Aku menjadi Dewa yang gagal Aku lemah atas bayang-bayang pedih yang sulit kulupa Aku Dewa...yang katanya kuat, yang dianggap hebat Tapi Dewa ini pernah kalah dalam perangnya Dewa ini pernah benci atas jalan kehidupannya Dia inginkan kenangan kembali Inginkan menjadi manusia biasa, tanpa kesialan dan kelemahan yang menyelimuti diri Dia bersalah atas kelalaian untuk melindungi Dia yang dulu pergi...Bersama kenangan yang melekat abadi Andaikan... Andai Dewa ini tidak hadir dalam istana bahagia itu Andai Dewa ini sadar bahwa hidupnya tak berguna Mungkin istana itu tetap berdiri tanpa kekacauan yang menghancurkannya Sekarang ia tegaskan... Dia bukan Dewa Tidak ada kehormatan yang pantas ia terima sebagai pemegang tahta Bahkan Rajapun benci dan tak pernah menginginkannya Dia tak pantas diterima, di dunia..maupun di hati Dewinya.. ~Bukan Dewa Untuk Dewinya~ *** "Maafkan Ares ya sayang", ucap eyang seraya mengelus puncak kepala Athena yang berada dipelukannya, keduanya sekarang berada di kamar eyang. "Athena salah apa eyang hiks, hiks" "Shtttt...Kamu gak salah kok, eyang harap kamu bisa memaklumi sikap Ares, dari kecil ia memang sedikit tempramen, tapi kamu gak usah takut, asalkan gak ada yang mengungkit masa lalunya ia pasti baik-baik aja", sorot mata Eyang berubah sedih "Phobianya membuat Ares menjadi orang lain", Gumamnya pelan tapi Athena masih bisa mendengarnya. Athena melepas pelukannya "Phobia ?" Tanya Athena pada Eyang, ia tak tau kalau Ares punya phobia. "Iya, kamu tidak tau ?" Athena menggeleng, Ares tidak pernah bilang kepadanya kalau ia punya phobia "Hemophobia atau hematophobia, phobia terhadap darah",Lanjut eyang yang membuat Athena terdiam kaku, ia mengerti betul tentang phobia itu, phobia yang biasanya diderita oleh seseorang yang pernah mengalami kejadian traumatis. Athena terdiam merenung, secara tidak langsung perkataan Eyang menjelaskan kepadanya bahwa Ares pernah mengalami kejadian buruk, Ares menyimpan luka selama ini, bukan luka dalam artian sebenarnya, tapi luka yang jauh lebih menyakitkan dari itu, apa yang ares tutupi selama ini ? Athena tau luka yang Ares sembunyikan belum mengering sempurna, hal itu terbukti dari phobia yang cowok itu alami, jika luka itu sudah sembuh, tidak mungkin sorot ketakutan itu masih melekat pada kedua netra Ares ketika melihat darah. "Eyang tak heran jika anak itu tak menceritakan phobianya pada orang lain, dari dulu ia memang menganggap phobia itu sebagai kelemahannya, mungkin bagi orang lain hal itu adalah masalah sepele, tapi tidak dengan Ares, ia mempunyai pemikiran kalau phobia darah adalah hal yang memalukan, ia sangat sensitif dengan sesuatu yang membuatnya merasa di rendahkan, kejadian di balik phobia itu yang membuatnya semakin hancur, eyang sudah kehabisan akal untuk membuatnya berdamai dengan masa lalunya, selagi phobia itu masih ada, Eyang tidak bisa menjamin Ares akan selalu baik-baik saja". *** Tok tok tok "Ar, gue boleh masuk ?!" Sudah beberapa kali Athena mengetuk pintu berwarna hitam itu, tapi tak ada respon dari seseorang didalamnya, Athena memandang pintu kamar Ares dengan raut bimbang, mugkin ia harus sedikit lancang. Setelah menghembuskan nafas panjang, Athena memegang handel pintu itu dan menariknya kebawah. Ceklek Hanya suasana hening yang menyambutnya ketika kakinya melangkah masuk. Athena mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan lalu pandangannya jatuh pada seorang cowok yang sedang memainkan ponselnya diatas tempat tidur, teman-temannya baru saja pamit pulang. Athena berjalan mendekat, tapi Ares sama sekali tak menoleh kepadanya, bisa Athena lihat cowok itu hanya memandang kosong layar ponselnya, disana tertera foto seorang wanita yang sama seperti yang ditunjukkan eyang kemarin, Athena bisa melihat tatapan kerinduan dari kedua mata Ares terhadap foto seseorang yang sekarang sedang dipandanginya, melihat Ares seperti ini membuat Athena merasa menjadi seseorang yang kurang bersyukur, ia mempunyai keluarga yang lengkap tapi terkadang ia masih meminta lebih, sedangkan Ares ?, Athena menggelengkan kepalanya setelah membayangkan dirinya yang berada diposisi Ares, jujur..ia tidak akan sanggup. "Ar ma__" "Gue banci banget ya ?" Hening "Maksud Lo apasih Ar ?"Tanya Athena dengan pandangan bingung. " Gue nyakitin Lo ?"Tanya Ares lirih. Athena terkekeh sambil menggelengkan kepalanya,"Enggak ! Hey coba lihat gue", Athena duduk di samping Ares lalu tangannya menangkup wajah Ares untuk menghadap kearahnya. "Lo lihat sendiri kan ? ,Gue baik-baik aja, khawatir banget perasaan ? Lo suka ya sama gue ?" Athena tertawa mengejek, mencoba membuat Ares melupakan masalah tadi,tapi setelah itu ia sedikit menyesal dengan apa yang ia lakukan, Athena tak berbohong kalau jantungnya tak berhenti berdisko sekarang, apalagi Ares memandangnya tanpa berkedip. "Iya" Tawa Athena terhenti, "ha-haha i-iya apa ?" Ares mendekatkan wajahnya, semakin dekat...dan sekarang dahi keduanya bersentuhan, jangan tanyakan kondisi Athena sekarang, rasanya badannya lemas, bahkan ia tak berani bernafas, hembusan nafas Ares terasa hangat menyapu wajahnya, tanpa sadar Athena menutup kedua matanya, ia merasakan Ares memiringkan sedikit kepalanya dan... "YA ENGGAK LAH ! MASA IYA GUE SUKA CEWEK GALAK KAYAK LO !" Athena mengerjapkan matanya, tangannya mengelus jidatnya yang terkena tonyoran dari cowok gila di hadapannya, ia mendengus sebal karena Ares sama sekali tak merasa bersalah malah sekarang cowok itu sedang tertawa bahagia atau mungkin Fake smile. "Yeeeu, siapa juga yang suka sama elo", balas Athena sengit. Deg Dalam diam Ares merutuki perkataannya, perkataan yang memancing Athena mengungkapkan hal yang membuat hatinya sakit, di hadapannya adalah Athena, seorang cewek galak yang pernah menjadi musuhnya tapi sekarang menjadi temannya, teman ?, Ares benci akan hal itu, " Gue masih bimbang dengan perasaan ini, andaikan gue bener suka sama lo itu semua gak berarti apa-apa, Lo sempurna sedangkan gue kebalikannya, gue pernah ngehancurin keluarga gue sendiri, gue gak pantes sama Lo, di luar sana gue memang Dewa, Dewa perang. Sekilas hal itu menjadi poin utama yang menjadi kelebihan gue, tapi di sini Lo udah tau kalau gue gak sekuat yang mereka pikirkan, takdir seakan menjelaskan kalau gue memang bukan Dewa untuk Dewinya".batin Ares lirih. "Ar, kenapa ngelamun ?" Perkataan Athena berhasil menyadarkan Ares dari lamunannya, Ares tersenyum kearah Athena yang sekarang memandangnya bingung. "Gue minta maaf ya, gue gak sengaja dorong Lo tadi", ekspresi Ares berubah serius. "Gue ngerti, gue tau bukan suatu hal yang mudah berada di posisi Lo sekarang". Ekspresi Ares berubah datar," Lo tau semuanya ?" Tanyanya dingin. "Enggak, gue cuma tau kalau Lo takut darah". "GUE GAK TAKUT DARAH !!". Athena terlonjak kaget dengan bentakan Ares, di lihatnya wajah cowok itu merah padam dengan kedua tangan yang mengepal di kedua sisi tubuhnya, Athena mengalihkan pandangannya, jujur ia sangat takut melihat Ares dalam kondisi seperti sekarang. "S-sorry gue gak maksud", cicit Athena pelan. Ares menghembuskan nafas lelah, ia lelah karena menahan emosinya sejak tadi, rahasianya sudah terbongkar"Lo tau ? Gue gak suka di pandang rendah, gue muak dikatain pengecut setiap gue berantem, karena phobia ini gue gak bisa bebas, karena phobia ini juga gue sulit ngelupain kejadian itu",ucap Ares seraya memejamkan matanya. Athena mengelus bahu Ares pelan, mencoba memberi kenyamanan dalam setiap usapannya, ia tak mau banyak berkomentar, kadang seseorang lebih suka di dengar dari pada di nasehati. Ares membuka matanya dan menghela nafas pelan"Lo gak mau tanya sesuatu ?" Ares menatap Athena serius yang di balas senyuman oleh gadis itu. Athena menggeleng " Gue gak ada hak untuk nuntut Lo nyeritain semuanya, bisa berada disamping Lo dan bisa ringanin sedikit beban Lo itu aja udah buat gue seneng, setidaknya gue ngerasa dibutuhin, tapi kalau Lo mau cerita gue bisa jadi pendengar yang baik", Ares tersenyum, hal ini yang membuat dirinya begitu mengagumi sosok gadis di depannya, memang benar..ia butuh sandaran sekarang. Ares menatap Athena penuh permohonan,"Jangan pernah bilang ke gue kalau seorang Ares takut darah karena itu kelemahan gue", Tangan Ares bergerak menggenggam tangan Athena erat "Gue bukan takut, tapi gue benci...Gue benci disaat semua hal yang gue suka harus ada penghalang yang menyertainya, gue hancur...gak ada seorangpun yang bisa mengobati rasa sakit gue". Imbuh Ares dengan penekanan di setiap katanya. Ares menatap Athena intens, ia tau gadis itu merasa iba terhadapnya, dan Ares tidak suka dikasihani, ia memalingkan wajahnya kesamping tapi saat itu juga ia merasakan cengkraman di rahangnya yang membuatnya bertemu tatap lagi dengan Athena. "Gue salut sama Lo, tapi sayang...Lo terlalu merendah, aneh kan ? Lo gak suka di rendahin orang lain tapi Lo sendiri suka ngerendahin diri lo sendiri, Lo bukan Ares yang gue kenal, dimana Ares yang angkuh ?dimana Ares yang hebat ? Dimana Ares yang gak peduli perkataan orang lain ?, Coba kembali seperti semula". "Caranya ? Gue pikir itu hal yang sulit, itu semua udah jadi kelemahan gue, dan gue rasa hal itu bersifat tetap", ucap Ares tak yakin. Athena tersenyum "Dengerin perkataan gue baik-baik", Ares menurut. "Berhenti aggap itu semua sebagai kelemahan Lo, gue yang akan berusaha menghancurkan penghalang itu, gue yang akan menemani lo disaat lo hancur, Lo gak sendiri Ar, kalau Lo butuh obat..cari gue, Gue yang akan mengobati semua rasa sakit Lo, Gue obat Lo Ares". Ucap Athena tegas dengan tangannya yang sudah melingkar di leher cowok itu dan memeluknya erat. *** "Boleh Eyang bicara ?" Ares yang sedang menikmati indahnya langit malam dari balkon kamarnya sedikit tersentak merasakan tepukan di bahunya. "Sure grandma", ucap Ares tersenyum. "Eyang mendengar semua pembicaraan kamu dengan Athena tadi sore", Tangan Eyang bergerak mengelus pipi cucunya itu dengan sayang ,"Dia gadis yang baik, ia menawarkan bantuan untuk kamu, mungkin sekarang saatnya kamu belajar melupakan sayang, terima uluran tangan Athena, Eyang yakin kamu bisa". "Akan Ares coba", ucap Ares yang di jawab anggukan serta senyum bahagia dari Eyang. Ares memandangi Eyang yang berjalan menjauh, ia sangat beruntung masih memiliki wanita itu, sangat beruntung. Sampai diambang pintu Eyang membalikkan badannya kebelakang menghadap Ares," Ungkapkan sebelum terlambat, Jangan sampai menyesal ketika ia pergi, Athena adalah tipe gadis yang sulit di dapatkan tapi akan beruntung jika dimiliki, dia penyabar dan sangat baik, di luar sana pasti banyak lelaki lain yang mengaguminya dan siap merebutnya kapan saja, kamu akan jadi orang terbodoh jika menyia-nyiakan dia. Ingat perkataan Eyang baik-baik, jangan lepaskan dia", Ares tertegun di tempatnya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
seru banget,,,,,,,rekomen deh pokonya :>
24/02
0Ini yg dijadiin film antares ya kak?
30/01
0saya sangat menyukai nya
04/06/2025
0Lihat Semua