah hanya mau sendiri,” jawabku penuh penekanan. Kuusap muka, menghapus jejak basah yang membuatku makin lemah. Bagaimana pun aku berhak menentukan di mana masa tua terbaik. Mengubur masa lalu. “Seperti yang kubilang, ayah hanya mau tenang.” Kupalingkan muka, tangan mulai memegang tongkat bersiap berdiri. “Apa karena Adam, Yah?” Pertanyaannya membuat gerakku terhenti. Hati ini membenarkan, tapi mulut tidak akan berucap. Aku akan tampak egois jika mengatakannya. Biarlah itu rahasiaku dan Tuhan. Diam. Aku berusaha berjalan akan ke ruanganku di sebelah. “Kalau kamu tidak bisa antar, ayah akan cari pantinya sendiri. Ayah masih bisa bicara, cari informasi, jadi tidak perlu bantuan kalian.” Al terdiam. Ia pasti tengah menimbang kalimatku. “Kalau Adam alasannya, Al akan antar Adam ke panti, bukan Ayah!” Kalimat Al terasa mengejutkan, menyentak hati. Terasa desir nyeri bergerak, membuat ngilu di permukaan dada. Aku kembali terhenti. Al mendekat, berdiri di sebelahku. “Ayo, Ayah istirahat, jangan banyak pikiran. Al merasa berdosa kalau Ayah tinggal di mana pun tanpa terlihat mata ini.” Aku tak punya kalimat lagi. Al mengantarkan sampai aku berbaring, beristirahat di kamar. “Kalau Ayah butuh apa-apa, tinggal tekan itu, Al siap membantu. Ada Simbok juga,” ujarnya sambil mengusap lembut lenganku. Senyum khas Soraya tampak jelas di wajahnya. Aku mengangguk, berterima kasih tapi tak terkatakan. Simbok Al minta full di sini, bersama kami, setelah perawat yang pernah Al sewa waktu awal aku sakit kutolak, sebab sudah tidak kubutuhkan. Aku tidak suka terlalu dirawat, seperti manusia tidak berguna. Aku merasa bisa mandiri. Seburuk apa pun diri tetap saja tidak suka mendapat tatapan dengan sorot mata kasihan. * Hari ini Al masuk ke ruanganku. Dengan perut mulai besar ia tidak takut menggendong Adam. Padahal anak itu banyak bergerak. “Kenapa pakai digendong? Kasihan perutmu itu.” “Gak apa, Yah. Ini, Adam nanti sore diantar sama aku dan Mas Angger. Puas-puas Ayah bisa melihatnya terakhir di rumah ini.” Mata Al terlihat tulus menyayangi Adam, rambut gelombang bocah itu diusapnya penuh sayang. Adam duduk di pangkuannya tepat di depanku. “Dia gak salah, Yah. Andai bisa milih dia pasti gak mau terlahir dengan cara gini.” Kata-kata Almira membuatk mau tak mau menatap lagi sosok Adam, lekat. Jemari kecil berisi itu mengepal dan memainkan tangan ke mulut, sesekali anak itu tertawa-tawa, bersuara tak jelas. Lucu. Tapi aku tetap tidak suka lihat mukanya. Lekas kubuang pandang. “Tadinya mau kami kembalikan ke yayasan Mama, tapi berhubung ada pasangan baik_teman Mas Angger_mau adopsi Adam, maka kami pertimbangkan. Kemungkinan kalau jadi, dia akan dibawa ke Jakarta, Yah.” Tersengat hati ini mendengar itu, pandanganku kembali pada Adam. “Ba-ba-ba,” celoteh Adam seru, sampai meneteskan liur. Mungkin memang ini terakhir aku melihatnya. “Dia lucu, Yah, bisa jadi penghibur juga saat Al lelah kerja. Al kayak praktek langsung gimana nanti saat punya bayi,” ujar Al dengan senyum kecil. Seperti mengerti, Adam membalik badan pada Al, menyentuh mulut Al yang bergerak, putriku itu mengangkatnya berdiri, tapi Adam menubrukkan badan ke dadanya. Hati ini bergetar melihat Al memeluk Adam sambil menepuk pelan punggungnya. Baru terlihat ia sedekat itu pada Adam, ataukah aku yang menutup mata tak mau melihat. “Mau bobo siang? Ayo, kita ke sebelah.” Al bangkit mau gendong Adam lagi. “Almira?” “Ya, Yah?” Kami saling bertatapan. Apa Al mengira aku berubah pikiran? Tidak. Aku tetap akan mengubur tentang Adam. “Jangan digendong. Ingat perutmu itu. Suruh Santi aja.” Al tersenyum kecil. Ku panggil Santi dengan alat yang dipasang Angger di sisi kasur, menghubungkan ke dapur dan kamar Al kalau aku butuh sesuatu. Itu permintaanku yang memang sejak agak sehat ingin sendiri. Santi datang, lekas menggendong Adam ke luar. “Ayah istriahat, ya.” Setelah mereka pergi aku sempat termenung. Apa sebenarnya yang kumau di masa senja ini, dalam kondisi seperti sekarang. Apa aku benar-benar membenci Adam? Ataukah ada hal lain …. * Aku memilih tetap di kamar saat Al dan Angger benar-benar membawa pergi Adam. Ada rasa teriris di dalam sana, tapi tidak kuhiraukan. Ini yang kumau, melepas semua yang tersisa dari kesalahan lama. Aku ingin memulai hidup baru, meski terdengar sangat lucu. Suasana rumah sepi, terasa membuat kosong di lubuk sana. “Bapak kalau mau makan apa tinggal bilang. Simbok ini akan siapkan.” Wanita berbadan besar itu menemuiku yang duduk di halaman. “Iya, nanti dikasih tau. Belum mau makan apa-apa.” Kujawab tanpa melihatnya. Kenapa aku tiba-tiba benci sepi. Masih terbayang Panti Jompo yang banyak orang seumuran di dalamnya. Jika di sana aku pasti tidak akan kesepian. Apa harus kukatakan lagi pada Al, kalau keinginanku bukan cuma jauh dari Adam, tapi ingin yang lain juga. Argh! Kenapa pikiran ini begitu rumit. Suara ramai terasa mendekat ke pendengaran. Aku menoleh, tampak Almira dan Angger datang dengan tiga orang lansia seumuranku. Wajah-wajah keriput itu terlihat berbinar senang, jalan sambil bercakap-cakap ke sini. Kami duduk di kursi yang Angger susun melingkar di halaman, sambil menikmati embusan angin sore. “Ini teman-teman dari Lansia Bahagia, mau kenalan sama Ayah.” Almira dan Angger perkenalkan nama mereka satu per satu. Lalu kami saja yang melanjutkan obrolan, berteman makanan kecil sehat yang Al siapkan. Sepasang suami istri, pendiri Lansia Bahagia dan satu lagi lebih muda seorang yang merasa masa tua adalah masa terindah dalam hidupnya. Pembicaraan kami saling berbagi tentang tahun yang telah lewat. Tentang masa berat dan masa bahagia. Mereka memulai awalnya, aku masih sebatas pendengar. Ternyata kondisiku dulu bukanlah yang paling buruk. Seorang teman baru ini pernah menyicipi hidup dalam sel, setelah kekerasan pada mantan istri dan anaknya. Sementara pasangan tua ini pernah sama-sama terluka dalam perpisahan. Cerai talak tiga, terpaksa istrinya menikah dengan orang lain, memiliki satu buah hati yang katanya membuat penyesalan pada suami. Akhirnya, jodoh mempertemukan mereka lagi setelah 10 tahun kemudian. Saat suami si mantan meninggal. Mereka kembali, dan bahagia setelah diberi dua anak, hingga sekarang. Sharing yang terasa sulit dipercaya. Aku malah sempat berpikiran ini hanya rekayasa Al dan Angger untuk menghiburku, tapi saat hari terlewati aku meyakini ini nyata. Warna hidup dan masalalu lansia begitu beragam, di antara pahit manis yang lebih banyak pahitnya. Namun, kini mereka bisa melewati dengan tawa lepas. Aku bergabung dengan komunitas ini, kami rutin melakukan obrolan positif. Tertawa bersama jadi semacam olahraga otak dan otot mulut. Itu awalnya dipaksa, karena tidak ada yang lucu, tapi kelamaan benar-benar tertawa sangat lepas, sampai air mata ini keluar. Nikmat sekali. Ada kegiatan rohani juga, isinya tausyah tentang waktu yang harus kami syukuri. Mendekatkan diri sebelum antrean maut menjemput. Alhamdulillah, makin dapat ketenangan. Pernah dalam satu kegiatan aku bertemu Soraya dan suaminya. Mereka terlihat bahagia, menyapaku dengan akrab, sama seperti pada yang lain. Pertemuan yang sempat menyakiti sisi hati, tapi lama-lama aku merasa ikut bahagia melihat tawa Soraya yang amat lepas. Dunia memang kecil, ataukah Tuhan sengaja selalu pertemukan kami, agar membuka mata ini kalau ia baik-baik saja tanpaku. Ya, ia bahkan lebih baik. Sangat baik. Ia tampak bahagia dengan orang yang tepat. * “Ayah masih punya keluhan?” tanya Al saat melihatku menatap kosong halaman. “Oh, tidak.” “Kok, melamun?” Kujatuhkan pandang pada perutnya yang bulat dan turun. “Ayah harap cucu ini nanti sehat, sholeh atau sholeha, jadi anak bermanfaat dan dicintai semua orang yang mengenalnya.” “Aamiin. Panjang banget doanya, Yah. Makasih.” Aku tersenyum. Iya, memang kuharap keturunanku dan anak-anak jauh dari kesalahan yang pernah kulakukan. “Ayah hari ini ikut kegiatan di alun-alun, nggak? Ada kumpul-kumpul relaksasi. Kalau mau, minta diantar apa dijemput bis? Al ngikut aja.” Anak ini makin tahu saja kalau aku tidak mau dikasihani. “Ayah mau ikut, dijemput bis saja. Perutmu ini sudah menunggu hari, jangan banyak nyetir.” “Ada Pak Amat, Yah. Mas Angger udah nggak bolehin nyetir.” “Tidak usah, rame-rame di bis ayah suka.” Bis khusus yang ada tangga dan pegangannya untuk kami naik, kalau yang pakai kursi roda ada jalan khusus di pintu belakang. Berdekorasi nyaman, seperti bis wisata. Itu bantuan dari suami Soraya, untuk permudah pelayanan kelompok sosial yang sudah banyak anggotanya ini. Ada pemandu dan sukarelawan yang siaga menjaga kami, termasuk tim kesehatan. Soraya dan suaminya lagi-lagi membuatku sempat merasa kecil sekaligus bangga. Jiwa sosial mereka kompak makin tinggi. Banyak yayasan di kota Jogja dan Solo yang mereka akrabi, dengan kemampuan keuangan yang sepertinya tidak habis tujuh turunan. Ah, memang aku sangat merugi. Masih sesekali terbayang jika saja suaminya itu adalah aku. Haha. Dasar aku memang lelaki tua yang tidak tau diri! * “Tadi ada yang cari, Pak Danang,” lapor Simbok saat aku sampai di rumah dan merasa segar, tak terasa lelah fisik dari satu jam kebersamaan dengan teman-teman tadi. “Siapa ya, Mbok?” “Itu … sepertinya mirip yang dulu, tapi …” Wanita berkulit gelap ini menggantung kalimat, takut-takut bicara. “Katakan saja.” “Mirip … mamanya Adam. Tapi wajahnya beda.” “Mirip tapi beda, bagaimana itu maksudnya?” Aku teruskan melangkah ke dalam akan membersihkan kaki tangan, baru beristirahat. “Besok dia mau ke sini lagi, Pak. Tadi katanya begitu.” Aku hanya sekilas mendengarkan. Masa itu April? Ke sini cari Adam? Ah, anak itu kan sudah kulepas dari pikiran. Harusnya yang sudah ya sudahlah, masa lalu sudah kukubur, tidak ada yang boleh menggali kuburannya, lalu membawa bangkai lagi ke sini.
Bersambung ….
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
beri robux
15/06
0bagus cepat baru nyoba
28/04
0bagus banget
23/02
0Lihat Semua