Beranda/Dicintai Pangeran Sekolah/
Bab 38 Khawatir
Colby cukup gabut di tengah kesibukan semua panitia. Semua tertangani dengan baik dengan kerja panitia yang luar biasa setelah mendapat evaluasi habis-habisan terakhir kali. Maaf saja, lelaki itu malu mengakuinya, tapi ia juga masuk dalam daftar korban akting panitia internal.
Ia menangis tidak tahan mendapat bentakan yang membuat emosinya tertekan, ingin rasanya ia menonjok setiap panitia yang berteriak tepat di telinganya, tapi Abhinaya sudah memperingatkan untuk tidak melakukan hal bodoh.
Semakin malu, saat dari jauh ia melihat Putri dengan wajah datar hanya menunduk lesu, menahan lelah dan kantuk. Putri tidak menangis sama sekali, gadis itu mengikuti alur drama penganiayaan sangatlah mulus.
“Colby, kita butuh bangku untuk di panggung. Tolong coba ke tribun, kata Pak Uus ada kursi lebih di sana.” Saat ingin membantu orang lain ia malah mendapatkan pekerjaan. Tapi ia tetap melakukannya, Tasya juga terlihat jauh lebih subuk sibuk.
“Butuh berapa?”
“Tiga, lo bisa angkut sendiri, kan? Bisalah! Masa cowok nggak bisa, itu kursi lipet kok. Cepet ya, Colby.”
Colby berjalan sambil menggaruk tekuk lehernya yang tidak gatal. Rumor tentang Tasya adalah ‘wanita tangguh’ itu memang benar. Bahkan Colby kagum dengannya dari beberapa sisi, karena yang membuatnya kurang menyukai Tasya adalah ambisi yang terlalu besar.
Sedikit kesusahan Colby membawa tiga kursi lipat. Dengan cara digeret, malah merisik. Dijinjing, tangannya tidak begitu kuat, ia memang lemah. Tidak sengaja matanya menangkap penampakan dari kegelapan yang duduk di bangku tribun. Ia mencoba mengucak matanya, tetap itu tampak nyata. Colby bukanlah orang yang percaya dengan makhluk mistis, ia lelaki yang rasional.
Akhirnya ia memilih membiarkannya saja, membawa tiga kursi itu. mengingat Putri sering bertindak konyol, dengan memikul barang yang tidak berat di punggungnya. Mencoba meniru, dan ternyata benar! Cara seperti itu membuatnya terasa lebih ringan.
***
Melihat ponsel, Putri tidak mendapat satu pesan dari siapapun. Putri yakin bukankah artinya ia bebas tugas, inimalah membuat gadis itu bingung.
Ini aneh, Putri marasa ingin pulang dan beristirahat. Entah kenapa energinya jadi cepat habis setelah banyak berpikir tentang Gladis. Seperti digerogoti rasa penasaran, walau Putri tahu tidak bisa ikut campur begitu saja. Tapi kata-kata pembenaran muncul di otaknya, ‘hanya sekedar tahu kan tidak masalah’.
“Kan bener manusia, gue hampir jantungan dikira hantu beneran.”
Sinar silau mengganggu sudut matanya sampai cahaya itu padam. Tanpa menoleh, Putri tahu itu suara siapa.
“Lo kira gue hantu?”
Dengan chilidsh lelaki itu mendaratkan pantatnya di sebelah Putri, dengan mode ngambek dan menggerutu kencang. “Kenapa gue tiba-tiba inget film yang dikasih Nio sih! Mana ada Princess mirip hantu! Bodoh! Bodoh! Bodoh!”
“Sebenar lagi istirahat sebelum sesi diskusi dengan Abhinaya. Lo mau ke kantin bareng gue nggak?” Putri merasa butuh minum yang segar-segar kali ini, mungkin bisa membuat kepalanya lebih dingin.
Dengan berbinaran, Colby langsung menatap Putri tidak ingin melewatkan kesempatan ini. “Beneran? Lo barusan ngajak gue kencan di kantin?”
Putri memutar matanya malas. ‘Mulai lagi ....’ “Nggak jadilah.”
“Eh eh eh! Gue bercanda kok. Gue mau banget! Gue yang traktir juga nggak apa-apa.”
Putri menoleh dan jadi teringat sesuatu. “By, lo bawa uang receh?”
“Ngapain? Dikantinkan bisa pake kartu debit.”
Dengan senyum terpaksa Putri harus menolak. “Baik, tapi terima kasih.”
“Nggak gue bohong! Gue ada uang receh kok, nih lihat dompet gue.” Colby benar-benar memperlihatkan dompet dan isinya pada Putri.
Itu membuat Putri mendengus lucu, karena sepertinya Colby benar-benar mengikuti perkataannya yang lalu. Seribu lembar sampai lima puluh ribu yang entah masing-masingnya berapa jumlahnya, dan berapa total keseluruhannya. Begitulah isinya.
“Gue punya utang enam ribu sama lo, gue tunggu sampai lo nagih dan ngajak gue jalan-jalan lagi. Makanya gue selalu bawa uang recehan.”
Seketika isi pikirannya yang penuh terlepas begitu saja. Jantung yang berdebar dan kebagiaan yang instan, ini seperti hiburan tidak terduga bagi Putri. “Hahaha ... apa itu? Gue ikhlas, By. Lo kalau mau traktir, gue malah senang. Gue kalau sama teman itu nggak terlalu perhitungan kok, karena gue tahu batas.”
Bahaya! Wajah Colby panas rasanya. Senyum Putri yang hangat, dan kata-kata yang diucapkan membuatnya malu. “Itu ... akan gue ingat!”
***
Grusuk-grusuk
Dalfon dan petugas lighting saling beratu tatap, dengan profesional petugas lighting bisa menangkap sinyal dari maksud tatapan itu. Tidak lama pintu ruangan terbuka dari luar menampilkan dua pria berbadan besar berbalut jas dan disusul dengan pria paruh baya dengan wibawanya.
“Putraku, aku mencarimu kemana-mana ternyata di sini,” sapa Mr. Caldwell dengan ceria.
Karena sudah diberi kode lebih dulu oleh Dalfon, petugas lighting keluar dari ruangan. Mereka juga tahu betul siapa yang datang itu, sebelum pergi pun mereka menunduk hormat lebih dulu. Lalu disusul bodyguard yang dibawa Mr Caldwell pun begitu.
“Sepertinya acara tahun ini sangat brilian. Menggunakan popularitas dan koneksi langsung dengan Five Prince sebagai siswa, ide yang fresh. Ketua pelaksana dan ketua OSIS angkatan kalian luar biasa.” puji Mr. Caldwell melihat keuntungan yang diberikan dengan acara tahun ini. “Dengan Five Prince menjadi pemateri, ini bisa dijadikan konten edukatif dalam acara hiduran sekolah untuk CW Entertaiment. Sepertinya aku harus memberikan penghargaan lebih besar dapa mereka.”
Acara sebelumnya tidak lebih hanya program kerja OSIS yang hanya sebetas menarik. Sedangakan sekarang, ketua pelaksana dan ketua OSIS bisa membuat semua orang berbondong-bondong mendatangi SMA Beauty ID tidak lepas dari media masa nasional.
“Ini usulan gadis Putri.”
Mengangkat alisnya sebelah, Mr. Caldwell pernah mendengar nama itu .... “Apa Putri yang sama dengan temanmu dulu? Yang dari keluarga Pak Heri tetangganya Bi Pipin di rumahnya dulu?”
Dalfon hanya mengangguh sekali menjawab, sedangkan tangan dan matanya bergerak mengatur lighting sesuai part-nya.
“Dia masuk SMA ini juga? Papa rasa dia hanya sedikit manis, berapa pH kecantikannya sampai bisa masuk sini?”
“Tidakkah Anda ingin membicarakan hal lain?”
Mr. Caldwell tersenyum kecut melihat anaknya mengalihkan pembicaraan. “Sepertinya Papa sudah tahu jawabannya sebelum bertanya. Tapi Papa tidak mengerti apa tujuanmu, Putri atau Ivon? Mustahil untuk keduanya, Nak.”
“Sejak kapan Anda memikirkannya?” Menekan spot light yang mengarah langsung pada Abhinaya. Tatapan Dalfon menerawang jauh pada Adiknya itu.
“Aku hanya khawatir, kupikir itu hanya masa kanak-kanak kalian. Tapi sampai sekarang kamu sibuk di lingkaran yang sama, seakan kamu terbelenggu oleh masa lalu. Tidak ada hubungannya antara mereka, semua sudah selesai.”
“Benar menurut Anda, tapi semua belum berakhir.”
“Apa karena Adikmu belum bisa melupakannya? Kamu anak pertama jadi lebih dewasalah, Nak. Papa tahu usiamu masih muda, tapi sudah tidak pantas ikut campur dalam permainan kekanak-kanankan seperti ini. Lebih baik kamu pulang, lanjutkan pekerjaanmu. Dengan kekuasaan yang kamu miliki, akan lebih mudah menyelesaikannya. Dan sudah saatnya kamu mencari wanita yang bisa memberikan keturunan untuk keluarga Caldwell.”
Mr. Caldwell merasa cukup untuknya mengomel, karena ia tahu Dalfon mudah mengerti sekalipun ia hanya sedikit bicara. Tapi ... ia tidak tahan karena sejak awal Dalfon memang tidak ingin mendengarkannya.
“Hubungan manusia lebih rentan jika terhadap emosi, kekuasaan Anda tidak berpengaruh. Menyelesaikannya memang mudah, tapi memang tidak ada ynag perlu diselesaikan kalau Anda mengerti.”
***
“Jadi Gladis sakit?”
“Heem ... Aku mengkhawatirkannya,” keluh Putri sambil menyesap minuman perisa lemon miliknya.
“Gue bisa mengirim Dokter ke rumah lo.”
“Benar juga, dibanding ke rumah sakit. Antriannya itu mikin dongkol.”
“Namanya juga rumah sakit.”
“By, gue tahu, nggak seharusnya gue kepo masalah Gladis. Tapi ... lo tahu, bagaimana hubungan Gladis dan suaminya itu seperti apa?”
“Hm ....” Colby menggigit bibir bawahnya. Ia tidak menyangka jika Putri akan menanyakan hal ini.
“Gue tahu ini nggak sopan, tapi kalau di drama yang sedang gue tonton, ini adalah bagian konflik yang ngeselin.” Putri merasa butuh menuangkan semua isi pikirannya. Hanya saja ini barulah asumsi.
Tunggu! Ini tidak seperti yang Colby pikirkan. Lelaki itu masih terus diam mencari tahu, sebenarnya kenapa Putrii penasaran seperti ini?
“Gue cuma tahu sebagian besar sih. Pernikahan Gladis dan suaminya itu karena Ayahnya, kan? Gladis itu polos dan terpaksa menerima pernikahannya. Tapi ada pihak luar yang membantu Gladis agar tidak memberikan apa yang diinginkan suaminya, yaitu anak.”
Sejauh ini Colby tidak mendengar ada sesuatu yang mencurigakan.
“Lo tahu, kalau Dairon, suaminya Gladis datang ke rumah gue buat jemput Gladis?”
“HAH?!” Colby baru tahu itu, karena yang ia dengar dari Elenio hanya saat ia mengantarkan Gladis ke rumah Putri. dan Dalfon menyuruhnya tutup mulut.
“Entah kenapa gue rasa ... suaminya Gladis- ya ... respon Gladis seperti ketakutan.” Putri bercerita sambil menggigiti ujung sedotan hingga gepeng. Putri takut salah menceritakan asumsi anehnya ini, tapi … ia juga sudah bicara pada Dairon langsung. “Ada sorot cinta di mata Dairon saat menatap Gladis.”
UHUK!
Colby keselak salivanya sendiri mendengar apa yang dikatakan Putri. Ia tidak pernah berpikir sejauh itu, tidak! Tidak ada yang pernah berpikir sejauh itu. Hanya Putri yang bisa berpikir jika ada ‘cinta’ di antara Dairon dan Gladis. Itu mustahi!
Siapa yang tidak tahu Dairon di dunia bisnis? Dia begitu terkenal dengan kebejatannya, hipersex. Tidak hanya itu, kejiwaanya pun dipertanyakan, karena sebelum menikahi Gladis, siapapun wanita yang menjadi teman kencan Dairon tidak pernah terlihat lagi keberadaanya. Banyak yang menduga dan menjadi rumor jika Dairon akan membunuh setelah memakai wanita yang berhasil menaiki ranjangnya.
“Gila~” Hanya itu respon yang bisa Colby berikan.
“Menurut lo, gue begitu, kan? Gue juga pikir Gladis membenci suaminya, mungkin karena Dairon menyeramkan dan jahat? Karena bagaimanapun ia sudah menikahi anak dibawah umur. Tapi ... Dairon tidak benar-benar terlihat jahat, dia cukup bijak memikirkan kondisi Gladis. Gladis juga aneh, apa ini seperti kasus stockholm sindrom?”
~ Flashback On ~
“Kak ... Gladis kangen Dairon.”
“Tapi Gladis takut Kak. Gladis nggak mau ketemu Dairon. Tapi Gladis mau dipeluk Dairon.”
~ Flashback Off ~
“Apa yang lo pikirkan?”
“Gue pikir, mungkinkah mereka saling menyukai tapi tidak menyadarinya? Makanya gue nanya sama lo tentang hubungan mereka sebelumnya. Gue tahu ikut campur itu nggak baik, tapi .... sudahlah gue cuma curhat aja. Tidak perlu menceritakan apapun tentang mereka.”
Senyum Colby mekar, lalu mengacak rambut Putri gemas. Ia hampir khawatir jika Putri sama dengan semua perempuan yang egois. Ingin tahu segalanya, tapi tidak bisa mempertanggungjawabkan. Malah dengan cerita yang ia ketahui memanfaatkan dan menyebarkan untuk meningkatkan popularitas. Bahkan Putri lebih baik dari yang dilihatnya selama ini, gadis itu sangat bagus dalam menahan diri dan bisa dipercaya.
“Andai semua hanya tentang kisah cinta ... apa yang terlihat dan dengar bukan selamanya benar, bukan? Sikap lo sudah benar, gue juga nggak ada hak untuk menceritakan masalah ini. Gue minta maaf hanya bisa dengar keluhan lo.” Kalau masalah Putri kali ini hingga membuatnya termenung adalah tentang Gladis, yang awalnya ingin membantu jadi Colby pendam walau berat hati.
“Kalau gue di posisi lo juga pasti begitu. Terima kasih, karena lo jadi pendengar gue kali ini aja udah sangat membantu.”
“Gue senang bisa bantu lo terus. Gue harap, lo bisa lebih mengandalkan gue kedepannya.” Colby mengacak rambut Putri karena gemas. Walau ditepis oleh gadis itu, ia tidak akan menyerah. Tangannya akan terus terulur sampai Putri menggapai tangannya.
***
“Malam ini kita senang-senang aja ya! Hm ... gimana nih menurut kalian dengan seminar sebelumnya dengan pemateri dari Five Prince? Wow!”
Kemeriahan berlangsung bahkan hanya dengan pembawaan dari MC, antusias begitu luar biasa. Di acara malam kemenangan, ada seminar di sore lalu dan saatnya hiburan di malam hari dari. Berisikan bintang tamu dari artis dan komika, ada juga pembagian hadiah kepada pemenang di acara pekan olahraga.
“Okey, selanjutnya hiburan dari kita. Ada yang udah tahu siapa?!” tanya MC memancing semangat para audiens. “Ya sudah ... sepertinya semuanya tidak sabar, hm? Kita sambut saja bintang tamu kita sekarang! Music Play!”
Di sisi lain Dalfon mencari keberadaan Putri kemana-mana. Setelah mendapatkan telepon dari Ibu Putri yang katanya tidak bisa menghubungi anaknya itu.
“NGGAK NIO! Balikin nggak?! Nanti deket-deket lo, gue yang dikira sange!”
“Heh rata! Banyak orang emang tertarik sama gue. Jangan sok suci deh lo!”
“Balikin ih! Gue doain masuk surga deh lo, balikin ....”
“Nio! Lempar sini-sini! Hap! Yey dapet!”
“EBY!”
“Bisakah kalian hentikan? Kasihan, Abhinaya dan Arch terlihat lelah, mereka butuh istirahat.”
“Gue nggak capek tuh. Eby, oper ke gue.”
“ARCH! Abhinaya ... gue mohon jangan ikut-ikutan juga, please ....”
“Gue emang nggak tertarik, Putri. Tapi sesekali tidak masalah. oper ke sini Arch!”
“Bos Vi ....”
“Kalian ini bisanya godain Putri saja.”
Brak!
Hening, Dalfon melihat ruang wardrop seperti kapal pecah akibat enam orang tengah bermain kucing-kucingan. Mata lelaki itu memicing dengan benda yang dipegang Abhinaya, itu adalah ponsel Putri.
“Apa yang kalian lakukan?” tanyanya dingin membuat semua yang ada di ruangan itu menunduk takut, kecuali enam orang pengacau itu. Tidak, lebih tepatnya empat. Vian dan Putri tidak dihitung dalam hal ini, malah Vian melerai dan Putri korbannya.
Dalfon berjalan menghampiri Abhinaya dan merebut ponsel Putri.
“Fon, balikin ... lo jangan ikut-ik- AW!“ Putri mengelus jidatnya yang merasa sakit yang tidak main-main, karena Dalfon menepuk dahi gadis itu dengan ponselnya sebelum dikembalikan.
Sunggu seperti tidak berperasaan, memang tidak ada darah, tapi bunyi yang dihasilkan cukup nyaring. Sampai semuar orang yang berada di ruangan itu kaget dengan interaksi mereka.
“Ibu lo telepon nggak diangkat dan lo main-main di sini?”
“Gue-“
“Gladis pingsan dan dibawa ke rumah sakit.”
“APA?!” itu bukan Putri, melainkan Vian. Satu-satunya yang tidak tahu keberadaan Gladis.
Dalfon tidak memperdulikan apapun, ia menarik Putri untuk mengikutinya.
“Kita mau kemana?” tanya Putri masih mode kaget mendengar keadaan Gladis, lalu melihat sekilas reaksi Vian sebelum keluar ruangan.
“Masih nanya?” tanya kembali Dalfon sangat amat menyeramkan. Nada suaranya yang rendah menggambarkan emosinya saat ini, walau tidak ada ekspresi di wajahnya.
Putri akhirnya diam tidak berani berkata apapun lagi.
Sedangkan orang lain yang berada di wardorop, merasa tidak biasa dengan drama Five Prince dan Putri. Ini pertama kalinya secara live mereka melihat seperti apa interaksi dan kedekatan Putri dan Five Prince sesungguhnya.
Selama ini mereka hanya tahu dari rumor yang tersebar di sekolah, jika sikap manis Five Prince kepada Putri karena sesuatu yang ... ‘begitulah’. Padalah tidak ada bedanya dengan pertemanan pada umumnya, malah terkesan absurd seakan tidak ada batasan gender. Sampai adegan pukul memukul seperti hal yang biasa saja.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (48)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
kerenn bangett
28/05/2025
0seru banget ceritanya
19/05/2025
0bgsss bgtt kak
26/04/2025
0Lihat Semua