“Alhamdulillah, akhirnya mereka berkumpul kembali. Semoga mereka akan rukun dan damai selamanya.” Ujar Santi yang turut menyaksikan jalannya persidangan dari channel youtube disebuah laptop yang ditaruh diatas meja. “Iya Ma, akhirnya Bang Mohzan berhasil menyatukan keluarganya.” Sahut Ramona yang duduk disamping Santi. Mereka berdua selalu mengikuti perkembangan kabar keluarga Mohzan dari berita-berita online. “Sebenarnya mereka semua adalah orang-orang yang baik. Namun kehadiran Nyonya Nairalah yang membuat semuanya menjadi kacau balau.” Sambung Santi mengemukakan pendapatnya. Ramona menganggukkan kepala tanda setuju dengan pendapat ibunya. Matanya masih setia memperhatikan layar laptop yang masih menayangkan siaran langsung persidangan Tuan Satya di Jakarta. Disana masih terlihat Tuan Satya menyalami beberapa orang yang hadir dalam persidangan itu. Tubuh Tuan Satya terlihat lebih kurus dan pandangan matanya tidak lagi kejam seperti dulu. “Maaa.... Lihat Maa..!!” Ramona tiba-tiba berteriak memanggil Santi. Santi yang baru saja bangkit dari tempat duduknya dan sedang berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum, sontak membalikkan badannya kembali ketempat duduknya semula. Ia kembali ikut menonton bersama Ramona. “Oooh...!” Santi bergumam ketika menyaksikan dilayar laptopnya Tuan Satya sedang berangkulan dengan Danar suaminya. Khalista juga ada ditempat itu mendampingi Danar. “Mereka sudah berbaikan sekarang.” Gumam Santi yang tak lepas memandangi layar laptop. “Dari dulu mereka kan memang berhubungan baik Ma.” Sahut Ramona. “Iya sih. Tapi semenjak kita kabur dari acara pertunanganmu dengan Alpan, Mama dengar Tuan Satya marah besar dan menyita semua aset Mas Danar serta mengusir Mas Danar dan Khalista dari rumah.” Papar Santi. “Oooh.. Mama dapat kabar dari mana..?” Tanya Ramona penasaran. Karena kabar itu nampaknya tidak tercium oleh awak media. “Mama tahu dari Tante Anggita tetangga kita. Mama menelpon Tante Anggita setelah kita kembali dari Jakarta waktu itu.” Terang Santi. “Oh, kasihan sekali Ma.” Sahut Ramona prihatin. “Iya Mona.” Santi menganggukkan kepalanya. “Mona..!” “Iya Ma..!” Sahut Ramona menatap Santi. “Mama rasa sudah saatnya kita kembali ke Jakarta. Situasi sudah semakin aman. Mama mau kamu masuk sekolah lagi Mona.” Kata Santi sambil memegang tangan Ramona. “Iya Ma, Mona juga rindu sama teman-teman sekolah Mona.” Sahut Ramona setuju. Wajahnya nampak berseri. “Tapi apakah kita akan kembali kepada Om Danar dan Khalista Ma ?” Tanya Ramona sambil menatap Santi ragu. “Mama rasa jangan Mona. Kita bisa menyewa rumah lain dan Mama memulai usaha kembali. Bukankah kita masih punya butik yang tidak diketahui Om Danar dan Khalista ?” “Iya Ma, baiklah kita mulai bersiap-siap kembali ke Jakarta. Lagian mona dengar Bang Mohzan akan berduel dengan Mr. Vincent dua minggu lagi” Sahut Ramona terlihat khawatir dan sedih. Wajah Santi juga terlihat sedih. “Sudahlah Ramona. Mohzan hanya melakukan apa-apa yang harus ia lakukan. Kita doakan semoga Mohzan bisa melewati ini dengan baik.” Kata Santi menutup perbincangan mereka. ======= Sementara itu masih digedung pengadilan Tuan Satya terlihat berbincang serius dengan Danar dan Khalista. “Danar, saya akan mengembalikan perusahaanmu juga semua properti yang pernah saya sita. Kamu bisa secepatnya kembali kerumahmu dan memulai usahamu kembali.” Kata Tuan Satya sambil memegang kedua bahu Danar. Mereka berdiri berhadapan. “Tapi Tuan... Bukankah itu semua adalah milik Tuan. Bahkan saya belum melunasi semua hutang saya walau Tuan sudah menyita semua aset-aset saya.” Sahut Danar seakan tidak percaya dengan perkataan Tuan Satya. “Danar...! Khalista...! Saya mohon maaf atas sifat arogan saya selama ini. Tidak seharusnya saya bersikap begitu kepada kalian. Sebagai tanda permohonan maaf saya, saya akan memberimu waktu yang sangat panjang untuk mencicil hutang-hutangmu. Itupun tanpa bunga..!” Ujar Tuan Satya terlihat benar-benar menyesali perbuatannya. Apalagi setelah ia mengetahui bahwa Khalista sempat mengalami kecelakaan dan hidup mereka jadi morat-marit. “Oooh.. benarkah Tuaan..??” Danar seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Ia menatap Tuan Satya yang tersenyum kepadanya. Lalu Danar memeluk Khalista putrinya sambil berucap syukur dengan linangan air mata. Tuan Besar Sudarta dan Tuan Junara serta Mohzan yang telah berada dibelakang mereka tersenyum senang mendengar keputusan Tuan Satya. Tuan Besar Sudarta menyentuh bahu Tuan Satya dari belakang. Tuan Satya agak terkejut dan membalikkan badan untuk melihat siapa yang menyentuh pundaknya. “Itu baru anak Papa..!!” Seru Tuan Besar Sudarta sambil merengkuh bahu Tuan Satya kedadanya. Mereka berpelukan hangat. “Maafkan Satya Pa..! Satya tidak pernah mendengar nasehat Papa selama ini.” Ujar Tuan Satya masih memeluk pundak ayahnya. Tuan Besar Sudarta menganggukkan kepalanya tanda ia telah memaafkan semua kesalahan putranya itu. “Untuk menjadi lebih baik memang perlu proses.” Sahut Tuan Besar Sudarta melepaskan rangkulannya dan tersenyum menatap wajah putra sulungnya itu. Setelah semua urusan dipengadilan selesai, mereka segera meninggalkan halaman pengadilan itu. Mereka dibagi menjadi tiga rombongan dengan mengendarai tiga mobil berjenis minibus dan melaju beriringan. Lambaikan tangan orang-orang yang melepas kepergian keluarga besar itu menjadi sumber terbesar semangat Tuan Satya untuk berubah menjadi lebih baik. Ia tidak ingin lagi menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan kepadanya. Perjalanan menuju kediaman mereka cukup lancar. Arus lalu lintas tidak begitu ramai siang itu. Satu jam kemudian rombongan sudah sampai dirumah besar mereka. Ratmi dan Hardi serta Kisno menyambut kedatangan Tuan Satya dan rombongan. “Selamat datang Tuan..!” Sambut mereka penuh hormat. “Terima kasih Ratmi..Hardi..Kisno..!” Tuan Satya menjawab sapaan ketiga pekerja dirumahnya dengan ramah. Setelah itu Tuan Satya dan Alpan berjalan-jalan sejenak ditaman yang mengelilingi rumah besar itu. “Papa tidak menyangka bakal kembali secepat ini.” Kata Tuan Satya kepada Alpan yang berjalan disisinya. Tuan Satya terlihat memeluk bahu Alpan dan mereka terus melangkah perlahan sambil berbincang. “Iya Pa, suasana sekarang terasa lebih indah.” Jawab Alpan tersenyum bahagia. Alpan tahu walau ia bukan anak kandung Tuan Satya, namun Tuan Satya sangat tulus menyayanginya. Alpan merasa sangat nyaman berada disamping Tuan Satya. “Alpan... Suatu hari nanti Papa akan antarkan kamu kekampung halaman orang tua kandungmu. Papa tahu kamu ingin sekali mengetahui asal usulmu.” Kata Tuan Satya. Mereka masih berbincang dihalaman walau semua orang sudah masuk kedalam rumah. “Iya Pa, Alpan ingin sekali bertemu adik perempuan Alpan. Kata perempuan jahat itu adik perempuan Alpan telah menjadi cacat karena kecelakaan yang dirancangnya.” Kata Alpan sedih bercampur marah. “Sudahlah... Semua akan baik-baik saja. Kita akan segera menjemput adikmu itu.” Sahut Tuan Satya sambil mengajak Alpan masuk kerumah. “Hidangan sudah tersedia Nyonya..!” Ujar Ratmi kepada Astuti yang kini sudah duduk disebuah sofa melepas penat. Wanita itu menselonjorkan kakinya diatas sofa panjang. “Baik Ratmi, terima kasih..!” Jawab Astuti lembut. “Duh, nenek ini baik banget sekarang.” Bisik hati Ratmi lalu pergi meninggalkan Astuti untuk mempersilahkan yang lainnya masuk keruang makan utama. Tak lama kemudian seluruh anggota keluarga besar itu sudah berkumpul diruang makan utama yang memiliki meja makan yang sangat besar. Ruang makan utama ini hanya digunakan pada acara makan jika mereka sedang berkumpul bersama atau menjamu tamu yang jumlahnya banyak. Sebelum makan terdengar Mohzan memimpin doa dan memanjatkan syukur kehadirat Allah yang telah mengumpulkan mereka kembali setelah menghadapi masalah yang cukup besar *********
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Bagus banget
09/06/2025
0Ceritanya bagus bgttttt🥹😻
06/11/2024
0keren
27/06/2024
0Lihat Semua