logo text

Bab 13 Reaksi Bapak

Hari berganti.
“Mengapa usaha tas nggak jalan lagi, Pak?” Akhirnya kesampaian juga niatku untuk bertanya, saat Bapak duduk santai di depan rumah setelah bangun tidur. Ya, bangun tidur. Selepas shalat subuh tadi, Bapak tidur lagi. Alasannya mengantuk akibat bangun sebelum subuh.
“Bapak kena tipu!” Jawab mertuaku langsung, kemudian mengembuskan napas sedih.
Aku terkesiap. Mengapa aku tidak tahu kabar berita ini? Tepatnya, Tisni tidak bercerita apa-apa.
“Apa ada toko yang ingkar bayar, Pak?” Telisikku lebih jauh.
“Ceritanya cukup panjang,” Bapak membetulkan letak duduknya, kakinya yang semula terangkat satu di atas kursi kini diturunkan.
“Enam bulan sebelum bangkrut ada kenalan yang menyarankan untuk menambah pemasaran tas sampai ke luar kota. Dia lalu mengenalkan Bapak dengan seorang pemilik toko di Bali bernama Oki.
Awalnya tas-tas Bapak dibeli tunai, lalu pada bulan kedua Oki minta keringanan pembayaran dengan sistem cicil. Jadi dia bayar sebagian ketika mengambil barang, lalu dilunasi setelah barang datang.
Di bulan ketiga, Oki minta pembayaran sistem jatuh tempo, lantaran pesanan tas yang cukup banyak. Oki berjanji akan membayar sekaligus melunasi setelah dua bulan. Saat itu Bapak setuju, karena sudah biasa bertransaksi dengan Oki ini. Selama ini, pembayaran dengan Oki selalu lancar.
Setelah lewat waktunya, ternyata Oki belum bayar juga. Sudah Bapak tagih-tagih terus, selalu saja ada alasannya. Padahal Bapak sudah memakai seluruh modal yang ada untuk memenuhi permintaan tas dari Oki. Perputaran modal dan laba menjadi macet gara-gara satu orang.
Tiba saatnya membayar karyawan, Bapak tidak punya uang. Akhirnya uang penjualan tas di toko-toko lainnya Bapak gunakan untuk membayar gaji karyawan sekaligus pesangon, karena Bapak tidak punya uang lagi untuk membeli bahan untuk memproduksi tas baru.”
Bapak mengakhiri kisahnya dengan raut wajah sedih. Aku jadi merasa ikut sedih, lantaran tidak bisa membantu apa-apa. Aku juga merasa bersalah, lantaran tidak mengetahui masalah ini sedari awal.
“Untung waktu itu Tisni sudah bekerja di pabrik, jadi biaya hidup Bapak dan Ibu sehari-hari diberikan oleh Tisni,” tiba-tiba Ibu datang menimbrung, lalu langsung duduk di sebelah Bapak.
Tisni memang anak pertama Bapak dan Ibu, sehingga lebih diandalkan sebagai tumpuan harapan kedua orangtuanya. Setelah Tisni, ada dua orang adiknya yang kini juga telah menikah.
Aku terkejut, baru tahu bahwa Tisni membantu Bapak dan Ibu dengan uang gajinya. Selama ini aku memang tak pernah tahu menahu dengan penggunaan uang oleh Tisni.
Aku diam merenung, kembali meragu untuk menceritakan masalah rumah tanggaku dengan Tisni. Tepatkah jika aku ungkapkan sekarang? Aku coba mencari-cari kalimat yang tepat untuk menceritakan masalahku dengan Tisni.
“Bapak mau siap-siap pergi sekalian shalat Zuhur.” Bapak tiba-tiba bangkit dari kursi.
Lho, jam berapa ini. Kok Bapak sudah ingin bersiap shalat Zuhur? Aku lirik jam analog di dinding. Pukul 10.30 pagi, masih terlalu awal untuk bersiap shalat Zuhur.
“Sekarang kan masih pagi, Pak?” Protesku keheranan.
“Bapak ingin mampir dulu ke tempat Tresno, adik Tisni. Bapak mau sekalian menengok cucu, anak Tresno sudah dua orang sekarang,” jawab Bapak dengan wajah cerah, sepertinya beliau teringat pada cucu-cucunya.
Hatiku disergap rasa sedih kembali, teringat pada pernikahanku yang belum juga dikaruniai anak. Adik Tisni menikah tiga tahun setelah aku dan Tisni menikah, dan sekarang anaknya sudah dua.
“Kemarin Nak Oded bilang, Tisni menginap di pabrik? Apa Tisni sering nggak pulang ke rumah?” Tiba-tiba Ibu bertanya kepadaku.
Ah, mungkin ini kesempatanku untuk menceritakan ulah Tisni.
“Ya, Bu. Akhir-akhir ini Tisni jarang pulang,” jawabku bersemangat, terlalu bersemangat sebetulnya.
“Tisni lembur atau bagaimana?” Lanjut Ibu lagi, dahinya berkerut seolah tak suka. Entah tak suka Tisni lembur atau tak suka Tisni menginap.
“Ya, Bu. Tisni sering lembur, katanya banyak pekerjaan di pabrik. Lantaran keseringan lembur, saya suruh Tisni menginap,” jawabku lebih panjang dari sebelumnya.
Kerutan di dahi Ibu semakin dalam. Kini bibirnya ikut terkatup, sehingga terpahat garis di kedua sudut bibir beliau. Suara cicit burung gereja di luar rumah menjadi latar keheningan sesaat yang selanjutnya tercipta.
“Kenapa tidak dijemput saja oleh Nak Oded?” Suara Ibu terdengar tak enak di telinga, setelah jeda sesaat tadi.
Hmmm, rupanya hal ini yang membuat Ibu mengerutkan dahi. Selain telinga terasa merah mendengar pertanyaan yang lebih mirip penyalahan itu, hatiku juga ikut merasa tak enak.
“Tanggung, Bu. Esoknya Tisni sudah harus datang lagi pagi-pagi.” Aku mencoba membela diri.
“Apa aman di sana? Bagaimana kalau Tisni kenapa napa?” Ibu menatapku tajam, posisi tubuh beliau kaku di kursinya. Kesan tegang tampak dari bahasa tubuh Ibu.
Oh, apakah aku salah lagi? Lebih baik aku jawab pertanyaan Ibu dengan hati-hati, bisa-bisa aku dimarahi lagi nanti. Aku betulkan posisi duduk agar lebih tegak, agar kesan yang tampil lebih sopan dan lebih serius.
“Aman, Bu. Di sana ada mess khusus buat karyawan, jadi Tisni menginap di kamar teman kerja perempuannya,” aku mengangguk tegas agar Ibu menjadi tenang.
Ibu melipat kedua tangannya di dada, mirip dengan sedekap orang yang shalat. Kerut di dahi Ibu belum juga menghilang. Aku punya firasat, sebentar lagi Ibu akan kembali mengajukan keberatan atas ini dan itu.
“Kalau kalian semakin jarang bertemu, bagaimana Tisni bisa hamil?” Ibu menatapku dengan sorot mata prihatin.
Oh! Jadi itu penyebabnya...
Aku menggaruk-garuk kepala, bingung harus menjawab.
“Kalau menurut Ibu, sebaiknya Tisni kamu jemput saja setiap hari,” Ibu mengeluarkan suara lagi.
“Biar di rumah istirahat dan bisa usaha bikin anak,” lanjut Ibu blak-blakan. Aku sampai terkejut mendengar ucapan Ibu.
“Saya sih mau, Bu. Tapi Tisni yang nggak mau,” akhirnya aku menemukan kalimat yang tepat.
“Nggak mau pulang?!” Sekarang Ibu melotot.
“Tisni nggak mau melakukan setiap hari, katanya capek, Bu.” Sekarang aku ikut blak-blakan seperti Ibu. Ah, aku jadi malu harus bicara begini kepada mertuaku.
“Ibu harus menasihati Tisni tentang hal ini,” Ibu mengembuskan napas.
Ucapan Ibu seolah membunyikan bel di kepala, bahwa ini saat yang tepat untuk memulai percakapan tentang alasanku datang ke rumah ini.
“Sebetulnya kedatangan saya ke sini juga ada hubungannya dengan...”
“Bu Ilham! Assalamu’alaikum!”
Entah dari mana datangnya, seorang ibu-ibu seumur ibu mertuaku datang dan langsung masuk melalui pintu depan yang terbuka.
Uh, gagal lagi, gagal lagi! Aku merutuk di dalam hati. Padahal keadaan tadi sudah sangat bagus buatku untuk mengadukan kelakuan Tisni.
“Wa’alaikumsalam. Eh, Bu Tarja. Ada apa, Bu?” Ibu bangkit berdiri dan menyongsong tamunya.
“Bu Ilham lupa? Hari ini kita harus membantu Bu Siti yang akan menikahkan anaknya besok pagi,” Bu Tarja menatap ibu mertuaku dengan sorot mata keheranan.
“Astagfirullahalazim! Saya betul-betul lupa! Sekarang saja kita kesana, ya.” Ibu menyambar kardigan rajut berwarna kecokelatan di atas kursi tamu, lalu mengenakannya sambil berjalan ke pintu keluar.
Aku terbengong, serta merta aku ditinggalkan begitu saja. Perasaanku campur aduk, antara gemas, sedih, dan kecewa.
“Nak Oded, kalau Bapak pulang tolong katakan Ibu ada di rumah Bu Tarja!” Ibu melenggang pergi, setelah satu kali menatap raut wajahku yang pasti terlihat sendu.
Aku mengangguk pelan, tapi sayangnya reaksiku itu tak terlihat oleh Ibu. Lantaran tergesa-gesa pergi, Ibu langsung berbalik selepas menitip pesan kepadaku. Tatapanku mengikuti gerakan punggung Ibu dan temannya yang dengan cepat menjauh dan hilang di kelokan jalan.
***
Bapak pulang pukul dua siang, tepat ketika mataku mulai mengantuk akibat tak ada kegiatan. Melihat sosok tegap itu melangkah memasuki rumah, mataku yang hampir terpejam kembali terbuka lebar.
“Sudah pulang, Pak?” Sambutku semringah, sembari duduk di kursi panjang yang sebelumnya aku pakai berbaring selonjor.
“Lho, sendirian Nak Oded? Mana Ibu?” Bapak masuk langsung celingukan.
“Ke rumah tetangga, kata Ibu mau membantu Bu Siti yang sebentar lagi menikahkan anak,” sigap aku menjawab, sesuai dengan perintah Ibu sebelumnya.
“Oh... Iya,” Bapak menjawab pendek, lalu duduk mengaso di sofa ruang tamu. Bapak mengatur napasnya yang tak beraturan akibat berjalan cepat sebelum memasuki rumah.
“Cucu sehat semua, Pak” Tanyaku lagi, sengaja memecah hening yang menyergap.
“Sehat, alhamdulillah. Bapak tinggal menunggu cucu dari Tisni dan kamu,” lanjut Bapak sambil mengangguk. Sekilas, pandang mata Bapak menatapku serius.
“Saya mau sekali, Pak. Tapi Tisni tampaknya sudah menyerah,” sambarku cepat. Aku tak mau lagi terhalang apapun dalam mengungkapkan masalah.
“Maksudmu?” Dahi Bapak yang sudah berlipat semakin berlipat-lipat akibat dikerutkan.
“Tisni mau mundur saja dari pernikahan kami, Pak. Ia malah sudah punya pacar baru,” jawabku blak-blakan. Tidak ada kejujuran terbaik selain berkata apa adanya, kan?
Bapak membelalakkan mata. Jujur saja, Bapak terlihat seram jika melebarkan mata seperti itu. Apalagi sekarang mulut beliau terbuka membentuk gua.
“Pa, pacar? Tisni selingkuh?!” Nada suara Bapak meninggi, pupil mata beliau membulat seperti bulan yang purnama.
Aku mengangguk sungguh-sungguh, sambil balas menatap pandangan mata Bapak yang lurus-lurus mengarah padaku. Kami saling menatap, diam tanpa kata tapi bertukar emosi dalam bahasa mata.
“Ya, Pak. Malah tetangga di rumah saja sudah tahu perbuatan Tisni.”
Aku kembali melepaskan gugatan, lantaran hatiku semakin tak tahan menanggung beban. Kalau aku ingat lagi pesan-pesan Tisni buat Rudi yang sempat terbaca di ponsel tempo hari, panas di hatiku kembali tersulut.
Mata Bapak tak lagi membelalak, tapi kini wajahnya memerah sampai ke telinga. Tangan Bapak mengepal dan meremas kuat pegangan kursi, sampai aku mendengar bunyi kuku menggores kayu.
“Assalamu’alaikum. Eh, Bapak sudah pulang?”
Lenggang luwes langkah Ibu memasuki rumah dengan mendadak. Keceriaan dalam suara Ibu menurunkan kadar ketegangan yang tadi terasa memenuhi ruangan, membuat sumpek rasa di dada.
“Ini Ibu dapat makanan dari kerja bakti hajatan Bu Siti. Alhamdulillah bisa buat buka nanti sore,” celoteh Ibu ceriwis. Langkah kaki Ibu hendak memasuki dapur tatkala Bapak menyetopnya.
“Bu, kemari sebentar. Ada yang harus kita bahas bersama-sama,” kata Bapak berwibawa.
Ibu menoleh dan menatap Bapak dengan sorot pandangan mata bertanya-tanya, lalu beliau memutar langkah mendekati kami yang duduk di kursi. Bungkusan berisi makanan diletakkan Ibu begitu saja di atas meja, urung dipindahkan ke dalam mangkuk.
“Ada apa, Pak?” Ibu duduk di sebelah Bapak, lalu menatapku dan Bapak secara bergantian.***

Komentar Buku (83)

  • avatar
    ilhammhu

    suka bangat ini novel nya 👍👍❤️

    08/04/2022

      3
  • avatar
    yekkkyek

    Alhamdulillah banget saya

    02/07

      0
  • avatar
    Sri Sunarti

    bagus banget...suka banget karya kakak aku juga udah baca karya kakak lainnya

    29/09

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru