logo text

Bab 37 Farhan

[Makasih, Fi.] Mimi.
[Sama sama. Jangan patah semangat karena dunia akan baik-baik saja Meski tidak bersama dengan dia.]
[Hahaha, puitis juga kamu. Tenang aja, Aku bukan wanita lemah yang akan menangis 7 hari 7 malam karena ditinggalkan lelaki seperti dia.]
[Siapa tahu, kamu masih mencintai dia. BTW, Aku punya kenalan yang bisa bantu kamu buat ajukan gugatan ke pengadilan. Kalau kamu mengizinkan, aku akan membantumu sampai semuanya clear.]
[Kamu yakin?]
[Insyaallah. Aku akan temani kamu sampai semuanya selesai tidak kamu bisa menjemput kebahagiaanmu dengan Laila. Kasihan anak itu tidak tahu apa-apa dan harus menjadi korban keegoisan ayahnya. Tetap semangat untuk dia, jangan sedih untuk mantan suamimu.]
[Siap, Bos.]
Arfi tersenyum sendiri membaca pesan dari Mimi. Dia memang jarang berteman dengan wanita yang selama ini dekat dengannya. Dia cukup sibuk dengan pekerjaannya hingga tidak ada waktu untuk berkenalan dengan seorang wanita yang menurutnya menarik. Meski mimi tidak terlalu cantik tetapi dia mempunyai suatu hal yang menurut Arfi berbeda. Dia mengingatkan dirinya kepada seseorang yang dulu pernah meninggalkannya. Wanita mandiri dengan inner beauty yang kuat serta ceria yang normal tanpa dibuat-buat.
"Cie, baca pesan dari siapa sih Sampai senyum-senyum sendiri seperti itu?" Arvin tiba-tiba datang ke kamar Arfi.
"Resek lu! Sini ponselnya!" Arfi merebut ponselnya yang tiba-tiba diambil oleh Alvin tetapi pesannya sudah terlebih dahulu dibaca oleh Alvin.
"Cie, kayaknya udah ada yang move on nih. Eh tapi, jangan sampai mimpi dijadikan tempat pelarian kamu aja ya. Soalnya biasanya janda itu sensitif dengan perasaan lelaki yang terlihat serius dan memberikan perhatian kepada keluarganya," kekeh Alvin.
"Kamu ngomong apa sih? Eh, aku sama Mimi itu cuman berteman dan aku merasa kasihan kalau dia tidak ada yang membantu untuk mengurus proses perceraian. Lagian, Santi sendiri yang mengatakan kalau aku diminta untuk membantu dia kan?" kilah Arfi.
"Iya sih. Cuma, jangan sampai nasibnya kaya si Laura. Ditinggal pas sayang-sayange," kekeh Alvin.
"Beda, Vin. Kalau Laura itu memang sedikit menyeramkan karena saat baru berkenalan saja dia sudah mepet-mepet kayak perangko sedangkan aku tidak suka dengan wanita yang protektif dan terlalu over kayak gitu. Aku lebih suka wanita yang kalem dan biasa-biasa aja, mandiri dan tentunya tidak suka merepotkan orang lain," ucap Arfi.
"Lia banget kan? Selalu saja standar wanita itu harus sama dengan mantan kamu yang udah nggak ada itu. Dia udah jauh di sana, kamu masih mengharap aja," ucap Alvin.
Arfi mengembuskan napasnya perlahan. Lia memang wanita sempurna menurut dia, tetapi tuntutan karir membuat dia harus pergi jauh ke luar negeri dan memutuskan untuk tinggal selamanya di sana. Bukan Arfi tidak bisa mengejar Lia tetapi keluarga Lia yang menentang keras keinginan Arfi untuk menikahi Lia. Banyak alasan, dari fokus karir sampai Arfi yang bukan level mereka. Sehingga Arfi memilih tidak berjuang karena tahu kemampuan.
"Habis ini mau ke mana?" tanya Arfi.
"Tidur lah. Besok aku mau ke Purwokerto lagi, kamu ada planing?"
"Nggak. Aku mau menemui Farhan dulu, menanyakan Kapan kesiapan untuk membantu proses gugatan Mimi."
"Farhan?"
"Iya."
"Bukannya di sini juga banyak pengacara handal yang bisa membantu kamu? Kenapa harus Farhan?" tanya Alvin heran.
"Dia lebih banyak menggolkan kasus-kasus yang ditangani dan tidak ada satupun kasus yang tidak berhasil dia selesaikan. Dengan begitu akan mudah untuk Mimi mendapatkan keputusan persidangan tanpa harus repot-repot datang ke sana. Kamu ingat? Sekarang sudah membantuku untuk mengingatkan bagaimana sebenarnya kita harus menjalani hidup tanpa cinta," ucap Arfi.
"Serah, deh. Tapi kalau Farhan lagi di sini, jangan hubungin gue."
Farhan adalah mantan kekasih Santi yang tentu saja membuat Alvin merasa kesal jika harus bertemu dengan lelaki itu kembali. Namun, rasa kesal Alvin hanya sebatas kesal di dalam mulut karena jika di depan semua orang semuanya terlihat baik-baik saja.
"Santai. Santi udah jadi milik kamu sepenuhnya dan buat apa kamu curiga kalau Farhan akan kembali merebut istri kamu itu?" kekeh Arfi.
"Dunia sedang gonjang-ganjing dengan kasus perselingkuhan, bukan hanya dari kaum lelaki tetapi juga wanita yang sudah bersuami. So, awas aja kalau kamu berani membawa Farhan ke rumah ini apalgi bikin rumah tangga gue berantakan i."
"Iya, bawel ah! Dah Sono pergi! Temui istrimu dan bilang kalau kamu sangat mencintai dia dan tidak ingin jauh dari dia biar nanti kalau Farhan ketemu sama Santi, kamu nggak bakalan cemburu lagi."
Alvin melemparkan bantal ke wajah Arfi lalu pergi dengan wajah kesal karena diledek oleh Arfi mengenai Farhan yang sangat dia cemburui.
**
Dengan segala nikmat yang Tuhan berikan di saat hidupnya penuh cobaan, Mimi pun merasa lega. Bantuan yang Arfi tawarkan tentu sangat membantunya di saat ekonominya yang belum stabil. Dia juga bisa menggunakan uang pemberian dari teman-temannya itu untuk membiayai acara tahlilan 7 hari sang ayah.
"Nggak kerasa udah 7 hari, Mi. Keluarga bapakmu tidak ada yang datang sama sekali dan itu sangat keterlaluan, Mi," ucap Irah.
"Udah, jangan terlalu dipikirkan, Bu. Yang penting kita bisa melakukan semuanya dengan lancar tanpa mereka. Nasib menjadi orang yang tidak punya adalah dijauhi oleh saudara sendiri. Namun, Mimi janji setelah ini akan berusaha untuk mencukupi semua kebutuhan ibu dan juga membahagiakan ibu dengan materi yang berkecukupan agar saudara yang sudah meremehkan kita tidak semena-mena lagi pada kita. Ibu nggak usah sedih dengan perlakuan mereka. Tuhan nggak pernah tidur kok dan bisa melihat apa yang mereka lakukan saat di keluarga kita yang tidak kaya ini," ucap Mimi.
"Amin. Ibu nggak marah kok sama aku juga nggak sedih dengan perbuatan mereka. Tapi, Ibu juga sedih karena yang melakukan semua itu adalah keluarga bapakmu sendiri. Dari dulu sampai sekarang sudah nggak ada mereka sama sekali Sudi untuk mengaku bapakmu sebagai saudara."
Irah menunduk. Sungguh diperlakukan tidak adil oleh keluarga suaminya membuat hatinya merasa sakit. Padahal jarak rumah yang ditempuh tidak terlalu jauh dan bisa dilalui dengan akses motor atau mobil. Sayangnya, mereka tidak ada yang simpati dan datang sampai 7 hari tahlilan kematian suaminya.
"Apalah arti saudara jika mereka hanya menjadi beban pikiran saja. Ibu harus tahu bahwa anak ibu ini lebih berharga daripada mereka. Jangan sedih, Bu. Semuanya akan baik-baik saja dan doakan saja Mimi setelah ini agar gugatan cerai dengan Mas Ardan akan berjalan dengan baik."
"Aamiin. Jadi kamu yang akan mengurus semuanya?"
"Menunggu Mas Ardan yang bergerak untuk mendaftarkan itu mustahil karena tidak mungkin Mas Ardan mau mengeluarkan uang untuk hal seperti itu. Tahulah gimana dia kalau udah kayak kemarin, minta maaf aja enggak dan malah ejek Mimi. Dahlah, nggak usah ngarep Mas Ardan mau perbaiki sikap dan karakter hati pada kita. Kita akan bahagia Tanpa mereka yang menzalimi kita. Percayalah!"
Mimi memeluk sang Ibu, menguatkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Terlahir miskin Memang bukanlah keinginan tetapi mempunyai semangat tinggi akan membawa kehidupan yang lebih baik. Bahkan, Mimi yakin dunia akan baik-baik saja tanpa Ardan.

Komentar Buku (235)

  • avatar
    Sri Sunarti

    bagus

    28/04

      0
  • avatar
    ronanoviana

    kren

    11/09/2025

      0
  • avatar
    ZaiYohanes

    semangat terus kak ceritanya sangat bagus

    23/05/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru