logo text

Bab 19 Aku Sudah Bebas

Aku sedang berkutat dengan lengan sebuah gaun, ketika laci meja jahit bergetar lantaran sebuah benda pipih di dalamnya. Ponselku. Aku tak segera menghiraukan panggilan ponsel, sebab jahitanku sedang tanggung. Selepas satu lengan terjahit sempurna, barulah aku hentikan tekanan kaki pada pedal dinamo mesin jahit.
Tanganku menarik pelan laci meja mesin, lalu mengambil benda terpenting dalam hidupku itu. Ya, terpenting sebab hanya melalui benda pipih itu aku berkomunikasi dengan keluarga, juga... Mas Rudi.
Layar ponsel berkedip-kedip menampakkan nama Bapak di permukaannya. Seketika jantungku berdetak lebih cepat. Ada apakah?
“Halo Bapak?... Alhamdulillah baik, Pak.” Aku menjawab pertanyaan Bapak tentang keadaanku.
“Syukurlah, Nak. Oya, Bapak punya kabar gembira untukmu. Perceraianmu sudah diketuk palu oleh Pengadilan Agama. Sekarang kamu resmi bebas dari Oded,” kata Bapak di seberang sana.
“Betul, Pak? Alhamdulillah! Yes, yes!”
Tanpa sadar aku mengeraskan suara, tak kuasa mengungkapkan rasa bahagia. Kepalan tangan kiriku meninju udara di atas kepala, simbol kemenangan setelah beberapa bulan merasa tertekan.
“Terima kasih, Bapak. Tisni lega sekarang. Hufff...” Aku mengembuskan napas dengan sepenuh hati.
“Ya, sudah. Baik-baik di sana ya, Tis. Ingat, masa iddahmu satu bulan. Oya, ini Ibu juga mau bicara.”
Terdengar bunyi gemerisik ponsel yang dialihtangankan. Tak lama, suara Ibu memasuki indra dengarku.
“Tis, hati-hati bertingkah laku, ya. Sekarang kamu janda. Jangan sampai kamu jadi sasaran gunjingan dan keusilan orang,” Ibu memberi wejangan tanpa tedeng aling-aling.
“Iya, Bu. Tisni akan ingat pesan Ibu,” ujarku takzim.
“Sudah ya, Tis. Kalau ada waktu sering-sering pulang ke rumah,” pesan Ibu lagi.
“Baik, Bu. Insya Allah setiap pekan Tisni pulang jika tidak ada keperluan lain,” janjiku setulus hati.
Setelah itu Ibu memutuskan saluran telepon.
Untuk sesaat, aku tercenung dengan posisi memegang ponsel. Ibu dan Bapak betul, sekarang aku janda. Ya, ampun! Statusku kini sudah berubah. Agak risih juga aku dengan istilah “janda”. Tapi apa boleh buat, ini lebih baik daripada terikat pernikahan tapi diabaikan.
Aku amati jari manisku yang polos tanpa cincin. Sudah lama aku tanggalkan cincin mas kawin dari Kang Oded dari jariku. Semenjak aku ketahuan selingkuh, sudah tak ada gunanya aku kenakan lagi cincin ikatan itu. Toh, hatiku sudah lama tak terikat padanya.
“DOR! Hayooo! Ngelamun, Tis?!” Dewi mengibaskan telapak tangan tepat di depanku.
Suara keras Dewi sukses membuatku terlonjak dari kursi, bahkan ponselku sampai ikut terbang di udara. Ponsel itu bersalto ke atas, lalu meluncur turun dengan cepat. Beruntung, ponsel itu masih sempat aku tangkap sebelum terpuruk ke lantai. Kalau itu terjadi, hufff... Bisa-bisa ambyar ponselku.
“Ih, Dewi! Kaget, aku!”
Aku mendelik sambil memegangi dada yang berdegup tak karuan. Masih mujur urat jantungku tidak copot dibuatnya.
Bukannya merasa bersalah, Dewi malah tergelak jail. Menggemaskan.
“Habis... kamu bengongnya kelamaan, Tis.” Dewi memamerkan deretan giginya yang rapi, sembari menaikkan jari telunjuk dan jari tengah bersamaan membentuk huruf V.
Tuh, kan. Boro-boro minta maaf, Dewi malah membela diri.
“Masa? Aku bengong, gitu?” Tanyaku tak percaya. Rasanya baru sebentar aku melamun tadi.
“Tadi Bapak ya, Tis? Kayaknya ada kabar gembira, nih? Bisikin, dong,” Dewi senyum-senyum dengan raut wajah penasaran.
“Ssst. Udah, kerja lagi. Nanti ditegur Mbak Tati, lho.”
Resti yang duduk di sebelahku, menoleh sambil meletakkan telunjuk di depan bibirnya yang maju. Matanya melirik ke arah Mbak Tati, supervisor kami yang mulai mengamati perbincanganku dengan Dewi.
Aku dan Dewi berlomba kembali menghadap mesin jahit masing-masing. Mengobrol memang tak dilarang di pabrik ini, tapi kalau sampai berlama-lama pasti akan kena tegur juga.
“Aku tunggu ceritanya nanti di kamar,” bisik Dewi sambil melirikku.
Aku mengangguk mengiyakan. Semenjak keluar dari rumah sewaan Kang Oded, aku resmi menjadi teman sekamar Dewi dan Resti. Tak masalah harus tidur di lantai beralas kasur tipis, yang penting hatiku bahagia bersama mereka. Persahabatan kami terasa lebih manis ketimbang pernikahan dengan Kang Oded.
***
Malam itu menjelang tidur, aku meriung bersama Dewi dan Resti di kamar. Hampir setiap hari kami seperti ini, mengobrol, bercanda, dan bergosip suka-suka.
“Aku sudah bebas dari Kang Oded! Bapak bilang perceraianku sudah disahkan oleh Pengadilan Agama.” Aku tak dapat menyembunyikan senyum puas dan senang dari bibirku.
Dewi dan Resti terbelalak, sedetik kemudian Dewi memelukku erat.
“Syukurlah, Tis. Akhirnya kamu bebas juga,” kata Dewi dengan mata berkaca-kaca.
Lucu juga Dewi ini, aku yang cerai tapi malah dia yang terharu. Berbeda dengan Resti, gadis cuek dan tomboy itu hanya mencukupkan dengan memberi ucapan selamat sewajarnya.
“Selamat, Tis. Jadi hubunganmu dengan Mas Rudi bisa segera diresmikan, ya?” Resti menepuk-nepuk pundakku.
“Kamu sudah mengabari Mas Rudi?” Dewi bertanya kembali.
“Belum. Rencananya sekalian besok ketika Mas Rudi ke sini,” aku mengaku.
Sekarang hari Jum’at. Besok Sabtu, aku bekerja setengah hari. Biasanya, Mas Rudi datang mengunjungiku selepas jam kerja.
Dewi dan Resti mengangguk-anggukkan kepala.
“Karena sudah bebas, sebaiknya secepatnya saja menikah, Tis,” ujar Resti sungguh-sungguh.
Aku merasa agak aneh dengan ucapan Resti yang terlalu sungguh-sungguh, bukan hanya basa-basi.
“Memangnya kenapa, Res?” Tanyaku, tak dapat menyembunyikan rasa ingin tahu yang membuncah di dada.
Resti menampar mulutnya sendiri. Aneh sekali.
“Ehm, ya... lebih cepat kan lebih baik. Apalagi kalian sudah cukup lama menjalin hubungan,” Resti tersenyum manis sekali.
Tapi kecurigaanku terlanjur terbit. Aku tidak mungkin mengabaikan ganjalan yang mulai terasa di hati. Apalagi ketika kemudian aku lihat Resti bertukar lirikan dengan Dewi. Wah, wah... Pasti ada yang tidak beres ini.
“Ada apa, Dew? Katakan!” Desakku sambil menggoyangkan tangan Dewi. Sekian lama bersahabat, aku hapal gelagat Dewi jika ia sedang menyembunyikan sesuatu.
“Ah, aku takut kamu marah, Tis...” Dewi tampak salah tingkah. Kembali Dewi dan Resti saling melirik.
“Nggak! Ayolah... bisa mati penasaran aku,” rajukku lagi.
“Hem. Janji nggak marah atau sedih, ya,” pintanya lagi. Aku mengangguk cepat.
“Di pabrik ini kamu jadi bahan gunjingan, Tis...” Dewi berkata hati-hati.
Aku terbelalak.
“Teman-teman yang lain sering bicara tentang kamu di belakang punggung, kata mereka...” Dewi ragu-ragu lagi. Resti menunduk ketika aku pandangi.
“Kata mereka apa?” Aku semakin tak sabar.
“Kamu masih berstatus istri, tapi sudah jalan kemana-mana dengan Mas Rudi...” Dewi menunduk ketika mengatakan itu.
Oh... sekarang aku paham alasan beberapa teman yang tampak melirik tak suka setiap kali Mas Rudi datang. Mereka juga sering aku lihat berbisik-bisik ketika aku keluar bersama Mas Rudi. Setelah kedatangan Kang Oded yang marah-marah di pabrik beberapa bulan silam, semua rekan kerjaku tahu bahwa Kang Oded itulah suamiku.
“Maaf ya, Tis...” Dewi menyentuh pelan pergelangan tanganku.
Aku tersentak dari lamunan. Kemudian aku paksakan diri untuk tersenyum, sekadar meredakan rasa bersalah Dewi.
“Nggak apa-apa, Dew. Aku malah berterima kasih kamu mau jujur,” ucapku tulus.
Ya, seandainya Dewi tak bercerita, aku mungkin tidak akan menyadari keadaanku di mata rekan-rekan kerja lainnya.
Dewi tersenyum lega. Resti juga tampak ikut tersenyum.
“Semoga kalian bisa segera resmi ya, Tis,” celetuk Resti.
“Doakan, ya,” balasku senang.
“Dewi kapan, nih?” Aku mencolek Dewi, berusaha mengalihkan perhatian dia dan Resti dari masalahku.
“Secepatnya,” jawab Dewi ringan, seolah menikah sekarang atau nanti tidak masalah baginya.
“Resti duluan kayaknya,” tambah Dewi sambil melempar bantal ke arah Resti. Resti refleks menangkis, lalu membalas lempar bantal ke arahku. Tentu saja aku kaget.
Akhirnya kami bertiga perang bantal seperti anak kecil.
***
Sabtu siang di warung bakso. Aku dan Mas Rudi makan dengan lahap. Kami duduk berhadapan.
“Mas, sekarang aku sudah resmi cerai dari Kang Oded,” kataku pelan.
“Uhuk!” Mas Rudi tersedak. Ya, memang salahku juga. Aku bicara tanpa pengantar lebih dulu.
“Sudah resmi? Kapan?” Mas Rudi meletakkan sendok ke mangkuk, dan menatapku.
“Kemarin Bapak yang mengabari. Gugatan sudah diketuk palu oleh hakim,” sahutku sambil melipat tangan di atas meja.
Mas Rudi mengangguk-angguk sebelum tertegun. Apa dia terguncang dengan kabar dariku?
“Jadi kamu sudah bebas sekarang...” katanya, lebih seperti gumaman.
“Iya, Mas. Selepas masa iddah, kamu ke orangtuaku ya, Mas.” Aku menatap matanya dengan penuh harap.
“Ya...” Mas Rudi mengangguk singkat, lalu kembali meraih sendok di mangkuk.
Kami kembali makan bakso masing-masing dalam diam. Jujur saja, aku sedikit kecewa dengan reaksi Mas Rudi. Aku mengharapkan Mas Rudi tersenyum senang saat mendengar aku sudah bebas, tapi ternyata reaksinya agak... datar. Sewaktu aku pinta untuk melamar dia juga tak antusias. Suasana hatiku murung seketika.
“Ayo!” Ajak Mas Rudi setelah kami sama-sama selesai makan.
“Ke mana, Mas?” Tanyaku di tempat parkir sepeda motor.***

Komentar Buku (83)

  • avatar
    ilhammhu

    suka bangat ini novel nya 👍👍❤️

    08/04/2022

      3
  • avatar
    yekkkyek

    Alhamdulillah banget saya

    02/07

      0
  • avatar
    Sri Sunarti

    bagus banget...suka banget karya kakak aku juga udah baca karya kakak lainnya

    29/09

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru