Berita siang... “Pemirsa...! Hari ini adalah hari yang menggembirakan bagi seluruh para pekerja yang bernaung dibawah perusahaan-perusahaan yang tergabung di Sudarta grup. Mereka mulai kembali bekerja setelah hampir tiga bulan lamanya mengundurkan diri ketika perusahaan-perusahaan tersebut diambil alih kuasa oleh Nyonya Naira. “Tuan Besar Sudarta dan putranya Tuan Junara telah resmi membuka kembali semua pabrik-pabrik, studio patriot televisi dan beberapa proyek yang sempat vakum.” “Alhamdulillah kini semua kembali berjalan seperti semula.” Ujar Astuti yang tengah bersiap menikmati makan siang bersama Desma dan ibu Aisyah. Mata mereka tertuju kelayar televisi yang menempel didinding ruang makan itu. “Alhamdulillah Ma... Badai sudah berlalu dalam keluarga kita.” Sahut Desma sambil menyendokkan nasi kepiring Astuti. Sedangkan ibu Aisyah terlihat ikut tersenyum bahagia dan Desma kemudian juga menyendokkan nasi kepiring ibu Aisyah. Desma selalu memperlakukan Astuti dan ibu Aisyah dengan perlakuan yang sama. Ia tidak ingin salah satu dari mereka merasa diabaikan. Lalu merekapun nampak mulai menyantap hidangan dengan hati yang nyaman. “Assalamualaikum...!!” “Walaikumsalam...!” Jawab Desma dan Astuti serta ibu Aisyah serempak. Pandangan mata mereka sontak tertuju kepada Mohzan dan Alpan yang telah sampai diruang makan dengan saling berangkulan bahu. “Waaaah... Kebetulan ini Mas.. kita lapar ketemu makanan enak..!” Seru Mohzan kepada Alpan. “Benar Mohzan... Tunggu apa lagi.. ayo kita sikat..!!” Sahut Alpan menimpali ucapan Mohzan. Mereka berdua melepaskan rangkulan dibahu masing-masing dan memilih tempat duduk untuk ikut makan siang bersama. Ketiga perempuan yang sudah berkumpul disana tersenyum bahagia melihat ulah kocak Alpan dan Mohzan. Mohzan dan Alpan segera membalikkan piring bersiap untuk bersantap siang. “Kalian datang pada saat yang tepat..!” Ujar Desma sambil menyendokkan nasi kepiring Mohzan lalu kepiring Alpan. “Sebelum pulang kami sudah melakukan penerawangan dulu Ma.. Iya kan Mas Alpan..?” Sahut Mohzan melempar gurauan kepada Alpan. Alpan yang sudah siap dengan sendok dan garpu ditangan menimpali gurauan Mohzan. “Benar sekali Mohzan, dari jarak puluhan kilo meter kita sudah bisa mencium sedapnya aroma makanan dirumah.” Sahut Alpan. Astuti memandangi tingkah laku kedua cucunya itu dengan mata berkaca-kaca. “Coba saja dari kecil kalian sudah berkumpul seperti....” “Sudahlah Neeek...! Sekarangpun kita sudah bahagia..” Mohzan memotong perkataan Astuti. Ia sudah tahu apa yang akan dikatakan nenek kandungnya itu. Alpan mengangguk setuju dengan perkataan Mohzan. “Yang lalu biarlah berlalu.” Kata Alpan sambil menambahkan sepotong ayam goreng kepiringnya. “Ngomong-ngomong Dika dan Jery kemana Ma..?” Tanya Mohzan kepada Desma. “Mereka sudah pulang ke asrama tadi pagi.” Pertanyaan Mohzan dijawab oleh ibu Aisyah. “Ooh, nanti sore Mohzan dan Mas Alpan akan datang ke asrama. Mohzan sudah kangen sama adik-adik.” Sahut Mohzan yang dibarengi anggukkan oleh Alpan. “Nenek senang melihat kalian berdua kompak. Hanya kalian berdualah penerus keluarga kita.” Kata Astuti memandangi Alpan dan Mohzan bergantian. “Iya Nek.. Alpan senang kini telah mempunyai adik. Seperti Papa dan Om Junara..” Jawab Alpan dengan wajah berseri-seri. “Apalagi kalau adiknya ganteng kayak Mohzan kan Mas...??” Timpal Mohzan sekenanya. “Hahahhaha...” Mereka tertawa mendengar gurauan segar Mohzan. Acara makan siang keluarga itu berlangsung dengan keceriaan. “Tapi besok kita harus datang kepengadilan. Besok adalah sidang terakhir Satya.” Kata Astuti dengan nada bicara berubah sendu. Suasana berubah jadi hening seketika. ======= Ruang sidang telah dipenuhi oleh para pengunjung yang berkepentingan didalam acara persidangan terakhir Tuan Satya. Selain para kekuarga terdakwa dan keluarga korban, beberapa orang awak media juga diberikan tempat untuk meliput semua rangkaian acara sidang. Dideretan depan sebelah kanan sudah duduk berjejer seluruh keluarga Sudarta. Sedangkan dibagian depan sebelah kiri terlihat keluarga para korban kasus yang sedang disidangkan hari ini. Nyonya Aberta, istri dan ayahanda Mahesa serta Chen terlihat mengobrol dengan santai. Hari ini mereka bersama-sama akan mendengar keputusan hakim. Suasana yang agak riuh sontak sepi ketika dua orang petugas membawa dan mengantar Tuan Satya ke kursi yang diperuntukkan untuk terdakwa. Tuan Satya hanya menundukkan wajah dan siap menerima apapun vonis yang akan dijatuhkan hakim kepadanya. Sidang lalu dibuka dengan membacakan seluruh materi yang menjadi pertimbangan dalam mengadili kasus tersebut. Semua hadirin hening mendengarkan dan menyimak seluruh materi yang tengah dibacakan. Setelah selesai membacakan seluruh materi kasus itu kemudian hakim ketua dipersilahkan untuk membacakan vonis. Ketegangan makin terasa didalam ruang sidang. Hakim ketua mulai membacakan keputusannya. Suaranya yang berat dan berwibawa mencengkram hati siapa saja yang mendengarnya. “Mengingat : Bahwa kejahatan ini merupakan kejahatan yang sangat luar biasa karena telah menghilangkan dua nyawa yang tidak berdosa serta melukai dua korban yang lainnya. “Menimbang : Bahwa kesalahan besar yang telah dilakukan terdakwa sudah mendapatkan maaf yang tulus dari pihak keluarga korban yang meninggal maupun dari korban yang hanya mengalami luka-luka, dimana pemberian maaf itu sudah disampaikan langsung pada sidang sebelumnya dan diperkuat dengan surat pernyataan damai yang telah ditanda tangani masing-masing pihak, maka dengan ini kami.” “Memutuskan untuk membebaskan saudara terdakwa dari semua tuntutan.” Hakim ketua lalu mengetukkan palu tiga kali petanda sidang sudah berakhir. Astuti dan seluruh keluarga berteriak haru mendengar keputusan yang menggembirakan itu. Astuti dan Alpan segera menghambur kedepan dan memeluk tubuh Tuan Satya. Mohzan dan Tuan Junara mendatangi seluruh korban dan keluarga korban yang duduk disebelah blok tempat mereka duduk. “Terima kasih Bapak... Ibu.. Kalian sungguh berhati mulia..!” Kata Tuan Junara sembari menyalami Nyonya Aberta dan seluruh keluarga korban yang ada disana. Mohzan juga melakukan hal yang sama. Mereka bersalaman dan berangkulan. “Terima kasih Chen..!!” Ujar Mohzan merangkul pundak Chen dan berbisik ditelinga pemuda tionghoa itu. “Sama-sama Bang...!!” Sahut Chen tersenyum. Setelah bersalaman dan berangkulan dengan keluarganya, Tuan Satya langsung menemui satu persatu keluarga korban. “Terima kasih saudariku... Saudari telah memberikanku kebebasan..!” Ujar Tuan Satya menyalami Nyonya Alberta. “Puji Tuhan... Semoga Tuhan Yesus melindungimu saudaraku..!!” Sahut Nyonya Aberta tersenyum tulus. “Insya Allah saudariku...saya berjanji akan memanfaatkan waktu yang telah saudari berikan untuk hal-hal yang berguna.” Kata Tuan Satya memperat salaman tangan mereka ditelapak tangan Nyonya Aberta. Mereka tersenyum penuh damai dan bahagia. Hal yang sama juga dilakukan oleh Tuan Satya kepada keluarga korban lainnya. Tuan Satya mendatangi mereka dengan bergantian. Tuan Junara dan Mohzan terharu menyaksikan momen yang penuh kedamaian itu. Tuan Satya dan para keluarga korban terlihat saling bersalaman dan berangkulan. Setelah menyalami semua keluarga korban, Tuan Satya mendekati Mohzan yang berdiri terpaku disamping Tuan Junara. Dengan spontan Tuan Satya memeluk Mohzan dan menumpahkan semua keharuannya. “Paman bangga padamu Mohzan. Kamu adalah laki-laki yang kuat dan hebat. Dengan kemuliaan hatimu kamu berhasil menyatukan kembali keluarga kita yang telah hancur bercerai berai.” Ratap Tuan Satya dibahu Mohzan. Air matanya tumpah ruah membasahi kemeja yang dipakai Mohzan. “Semoga kedepannya keluarga kita bisa hidup damai dan bahagia Paman.” Sahut Mohzan. “Insya Allah Mohzan... Kita akan hidup rukun dan damai serta bahagia.” Sahut Tuan Satya penuh semangat. Tuan Satya melepaskan rangkulannya dibahu Mohzan. Ia kini mendekati Tuan Junara dan merangkul bahu adiknya itu. Mereka berdua berangkulan dan menangis haru. Kilatan bliz kamera para pewarta mewarnai seluruh rangkaian acara dipersidangan terakhir itu. ************
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Bagus banget
09/06/2025
0Ceritanya bagus bgttttt🥹😻
06/11/2024
0keren
27/06/2024
0Lihat Semua