Beranda/Aku Diabaikan Saat Setia/
Bab 28 Syarat
Keesokan harinya, sebuah paket besar datang ke rumah. Saat itu, kami sekeluarga sedang makan siang bersama.
“Paket!” seru Abang pengantar paket dari ekspedisi.
Aku menghambur ke pintu depan, lantaran tahu Ibu sudah cukup tua untuk berlari menyambut paket.
“Ya?” Sapaku pada Abang paket.
“Paket buat Ibu Tisni?” tanyanya, sementara mata Abang paket terpaku pada label di atas paket besar yang ditopang oleh kedua tangannya.
“Saya sendiri,” jawabku antusias.
“Silakan,” ujar Abang paket seraya menyerahkan paket besar seukuran kardus minuman mineral ke arahku.
Aku menyambut paket terbungkus kertas tebal cokelat itu, sedangkan Abang paket mencatat sesuatu dalam notesnya.
“Terima kasih,” ujarku otomatis.
Aku berjalan masuk kembali sambil membawa paket. Heran juga, ada paket yang datang buatku padahal baru sehari aku di sini. Tentu tidak banyak orang yang tahu keberadaanku. Di pabrik, mungkin hanya Dewi dan Resti yang tahu pasti keberadaanku saat ini.
“Buat siapa, Tis?” tanya Ibu yang baru muncul dari ruang makan.
“Buatku, Bu,” jawabku.
“Dari siapa, ya?” cetus Ibu heran, sementara dahi beliau berkerut pertanda berpikir.
“Nggak ada nama pengirimnya, Bu,” sahutku sambil membolak-balik paket, berharap ada kertas berisi keterangan pengirim paket. Namun sampai seluruh permukaan paket aku periksa, tak aku temukan identitas pengirim paket itu. Aneh.
“Buka saja. Mungkin nama pengirimnya ada di dalam,” imbuh Ibu.
Aku mengangguk setuju. Dengan cepat, kertas pembungkus paket aku sobek hingga terlihat kardus bekas wadah minuman energi dibaliknya.
Aku mengangkat keluar baju-baju berbahan ringan dan halus, sifon dan maxmara. Ternyata itu gamis-gamis model terbaru yang sedang tren saat ini. Aku terkesima. Aku amati jahitan gaun-gaun itu, halus dan rapi. Kualitas jahitan gamis-gamis ini setingkat di atas pakaian yang biasa dijahit di pabrik konveksi tempat kerjaku.
“Cantiknya,” puji Ibu kagum. Mata Ibu tak lepas memandang gamis-gamis di tanganku, lalu salah satu gamis beliau ambil untuk dikagumi.
Aku mengeduk lagi ke dalam kardus, kali ini tanganku menemukan tas tangan bertekstur kulit binatang. Warnanya, warna kesukaanku.
Aku melongok lagi ke dalam kardus. Tanganku menyenggol sebuah kotak kardus kecil seukuran sepatu. Cepat aku ambil dan aku buka. Ternyata betul, isinya sepasang sepatu dengan corak dan warna senada dengan tas yang aku lihat sebelumnya.
Sekarang hatiku diliputi kecurigaan. Siapa pengirim barang-barang ini? Mengapa isinya seperti barang hantaran pernikahan? Jantungku berdegup kencang.
Aku periksa isi kardus yang kini kosong. Di sana, tepat di dasar kardus tergeletak sebuah amplop polos tanpa nama. Tanganku memungut amplop itu dan bergegas membukanya.
Sehelai kertas terlipat aku ambil dari dalamnya, lalu tak sabar membaca isinya.
“Dik, ini ada hadiah kecil buatmu. Semoga kita mulai lembaran baru, ya. Oded.”
Astaga. Ternyata semua barang ini dari Kang Oded. Berani betul ia mengirimiku barang-barang ini, sedangkan aku belum menjawab lamarannya.
“Ini ... Dari Kang Oded, Bu,” cetusku terbata.
“Oded?” Mata Ibu melebar, tampak sekali beliau juga terkejut.
“Kok heboh betul. Paket apa sih itu?” celetuk Bapak.
Tiba-tiba beliau datang dari ruang makan. Memasuki ruang depan dengan bulir keringat di dahinya, tampaknya beliau baru selesai makan. Bapak berjalan sambil mengelus perutnya yang terlihat lebih gendut karena terisi makanan.
“Ada kiriman baju dan sepatu buat Tisni dari Oded, Pak,” lapor Ibu.
Sebelah tangan Ibu mengacungkan gamis yang tadi dikaguminya ke arah Bapak.
“Lho, belum juga lamarannya diterima kok sudah kirim-kirim barang?” cetus Bapak heran.
“Kang Oded menulis ini,” ujarku.
Tanganku terulur menyerahkan lembaran kertas yang kupegang ke arah Ibu dan Bapak.
“Dia mau mengambil hati Tisni rupanya,” ucap Ibu dengan senyum tersungging.
“Bagaimana, Tis?” tanya Bapak mendadak, seolah-olah mendesakku untuk segera membuat keputusan.
“Bagaimana menurut Bapak jika Tisni kembali dengan Kang Oded? Malu tidak?” Aku malah balik bertanya.
“Jangan malu yang jadi pertimbangan, tapi coba teliti hatimu. Kamu masih bisa menerima Kang Oded atau tidak?” nasihat Bapak.
“Tisni bingung, Pak. Kalau Kang Oded masih seperti dulu ya Tisni nggak mau,” jawabku terus terang.
“Coba dirembuk dengan Oded. Apa yang tidak kamu sukai darinya dulu, bisa kamu jadikan syarat menikah lagi,” timpal Ibu menimbrung.
“Contohnya apa sikap Oded yang kamu benci?” tanya Ibu lagi.
“Tisni nggak suka kalau diminta menemani pergi, Kang Oded banyak alasan,” sahutku polos.
Bapak dan Ibu bertukar pandang sekaligus bertukar senyum.
“Coba kamu bilang ke Oded, kamu mau kembali asal setelah menikah dia siap mengantarmu kemana pun kamu ingin pergi,” imbuh Ibu.
Aku mengangguk-angguk. Betul juga kata Ibu. Semua unek-unekku dulu bisa aku jadikan perjanjian sebelum menikah.
Selagi aku berpikir-pikir, tiba-tiba ponselku berdering. Aku terlonjak, lalu cepat melihat layar ponsel. Nomor tak dikenal.
“Siapa sih ini, nomornya nggak ada di daftar kontak,” celetukku kesal. Sedang serius berpikir malah ada gangguan.
“Coba angkat dulu, kalau nggak kenal kan tinggal ditutup,” celetuk Ibu.
“Halo?” Akhirnya aku angkat juga telepon itu.
“Dik Tisni? Ini aku Oded.” Terdengar suara khas Kang Oded dari seberang.
Aku terperangah. Nomor Kang Oded sudah lama aku blokir dari daftar kontak teleponku. Rupanya dia meneleponku dengan nomor baru.
“Eh, Kang Oded ...” Aku tergeragap.
“Sudah terima hadiah dariku, Dik? Kamu suka, nggak?” tanya Kang Oded.
“Su—sudah. Barusan, Kang,” jawabku terbata-bata.
Dari sudut mata aku melihat, Bapak dan Ibu beranjak pergi ke ruang dalam. Beliau berdua meninggalkanku sendiri menerima telepon dari Kang Oded.
“Suka?” desak Kang Oded lagi.
“Su—Suka, Kang,” jawabku otomatis, bahkan aku tak sempat berpikir.
“Syukurlah. Bagaimana jawaban lamaranku, Dik?” tuntut Kang Oded tanpa basa-basi.
Busyet. Kang Oded main tembak saja. Aku gelagapan lagi.
“Lebih baik Akang ke rumah dulu. Nggak leluasa bicara di telepon,” ujarku yang pada akhirnya bisa menguasai keadaan.
“Baik, Dik. Akang ke sana sekarang, ya,” cepat Kang Oded menjawab.
“Eh? Nggak kemalaman nanti sampai di sini, Kang?” celetukku, mengingat tempat tinggal Kang Oded jauh dari rumahku.
“Nggak apa. Akang sudah didekat rumahmu, kok,” balas Kang Oded kalem.
Astaga. Aku geleng-geleng kepala.
“Oh ... Baik, Kang,” kataku pasrah.
***
Saat Kang Oded datang, tanpa aku sadari arah pembicaraan langsung pada lamaran resmi Kang Oded kepada Bapak dan Ibu. Aku sendiri tak mengerti, mengapa tiba-tiba aku sudah pada posisi dilamar.
“Bagaimana, Tis. Kamu mau?” Tanya Bapak ke arahku, sesaat setelah Kang Oded melamarku pada Bapak.
“Ehm, mau. Tapi ada syaratnya,” ujarku tangkas.
Untung saja aku ingat percakapan sebelumnya dengan Bapak dan Ibu tentang perjanjian sebelum menikah. Sebagai janda yang telah mengenal dua jenis lelaki, aku tak mau lugu lagi menerima pinangan begitu saja. Aku harus mengajukan syarat sebelum menikah, agar hidupku tidak sengsara nantinya.
“Apa syaratnya, Dik?” spontan Kang Oded bertanya, wajahnya diliputi kebingungan.
Mungkin dia tak menyangka aku akan mengajukan syarat sebelum menikah, seperti Rara Jonggrang saat dipinang oleh Bandung Bandawasa. Hah, bahkan putri masa lampau itu saja masih lebih cerdas daripada seorang Tisni.
“Aku mau dengan syarat, aku tidak pernah lagi diabaikan. Aku mau didahulukan di atas pekerjaan, kepentingan, maupun kebutuhanmu, Kang,” gesit aku menjawab.
Kang Oded melongo, mulutnya sampai terbuka membentuk huruf O.
“Jadi bila ada kepentingan yang berbenturan, aku harus dinomorsatukan. Sanggup?” tegasku lagi.
Kang Oded menggaruk-garuk kepalanya. Kopiah yang dikenakannya –sangat jarang ia berkopiah atau kupluk, aku curiga ia sengaja memakai benda itu karena hendak melamarku—sampai dinaikkan ke atas dahi, lalu diturunkan lagi menutupi dahi lebarnya. Tingkahnya seperti orang yang bingung.
“Masa aku harus mendahulukanmu daripada pekerjaan, Dik?” tanya Kang Oded, dahinya berkerut seolah tak rela.
“Iya. Tapi kalau Akang nggak bisa, ya nggak apa-apa. Tapi saya nggak mau jadi istrimu lagi,” ancamku dengan suara selembut mungkin.
“Eh, jangan! I—iya, Dik. Akang sanggup,” ujar Kang Oded pasrah, wajahnya memerah dan dahi berbulir di pelipisnya.
Ah, ternyata hati Kang Oded sangat tulus, dia juga tak memiliki akal bulus.
Aku melirik Bapak dan Ibu. Mereka tengah tersenyum-senyum dikulum sambil mengamati Kang Oded yang blingsatan. Aku puas dengan diriku sendiri. Paling tidak, Tisni masih memiliki harga diri meskipun janda.
“Nah, Oded sudah bersedia. Bagaimana, Tis?” tanya Bapak lagi. Sekarang beliau melirik ke arahku.
Aku mengangguk dan tersenyum malu-malu. Pipi terasa panas saat mengangguk. Aku malu bukan karena mengiyakan lamaran, tapi karena kembali ke pelukan Kang Oded, suami yang dulu kutinggalkan.
“Baik, Oded dan Tisni sudah sepakat. Nanti Bapak bantu urus prosedurnya ke KUA kembali. Karena dulu Tisni yang gugat cerai, maka kalian harus menikah lagi dengan akad nikah baru,” Bapak menjelaskan situasi kami.
Aku dan Kang Oded sama mengangguk-angguk.
“Tapi pestanya nggak usah besar-besar, ya. Ibu malu menikahkan Tisni yang kedua kali, nih,” ceplos Ibu tiba-tiba.
Aku dan Kang Oded saling lirik, lalu sama-sama tersipu.
TAMAT MUSIM 1.
Setelah ini sekuel kisah Tisni dan Kang Oded dalam rumah tangga baru mereka, ya. Cerita bisa dibaca terpisah, tidak terkait satu sama lain.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (83)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
suka bangat ini novel nya 👍👍❤️
08/04/2022
3Alhamdulillah banget saya
02/07
0bagus banget...suka banget karya kakak aku juga udah baca karya kakak lainnya
29/09/2025
0Lihat Semua