Beranda/Dicintai Pangeran Sekolah/
Bab 34 Ciinta Tak Terduga
“Putri.”
Hening, semua diam menghormati Ibu negara yang sedang angkat bicara. Putri yang seperti terdakwa hanya bisa menunduk dengan tatapan tidak pasti. Tangan gadis itu terkepal kuat hingga kuku jarinya yang sedikit panjang menanjap di telapak tangannya sendiri.
Putri tidak suka dimarahi, ia merasa sudah dewasa. Lagi pun sudah sangat lama sejak sejak ia dimarahi besar-besaran dulu. Putri takut itu terjadi lagi.
“Kamu sadar, apa kesalahkan mu?” Putri tetap diam, mulutnya terasa berat untuk dibuka.
“Maaf saya ke sini-“ Dairon baru saja membuka suara ingin mengatakan niatnya, namun terhenti setelah mendapat tatapan tajam dari ibu. Mau – tidak mau lelaki itu terdiam, entah kenapa ia merasa gugup saat ini.
“Putri, kalau ibu tanya dijawab! Kalau kamu diam terus, ini nggak akan selesai sampai pagi. Tidak ada yang boleh bergerak dari tempatnya sampai kita mendapat kesepakatan.” Final yang tidak bisa diganggu gugat.
“Sampai kapan kamu diam terus, hm? Nggak malu diliatin orang lain?” Ibu terus mendesak Putri.
“Maaf.” Satu kata Putri katakan. “Putri nggak bermaksud bohong, Bu. Putri lupa cerita bagiaan itunya.”
“Pftt-“
PLAK!
“AKH!“ Dito yang ingin tertawa mendengar suara cicitan Kakaknya langsung dihadiahi pukulan di belakang kepalanya oleh Putri.
Bayangkan, keadaan tegang, Putri ketakutan setengah mati, diketawai Adik laknatnya. Gondok yang ada.
Aksi itu sering terjadi sehari-hari, Ibu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Jessy mengelus kepala Dito merasa kasihan. Gladis menutup mulutnya dengan kedua tangan, ini pemandangan pertama kalinya sejak ia tinggal di rumah Putri. Dairon berusaha membungkam mulutnya menahan tawa. Dan Dalfon jangan ditanya, seakan sedang tidur dengan mata terbuka, tidak ada reaksi apapun.
“Ya sudah, jadi maunya Nak Dairon ke sini ingin menjemput istrinya, Gladis?” tanya Ibu memecah suasana yang jadi begitu absurd.
“Iya, tadinya begitu,” jawab singkat Dairon yang tidak dimengerti semua orang. Ia bisa melihat jelas dari kerutan di kening mereka masing-masing, kecuali Dalfon tentunya. “Maaf, jadi begini. Apa boleh beri saya waktu dan tempat untuk bicara berdua dengan istri saya? Saya hanya ingin memastikan sesuatu.”
Gladis mengelupasi kulit mati di tangannya dengan kukunya yang panjang. Ia hanya bisa menunduk tanpa berani menatap suaminya. Hatinya begitu berat dan ketakutannya di depan mata, rasanya ia ingin menenggelamkan dirinya sediri dibanding ingin menangis.
“Baiklah. Dito, tunjukkan kamarmu. Kalian bisa berbicara di sana.”
***
Brak!
Vian melempar map berisi dokumen yang tidak ia mengerti.
“Bisa jelaskan, semua ini dari mana? Kontraktor daging, susu, gandum, dan beberapa lainnya. Buatkan pertemuan dengan mereka besok,” perintahnya.
Ernes mengambil ponselnya di atas meja untuk menghubungi para kontraktor sesuai perintah, namun ponselnya ditarik paksa oleh Colby yang baru saja datang dengan Elenio.
“Tu-Tuan Colby, Tuan Elenio.” Menuduk hormat, Ernes yang terkejut dan tidak tahu harus berbuat apa.
Vian yang mendengar Ernes menyebut nama itu membalikkan badannya.
“Yo, Bro. Sibuk?” Colby mendaratkan pantatnya di sofa dengan santai sambil mengotak-atik ponsel Ernes.
“Oh ya jam sepuluh, pantes udah nggak ada orang. Gue kangen sama si Rata.” Elenio pun mengikuti jejak Colby, entah kesambet setan apa mereka bisa akur.
“Mau apa kalian ke sini?” tanya Vian tidak suka kehadiran kedua temannya. Bukan bermasud membenci, tapi ini bukan waktunya untuk bermain-main.
“Ngapusin nomer yang nggak penting.” Dengan sengaja Colby melempar ponsel Ernes ke atas meja, lalu merenggangkan tubuhnya. “Besok final catur lagi. Mager banget, pasti gue menang lagi.”
“Coba futsal gue main sendiri, gue yakin juga menang. Kelas kita nggak ada yang solid, yang nendang siapa, yang bertahan siapa, yang nyerang siapa, ancur semua,” komentar Elenio.
“APA YANG KALIAN LAKUKAN?!” Secepat kilat Vian mengambil ponsel Ernes dan benar saja, semua nomer di kontak ponsel itu hilang, tidak ada yang tersisa. “KALIAN GILA?!”
Vian tidak pernah marah sampai berteriak seperti itu, karena ia adalah lelaki yang paling tenang di antara Five Prince. Elenio dan Colby jadi mengerti seberapa kalut Vian. Sayangnya Vian memang bodoh, tidak tahu mana yang harus diselesaikan untuk menyelesaikan yang lain.
“Ya nggak lah, kalau gue gila udah di RS kali. Lagi lo kali yang gila, untuk apa punya nomer yang perusahaannya sendiri nggak ada? Buang-buang tenaga aja.” Dengan santai Colby mengatakannya. Ini saatnya membantu sahabat.
“Maksudnya?”
Pertanyaan Vian membuat Colby dan Elenio saling melempar senyum miring.
***
Abhinaya mendobrak pintu kaca tanpa peduli teriakan para staf yang melarangnya masuk ke ruangan Bosnya. Sedangkan, orang yang ada di dalam seakan tahu dengan ke datangan Abhinaya, tampak duduk dengan santai sambil memejamkan matanya.
“Apa maksud Anda menghentikan penyelidikan? Anda mau main-main dengan saya? Say-“
“Anda bahkan bisa merobohkan gedung ini dalam hitungan jam, bagaimana bisa saya bermain-main dengan Anda?” Dibuka mata sipitnya itu. “Silahkan duduk Tuan Abhinaya. Saya akan membuatkan teh hangat untuk menenangkan diri.”
“Tidak perlu.” Suara yang dingin dan mendominasi, Abhinaya mendudukkan dirinya seperti permintaan pengacara Choi. “Langsung intinya.”
Pengacara Choi hanya bisa menghembusakan napas perlahan, menghadapi remaja yang jenius itu butuh strategi. Kata-kata yang ia keluarkan jika salah sedikit saja, mungkin nyawanya bisa terancam. “Tuan Dalfon sudah mengambil kasusnya dengan benar. Saya hanya mengikuti perintah. Bukan salah langkah, tetapi mengikuti yang Tuan Vian yang tengah kalut, itu sangat gegabah.”
Abhinaya sudah memikirnya sampai sejauh ini, ia juga sudah merasa Vian melakukannya atas dasar emosi. Dan bodohnya Abhinaya, yang ingin menyenangkan Vian malah mengikuti begitu saja. Sekarang, tanpa niat meminta bantuan Dalfon seperti yang dikatakan Vian sendiri, Dalfon sudah mengambil langkah lebih jauh.
“Ya saya yang salah. Jadi sudah sampai mana tahapannya?”
“Yang saya tahu, Tuan Dalfon sudah mendapat bukti yang bahkan tidak bisa saya lacak sumbernya. Hanya sampai situ yang saya tahu, Tuan.”
“Bagaimana bisa? Dari mana dia mendapatkannya?”
“Saya juga kurang paham, tapi terakhir Tuan Dalfon bilang akan mengabil kasus dan penyelidikannya sendiri. Jika Tuan Vian terlambat mengatasinya ....”
“Apa itu asusmsi Anda?”
“Iya Tuan, saya memang tidak mendapatkan apapun. Tapi saya tahu beberapa fakta.” Pengaca Choi mencondongkan tubuhnya dan menatap Abhinaya dengan serius. “Mr. Ed telah bertindak cukup jauh, bahkan masuk kepekerjaan gelap.”
“Maksudmu membuat ... perusahaan maf-“
“Maaf Tuan, belum sejauh itu. Jika sudah, tidak luput dari perhatian Tuan Arch. Sejauh yang saya ketahui itu hanya perusahaan kecil, hanya beberapa pejabat rendah yang melindunginya. Seperti benalu, perusahaan itu menempel pada Vinfood. Jadi semua data yang ada di perusahaan Tuan Vian adalah fiktif. Anda tahu kelanjutannya jika sudah seperti ini. Kemungkinan perusahaan induk harus aktif kembali.”
“CW Group?”
***
Di tengah keheningan, tangan Dairon mengapai tangan Gladis dengan lembut.
Gladis tersentak dengan perlakukan yang begitu tiba-tiba, mustahil bukan jika suaminya itu meminta ‘jatah’ di tempat dan situasi seperti ini? Tapi Dairon memang hanya lembut jika ingin menyentuhnya saja, dan akan kasar jika Gladis melakukan hal konyol.
“Kamu ingin bermain di sini berapa lama? Rumah tidak ada yang jaga atau aku berikan rumah itu pada pembantu saja?” ucap Dairon dengan mudahnya, namun berhasil membuat Gladis menatap langsung pada matanya.
“Hentikan ini, kamu bisa kehabisan darah.” Dairon memisahkan tangan Gladis yang saling bertautan, karena Gladis masih saja mengupasi kulit mati di tangnnya. Lalu ia melangkah, memojokan Gladis hingga ke dinding. “Atau kamu ingin aku melakukannya di sini bersama dengan darahmu yang terus mengalir?” bisiknya dengan suara yang serak.
Gladis yang tersadar mendorong dada Dairon untuk menjauh, namun gagal. Tidak, Gladis yakin jika Dairon tidak akan senekat itu.
“Kenapa tidak? Rasanya lebih menyenangkan jika mereka dengar isakan yang bercampur dengan desahanmu. Itu sangat indah.”
Kaki Gladis lemas saat ini, jika saja Dairon tidak kuat memeluknya.
Masih mengimpit sang istri, tangan Dairon mengusap surai panjang Gladis dengan menggoda, namun matanya mengitari ruangan. “Ranjangnya reyot, aku tidak suka. Bagaimana di maja kecil itu?” ditatapnya meja belajar Dito.
Tubuh Gladis gemetar dan itu bisa Dairon rasakan. Ketakutan yang selalu sama, sudah tahu betul ia dengan reaksi yang istrinya berikan. “Keluarga yang manarik. Tinggal lah di sini selama yang kamu mau, asal jangan ke rumah Kakakmu yang sialan itu. Dan juga! Aku tidak ingin mendengar laporan kamu menghubungi Elenio. Jika itu terjadi lagi, keluarga ini sangat mudah aku hancurkan.”
“Jangan!” bantah Gladis reflek.
Itu cukup membuat Dairon terkejut.
“Aku berjanji, bahkan atas nama anakku jika aku mengandung anakmu nanti. Dan saat itu, kamu- aku izinkan menjemputku kembali,” cicit Gladis yang berusaha memberanikan diri.
Dairon mengangkat dagu Gladis dengan kasar, tiba-tiba ada kemarahan dalam dirinya. Bagaimana bisa Gladis mempertaruhkan anak mereka untuk keluarga ini? “Apa maksudmu?”
Gladis tersenyum tulus dengan hati yang begitu sakit. “Kalau kamu tahu, aku tidak meminum obat itu sejak lama. Jauh sebelum kamu menemukannya.” Ia memberanikan diri menatap suaminya tepat pada matanya. “Aku hanya ingin menikah dengan rasa mencintai, dan aku pikir untuk membuatku bertahan hanyalah saat aku memiliki anak darimu. Aku tidak bisa lebih serakah dari itu.”
Tangan Gladis mengangkat menyentuh rahang Dairon dan membelainya dengan lembut. “Terima kasih menganggapku sebagai wanita, dan tidak membedakan perlakuanmu hingga aku seperti jalangmu.” Suara itu sudah mulai melemah dengan matanya mulai sayup. “Jangan sakiti keluarga ini. Aku akan menjadi istri yang penurut apa kata suamiku, aku janji.”
Sampai Dairon benar-benar menopang tubuh Gladis yang pingsan.
***
Menyeruput teh beraroma melati begitu dinikmati gadis bertubuh mungil sambil mendengarkan musik klasik. Kakinya yang menggunakan bersandal kelinci bergerak mengikuti alunan melodinya seperti komponis.
“Apa si cacat sudah kembali? Atau hanya pemanasan? Sial! Tidak ada gunanya. Kan aku jadi tidak mendapatkan informasi apapun.” Nada suara yang terdengar tengah jengkel, tapi ekspresinya tetaplah tenang.
“Dan saat waktunya itu terjadi, aku tidak akan memudahkan mu begitu saja, benarkan Abhinaya? Keadilan harus ditegakkan.” Senyum yang begitu manis tersemat di sela minum tehnya.
***
“Tunggu!” Putri menghentikan Dairon yang ingin memasuki mobilnya.
Dairon menutup kembali pintu mobil dan memutar badannya.
“Anda mencintai Gladis.”
Seakan terbangun di malam hari karena salah membuat alarm. Mata retina itu melebar menandakan keterkejutan, namun tertutupi dengan wajahnya yang datar. “Tidak, dia tidak lebih dari anak perempuan yang dijual ayahnya dan akan menjadi Ibu bagi penerusku,” jawab Dairon dingin.
Putri mendengus sebal, entah kenapa ia merasa tebakannya tidaklah salah. Dan lelaki itu, Putri pastikan sedang berbohong. “Saya panggil Anda enaknya apa? Pak? Om? Kakak? Mengingat Gladis Adiknya Vian dan Gladis juga memanggil saya kakak, tidak peduli umur.” Putri juga bisa membalas dengan dingin. “Gue akan bersikap santai.” Senyum miring Putri terbitkan telah bersikap kurang aja pada orang tua dihadapannya, mengunakan bahasa lo-gue.
Jika dilihat pun suami Gladis tidak begitu tua, mungkin sekitar umur 27-30 tahun? Masih terlihat tampan. Tapi tetap saja, pria ini telah menikahi anak dibawah umur.
Dairon tidak mengerti yang dimaksud Putri, ia pikir, apa dirinya sedang dipermainkan? “Lebih baik fokus untuk kelulusanmu, aku sudah mencari tahu semua tentang keluargamu. Jangan ikut campur lebih jauh jika ingin keluargamu baik-baik saja.”
Putri sadar, ancaman semacam ini biasa terjadi di dalam drama Korea. Orang yang berkuasa tinggi akan mudah menindas yang lemah. “Gue nggak tahu sejauh mana yang lo maksud, gue sedang memberi tahu. ‘Anda mencantai Gladis’ ini pernyataan. Lo sendiri pasti nggak sadar, kan?”
Putri menghampiri Dairon dan menepuk pundak lelaki itu tiga kali. “Gunakan perasaan jika ingin mengerti cinta, Bung. Gini ... lo rasakan apa arti Gladis buat lo? Kalau emang lo merasa Gladis nggak lebih dari barang yang lo beli dari bapaknya, atau mesin produksi yang akan menghasilkan anak buat lo ....”
Menggantung ucapannya, Putri menjauh dan akan masuk ke dalam rumahnya. “Lo ngebohongin diri lo sendiri. Karena dengan lo ke sini untuk menjemput Gladis langsung, artinya lo masih menghargai dia sebagai istri lo. Thank’s ya ngizinin Gladis tinggal di sini, gue pastiin dia bakal happy terus.”
Grek!
Pintu gerbang tertutup sempurna, dan Dairon tidak bergerak dari posisinya. Sampai gigitan nyamuk mengangganggu membuatnya cepat pergi dari sana.
***
Di sisi lain, semua yang Putri katakan pada Dairon terdengar semua sampai telinga Dalfon. Lelaki itu yang sudah memasuki rumahnya lebih dulu sengaja berdiam di teras. Tadinya Ia yang tidak mempercayai Dairon ingin berbicara empat mata tentang keputusan membiarkan Gladis di rumah Putri.
Tapi memikirkan apa yang Putri katakan pada Dairon, membuat Dalfon entah kenapa merasa jantungnya berdebar cepat.
“Tidak sebodoh itu rupanya.”
Dalfon pikir yang dikatakan Putri sudah cukup mengguncangkan Dairon, tanpa perlu dirinya bicara. Dan mungkin efeknya akan mengganggu pikiran Dairon.
Dengan dirinya sadari bibir Dalfon terangkat sedikit membentuk senyum seperkian detik. “Kemajuan,” ucapnya datar melihat kondisinya sendiri. Dalfon menerka-nerka apa yang terjadi padanya. ‘Apa ini perasaan senang?’
***
Putri bangun pagi seperti biasa, melakukan rutinitas yang merupakan kewajiban. Lalu ....
“Woy bangun! Jes, lo mau gue pecat jadi Adek Ipar? Gladis, bangun!”
“Woy Kak! Pacar gue baru tidur enam jam! Masih kurang dua jam lagi!”
Putri menutup kamar Dito dengan kencang tanpa memperdulikan si empunya memaki dirinya di luar sana. Dari dalam Putri bisa mendengar ringisan Dito, yang pasti sedang di jewer Ibu.
Mereka memang tidur di tempat yang tidak seharusnya, Jessy dan Gladis di kamar Dito. Sedangkan Putri dan DIto memilih tidur dengan Ibunya yang bebas nyamuk karena menggunakan selambu.
Awalnya hanya Dito yang tidur dengan Ibu, tapi you know lah ~ anak mana yang tidak iri saat Ibunya dekat dengan anaknya yang lain. Hampir semalaman Putri dan DIto bertengkar, dengan itu akhirnya Ibu meminta mereka diam dan tidur dengan tenang atau semuanya tidur di teras. Jadilah mereka bertiga tidur berbagi kasur.
“Okey, gue hitung satu sampai tiga. Kalau nggak bangun, gue siram pake air.”
“Satu.”
Tok tok tok
“Put, pelan-pelan banguninnya. Anak orang itu, jangan cari masalah!” peringat Ibu dari luar kamar.
Putri hanya tersenyum licik membuka botol air minum Dito, yang masih ada air di dalamnya.
“Dua ….”
Langkahnya mendekat, dan melihat Gladis sudah bangun dengan mendudukkan dirinya sambil memijat kening.
“Tiga!”
Bibir Putri mendekat ke telinga Jessy dan membisikkan sesuatu, dengan tangan kanan yang sudah mengangkat botol terbuka tepat di atas kepala Jessy. “Have fun with water, Jessy.”
“Aaaa ... Kak Putri!” Terpaksa Jessy langsung lari ke kamar mandi sambil sempoyongan bahkan terjatuh-jatuh hingga menabrak dinding.
Gladis yang melihat itu memberikan seulas senyum dan Putri memegang perutnya yang terasa sakit karena tertawa terlalu kencang.
“Buset tuh anak ngelindur sampai segitunya. Hahaha ....”
***
Masih menguap, Putri mengeluarkan selang untuk Dito menyiram tanaman. Lalu dirinya melihat seseorang mendekat ke arah rumahnya dari fiber plastik yang tertempel di pagar rumahnya.
“Assalamua’laikum.”
Benar sudah, sebelum membuka gerbang Putri sudah tahu siapa yang datang.
“Baju Gladis,” ucapnya singkat pada Putri sambil memberikan paper bag batik.
Putri mengambilnya lalu mengucapkan terima kasih. Ingin menutup kembali pagar, sesuatu ada yang menahan pagar tersebut.
“Gue sarapan di rumah lo ya.” Tanpa dosa, tanpa menunggu izin dari yang membukakan pintu, Dalfon masuk begitu saja bahkan meninggalkan si punya rumah yang masih berdiri di depan pagar.
“Cih, seumur-umur rumah gue jarang di datengin tamu. Sekalinya kedatangan tamu, nggak tahu diri semua.”Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (48)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
kerenn bangett
28/05/2025
0seru banget ceritanya
19/05/2025
0bgsss bgtt kak
26/04/2025
0Lihat Semua