logo text

Bab 16 Gugat Cerai Tanpa Buku Nikah

Di dalam kamar, di atas kasur, mataku terbuka tiba-tiba. Tak ada keributan yang membuat terjaga, tapi seolah ada yang membangunkanku dari mimpi. Tidurku tak nyenyak lantaran mimpi buruk yang tak jelas.
Hawa dingin masih terasa menyiksa di kulit, bahkan azan Subuh belum berkumandang.
Pertengkaran semalam dengan Kang Oded masih berbekas di jiwaku. Aku tak mengira Kang Oded bersikukuh tak mau menceraikan. Mengapa ia tak mau mengikhlaskan semua yang sudah terjadi agar kami dapat berpisah baik-baik?
Aku tak habis pikir dengan keinginan Kang Oded. Apakah ia tak memikirkan perasaanku sama sekali? Apakah ia tak sadar bahwa aku sudah membencinya, hingga tak mungkin aku melayaninya sebagai istri.
Masih segar dalam ingatan, mata merah Kang Oded saat mengatakan tak mau menceraikan aku.
“Buku nikah ada padaku, kamu nggak akan bisa cerai dariku!”
Astaga! Kang Oded akan mengurungku selamanya dalam pernikahan tanpa cinta. Ia akan menyiksaku seumur hidup. Ya Tuhan, ternyata ada ya suami sejahat itu? Aku galau, apakah seumur hidup nasibku akan merana?
Memang, tadi malam Bapak dan Ibu masih membujukku untuk berbaikan dengan Kang Oded. Tapi untuk apa berbaikan jika semua sudah terlanjur rusak? Perasaanku pada Kang Oded bagaikan ranting patah yang tak mungkin disambung kembali.
“Tis, Kang Oded masih cinta sama kamu. Apa nggak sebaiknya kamu pertimbangkan lagi keinginanmu?” Tanya Ibu sambil membelai rambutku, lembut dan penuh kasih.
“Tapi, tapi... Tisni sudah nggak cinta...” sahutku lirih, dengan nada suara seperti anak kecil. Sementara Kang Oded diam mendengarkan di depan aku dan Ibu.
“Cintamu pudar karena kesalahan yang pernah Oded lakukan. Tapi ia mau berubah, berilah Oded kesempatan kedua.” Sekarang giliran Bapak yang bersuara.
Kali ini aku tak menjawab, hanya gelengan kepala yang aku berikan. Aku sudah lelah dibujuk dan dirayu untuk kembali pada Kang Oded. Pintu hatiku sudah terkunci sedangkan kuncinya sudah hilang.
Ibu mengembuskan napas berat melihat gelenganku, tapi Ibu merangkulku seolah hendak melindungi. Aku tahu dari gerakan itu, bahwa keputusan yang aku ambil didukung oleh Ibu. Mungkin, apapun keputusanku Ibu akan mendukung pilihan tersebut.
“Maaf, Nak Oded. Tisni sudah memutuskan, Ibu tidak bisa memaksanya untuk memilih yang lain.”
Ibu berkata pada Kang Oded yang ada di hadapan kami bertiga. Sembari mengutarakan itu, Ibu terus membelai lembut rambut di kepalaku. Aku semakin mendekatkan diri dalam hangat tubuh Ibu.
Dari balik wajahku yang tertunduk, aku lirik Kang Oded dengan sudut mata. Wajahnya menunjukkan ekspresi kesedihan yang sangat dalam. Ekspresi itu, sama betul dengan ekspresi yang pernah aku lihat pada wajah Bu Tina, tetanggaku, saat ia ditinggal mati oleh suami. Ada lautan kesedihan yang berdebur dalam sorot mata yang bersinar redup.
“Baik, Bu. Terima kasih sudah berusaha membujuk Tisni. Tidak apa-apa bila Tisni tak mau mengubah keputusan, tapi saya juga tidak akan memberikan buku nikah,” Kang Oded menyahut pelan, suaranya berat bergetar penuh emosi.
Masih dalam rangkulan Ibu, aku melihat wajah Kang Oded memerah, kemudian semakin lama semakin gelap. Aku ketakutan, khawatir ia gelap mata dan melakukan hal-hal yang mengerikan.
“Saya pamit, Bu!” Dalam sekali sentak, Kang Oded berdiri dan bergerak menuju pintu depan tanpa menoleh lagi.
Aku terkejut. Bahkan Bapak sampai berdiri dari duduknya lantaran ditinggal pergi begitu saja oleh Kang Oded.
“Mau ke mana, Ded?” Seru Bapak terkesima.
“Pulang, Pak!” Kang Oded menyahut sambil menarik gagang pintu hingga terbuka lebar.
Hah? Apa Kang Oded sudah nekad? Dia mau pulang malam-malam begini?
“Besok saja, Ded! Sekarang sudah gelap,” Bapak mengingatkan Kang Oded.
Akan tetapi, peringatan Bapak tak membuat Kang Oded mengubah niat. Kang Oded keluar dari pintu tanpa kata. Tak lama setelah itu, kami mendengar bunyi raungan sepeda motor tua Kang Oded.
Gas motor sengaja diputar habis sehingga menghasilkan bunyi keras yang memekakkan telinga. Bunyi raungan sepeda motor tua itu menyentak-nyentak karena dipermainkan, seolah mewakili suasana hati pemiliknya. Sebentar kemudian, raungan itu menjauh dari rumah dengan cepat.
Beberapa detik setelah kepergian Kang Oded, kami bertiga masih terdiam di tempat masing-masing. Aku terguncang dengan tindakan Kang Oded.
Meskipun sudah tak sudi menjadi istrinya, masih tersimpan rasa khawatir jika Kang Oded mengalami hal buruk di tengah perjalanan. Aku sering mendengar, banyak kecelakaan yang dialami kendaraan saat melakukan perjalanan di malam hari.
“Semoga Oded selamat sampai tujuan,” Suara Ibu memecah keheningan, sekaligus menyuarakan hal yang aku pikirkan di kepala.
“Sekarang ayo kita makan malam dulu.” Aku rasakan badan Ibu bergerak hendak bangkit, maka aku menarik diri dari tubuh Ibu.
Selepas makan dan shalat Isya, aku memilih langsung pergi tidur. Selain badanku terasa penat akibat perjalanan jauh tadi siang, pembicaraan dengan Kang Oded juga menguras energi dan emosi. Aku lelah. Lahir batin.
Kukuruyuuukkk! Suara ayam jantan di dekat jendela kamar berhasil membuatku kaget. Apakah ayam itu sedang bermain ciluk ba denganku? Sang ayam seolah sengaja menggugahku dari lamunan.
Sesaat kemudian, azan Subuh berkumandang dari TOA musala setempat. Suara sang muazin terdengar masih mengantuk, membuat gendang telingaku tersakiti.
Aku singkirkan selimut yang masih menyelimuti tubuh, lalu melangkah pelan keluar kamar untuk mengambil air wudhu. Shalat akan menjernihkan pikiranku yang kalut.
***
Pagi hari di meja makan, aku ungkapkan keresahan semalaman ini kepada Bapak.
“Bagaimana ini, Pak? Buku nikah ditahan Kang Oded, apa statusku akan terus tergantung?” Aku muram, memikirkan nasibku di masa depan. Berpisah rumah dengan suami tapi tak bercerai rasanya bagai memiliki status palsu.
“Sudah, kamu tenang saja. Biar Bapak yang urus, kamu pasti bisa cerai dari Oded.” Bapak menenangkan kegalauan hatiku.
“Memangnya bisa, Pak, gugat cerai tanpa buku nikah?” Tanyaku kebingungan. Jika memang bisa, senang betul rasanya hatiku. Kebebasan diriku bukan hanya impian.
“Bapak juga belum tahu pasti. Makanya, Bapak mau ke KUA kecamatan hari ini untuk minta informasi,” sahut Bapak dengan tatapan sungguh-sungguh.
“Apa kamu ikut Bapak sekalian, Tis? Biar lebih mantap,” Ibu memberi saran.
Aku mengangguk setuju. Lebih baik aku ikut mengurus hal ini, toh gugat cerai ini urusanku.
“Iya, Bu. Tisni mau ikut Bapak saja,” kataku mantap.
“Oh, aduh! Bapak lupa,” tiba-tiba Bapak menggelengkan kepala dengan kesal.
“Ada apa, Pak?” Ibu terlihat kebingungan.
“Sekarang kan hari Minggu. Kantor kecamatan tutup!” Bapak menepuk dahinya, raut wajah Bapak penuh sesal.
“Oh, iya. Besok saja, Pak. Kamu jadi ikut, Tis? Besok hari kerja, kan?” Ibu mengalihkan pandangan padaku.
Sesaat aku bimbang. Izin atau tidak? Di pabrik saat ini sedang banyak pekerjaan, tapi urusanku juga penting. Bagaimana, ya...
“Biar Bapak saja yang ke kecamatan, Tisni nggak usah ikut dulu. Toh, Bapak baru cari informasi. Kalau sudah pasti yang harus dilakukan, nanti Bapak kabari.”
Akhirnya Bapak yang membuatkan keputusan untukku, mungkin karena aku lama tak memberikan jawaban. Lantaran bingung, aku mengangguk saja dengan keputusan Bapak.
“Tidak apa-apa jika sore ini aku kembali ke pabrik, Pak?” Tanyaku meminta kepastian. Ada rasa sungkan di hatiku, gara-gara ulahku Bapak menjadi repot.
“Nggak apa-apa, Tis. Sudah, kamu nggak usah banyak pikiran. Percaya saja dengan Bapak,” Bapak mengakhiri keraguan dalam benakku.
Aku mengangguk lega.
***
“Lalu Kang Oded pergi sambil mengancam.”
Aku mengakhiri kisah pada Dewi, teman kerja yang kamar messnya aku tumpangi.
Baru saja aku muncul di mess, Dewi sudah menodong dengan seribu pertanyaan. Apalagi setelah dia tahu bahwa Kang Oded sudah berada di rumahku terlebih dahulu, Dewi semakin bersemangat mengetahui kisahku. Bahkan Resti, teman sekamar Dewi yang biasanya cuek dengan gosip seputar karyawan pabrik, ikut duduk melongo mendengarkan ceritaku.
“Waduh, waduh. Aku nggak menyangka Kang Oded bisa berbuat itu,” Dewi berdecak heran.
“Padahal wajah Kang Oded terlihat baik seperti orang pemaaf,” Resti menimpali Dewi.
Dewi mengangguk-angguk dengan ekspresi terguncang. Aku dan kedua temanku terdiam, aku terpekur.
Dewi dan Resti sama-sama masih gadis, sehingga aku tak bisa meminta pendapat perkawinan kepada mereka berdua. Meskipun sama-sama sudah punya pacar, tapi aku ragu mereka punya bayangan tentang kehidupan berumah tangga.
“Mas Rudi sudah tahu?” Lanjut Dewi.
“Belum aku kabari. Mungkin nanti kalau dia ke sini akan aku ceritakan,” ujarku jujur.
“Kalau nggak bisa cerai, bagaimana hubunganmu dengan Mas Rudi?”
Resti menyuarakan hal yang aku takutkan selama ini tanpa basa-basi. Aku gemas, temanku ini memang suka ceplas-ceplos.
“Ya, itu juga yang aku cemaskan. Kalau nggak bisa cerai, aku dan Mas Rudi nggak bisa menikah...” Aku mendesah galau, memikirkan kemungkinan masa depan hubungan dengan Mas Rudi yang tak bisa bersatu.
Aku merasa murung. Aku sudah betul-betul serius dengan Mas Rudi. Memikirkan kemungkinan tak bisa bersama dengannya saja aku tak sanggup.
Mas Rudi itu punya arti yang istimewa di hatiku. Rasa yang ia berikan berbeda dengan Kang Oded. Dengan Kang Oded, aku tak pernah merasa berdebar ataupun nyaman ketika berdekatan secara fisik. Kalau dengan Mas Rudi... berada di sampingnya saja sudah bisa membuat duniaku terasa cerah.
“Jangan sedih, Tis. Aku yakin Bapak punya jalan keluar untuk masalahmu.” Dewi menyentuh pundakku penuh perasaan.
Ah, temanku yang satu ini memang paling bisa memahami keadaanku. Beruntung aku menemukan teman sebaik Dewi di pabrik ini.
“Terima kasih, Wi.” Aku menyusut air yang tiba-tiba muncul di sudut mata.***

Komentar Buku (83)

  • avatar
    ilhammhu

    suka bangat ini novel nya 👍👍❤️

    08/04/2022

      3
  • avatar
    yekkkyek

    Alhamdulillah banget saya

    02/07

      0
  • avatar
    Sri Sunarti

    bagus banget...suka banget karya kakak aku juga udah baca karya kakak lainnya

    29/09/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru