Beranda/Dicintai Pangeran Sekolah/
Bab 37 Gladis Sakit?
Setelah berdecak kagum dengan segala kemewahan. Kini Putri seperti seorang Ibu yang sedang menenangkan anak lelakinya berusia 23 tahun tengah menangis. Sedangkan adik kandungnya sendiri asyik berkaraoke di depan layar televisi besar.
‘Kinan kampret! Dia enak-enakan nyanyi gue malah jadi baby sister!’
“Lo tahu, Put? Dulu dia juga sering nyanyi lagu itu ... hiks! Gue rindu suara cemprengnya,” keluh bayi besar itu.
Kurang baik apa lagi, bahkan Putri membiarkan pundaknya menjadi bantalan dan bajunya jadi basah karena air mata lelaki itu.
Kinan dan Abangnya memang mengajak Putri ke sebuah hotel yang sangat besar, Putri tidak megerti sebesar apa, tapi ini sangat terlihat high class.
“Put, kita pesen ramen yuk! Kayaknya enak deh. Capek gue nyanyi terus, kita nonton aja gimana?” sekarang Kinan menghampiri Putri membawakan buku menu makanan yan akan ia pesan. “Bang, pesen makan ya? Yang mahal boleh?”
“Huhuhu ... terserah lo, Adek durhaka. Abisin aja duit cast di dompet gue.”
Putri hanya bisa memutar matanya melihat kelakuan adik dan kakak ini sama-sama membuatnya malas. Tujuan gadis itu ikut acara foya-foya mereka hanya ingin merasakan kehidupan orang kaya, walau ini sudah kesekian kalinya. Hanya saja ... di lain alasan, Putri benar-benar kasihan dengan Abangnya Kinan ini.
“Bang David, sampai kapan lo begini terus? Gue yakin lo cepat lakunya, masih aja nangisin almarhum. Dari pada lo ngabisin duit setiap ulang tahun dia, mending lo doain dia. Kalau lo lupa ini juga hari kematiannya, Bang.” Ceramah yang selalu Putri utarakan, ya … hanya sok bijak saja.
Mengusap air matanya, Abang Kinan yang bernama David duduk tegak, berusaha menguatkan diri. Karena ia sudah menangis kurang lebih dua jam dan itu sudah cukup melelahkan.
“Lo baik, Put. Kenapa selama ini lo mau dengar keluhan gue? Kenapa lo mau jadi sandaran gue padalah di depan mata Adek gue sendiri acuh banget? Janga-jangan lo suka ya sama gue?”
Tanpa berpikir Putri langsung mengekspresikan wajahnya yang seolah akan muntah. Putri mendorong David dengan kuat, hingga laki-laki itu terlentang lemas di sofa. Ya, memang dasarnya David sedang tidak bertenaga karena habis menangis.
“Kinan! Abang lo makin ngacok nih. Anjir, mana ada gue suka sama lo.” Putri juga langsung berpindah tempat duduk, tidak mau dekat-dekat dengan David. Padahal tidak ada alkohol yang lelaki itu minum, tapi bicaranya sudah melantur saja.
***
Geliatan kecil mengusik telinga Putri. Suara grasak-grusuk dan keran air yang awalnya hanya bisikan menjadi terdengar begitu jelas bersama kesadarannya yang mulai penuh.
“Ouch ....” Kini perutnya merasa tidak enak mengingat ia makan terlalu banyak kemarin malam.
Tunggu, Putri ingat membuat alarm jam 5 hanya untuk sekedar sholat subuh. Karena seminar hari ini akan dimulai jam 10 dan panitia kumpul jam 8, ia berencana tidur lagi. Tapi alarmnya bahkan belum berbunyi ia jadi terbangun dengan suara keran.
“Hoek!”
Masih dalam usaha memejamkan mata, seketika Putri tersadar penuh. Itu suara muntah seseorang. Kembali mempertajam pendengarannya, ia ingin memastikannya lagi.
“Hoek! Ohok-ohok!”
Krash ....
Benar! Ini suara seseorang muntah dan nyalanya keran. Putri langsung berlari ke kamar mandi, dengan lampu yang menyala dan pintu terbuka. Tahu siapa yang ada di dalam, Putri langsung masuk begitu saja untuk membantu orang itu mengeluarkan isi perut dengan memijak tekuk leher.
Sekiranya merasa sudah selesai, Putri menuntunnya ke kamar mereka. Orang yang muntah itu bukan lain adalah Gladis.
“Lo nggak apa-apa?” tanya Putri khawatir. Melirik jam di dinding kamarnya, baru saja jam 3 pagi.
Gladis yang merasa lemas hanya menggelang sebagai jawaban.
“Lo masuk angin nih, gue matiin kipasnya aja? Tapi kamar gue panas kalau nggak pake kipas.”
“Nggak apa-apa kak, kayaknya aku cuma kebanyakan makan. Semalam ibu membelikan bakso, karena enak aku minta nambah dua mangkok. Ternyata aroma bumbu bakso kuat banget sampai masih kerasa sekarang- “
Gladis kembali lari ke kamar mandi memuntahkan isi perutnya. Putri mengikutinya karena khawatir. ‘Beneran karena bakso? Muntahnya air doang gitu. Tapi aroma bakso kalau orang nggak biasa emang nyengat sih.’
“Lo nggak biasa makan bakso ya?” Kembali menggiring Gladis ke kemar.
Putri segera turun ke dapur mencari, baskom, kantong kresek, dan tissue agar Gladis tidak bolak-balik ke kamar mandi. Tidak lupa ia membawa obat Tolak Angin ibunya yang ada di stock di dalam kulkas.
“Kalau mual, muntah di sini aja. Besok pagi tinggal lo bersihin. Lumayan lo bolak-baik kamar mandi, pasti capek. Mending sekarang kita istirahat lagi, tapi lo minum obat dulu sama pake minyak anginnya dulu biar hangat.”
“Kak maaf, jadi merepotkan.”
“Ini kalau lo mau minum air putih juga. Oh ya, kalau lo nggak suka bau minyak angin, gua ada aroma terapi sama minyak telon. Udah nggak usah mikir macem-macem, lagian wajar kok orang sakit tiba-tiba. Gue aja sering tiba-tiba kena serang flu, dan kalau udah begitu gue pasti juga muntah-muntah dan bikin orang rumah heboh. Nggak ada yang merasa direpotkan di sini.”
Setelah melihat Gladis sudah melakukan penanganan sederhana darinya, Putri membantu membereskan kasur dan membuat Gladis berbaring dengan nyaman.
“Kalau lo merasa butuh ke Dokter, kasih tahu aja ya? Nanti dianterin Ibu atau Bapak kok. Nggak usah sungkan ya? Soalnya kalau lo nggak bilang sakit, keluarga gue nggak akan tahu. Yang merasakan lo, lo yang tahu sendiri kondisi tubuh sendiri. Jangan diam aja tahu-tahu lo pingsan, itu yang bikin repot karena pasti kita panik banget. Menunjukkan lo lagi sakit bukan berarti lo lemah kok.” Entah, Putri hanya merasa harus memberi Gladis semangat. Dari cara Gladis yang meminta maaf, Putri takut jika Gladis masih sungkan pada keluarganya.
Apa lagi yang Putri tahu, Gladis berlatar keluarga kaya. Pasti apa-apa dilayani, tanpa mengeluh pelayannya akan lebih peka untuk bertindak. Ini sama saja untuk Putri mengajar Gladis lebih mandiri dan peduli pada kesehatannya sendiri.
Putri jadi khawatir, sungguh khawatir. Dan juga ... diam-diam Putri sudah melihat semua memar di sekujur tubuh Gladis. Selain itu ada juga bekas luka dalam dan luka kering di belakang kepala Gladis. Tanpa bermaksud ikut campur, tapi juga memeberi perhatian pada Gladis. Putri menahan diri untuk tidak bertanya dn pura-pura tidak tahu.
Tiba-tiba Gladis menaiki kasur Putri dan menangis tanpa isakan. Karena terkejut juga Putri langsung membalikkan tubuhnya. Tanpa sempat bertanya Gladis memeluk Putri dengan manja.
“Kak ... Gladis kangen Dairon.”
Putri terkejut, tapi juga tidak. Entah kenapa Putri sudah menebaknya sedetik sebelum Gladis bicara. “Mau ditelepon suamimu itu, hm?” Putri mengelus Gladis lembut. Entah ini hari apa, Putri sudah dua kali di malam dan menjelang pagi menangani orang menangis.
“Tapi Gladis takut Kak. Gladis nggak mau ketemu Dairon. Tapi Gladis mau dipeluk Dairon.”
‘Ini mode bocah labil, hm? Ya ... Gladis memang masih remaja, bisa Putri maklumi’. “Terus Gladis maunya apa?” Putri yang mengelus kepala Gladis jadi menyadari sesuatu. “Ini kamu lagi demam, atau panas karena keringetan sih?”
Di dalam tangisnya Gladis malah tertawa dan mengeratkan pelukannya. “Kakak ... Gladis serius!”
“Ya emang gue lagi bercanda?” Padahal Putri sedang tidak malawak, tapi Gladis malah semakin katewa. Itu menular dan membuat Putri ikut tertawa. “Ya udah, mumpung belum subuh. Gue juga jadi nggak bisa tidur, mau sholat tahajud? Biar perasaannya tenang. Siapa tahu dikasih petunjuk cepat sama Allah, kamu mau ketemu suami kamu atau tetep gengsi. Gue wudhu dulu ya?” Putri melepas pelukan Gladis dan beranjak ke kamar mandi.
“Iya, Kak. Gladis juga mau ikut sholat!”
***
“Tuan, dia sudah datang.” Tunduk hormat sekertaris Dairon.
“Sambut dengan baik, jangan lakukan kesalahan.”
Dairon mengamati pria tua yang ekspresi wajahnya begitu congkak dan penuh ambisi, dalam sekali lihat bisa langsung dikenali kegilaan dalam dirinya. Dari televisi yang menampikan rekaman CCTV bisa Dairon lihat, dari mobil yang memasuki gerbang, lalu seseorang di dalamnya keluar, lalu mendapat sambutan hangat oleh para pekerjanya.
Mengambil jas yang bertengger di kursi kebersaran dan memakainya, sudah waktunya Dairon pergi dari ruangan itu dan bersiap menemui Ayah Mertuanya.
“Welcome Mr. Ed Saavik, sudah lama kita tidak bertemu sejak putri bungsu Anda pindah ke kediaman saya. Apa kiranya yang membuat Anda kemari?” sambutan kini Dairon lakukan. Bermakna sindiran di dalamnya, ia juga tidak peduli dengan respon pria tua itu.
“Oh Menantu ... bagaimana kabarmu? Apa putriku masih membuatmu repot? Maafkan aku karena kurang mendidiknya. Dia juga masih sangat muda, tolong jangan terlalu keras padanya.”
Dibuka dengan membahas ynag dianggap kelemahan Dairon, kini ia mengerti apa maksud kedatang pria tua itu.
Sebelumnya Dairon sudah mendapat informasi mengenai Ayah Mertuanya yang sedang melarikan diri, rasanya menarik untuknya mendengarkan lebih dahulu. Bukan berniat untuk membantu, tapi memberi harapan untuk membakar pemberontakan pasti lebih seru. Jelas-jelas pria tua itu hanya benalu dalam keluarga Saavik, beraninya dia melunjak.
“Silahkan duduk lebih dulu Mr. Ed Saavik, kita bisa membicarakan masalahmu sepagi ini dengan secangkir teh, jika kamu mau?”
“Tentu saja Menantu, itu yang aku harapkan.”
Teh datang dengan suasana yang santai, ditambah tegukkan yang terlihat damai. Siapa sangka salah satunya akan memberikan hadiah yang besar.
“Menantu, apa Gladis tidak kamu ajak ke Berlin? Aku harap dia tidak mengecewakanmu,” tanya Ed membuka pembicaraan, setelah tehnya sudah tandas.
Meneguk seruputan terakhir, Dairon meletakkan cangkirnya di atas meja. “Saya puas dengannya. Anda sangat tahu jika anak Anda masih sangat muda dan begitu polos. Seperti perjanjian, maka dia harus ikut keluarga suaminya. Saya akan mengurus surat keluarga dan menjadikannya keluarga Lim.”
“Hahaha ... kamu memang pintar, tidak salah aku memilihmu sebagai Menantu. Dan aku pun puas dengan bayaran yang telah kamu berikan.”
Senyum licik pria tua itu membuat Dairon jengah dan hampir kehilangan kesabarannya. Tapi demi sesuatu yang lebih besar … Dairon bisa menahannya sedikit lagi.
“Bukan masalah besar, saya akan mentransfer sisanya nanti malam. Ah ya, saya juga ada hadiah terakhir untuk Anda, nantikanlah.” Melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul enam pagi, Dairon berdiri untuk menyelesaikan percakapan ini. “Maaf, seperti Mr. Ed Saavik harus pulang. Saya ada pekerjan dan harus berangkat ke Hamburg sekarang,”
Melihat Tuan rumah sudah berdiri, mau- tidak mau Ed pun ikut berdiri dan terhusir halus dari rumah besar itu. Walau ia tahu maksud terisrat itu, yang penting tujuannya kemari sudah tercapai. “Aku harap ikatan kita semakin kuat, Menantu, dan kita bisa saling membantu kedepannya. Terima kasih, kamu menepati janji dengan bijak, lalu sambutan ini. Aku sangat tersentuh.” Dengan mengandung banyak arti, Ed mengatakannya dengan percaya diri.
Tersenyum sopan, Dairon menyelipkan seriangaian di sana. “Saya harap juga begitu, saya pasti mendukung apapun yang Anda lakukan.”
***
Kali ini Colby yang menemani Tasya mobilisasi. Membawa tumpukan sertifikat, ia mencari sosok yang seharusnya bertanggung jawab dengan benda itu. Sampai matanya menangkap yang sedang dicarinya, di tengah ke ruang antri peserta seminar yang masih sepi, karena belum dibuka sebelum semuanya sudah siap.
“Princess!”
Putri menoleh dengan wajah lesunya, pandangannya kosong. Begitulah yang Colby lihat. Tapi Colby tetap menyerahkan sertifikat namun menetap lebih lama, ia ingin tahu apa yang sedang Putri lakukan.
Tanpa kata setelah memerima sertifikat, Putri membuka buku tamu dan tidak menggubris keberadaan Colby.
Karena sudah menunggu lama, Colby tidak sabar lagi. “Ck! Gue sibuk nih, bahkan nggak ada waktu buat lo. Huh!” Lalu ia pergi dengan sendirinya sambil menghentak-hentakan kaki.
***
Tugasnya hanya sebagai penerima tamu. Saat seminar sudah mulai Putri akan diminta ikut acara sebagai peserta seminar. Akhirnya ia memilih ke bangku penonton bagian tribun karena tidak terpakai dan di sana lebih gelap. Walau matanya memperhatikan materi dan telinganya mendengarkan penjelasn Arch, pikiran Putri masih memikirkan Gladis.
‘Tuh bocah bilang ke Ibu nggak ya kalau lagi sakit?’
Hanya saja yang membuat kepalanya berdenyut nyeri adalah fakta Gladis merindukan suaminya.
Putri hanya bisa menebaknebak apa yang terjadi pada pernikahan mereka. Terkarang Gladis terlihat membenci dirinya sendiri, jika benar itu bahaya untuk Gladis. Hah ... hari ini hanya Gladis yang memenuhi pikiran Putri, ini sangat mengkhawatirkan.
***
Dairon memijat pelipisnya menikmati setiap denyutan di kepala. Entah kenapa pagi ini ia merasa seperti tidak enak badan. AC mobil bahkan ia meminta untuk dimatikan, lalu ia memilih membuka jendela mobil. Bahkan ia merasakan gejolak emosi yang tidak stabil, jadi mudah kesal dan marah. Untunglah saat Ayah Mertuanya datang, keadaan mood-nya sedang baik.
“Tuan, apa Anda membutuhkan sesuatu?” tanya sopir yang melihat raut wajah Dairon begitu aneh hari ini. Biasanya terkesan tegas dan dingin, sekarang seakan raut kesedihan terpancar dari wajah Bos-nya.
“Tidak, aku hanya mual dengan mobil ini.”
“Apa saya perlu mengemudikannya pelan, Tuan?”
“Tidak perlu, kita harus cepat sampai, aku muak dengan perjalanan panjang ini! Lalu, pulang nanti ganti mobil yang convertible.” Entah, Dairon merasa dirinya jadi serba salah.
Drrtt ...
Membuka ponselnya dan membaca sebuah pesan dari nama yang tidak ia harapkan. Anehnya itu membuat senyumnya mengembang manis, walau tidak bertahan lama. Seketika Dairon menyadari sikapnya jadi lebih aneh sekarang.
From Gladis
>> Sudah makan? Bekerjalah dengan baik, jangan buru-buru pulang. Karena aku belum ada niat untuk pulang juga. Semoga harimu menyenangkan.
Dibanting ponselnya itu membuat sopir pun ikut tekejut. ‘Beraninya dia menyuruhku berlama-lama di sini! Lihat saja, aku akan segera kembali, my wife.’
***
Gladis berguling-guling di atas kasur dan menutupi dirinya dengan selimut.
“KYAAA!”
Kalau saja wajah Gladis tidak tertutup selimut, bisa terlihat jelas tidak hanya pipinya yang memerah, tapi seluruh wajahnya sudah seperti Tuan Crap. Ia baru saja menantang iblis untuk datang lebih cepat, itu membuat jantungnya berdetak aneh! Seakan tergelitik? Berdesir? Entahlah, rasanya membuat hormon endorfinnya meningkat.
(Hormon Endorfin adalah zat kimia yang diproduksi sendiri oleh tubuh memiliki efek mengurangi rasa sakit, dan memicu perasaan senang, tenang, atau bahagia.)Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (48)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
kerenn bangett
28/05/2025
0seru banget ceritanya
19/05/2025
0bgsss bgtt kak
26/04/2025
0Lihat Semua