“Ya sudah kalau begitu Bu Anggi. Tidak apa-apa kalau Khalista main disini dulu. Asal Bu Anggi tidak direpotkan.” Sahut Danar sangat sopan. “Wuuuiiih... Inikah yang disebut dengan tobat..? Bertanyalah Anggita kepada dirinya sendiri. Ia menyoroti punggung lelaki yang baru saja berbalik badan menuju pintu pagar rumahnya lalu menghilang. Anggita memutuskan untuk kembali keruang tamu rumahnya. Ia belum puas untuk mengintrogasi anak orang. (Hmm.. kepo juga nih si Ibu..😀😀😀) “Tadi Papamu menanyakan kamu Lista..!” Ujar Anggita memberi tahu Khalista. Namun sepertinya gadis itu tiada bergeming. Ia malah menatap sebuah foto berbingkai indah yang terpajang didinding ruang tamu Anggita. “Berliana... Seandainya kamu masih ada, aku pasti bisa curhat kepadamu. Semakin besar ternyata beban hidup bukan semakin ringan Liana.” Ratap Khalista kepada foto Berliana yang merupakan teman bermain kecilnya. Anggita jadi sedih mendengar ratapan Khalista kepada mendiang putrinya itu. Jika Berliana masih hidup tentu ia sudah gadis seperti Khalista sekarang. Anggita mulai menyusup air matanya. Ditatapnya wajah Khalista yang kini terlihat benar-benar kesepian. “Apakah sebaiknya aku kasih tahu saja ya dimana Santi dan Ramona sekarang berada...?? Mereka pasti akan bahagia jika berkumpul kembali.” Desah hati Anggita yang semakin basah. “Listaa..!” Anggita memanggil lembut gadis itu. Anggita duduk disebelahnya dan memeluk bahu Khalista. Khalista menolehkan pandangan matanya yang sembab kearah netra Anggita. “Jika seandainya kamu tahu dimana Santi dan Ramona berada, apa yang akan kamu lakukan..?” Tanya Anggita hati-hati. Wajah Khalista sontak berbinar. Satu harapan samar bersinar untuknya. “Lista akan segera mengajak Papa untuk menjemput mereka Tante. Lista akan minta maaf pada Mama Santi dan Mona dan mengajak mereka pulang.” Jawab Khalista serak. Anggita mengangguk-angguk mendengar ketulusan pengakuan Khalista. “Dan..” “Dan apa Lista..??” Tanya Anggita menuntut jawaban dari kalimat Khalista yang terpotong. “Lista ingin menyatukan Ramona dengan Bang Mohzan Tante. Lista tahu kalau mereka berdua saling mencintai.” Sambung Khalista mantap. “Yaa.. yaa.. Santi juga pernah menceritakan itu pada Tante. Namun menurut Santi kamu juga mencintai pemuda itu Lista..?” “Cinta tidak bisa dipaksakan Tante. Lista yakin kalau Bang Mohzan lebih cocok dengan Ramona, bukan dengan Lista.” Kali ini Lista menunduk dalam. Ia nampak berusaha menekan luka yang ia ciptakan sendiri. “Kamu bersungguh-sungguh Lista..?” Tatapan Anggita semakin dalam menghujam bola mata Khalista yang masih lembab dan sembab. “Iya Tante, Lista tidak mau kehilangan saudari Lista satu-satunya. Kami dibesarkan bersamaan dan sampai nanti harus selalu bersama.” Jawab Khalista kini mulai meronakan senyum dibibirnya. Anggita kian mantap dengan keputusannya. Dirinya sudah tidak meragukan lagi ketulusan niat Khalista. “Masalah nanti Santi dan Ramona mau kembali kerumah itu urusan belakangan. Tapi setidaknya sebagai tetangga aku harus membantu mendamaikan mereka.” Suara hati Anggita berpendapat. Rere semakin lelap dipangkuan Khalista. Dasar kucing selalu betah ditempat lembut dan hangat. “Tante tahu dimana mereka..!” Ujar Anggita setelah beberapa saat mempertimbangkan. “Benarkah Tante..??” Khalista langsung terlonjak dan spontan menatap Anggita. “Ngeeoong..” Rere sedikit terbangun lalu tidur lagi. “Bisakah Tante mengantarkan kami untuk bertemu mereka..?” Tanya Khalista tak sabar. “Iya, bisa..!” Jawab Anggita mantap. “Terima kasih Tante .!” Ujar Khalista lalu berdiri setelah terlebih dulu memindahkan Rere keatas sofa dengan hati-hati. “Tante bersiaplah, Lista mau kasih tahu Papa dulu. Nanti kita pergi bertiga.” Kata Khalista yang dijawab anggukkan oleh Anggita. Tubuh gadis itu segera melesat pergi dan menghilang. Anggita masuk kekamarnya untuk merapikan sedikit penampilannya. Dua puluh menit kemudian terdengar suara Khalista memanggilnya dari pintu pagar. Anggita bergegas keluar sambil menggendong Rere lalu masuk kedalam mobil yang dikemudikan Danar. Khalista duduk didepan disamping Danar dan Anggita bersama Rere duduk dibelakang mereka. Mobil itu perlahan berjalan. Selama bertetangga baru kali inilah Anggita naik mobil Danar. “Maaf sudah merepotkan Bu Anggi.” Kata Danar dari belakang kemudi sambil tersenyum sopan melirik kaca spion tengah mobil itu. “Tidak apa Pak Danar. Itulah gunanya tetangga.” Sahut Anggita sambil mengelus lembut kepala Rere kucingnya. Danar mengangguk setuju. Anggita kemudian memberi tahu alamat yang akan mereka tuju. Danar memperhatikan dengan serius lalu mensketsa jalur terdekat dikepalanya. Sekitar satu jam kemudian mobil milik Danar sudah terparkir dihalaman sebuah butik yang cukup besar. Butik itu berada ditempat yang cukup strategis dan nyaman. Beberapa orang terlihat sedang mengunjungi butik itu. Mereka asyik memilih-milih busana yang tidak diragukan kwalitasnya itu. “Turunlah.. Saya biar menunggu disini saja.” Kata Anggita. Ia tidak ingin menganggu urusan keluarga tetangganya itu lebih jauh. Danar dan Khalista turun dan perlahan mendekati pintu kaca bening yang tertutup. Begitu hangat tubuh mereka menyentuh sensor matic pintu itu otomatis terbuka. Hawa sejuk dari dalam butik itu langsung menerpa tubuh Khalista dan Danar. “Silahkan kalau mau lihat-lihat dulu..!” Seorang gadis berambut panjang dan pirang mempersilahkan Khalista dan Danar. Khalista dan Danar masih sangat hafal suara itu. Itu adalah suara Ramona. “Mona..!” Panggil Khalista. “Lii..Liista..?!” “Om Da..danar..!” Sahut Ramona gugup. Ia tidak menyangka kehadirannya kembali ke Jakarta akan ketahuan secepat ini. Santi yang berdiri tidak jauh dari mereka ikut terkejut alang kepalang. Ia sampai menutup mulutnya yang menganga. Santi segera bergegas menghampiri Ramona yang berdiri masih gugup. Santi segera meraih tangan putrinya lalu menggenggamnya untuk menghilangkan rasa takut Ramona. “Mau apa kalian kesini..??” Tanya Santi tajam menatap Danar dan Khalista. Suara Santi yang agak keras mengundang perhatian para pengunjung untuk datang menghampiri. Sekitar dua puluh orang pengunjung telah berkumpul menonton kejadian itu. Mereka tidak tahu apa masalah yang sebenarnya terjadi antara pemilik butik dengan seorang gadis dan lelaki setengah baya yang baru saja berkunjung kesana. “Mama..!!” Panggil Khalista dengan suara serak menahan tangis. “Mama..??” Panggilan Khalista kepada Santi sontak membuat Santi dan Ramona terperanjat kaget dan mendongakkan kepalanya. Dua pasang mata mereka membulat besar menatap kearah Khalista dan Danar bergantian. Khalista terlihat mulai menangis dan Danar hanya menundukkan kepalanya menekur menatap lantai. Hal yang tak pernah dilakukan Danar sepanjang Santi mengenal suaminya itu. Biasanya Danar selalu bersikap garang dan mendongak. “Mama..!” Kembali Khalista memanggil Santi dan kini ia sudah duduk bersimpuh dan meraih tangan kiri Santi. “Khalista..??” Santi menatap anak sambungnya itu tidak percaya. “Maafkan Lista Ma..! Lista sudah banyak menyakiti hati Mama dan Mona.” Sambung Khalista dengan uraian air mata menengadah menatap Santi. “Ya Allah, aku telah menjadi ibu sambungnya semenjak ia masih berumur tujuh tahun. Namun baru kali ini ia memanggilku Mama.” Desah Santi didalam hati. Jiwa keibuannya sontak tergugah. “Apa-apaan ini Pa..??” Tanya Santi kepada Danar. Ia masih memanggil dengan panggilan Papa karena mereka memang tidak pernah bercerai. “Kami mau menjemput kalian untuk kembali tinggal bersama dirumah kita. Kami mengakui kalau telah banyak berbuat salah, tapi kami telah menebus dosa-dosa kami dengan berbagai musibah dan masalah. Dan kami kesini untuk meminta maaf pada kalian berdua dan berharap kalian sudi untuk kembali.” Suara Danar serak dan lirih menyampaikan maksudnya. Santi dan Ramona merasakan angin lembab membasahi hatinya. “Bangunlah Khalista.. bangunlah Nak..!” Santi berjongkok didepan Khalista lalu pelan mengangkat kedua lengan gadis itu untuk berdiri. Setelah sesaat menatap wajah Khalista yang dibanjiri air mata, Santi lalu memeluk gadis itu. “Maa.. maafkan Khalista Ma.. Khalista berjanji akan jadi anak yang baik.” Ujar Khalista disela sedu sedannya. “Iya.. iya Sayang.. Mama tahu sebenarnya Lista adalah anak yang baik.” Jawab Santi merapikan anak rambut dikening Khalista. Ramona yang berdiri mematung disamping Santi tak kuasa menahan air matanya yang berurai membasahi wajah cantiknya. Dan bukan hanya Ramona yang larut dalam kesedihan, tapi semua pengunjung yang menyaksi kejadian itu turut menyeka air mata walau ia tidak tahu jalan ceritanya. “Pulang ya Maa..!!” Rengek Khalista. “Iya... Mama dan Mona akan pulang.” Sahut Santi tersenyum. Khalista tersenyum lega. Kini ia beralih memeluk Ramona. “Mona.. Maafkan Lista ya..!” Bisik Khalista lirih ditelinga Ramona. “Iya Lista, Mona juga minta maaf ya. Karena ulah Mona, Lista jadi mendapat banyak masalah.” Jawab Ramona tersedu. “Maa..!” Danar memeluk Santi dan mereka bertangisan. ********
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Bagus banget
09/06/2025
0Ceritanya bagus bgttttt🥹😻
06/11/2024
0keren
27/06/2024
0Lihat Semua