POV Denok Mama sakit …! Tolong ya Allah, lindungi Mama. Panjangkan usianya. Doaku mengalir sepanjang perjalanan kami berangkat ke rumah sakit. Pada supir Kak Al kuminta cepat, sebab mobil ini terasa amat lambat! “Sabar, De. Mama tuh udah sadar, cuma minta ketemu.” Kata Kak Al, Mama pingsan sesampainya di rumah, usai dijemput dari bandara. Segera dibawa ke rumah sakit terdekat. Gak lama, pas sudah siuman minta supir kabari kakak karena mau bicara. Mungkin mereka sempat coba hubungi Kak Al, tapi semua ponsel kami kan sengaja dimatikan, karena mau kasih kejutan itu. Dan, sekarang ini kami berangkat tanpa bawa hape sama sekali. Semuanya. Aku dan kakak-kakak cuma bawa badan karena efek panik. Semoga benar Mama memang tidak kenapa-napa. “Cepat, Pak. Cepat!” Andai bisa terbang sudah kulesatkan badan segera memeluk Mama. Aku lah anak yang terasa paling berdosa, terasa paling gagal di antara yang lain. Walaupun Mama gak penah kelihin, tapi aku merasa begitu. Aku egois! Karena Kak April aku pernah gak mau negur Mama, aku pernah teriakan Mama egois, aku pernah mengentakkan kaki meninggalkannya dengan perasaan kesal teramat sangat. Aku pun pernah menuding Mama menguasai harta Ayah. Dan … aku juga pernah mengharap Mama hanya perhatikan aku, itu terjadi berulang walaupun aku sudah minta maaf. Kurang paham saja, diri ini merasa gak seperti kakak lain yang bisa sekolah tinggi. Merasa berbeda. Padahal itu semua karena salahku juga. Mama sudah kasih pilihan, dan aku memilih menikah karena cinta sama Jerry. Mama masih sayang padaku. Bahkan diam-diam melakukan semua untukku tanpa mengharap aku tahu. Mama menggenggam erat aib dua orang yang pernah kucinta dan percayai. Ayah dan Kak April. Ya, sudah jelas terlihat, akulah yang paling banyak dosa di sini, bukan kakak-kakakku. Mama sama sekali gak lucu! Untuk apa coba nyakiti dirinya sendiri demi menjaga hati orang lain? Sama sekali gak ada gunanya! Begitu berhenti di depan parkiran rumah sakit aku gegas turun, setengah berlari ke dalam, mencari ruang Mama yang Kak Al bilang tadi. Nggak kuhiraukan kakak-kakak memanggil. Pikiran ini hanya tertuju pada Mama. Keadaan Mama. Jangan sampai kusesali seumur hidup jika masih saja mengulangi kesalahan sama. Aku janji kalau Mama sehat akan jadi anak terbaik hingga akhir usianya. Tolong, Rabb, jangan ambil dulu nyawanya. Sampai di depan kamar Mama ada Papi tengah bicara dengan seorang berjas putih. “Denok?” Papi Mahesa terkejut melihat keberadaanku. “Bo-boleh masuk, Pi?” Napasku ngos-ngosan. “Boleh, boleh. Ayo masuk.” Papi Mahesa sangat ramah membukakan pintu untukku, lalu kembali bicara pada lelaki tua, terdengar akrab ngobrol pakai Bahasa Jawa. Langkah perlahan masuk, dengan jantung berdentam tak karuan. Mata langsung tertuju lekat pada wanita berpakaian dan kerudung putih, berbaring dengan mata terpejam. Ada gantungan infus di sisi kiri badannya. Tubuh Mama berselimut sampai dada. Aku menelan saliva kuat-kuat. Terasa kering dan tercekat. Langkah pelan kudekati, melihat wajahnya ada nyeri menjalar pada aliran darah. Nyeri akibat rasa bersalah yang teramat besar. Kuperhatikan irama napasnya tenang, terlihat dari gerakan dada. Ah, lega sepertinya Mama baik-baik saja. Berdiri tepat di sisi, air mata ini bergulir turun. Tanpa menyentuh, kutatap saja wajah pucatnya. Wanita ini mamaku, orang yang banyak berkorban jiwa raga, gak berhenti dari aku di perut, lalu lahir hingga sekarang. Kasihnya gak pernah putus. Kusentuh tangannya, sangat pelan. Mata Mama berkedut, lalu membuka mata perlahan. Setelah mengedip-ngedip lemah beberapa kali ia melihatku, memindai dalam diam beberapa saat. “Ma …!” Beberapa detik Mama masih melihatku, lalu sedikit melebarkan mata. “De-Denok?” Suara Mama lemah, sedikit parau seperti bangun tidur. Kursi lipat di sisi bed kusingkirkan, agar aku bisa memeluknya. Berurai sudah air mata, merasakan hangat dekapan Mama. “Mama sehat kan? Mama jangan tinggalin Denok cepat … Denok banyak dosa sama Mama. Denok belum sempat balas kebaikan Mama …!” tangisku tumpah ruah dibahunya, bicara di dekat telinga Mama, sesekali mencium pipinya. Terasa tangan Mama terasa bergerak, mengusap punggungku. “Kapan ada di Jogja? Kok nggak bilang? Kalian bertiga sehat-sehat ‘kan?” Suaranya masih sedikit serak. Kuangkat wajah yang masih basah ingus dan air mata, memanyunkan mulut. “Mama ini, lagi sakit aja masih nanyain kabar aku? Huu …!” Kujatuhkan lagi kepala ke bahunya. Terasa dada Mama berguncang, tergelak sembari menepuk pundakku. “Mama gak sakit, cuma capek. Jangan lebay, Nok.” “Iya, capek sampai pingsan,” cetus Papi membuatku mengangkat wajah, melihat ke pintu. Aku kembali berdiri sambil mengusap wajah yang basah. Papi Mahesa dan tiga kakakku masuk dengan mata basah tertuju pada satu orang sama. Mama. Aku menggeser badan, menghindar, melihat mereka serentak mendekat. Kembali haru, saat kakak-kakakku bergantian melakukan hal sama. Memeluk Mama dan meminta maaf. Mengakui sebagian kecil kesalahan yang terasa kami sesali teramat dalam. Ini seperti antrean pengakuan dosa pada Mama. Ya, ada isi hati kami yang salah tentangnya. Pernah salah duga. Kami mengakui itu kesalahan, dan janji gak akan ulangin lagi. Papi Mahesa tercuri mengusap ujung mata. “Rupanya lagi pada kumpul ini, tapi kok nggak bilang-bilang? Hape juga nggak aktif?” Mama protes, kami sibuk mengusap wajah yang basah air mata dengan tisu dari Papi, sambil menahan senyum. Untung ruang VIP, jadi gak ada yang nonton drama tangisan anak-anak pendosa pada mamanya ini. Kalau gak, bisa jadi inspirasi sinetron, Anak Durhaka judulnya. “Mama, kenapa nggak bilang-bilang kami kalau-“ Kak Al menyentuh pundak Syifa, membuatnya terhenti bicara. “Kami lagi nunggu Mama pulang, jadinya ngumpul diam-diam.” Kak Al memegang jemari Mama. Aku bergeser, memijat-mijat ringan kaki Mama, kaki sebelahnya ada kak Syifa. Kak Nay di dekat kepala Mama, mendekatkan wajahnya. Sudah berhenti nangis, tapi kami masih lihat wajah dengan pikiran masing-masing. Betapa ada orang sebaiknya yang mau terima kesalahan Ayah. Pantas saja dulu sempat pergi saat Ayah datang mohon rujuk, Mama malah ninggalin Ayah yang sakit parah. Kukira egois, tapi itu memang pantas Ayah dapat. Yang gak masuk akal, kenapa Mama rela gak jujur. Ayah nikah karena tergoda Kak April lebih dulu, bukan murni poligami biasa. Ayah kemudian menuntut banyak, tapi gak pernah kasih nafkah. Ayah mau kuasai semua untuk istri mudanya, tapi Mama yang difitnah. Bukankah itu secuil alasan kuat untuk kami memihak padanya?! Lantas, kenapa Mama sembunyikan …? Argh! Kepalaku cukup berdenyut, sebab gak sanggup selami isi pikiran Mama. “Trus, kenapa tiba-tiba pada minta maaf gini, ya? Memangnya kalian habis ngapain?” Mama masih bingung, sebab merasa gak merasa simpan marah pada kami. Pertanyaan Mama membuat kami saling pandang-pandangan. Hatiku langsung jawab, Kami banyak dosa, kami takut kehilangan Mama! Kami ingin masih bersama Mama puluhan tahun … kalau bisa berkesempatan bahagiakan Mama! “Kita cuma mau minta maaf aja, Ma.” Kak Al mewakili tapi juga gak mau ungkit kejujuran Ayah. Gak enak ada Papi Mahesa di sini. Sudah cukup kami bilang banyak salah. Sudah cukup janji itu ada di hati, yang penting gak akan ulangin lagi salah paham pada sikap Mama. Bantalan jariku terpegang sesuatu di kaki Mama, kubuka selimut. “Ma, kok tumitnya sampai pecah gini?” Tumit Mama pecah-pecah dan kering. Mama tersenyum. “Efek adaptasi cuaca di sana, mama kan jalan kaki terus jadi ya begitu. Kalian tenang aja mama ini gak apa-apa. Cuma dehidrasi sampai pulang langsung lemas.” Papi berdiri di sisi Mama. “Maaf ya, sudah bikin panik. Pak Man diminta ke sana karena mamamu mau ketemu Al, kayaknya mau bicara.” Mama menatap lembut wajah Papi. “Bicara apa? Denok juga mau dengar, kenapa cuma Kak Al,” ujarku masih dengan tangan meremas-remas lembut kaki Mama. “Gimana hasil pemeriksaan, Pi? Kondisi Mama baik?” Pertanyaan Kak Al membuat kami juga memandangi lelaki tinggi berhidung tajam itu, mata Papi sayu dan besar, mirip aktor India Salman Khan, matanya aja, he. Tapi mudanya pasti cakep, beruntung Mama memilikinya. “Alhamdulillah, semua baik, butuh istirahat saja. Papi yakin di sana mamamu sampai lupa capek, baru kerasa pas pulang ini, ya kan, Dik?” Mama tertewa lebar, melirik manja lelaki di sebelahnya, hati ini terasa ikutan baper. Ih, mereka tetap romantis walo cuma lewat tatapan. Bikin ngiri. “Bicaralah, aku ke luar dulu.” Papi mau melangkah tapi urung. “Mau titip apa, Dik? Apa perlu kita pesankan makanan?” “Mau semangka aja, Mas.” “Semangka? Di rumah banyak. Baik. Nanti kuminta Pak Man ambilkan, ya.” “Iya, Mas pulang aja. Istirahat. Di sini ada anak-anak.” Aku senyum-senyum lihat kulit dahi Papi Mahesa jadi berlipat banyak, menatap serius wajah Mama. “Masa suruh pulang. Aku maunya di dekat kamu.” “Ih, Papi bucin,” celetukku gemas. Suasana jadi luber oleh tawa. Papi Cuma bercanda, lalu titipkan Mama pada kami. Sekeluarnya Papi Mahesa, kami langsung mengerumuni Mama sekarang, seperti yang kami lakukan pada Ayah di rumah kemarin. “Mama kenapa sih gak pernah bilang, kalau biaya kami hasil kerja mama sendiri?” “Apa, Fa?” Mama terlihat bingung Kak Syifa rupanya gak tahan nanya alasannya. “Mama sembunyiin kalau Ayah gak pernah biayain kami.” Aku menyahut. Mama memandangi kami satu per satu. “Mama itu nyakitin diri sendiri. Kami sampai salah paham sama Mama.” Kak Naya berkata seraya memeluk wajah Mama, mencium dahi Mama, membuat haru lagi di hati. Detik kemudian malah tersenyum lebar. “Ohh, jadi karena tau itu tadi pada nangis? Siapa bilang mama nyakiti diri sendiri?” Kak Al mengusap-usap punggung tangan Mama, dia duduk di kursi lipat sisi dipan. “Coba lihat, mama ini sehat, cuma kecapekan. Mama juga enggak punya beban pikiran.” Berbinar matanya, membuat kami kembali saling pandang. “Makasih, Ma. Atas semuanya. Semua yang sudah Mama lakukan untuk kami.” “Kewajiban orang tua kan-“ “Bukan orang tua, tapi Mama,” tukas Kak Syifa cepat. “Iya, iya. Kewajiban seorang mama ya memang begitu. Memastikan kalau anak-anaknya tumbuh baik.” “Termasuk harus berbohong?” Kututup mulut yang refleks bertanya. “Bohong buat kebaikan kenapa enggak?” “Ih, namanya Mama jahat sama diri sendiri.” Aku memeluk kakinya, mata hampir kembali basah. “Al, Nay, Fa, Denok … kalian dengarkan, ya. Mama ini sayang diri sendiri, sayang kalian-“ “Sayang Ayah?” Mama terhenti melihatku. Mengatup mulut sedikit mengangguk. “Ya, mama akui sayang ayahmu juga … 21 tahun merintis kebersamaan, sebelum peristiwa itu bukan waktu sebentar. Kebaikan ayah kalian, di awal kami membangun rumah tangga lebih banyak dibanding kesalahannya. Yang mau mama ingat hanya kebaikannya. Mama bersyukur kalian menyayangi Ayah. Tetaplah lakukan itu.” “… artinya Mama gak benci Ayah? Kok bisa?” Kak Nay merapikan anak rambut Mama yang keluar dari kerudungnya. “Mama pernah sakit hati, terluka. Sangat terluka. Tapi mama nggak menghindar, mama berusaha cari obatnya, obat yang diridhoi. Luka itu Alhamdulillah perlahan sembuh, sampai gak terasa sakit lagi, meski bekasnya masih ada.” Mama menarik napas, matanya menerawang pada langit-langit. “Justru dari bekas luka ini mama bangga pernah begitu kuat melewatinya. Itulah reward untuk diri mama sendiri. Makin mama mencintai diri. Sesuatu yang kelihatan tidak mungkin, Nak, tapi ternyata mungkin kalau ikhlas dan syukur itu diusahakan digenggam.” Kembali Mama pandangi kami. “Mama pernah mau nggak peduli pada kalian, pada ayahmu, tapi hati gak bisa menahannya. Mama terlalu ingin melakukan yang terbaik untuk kalian, jangan sampai tumbuh benci dan mengakar kuat di hati, akan buruk saat mama meninggalkan kalian dalam keadaan begitu.” Hening. Kami mendengarkan saksama saat Mama bilang terpikir akan kematian. “Mana ada orang meninggal minta hidup lagi untuk perbaiki semua, itu sudah pasti tidak mungkin. Oleh karena itu mama bertahan, menyembunyikan keburukan. Alhamdulillah, kalian tumbuh dengan hati yang sangat menyayangi Ayah. Rasanya dosa mama berkurang.” Haru. Kami memeluknya erat. Sampai mama mengaduh jarum infus tersenggol saat akan mengangkat tangan kiri, ingin merengkuhku. Kak Al sigap mengatur infus yang sempat terhenti menetes. * Hari ini Mama keluar rumah sakit. Kami berkumpul di rumahnya. Kado kejutan diangkut ke sini. Arga sangat ceria saat dipangku Jerry di depan Mama. Oh ya, dengan berat hati Adam dan Ayah kami tinggal di rumah. Kebetulan Ayah menolak saat kami tawarkan ikut. Titipan doa Ayah kusampaikan pada Mama. Kukatakan juga Ayah ikut lega mendengar kabar Mama yang hanya kecapekan. “Dik, tetap di kursi roda.” Papi Mahesa benar-benar memperhatikan Mama. Sepulang dari rumah sakit dilarang banyak gerak. Dua assisten perempuan berseragam, kata Mama baru dipekerjakan oleh Papi, khusus untuk melayaninya. Mama risi, tapi aku merasa hati menghangat. Senyumku dikulum melihat Mama diperlakukan persis Ratu. Mau apa hanya boleh bilang dari tempatnya duduk. “Ampun, Mas, nggak boleh juga lho berlebihan gini. Tulangku akan kaku kalau kurang gerak. Berkilo-kilo aku bisa jalan di Mekah, bisa. Kok di sini gak boleh?” “Udah nurut aja.” Sekilas Papi kecup dahi Mama. Benar-benar couple lansia bikin baper. Kesehatan Papi sangat oke, gak terlihat seperti pernah sakit. Itu mungkin karena makanan dan gaya hidup Papi yang sangat sehat, belum lagi jiwa jenaka’nya membuat dia terlihat selalu senang. Selama mengenal belum pernah kulihat mukanya murung. “Wah apa ini?” Mama memandangi kado ukuran 1x1 meter di depannya. Besar, karena ada kotak lain kami susun, ikut terbungkus sebagai penyangga belakang. “Apa mama lupa lagi ulang tahun?” tanyanya dengan senyum gak lepas dari bibir. Kami membuat formasi mengelilinginya. “Ini hadiah kecil-kecilan kita buat Mama,” ujar Kak Al. “Kecil? Ini besar.” Senang lihat wajah Mama semringah. “Besar bungkusnya, isinya kecil,” goda Kak syifa sambil menyatukan ujung telunjuk dan jempol. Kami tertawa melihat Mama makin penasaran. Mas Angger sama Jerry kompak beri aba-aba. Aku tahu isi kado, tapi tetap saja deg-degan menanti kado itu terbuka. Mau lihat reaksi Mama dan Papi yang duduk di sebelahnya. Sempat kulirik mereka berdua bergenggaman tangan. “… dua … satu!” Sreettt! Kompak suara mereka berdua sambil bersamaan menarik kertas depan penutup bingkisan kami. “Wahhh.” Mama sontak menganga. Papi bilang ‘wow!’ sambil merangkul pundak Mama. Mereka berdua begitu kagum melihat apa yang ada di depan mata sekarang. Lukisan kami pesan dari seniman di Malioboro, pemandangan alam sdari atas Borobudur. Kak Syifa pernah ngobrol sama Papi Mahesa dulu, sempat cerita kalau Mama suka pemandangan dari sana. Memang benar, mata Mama berkaca-kaca sambil mengucapkan terima kasih. “Mama sangat suka ini. Suka,” haru Mama dengan suara menggetar. Sepertinya Mama punya nostalgia dengan tempat itu. Setelah itu barulah kami buka kotak hadiah lain. Satu set pakaian, lengkap dengan hijab dan tas warna serasi. “Terima kasih semua sayang mama, terima kasih banyak ….” Mama menangis haru sambil membuka tangan, meminta kami mendekat. Dipeluknya kami satu per satu. Dua menantu dan cucunya juga dipeluk Mama penuh sayang. “Kita pajang di mana, Ma?” Mas Angger bertanya pada Mama. “Di kamar aja gimana?” tanya Mama pada Papi, tapi kemudian meralat ucapan sendiri. “Oh, di ruang baca aja, ya, Mas. Persis di depan kursi duduk aku biasanya.” Mereka sepakat. Akhirnya, hadiah itu di bawa ke atas oleh Mas Angger, dibantu Jerry dan diikuti assisten Papi yang berkemeja safari. Kami kemudian menikmati makan bersama. Kue manis hanya sebagai penghias, karena Mama cuma cicip. Mama ini sekarang sangat disiplin jaga makanan. Masih suka ikan, itu salah satu menu yang dipesan Papi pada sebuah delivery, mobil box bertulis Nutrifood Cathering tadi yang ngantar makanan-makanan sehat ini. Selain sayur rata-rata makanannya dikukus dan tim. Ah, Mama dan Papi memang pasangan panutan. ~~*~~ Waktu berlalu cepat. “Yang, itu barangnya sudah dicek.” “Ok, siap berangkat, muach, muach!” Diciumnya aku dan Arga cepat. “Assalamuallaikum.” “Waalaikumsalam. Dadah Papa.” Arga mengikuti kalimatku. Setahun setengah berlalu. Arga ikut aku di toko, aku sebagai kasir dan Jerry sebagai supir pengantar barang, kuliahnya alhamdulillah sudah nunggu wisuda. Jerry membawahi lima karyawan gudang bantu bagian bongkar muat barang. Kami memilih mengikuti saran Mama, membuka toko bahan pokok yang sekarang bisa jadi distributor. Oh ya, apa yang mau Mama sampaikan pada Kak Al waktu di rumah sakit isinya adalah keinginan Mama membagi semua yang dimiliki untuk anak-anaknya. Urusan harta sekarang gak ada masalah, semua dibagi dengan adil. Usaha ini juga berjalan berkat ilmu dari Mama, hingga berkembang cukup pesat, bukan karena dibantu menggerakkan tapi hanya diberi pandangan oleh Mama, karena aku dan Jerry masih belajar usaha mandiri. Mama dan Papi itu sekarang semacam penasehat pertama di keluarga, Ayah penasehat kedua sebagai penyemangat. Walaupun terpisah pulau hubunganku dengan Mama dan Papi, Ayah dan Adam, juga kakak-kakak saling kuat terikat. * Di bawah ini adegan dibuang sayang aku dan Jerry …. “Beb, sudah dong. Masa gini aja nangis?” “Gini aja kamu bilang, Yang?! Jelas-jelas cewek itu mau godain, kenapa pake dibalas juga!” Bibirku manjang lima senti. “Kan, aku balasnya bilang salah sambung, Beb-“ “Modus! … paling nanti basa-basi nanya ini nanya itu, lanjut!” “Beb, jangan curigaan, dong. Aku tambah capek kalau kamu ngambek.” “Aku juga capek, Yang! Lihat WA kamu, aku makin capeeek!” Pertengkaran antara aku dan Jerry bisa disebabkan hal sepele. Lebih banyaknya karena aku pencemburu, katanya. Aku sih gak ngerasa gitu. Kata Mama, aku terlalu mencintai suami, jadi over possessive padanya. Ya, aku mungkin memang sedikit ekstrem menjaga suami. Kalau Jerry salah aku pasti siapkan waktu merepet keluarkan amarah, tentu dengan catatan cuma ada kami berdua di kamar, dan di rumah. Arga kami suruh saudara lain ajak keluar, baru perang dunia dimulai. Biar Jerry tahu kalau aku sangat sayang padanya. Sebelum terlambat, ya kan? Satu yang kujaga, gak ada kata minta cerai atau kata kasar, itu berkat pesan Mama. Hebatnya, Jerry peka kalau marahku ini hanya sebatas mau dimanja, dia pun akan servis sempurna setelahnya. 😀🤭 Salam cinta dariku, Denok.❤
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
beri robux
15/06
0bagus cepat baru nyoba
28/04
0bagus banget
23/02
0Lihat Semua