logo text

Bab 20: Sisi Rapuh Ares

"Nilai saya sesuka Anda karena saya tidak peduli".
***
Ares menatap jam yang melingkari pergelangan tangannya, pukul 11 malam. Ia mengamati keadaan disekitarnya yang masih ramai, ia mengepulkan asap rokoknya keudara begitu damainya, dentuman musik yang keras sama sekali tak mengganggunya.
  Club ?, Ares tidak sedang berada di club, tapi mirip. Selain MGM, tempat ini juga merupakan Basecamp mereka, tapi...jangkauan tempat ini lebih luas, bukan hanya geng Meteor, tapi banyak brandalan lain yang menjadikan tempat ini sebagai rumah kedua mereka ,bahkan wanita malampun bebas keluar masuk tempat ini.
  Bangunan ini merupakan villa berlantai dua yang tak terpakai, tapi sudah di renovasi sedikit bagian dalamnya hampir menyerupai diskotik, terletak di perkebunan yang begitu rimbun, jadi, tak heran jika bangunan ini jarang diketahui banyak orang.
  "WOY,, MASIH INGET KITA LO ?!"
Ares sedikit tersentak mendengar teriakan itu.
"BISA SANTAI GAK SIH GAK USAH NGE-GAS !" Balas Ares sama lantangnya.
"Wohooo...makin galak aja lo,Man", balas cowok itu sambil terkekeh, setelah itu ia duduk disamping Ares, lalu menyalakan pematiknya pada benda panjang berasap itu.
  "Sorry Bang, canda gua" celetuk Ares kemudian " Bang Rio sama Bang Daniel kemana ?!, Kok Bang Juan tumben gak bareng mereka?!" Lanjutnya agak berteriak karena dentuman musik yang keras di tempat ini.
"Pacaran kali, emang gue peduli, gak ajak trio Alien Lo ?" Tanya cowok bernama Juan itu, Ares tersenyum geli mendengar julukan Juan untuk ketiga sahabatnya, mentang-mentang nama sahabatnya berhubungan dengan luar angkasa, cowok itu dengan seenak martabak manis dengan double parutan keju memanggil ketiganya dengan julukan trio Alien.
  "Ini aja gue kabur dari mereka, bosen dikintilin Mulu, berasa kayak induk ayam aja gue", balas Ares sewot.
   Ares ikut tertawa melihat Juan yang menertawakan perkataannya, cowok yang lebih tua tiga tahun darinya itu sudah ia anggap seperti abangnya sendiri, begitu pula dengan Rio dan Daniel, Ares sudah mengenal ketiganya cukup lama, mungkin saat ia SMP dulu, kalau gak salah, Juan, Rio, dan Daniel saat itu membantunya ketika ia dikeroyok anak sekolah lain, dan akhirnya pertemuan tidak mengenakkan itu membuat mereka bersahabat hingga sekarang.
"Belum ada cewek Lo ? Mau gue cariin ?" Goda Juan Menaik turunkan alisnya.
Ares mendengus malas "NGACA BANG NGACA !, SITU AJA JOMBO, GAK USAH NGEHINA ORANG !" Juan terbahak mendengar teriakan Ares, sedangkan Ares memutar bola matanya malas lalu berjalan menuju bar untuk memesan minuman, tenggorokannya sangat kering karena meladeni celotehan tak bermutu dari Juan, Tapi Ares bersyukur dapat mengenal orang-orang seperti Juan , tak jarang mereka membuat mood Ares membaik hanya dengan guyonan yang begitu receh .
  Saat ia menunggu pesanannya, banyak wanita berpakaian kurang bahan yang mengganggunya lebih tepatnya menggodanya, tapi Ares tak ambil pusing, ia tetap santai walau ada salah satu dari mereka yang menggelayuti lengannya.
  Tak lama kemudian Ares merasa heran, kenapa banyak orang yang menyingkir dari jalan pintu masuk tempat ini ?, bahkan ia mendengar bisikan-bisikan tak jeras dari sekitarnya,tapi keheranannya ia abaikan setelah pesanannya jadi, dengan masih memegang rokok di tangan kirinya, Ares meraih gelas yang di dalamnya terdapat cairan bening itu, dilihat sekilas cairan itu seperti minuman keras, padahal itu hanyalah minuman soda.
   Baru saja Ares akan menegak minumannya, tepisan kasar dari seseorang membuat gelas itu terjatuh dan pecah
Pyar..
  Ares otomatis menoleh pada sang pelaku dan saat itu juga ia membelalakkan matanya setelah tau siapa yang berani mengganggunya, Agra Raditya, Ayahnya.
  "MAU JADI APA KAMU DI TEMPAT SEPERTI INI ?!, SUDAH BERANI MINUM KAMU ?!" Teriakan dari lelaki paruh baya itu mengundang tatapan penasaran kearahnya.
"DASAR ANAK TAK BERGUNA, ANAK PEMBAWA SIAL, KERJAANNYA CUMA BIKIN MALU, SEKARANG JUGA PULANG !" Lanjut Agra berapi-api, tatapannya tajam penuh intimidasi, tak jauh beda dari tatapan Ares.
   "GAK AKAN ! MAU APA ANDA DI SINI ?JANGAN IKUT CAMPUR DALAM KEHIDUPAN SAYA KARENA ANDA BUKAN SIAPA-SIAPA SAYA!"
PLAK..
  Ares sampai menoleh kesamping karena kuatnya tamparan  itu, Ares memejamkan matanya sebentar untuk sekedar  merasakan panasnya tamparan Ayahnya pada pipinya, tapi tamparan itu tak seberapa dengan rasa sakit di hatinya.
  Pandangan Agra mengarah pada perempuan-perempuan malam yang berada di kanan-kiri Ares, ia menggertakkan giginya menahan geram "Cepat bayar mereka, dan pastikan tidak ada yang mengaku hamil dan mengemis pertanggung jawaban darimu".
Brak...
  Ares menggebrak meja bar sampai minuman diatasnya tumpah, Apakah Ayahnya sebegitu tidak mengenalnya ?, Ares akui ia memang bejat, tapi ia masih tau batas, tak ada yang tau alasan terbesarnya sampai masuk ke dunia gelap ini karena  Agra, Ayahnya sendiri.
"Nilai saya sesuka anda karena saya tidak peduli" ucap Ares penuh penekanan setelah itu ia tersenyum sinis,  "Anda hebat Mr. Agra..saya kagum dengan akting anda yang berperan seolah-olah Anda adalah Ayah yang baik yang peduli dengan pergaulan anaknya, tapi saya bukan anak Anda, jadi jangan paksa saya untuk pulang kerumah berasa neraka yang Anda bangga-banggakan itu".
 
  Setelah mengatakan hal yang membuat Ayahnya diam menahan geram,Ares melangkahkan kakinya keluar dari tempat itu lalu melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
Di ambang pintu masuk Villa ,Agra Raditya memandang kepergian Ares dengan tangan yang mengepal kuat.
***
  Bilang saja Ares gila, tepat pukul 12 malam ia menyusuri jalan pemakaman dengan nisan-nisan berjejer di kanan kirinya, pikirannya kacau, tanpa Ares sadari laju motornya membawanya ketempat ini.
  Angin malam serasa menusuk kulitnya, bahkan rasa dinginnya seakan ingin mematahkan tulang-tulang nya, Langit yang biasanya bertaburan bintang kini hanya dihiasi awan hitam pekat yang seakan-akan tak tahan untuk mengeluarkan isinya, Langit ingin menangis...,Ares tersenyum miris, ternyata semesta mengalami hal yang sama sepertinya, biarlah..setidaknya ia mempunyai teman yang turut merasakan kesedihannya.
   Tanpa memperdulikan mendung yang semakin mengisi langit malam, Ares berjongkok pada suatu pusara yang terlihat lebih terawat dari pada yang lain, senyum mirisnya terganti dengan senyum simpul yang terkesan dipaksakan, menghembuskan nafas lelah, tangan Ares terurur memegang nisan yang terdapat nama seseorang yang ia sayangi, Rina Anyta.
  Gemuruh bersahut-sahutan diatas sana, sama pula dengan Ares yang bertahan sekuat tenaga menahan gemuruh dihatinya yang menciptakan rasa sakit yang semakin parah, badannya gemetar dengan bibir yang merintihkan sebuah kata "B-bunda.
  Saat itu juga hujan mengguyur badannya bersamaan dengan air mata yang membasahi pipinya, tak tahan akan rasa rindunya yang mendalam, Ares bergerak memeluk nisan itu dengan ekspresi yang berubah sendu, bahkan isakan kecil berhasil lolos dari bibir pucatnya yang merasakan kedinginan, tapi ia merasakan sedikit kehangatan dihatinya setelah memeluk nisan itu.
   Hanya ibunya, Rina Anyta yang berhasil membuat pertahanannya runtuh, memang benar adanya bahwa air mata laki-laki hanya akan jatuh untuk perempuan yang ia sayangi.
  "Bunda...Ares hancur, tolong bilang ke Ares kalau Ares bulan anak pembawa sial, apa perginya bunda itu karena Ares ?Apa keadaan buruk Bulan juga karena Ares ? Jika benar, jemput Ares Bunda, bawa Ares bersama Bunda, Ares gak mau membuat kekacauan lagi, Ares gak mau buat hidup orang lain menderita",
  Ares hanya mampu mengatakan itu semua dalam hati, ia tau pasti Bundanya mendengarkan semua keluh kesah nya di atas sana, hanya kepada bundanya ia bisa menjadi Ares yang berbeda, Ares yang ternyata rapuh, Ares yang menanggung semua bebannya seorang diri.
  Dengan tubuh yang sangat dingin serta wajah yang memucat, Ares mendekatkan wajahnya pada batu nisan Bundanya, ia mengecupnya dengan mata terpejam, mengikis kerinduan dengan permainan ilusi seolah-olah memang ia sedang bersama bundanya, dengan badan yang sangat lemas Ares berdiri dari jongkoknya lalu memakaikan tudung jaket ke kepalanya walaupun itu semua sia-sia karena seluruh badannya yang sudah basah, tapi Ares tak peduli, Ares menghela nafas panjang sebelum menaiki motornya, sepertinya tujuannya sekarang ini hanya satu, kerumah seseorang yang selama ini menggantikan peran seorang  ibu dalam kehidupannya.

Komentar Buku (762)

  • avatar
    VVia00

    seru banget,,,,,,,rekomen deh pokonya :>

    24/02

      0
  • avatar
    Muhammad Ghaisan Aksabena

    Ini yg dijadiin film antares ya kak?

    30/01

      0
  • avatar
    Sandii

    saya sangat menyukai nya

    04/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru