"Mi, Tolong dengarkan semua penjelasan ku. Ini tidak seperti yang kamu lihat," sangkal Ardan. Dia kembali berbalik dan memohon kepada Mimi. Mimi Hanya diam sambil berdiri di tempat yang sama dan dipeluk Ibu untuk dikuatkan agar tidak lemah ketika menghadapi lelaki bergelar suami yang sudah mengkhianatinya itu. "Aku memang orang bodoh yang aneh lulusan SMP, Mas. Aku memang tidak setinggi kamu dan tidak sehebat kamu dalam hal apapun. Aku juga tidak sebanding dengan wanita yang kamu jadikan kekasih selingkuhan itu. Maka untuk kali ini aku yang akan mengalah dan pilihlah wanita yang hebat di sisimu itu. Aku ikhlas. Aku ikhlas Jika kamu memilih kebahagiaan dengan dia; wanita yang lebih hebat dan lebih sempurna daripada istrimu yang bodoh. Pergilah! Ceraikan aku, jangan pernah kembali lagi ke sini kecuali karena urusan Laela." Mimi beranjak dari tempatnya dan masuk ke dalam rumah. Orang-orang yang tadi meneriakinya kembali melempari mereka dengan kerikil-kerikil kecil Ardan kesal dan pergi bersama dengan Melly. Tubuh Mimi luruh di atas ranjang yang reot. Sungguh dihadapkan dengan masalah rumah tangga seperti ini membuatnya rapuh dan tidak mempunyai daya. Terlebih dia wanita miskin yang tidak punya apa-apa. Bahkan untuk menyangkal perbuatan suaminya saja dia tidak bisa. Mimi melihat wajah Melly yang sama sekali tidak bersalah saat diteriaki oleh beberapa warga. Ardan mungkin memohon belas kasihnya tetapi dia tahu bahwa lelakinya itu lebih berat terhadap milik dan seperti enggan untuk meninggalkan selingkuhannya itu. "Sudahlah, Mi. Suamimu itu memang tidak mempunyai rasa cinta dan juga empati a terhadapmu. Dia bahkan melakukan hubungan terlarang di rumah ini dan pergi tanpa ucapan pertanggungjawaban yang jelas. Kita mungkin miskin tapi tidak bisa sedikitpun untuk dilecehkan harga dirinya. Bapak akan selalu berada di pihak kamu dan akan mendukung setiap langkah yang kamu ambil. Itu janji Bapak selama masih hidup," ucap Tono yang mencoba untuk menguatkan anaknya. "Terima kasih Pak karena sudah menjadi ayah yang baik untuk anakmu yang payah ini. Mimi janji bakalan kuat dan tegar untuk menghadapi semua cobaan ini. Agar bisa tetap melanjutkan hidup dengan baik, doakan Mimi dan Laela, Pak. Bapak ketemu satu-satunya orang yang selalu ada untuk Mimi. Makasih, Pak." Mimi memang terlihat kuat dan tegar tadi saat memarahi Ardan tetapi hatinya sangat rapuh dan sedih ketika mendapati suaminya dibawa oleh wanita lain dan melakukan hubungan terlarang di rumah ini. Dia bukan wanita yang kuat seperti yang terlihat karena bagaimana selama ini dia tergantung dengan cinta Ardan. "Kalau kamu tidak nyaman berada di rumah ini lebih baik kamu tawarkan saja rumah ini untuk dijual. Uangnya bisa kamu gunakan untuk mengurus perceraian karena Bapak yakin jika Arden pasti tidak mungkin akan mengurus perceraian itu. Bisa jadi dianggap untuk mengeluarkan uang sepeserpun untuk proses perceraiannya." "Mimi belum kepikiran ke sana dan yang sekarang Mimi pikirkan adalah perasaan Laila. Anakku itu pasti akan sedih dan terkejut dengan hal ini. Meskipun dia sudah tahu ayahnya itu sangat menyebalkan dan Bahkan dia menolak untuk aku ajak pulang hari ini," ucap Mimi. "Ah, iya. Bapak sampai lupa sama cucu sendiri karena huru-hara di rumah ini. Emangnya di mana Laila?" tanya Tono baru sadar dengan ketidakberadaan Laela di rumah ini. Mimi mencoba tersenyum. "Dia ada bersama dengan Santi, Pak. Kami memang sedang menginap di sana karena ada pekerjaan yang harus lakukan." "Pekerjaan apa?" tanya Irah sambil membawakan minuman untuk Mimi. "Kemarin Kita menginap di rumah temennya Santi karena dia meminta ditemani. Sekarang aku dan suami sedang mencoba untuk berbisnis." "Bisnis apa?" tanya Irah yang nampak tidak yakin dengan apa yang dikatakan oleh anaknya. "Eh, Ibu ini gimana. Anaknya lagi sedih malah ditanyain hal yang macam-macam. Itu minum buat Mimi kan? Kasihkan dulu. Biarkan dia minum selalu menceritakan Sebenarnya apa yang dia lakukan sampai memberikan waktu suaminya menginap di rumah ini dengan wanita lain. Semua harus diurai dengan jelas." "Baiklah. Ibu akan membubarkan para tetangga yang masih kepo dengan urusan kita," ucap Irah sambil memberikan minuman itu dan keluar dari kamar Mimi. Tono mengusap kepala Mimi pelan, lalu menghembuskan nafasnya berat. Masalah yang dijalani anaknya ini bukanlah masalah yang ringan dan ini ada hubungannya dengan nama baik keluarga. Lebih mereka adalah keluarga yang cukup miskin dan tidak begitu terpandang di daerahnya. "Bapak sedih dan kecewa dengan Mimi?" tanya Mimi sedih. "Sedih? Untuk apa Bapak sedih kalau anak bapak yang satu ini selalu kuat dan tegar dalam menjalani semua masalahnya. Kalau kamu sudah tenang kamu boleh cerita semua hal yang sudah kamu lalui hingga membuat suami yang berpaling seperti itu. Siapa tahu kamu juga andil dalam salah dan Bapak salah juga untuk menilai Ardan." Tono tersenyum. Mimi tahu ayahnya itu terlalu bijak dalam hal apapun dan dia pun mencoba untuk menceritakan awal bertemunya Ardan dalam Melly. "Mas Ardan dengan Melly itu teman lama dan saat mas Ardan menjadi pengangguran, Mely yang menawarkan pekerjaan hingga sekarang. Awalnya Mimi sudah curiga dengan Melly karena sering datang ke rumah dengan memberikan banyak oleh-oleh dan uang kepada Laila, tetapi pikiran buruk itu aku tepis. Hingga akhirnya kami dipertemukan di sebuah acara pesta dan waspada menggandeng Melly untuk dijadikan pasangan. Dari situ Mimi udah curiga dan udah mulai yakin jika Mas Ardan sudah ada hubungan dengan wanita itu. Makanya tadi Mimi kepada Mas Ardan dan sengaja mengusirnya dari rumah ini karena sudah tidak sanggup lagi untuk menahan lelaki seperti dia tinggal di rumah ini. Mimi salah, Pak? Apa Mimi salah karena sudah memberikan peluang kepada Mas Ardan untuk berselingkuh? Namun, jika saat itu mas Ardan tidak diminta untuk bekerja maka dia akan selalu ongkang-ongkang kaki di rumah dan Mimi yang harus mencari nafkah di luaran sana. Mimi nggak bisa," Isak Mimi. "Ya. Bapak sudah melihat semuanya sekilas Bapak yakin ini adalah keputusan kamu yang paling terbaik. Kamu yang sabar dan jangan pernah tinggalkan Allah dalam setiap langkah kamu." "Iya, Pak. Terima kasih karena sudah menjadi Ayah yang terbaik untuk Mimi dan tidak berpihak kepada orang lain." "Bapaknya berpihak pada yang benar dan Bapak yakin jika anak bapak ini adalah orang yang baik. Setelah ini bawa Laila pulang, ya. Bapak kangen sekali dengan cucu bapak yang cerewet itu," kekeh Tono. "Iya, Pak. Laela akan Mimi jemput setelah ini."
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus
28/04
0kren
11/09/2025
0semangat terus kak ceritanya sangat bagus
23/05/2025
0Lihat Semua