logo text

Bab 49 salting

Mimi diantar ke rumah setelah kegiatan yang mengalahkan hari ini selesai pukul jam 05.00 sore. Mimi sampai di rumah pukul 07.00 malam dan Mimi benar-benar merasa pekerjaannya kali ini membutuhkan tenaga ekstra baik tubuh dan otaknya. 
  
"Mama," sambut Laila.  
  
Arfi turun sebentar dari mobilnya untuk menyapa Irah dan Laila.  
  
"Kok malam sekali?" tanya Irah. 
  
"Soalnya tadi sekalian turun ke lapangan buat demo produk-produk kami, Bu," terang Arfi. 
  
"Aku ke kamar dulu ya? Mau mandi. Arfi, kamu juga mau langsung pulang kan?" tanya Mimi merasa tidak enak jika harus menahan Arfi terlalu lama di rumahnya. 
  
"Iya. Aku mau pulang setelah ini. Bu, aku pamit dulu. Besok mungkin aku akan menjemput lebih pagi. Semoga Ibu tak keberatan," ucap Arfi. 
  
"Nggak apa apa, Nak. Ibu tahu kok kalau kalian berdua memang terlibat pekerjaan yang sama. Hati hati di jalan, Nak Arfi." 
  
Arfi berpamitan dengan Irah dan Laila, lalu pergi mengendarai mobilnya. Dia lebih nyaman dengan keluarga Mimi karena keluarga itu sangat hangat juga menerimanya dengan baik. 
  
** 
  
"Laila udah tidur, Bu?" tanya Mimi sambil mengunyah makanannya. 
  
"Udah barusan. Kamu makan dulu, Ibu udah masak sayur kates." 
  
"Iya, Bu." 
  
Mimi bergerak menuju ke ruang makan setelah menengok Laila yang sudah tertidur dengan pulas. Dia sangat senang karena Laila bisa dia tinggal seharian bekerja dengan Ibunya.  
  
“Laila rewel nggak tadi, bu?” tanya Mimi. 
  
“Nggak sih, dia anak yang baik dan penurut,” ucap Irah. "Mi, Nak Arfi itu bujang?" tanya Irah. 
  
"Bujang kayaknya, KTP sih masih lajang. Nggak tahu kalau aslinya. Kenapa, Bu? Kok nanya status Arfi? Tumben banget,” kekeh Mimi. 
  
“Nggak, nanya aja. Eh, Mi, kamu tahu Bu Sum?” 
  
“Sum penjual makanan di sekolah?” 
  
“Iya.” 
  
“Kenapa dengan Bi Sum?” tanya Mimi santai. 
  
“Tadi pas Ibu nganter Laila, Ibu ngobrol banyak sama Bi Sum. Ibu bilang kalau besok mau jualan di sana. Kira kira jualan apa yang bagus di kawasan sekolah?” tanya Irah. 
  
“Ibu mau jualan? Emangnya nggak capek? Mimi takut Ibu kelelahan nanti.” 
  
“Ah, ya nggak. Ibu jualannya nyambi aja. Kalau pas nganter Laila ke sekolah. Kalau Laila pulang, Ibu ikutan pulang.” 
  
“Ibu yakin?” 
  
“Yakin. Daripada bengong di sana, lebih baik bantu cari uang jajan Laila. Makanya Ibu bingung mau jualan apa, soalnya kan nggak sampai siang. Sampai jam 11 paling kalau anak TK kan?” 
  
“Jam setengah sebelas biasanya. Jualan nasi kuning aja. Bu. Nanti kalau pagi Mimi yang bantuin kemas, Ibu jualin di sana.” 
  
“Nggak ngerepotin kamu memangnya? Kamu kan berangkatnya pagi.” 
  
“Mimi udah biasa, Bu. Mimi kan juga sekarang kerjanya masih trukah dan bakal. Masih jadi karyawan kasar, jadi Mimi akan bikin dagangan biar IBu nggak perlu repot repot masak. Nanti, hasilnya buat Ibu semua. Buat jajan Ibu sama Laila kalau pas Mimi lagi nggak di rumah,” ucap Mimi. 
  
Melihat perjuangan Ibunya, ia pun sebenarnya tak ingin Ibunya lelah. Maka dari itu dia mengajukan diri menyiapkan semua. Tak peduli dia harus bangun lebih awal, dia harus bisa membuat Ibunya sejahtera dan tak masalah jika dia harus ribut sendiri dengan pekerjaan rumahnya di pagi hari. 
  
“Ya nggak begitu. Ibu ngelakuin ini daripada bengong di sana nungguin Laila aja loh. Kamu jangan mikirnya Ibu ini lelah melakukan ini itu. Ibu seneng bantu kamu. Ibu sangat senang kamu bisa selalu semangat dan ceria. Abaikan ucapan orang yang buruk tentang kamu karena asal kamu benar dan tidak melenceng jauh dari Agama, insyaallh akan ada banyak kebaikan timbul di dalamnya. Ibu yakin, niat kamu merubah nasib itu baik dan semoga Allah mempermudah jalanmu,” ucap Irah. 
  
“Aamiin. Makasih, Bu. Memangnya ada kabar miring mengenai Mimi?” tanya Mimi curiga saat pembicaraan Ibunya mulai terdengar berbeda. 
  
“Banyak, tapi mereka nggak tahu gimana perjuangan kamu untuk bisa bertahan dan tersenyum dengan keadaan sekarang. Ibu tahu susahnya jadi orang nggak punya, tapi Ibu juga nggak akan mungkin mengizinkan anak Ibu untuk melakukan hal hal hina. Apapun itu, ingat Allah dalam setiap langkahmu, Nak. Usia nggak ada yang tahu, dosa dan pahala nggak ada yang bisa ngitung. Begitu pula dengan tingkah lakumu. Orang di luar sana hanya bisa menilai luarnya saja, nggak tahu dalamnya. Ibu yakin kamu anak yang baik dan bertanggung jawab.” 
  
Ucapan Irah tentu membuat hati Mimi tersentuh. Lagi lagi ibunya mengeluhkan kabar miring di sana dan menyampaikan kepadanya dengan cara yang santun. Dia yakin Ibunya sedikit terluka dengan pemberitaan dirinya yang diantar oleh Arfi, tetapi dia juga yakin Ibunya tak akan percaya dengan omongan orang jika belum melihat kebenarannya. 
  
“Sejauh ini, Ibu nggak akan pernah terganti dan hanya Ibu yang tulus sayang sama aku. Mana mungkin aku akan mengkhianati dan menyakiti perasaan Ibu sedangkan Ibu saja sudah sangat berjasa bagi Mimi. Pokoknya Mimi janji akan benar benar bekerja dengan sungguh-sungguh. Mimi akan berjuang demi Ibu dan Laila.” 
Mimi memeluk Irah erat, lalu mengusap tangan keriput Ibunya. Mimi yakin semua yang sudah menggunjing dirinya di belakang dan menyakiti hati Ibunya akan dibalas dengan kenyataan dan fakta mengenai dirinya nanti. 
  
“Udah malam, tidurlah! Nak Arfi bilang kalau besok harus berangkat pagi. Jualannya mulai lusa saja. Ibu belum belanja keperluan jualannya,” ucap Irah. 
  
“Iya, Bu. Kalau enggak, senin aja. Jadi minggunya Mimi yang belanja di pasar. Lagian tanggung, besok kan hari kamis. Cuma sisa sehari aja. Senin aja biar minggunya belanjaan full.” 
  
“Ya, begitu juga boleh. Ya sudah sana, kamu tidur.” 
  
Mimi membersihkan mulutnya setelah makan malam, lalu membuka ponsel sebelum tidur. Selepas pindah di rumah sang Ibu, Laila selalu tidur dengan Irah. Laila menolak tidur bersama Mimi dengan alasan kasihan nenek yang sudah tua. Kadang dia merasa jika Laila sudah sangat besar hingga mengerti keadaan yang sedang dia rasakan sekarang. Meski kadang juga berpindah dari satu kamar ke kamar yang lain sesuai dengan keinginannya. 
  
“Hari ini kerjaan beres, Bos!” lapor Mimi. 
  
“Iye, Mimi. Aku udah baca laporannya tadi. Arfi langsung ke rumah kasih laporan sama Mas Alvin.” 
  
“Dia ke sana? Kirain langsung ke rumah.” 
  
“Rumah dia kan nggak jauh dari rumah aku.” 
  
“Iya?” 
  
“Lah, belum bilang kalau rumah gedong deket gudang punya dia?” 
  
“Eh, iya, udah bilang ding. Aku yang lupa. Jadi nggak ada tugas lembur ya malam ini?” tanya Mimi yang memang sangat mengantuk. 
  
“Nggak dulu. Besok juga setengah hari. Arfi udah izin ajak kamu pagi pagi ‘kan?” 
  
“Dia bilang?” 
 
“Ya jelas, apa yang dia nggak bilang sama aku. Kamu yang modus worry aja aku tahu,” kekehnya. 
  
“Sumpah nggak gitu.” Mimi menutup wajahnya sendiri meski mereka berbincang lewat telepon. Dia sungguh malu ketika diledek oleh sahabatnya itu. “Jujur, aku merasa insecure kerja sama Arfi. Dia kerjanya profesional banget, aku bahkan sampai nggak bisa berkutik saat dia ambil alih jadi moderatornya.” 
  
“Nggak salah kan pilih rekan partner dia itu? Kamu bisa belajar banyak dari dia. Kamu bisa tanya apa aja dari dia, dia memang ahli dalam bidang bisnis dan marketing. Makanya kenalan dia banyak, job dia juga banyak apalagi pengalaman. Nggak bisa diragukan lagi pokoknya,” ucap Santi. 
  
“Itu sih falid. Makanya sempat insecure, tapi dia bilang calm calm. APaan, udah kayak presiden sama rakyat jelata jadinya. Nggak ada pede pedenya kalau jalan sama dia,” ucap Mimi. 
  
“Hahaha, masa sih? Jadi, dia itu perfect menurut kamu?”  
  
“Banget. Dalam bidang pekerjaan, dia perfecto.” 
  
“Ekhm!” 
  
Deheman Arfi terdengar sampai di telinga Mimi. Mimi langsung melongo dibuatnya. “Di sana ada orangnya ya?” tanya Mimi kaget sekaligus terkejut malu. 
  
“Hehehe, iya. Dia masih di sini. Lagi pada ngopi,” jawab Santi. 
  
“Ya ampun, kenapa nggak bilang sih? Pake acara kamu mancin mancing pertanyaan mengenai dia lagi. Anggap itu tadi hoax ya. Aku nggak serius ngomongnya.” 
  
“Hahaha, salting nih ye. Arfi aja senyum senyum dengernya loh.” 
  
“Santi … Dahlah, aku sudahi dulu ya. Assalamualaikum. Bye,” ucap Mimi yang langsung mematikan panggilannya dan menyudahi semua percakapan. Dia sangat malu karena sudah mengatakan hal mengenai Arfi pada Santi padahal orangnya tak jauh dari sana. 
  
Ting! 
  
[Met malam Partner kerja. Semoga doamu untukku jadi presiden terlaksana.] Arfi 
  
Mimi menggulingkan tubuhnya, membenamkan seluruh tubuh di balik selimut dan memeluk guling. Sungguh sangat malu sudah membuat Arfi kepedean dengan segala pujiannya juga malu karena terang terangan sudah memuji lelaki yang bekerja sama dengannya itu. 

Komentar Buku (235)

  • avatar
    Sri Sunarti

    bagus

    28/04

      0
  • avatar
    ronanoviana

    kren

    11/09/2025

      0
  • avatar
    ZaiYohanes

    semangat terus kak ceritanya sangat bagus

    23/05/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru