logo text

Chapter Bonus 7: Side Story Alvaro X Bulan

"ARGHHH !! BEGO GUE !" Cowok itu melempar asal kerikil yang ia ambil dibawahnya pada danau yang terhampar indah dihadapannya.
"Kenapa gue ngelakuin ini sih ? Seharusnya gue bisa nahan perasaan ini lebih lama", cowok itu terduduk dengan pandangan kosong, "Sekarang dia gak mau ketemu gue lagi, dasar bego Lo Ro", lanjutnya lirih memaki diri sendiri. Ya..Cowok itu Alvaro, ia benar-benar terlihat frustasi karena Athena, sekarang ia tak tau keberadaan gadis itu dimana, semalaman ia mencari adik tirinya itu sampai tengah malam, pada akhirnya ia pulang dalam keadaan kecewa karena tak mendapati keberadaan Athena dimanapun.
"Wah..indah banget, surga dunia !".
Cekrek cekrek
Alvaro mengalihkan pandangannya pada asal suara, yang dapat ia tangkap adalah sosok gadis manis dengan kamera yang tergantung di lehernya, sesekali gadis itu membidik pemandangan danau itu dan tersenyum setelah melihat hasilnya.
Tiba-tiba gadis itu berjalan kearah Alvaro dan duduk disamping cowok itu sembari melihat-lihat hasil jebretannya, "Kakak lagi galau ya ?".
Alvaro mengerutkan dahinya, cowok itu menolehkan pandangan kebelakang dan samping tubuhnya, ternyata tak ada orang lain, jadi gadis ini berbicara padanya ?.
Melihat tingkah aneh Alvaro, gadis itu terkekeh pelan, "Aku bicara sama kakak, kakak yang ada difoto ini loh", ujarnya seraya menunjuk foto Alvaro yang ada di kameranya.
Pada potret itu, Alvaro terlihat melamun dengan ekspresi sendu yang sangat ketara, bisa Alvaro simpulkan jika gadis itu pasti mengambil gambarnya diam-diam, "Gak sopan kamu ya dek", bukannya marah, Alvaro malah mengacak rambut gadis itu sambil tersenyum, melihat korban kejahilannya cemberut membuat Alvaro semakin melebarkan senyumnya.

"Kok Dek, emang aku anak kecil apa ?".
"Lucu", batin Alvaro setelah mendengar suara gadis itu, "Kamu kan emang masih kecil, masih SMP ya ?, Gue udah kuliah".
"Enak aja, masa SMP sih ?, Aku udah SMA tau, aku udah besar bukan bocah lagi", Jerit gadis itu tak terima.
"Oh ya ?, Alvaro mencubit hidung gadis itu gemas, " Maafkan saya anak muda".
"Oh,tentu saja saya tidak akan memaafkan Anda orang tua..Hahahaha", gadis itu tertawa renyah, Alvaro sampai terhipnotis melihat tawa itu. Asik melamun, cowok itu tak sadar jika gadis didepannya sudah berdiri dan berjalan menjauh. "Bye bye orang tua, sampai ketemu lagi ".
Lamunan Alvaro buyar, "Nama kamu siapa ?!",jeritnya kencang.
"Aku yang paling bersinar di malam hari, sahabatku bernama bintang", Gadis itu ikut menjerit karena jarak yang semakin jauh diantara keduanya.
Alvaro bergeming, "Yang paling bersinar dimalam hari ?", Gumam cowok itu pada diri sendiri, setelahnya Alvaro tersenyum "Bulan".
***
Alvaro tidak bisa tidur di malam hari, wajah gadis manis nan menggemaskan itu selalu membayangi pikirannya.
" Bulan... " gumam cowok itu seraya menatap langit-langit kamarnya.
Dahi Alvaro sedikit berkerut, Ia rasa ia pernah melihat seseorang yang mirip dengan gadis itu, tapi siapa?
''Mungkin cuma perasaan gue.''
Alvaro tak mengerti ada apa dengan dirinya, hanya bertemu sekali saja dengan gadis itu membuat Alvaro tidak bisa melupakannya. Senyumnya, tawa renyahnya, suara kekanakannya yang menggemaskan, dan semuanya tentang gadis itu membuat Alvaro benar-benar terhipnotis.
Sudut bibir lelaki itu terangkat setelah ia dapat mendunga perasaan yang ia miliki saat ini, ''Good night, Bulan,'' gumamnya sebelum pergi ke alam mimpi.
***
Hari berikutnya Alvaro kembali lagi ke danau itu. Ia berharap ia dapat bertemu dengan gadis itu lagi. Tapi sayang, Bulan tidak datang. Alvaro pulang dengan perasaan kecewa setelah beberapa jam menunggu.
Tidak. Alvaro tidak menyerah begitu saja. Alvaro selalu mengunjungi Danau itu setelah seharian mencari Athena yang belum pulang sampai sekarang. Alvaro menertawakan dirinya sendiri, sekarang ia seolah mencari dua orang yang hilang.
Pencarian itu akhirnya membuahkan hasil, bukan di danau...tapi disebuah taman kota ia melihat gadis itu.
Ia memakai Dress selutut berwarna putih dengan rambut sebahunya yang di jepit dengan jepit kupu-kupu. Ada sebuah kamera yang menggantung di lehernya, sesekali Alvaro lihat gadis itu bermain-main dengan burung merpati yang berterbangan di sekelilingnya, sesekali juga tertaa bak anak kecil yang bermain dengan kawanannya.
Alvaro menjadi ragu jika gadis itu benar-benar anak SMA, Fisik dan perangainya cenderung terlihat seperti anak SMP dari pada sosok remaja.
Sibuk dengan pemikirannya sendiri Alvaro tak sadar jika ia sedang melangkah mendekti gadis itu.
''Dek,'' sapa Alvaro, ia dapat melihat gadis itu sedikit telonjak karena paggilannya. karena gerakan tiba-tiba oleh gadis itu, merpati yang mengerumuninya_semuanya terbang menjauh.
''Yah....''Terdengar helaan napas kecewa dari Bulan. Baru setelahnya gadis itu membalikkan badan, mencaritau siapa yang mengaggetkannya sekaligus membuat merpati-merpatinya pergi.
''Eh? Kakak siapa?'' Bulan terlihat kebingungan setelah melihat sosok Alvaro.
"Kamu lupa sama saya, Bulan?'' Alvaro bertanya kecewa.
" H-hah? "Bulan mengusap-usap pelipisnya untuk berpikir, " Emang kita saling kenal ya, kak? "
Alvaro juga ikut berpikir, benar juga ya... Mereka memang pernah bertemu, tapi belum sempat berkenalan.
Untuk itu, Alvaro mengulurlan tangan kanannya, "Saya Alvaro, Dek. "
Bulan menyambut uluran tangan itu, tapi bukan hanya menyaliminya saja, tapi juga menciumnya bak anak pada orang tuanya, "Bulan, kak. "
Alvaro menarik tangannya dengan cepat, "Eh? Kamu ngapain?! " Kaget cowok itu. Matanya melebar sesaat, tapi setelah menyadari tingkah menggemaskan gadis itu yang kini menatpnya polos membuatnya terkekeh seraya mengacak rambut Bulan.
"Bentar deh bentar, aku kayaknya pernah lihat Kakak, deh, " Gadis itu tiba-tiba berujar antisias. Ia melepas kamera yang terkalung di lehernya lalu mengotak-atiknya, "Tuh, Kan! Kakak Cowok penunggu Danau, kan?!" Serunya seraya menunjuk potret Alvaro di kameranya.
Rahang Alvaro seolah jatuh, ia bingung harus senang atau marah, bisa-bisanya dia dikatain penunggu Danau!
"Eh, Dek. Saya manusia ya bukan makhluk jadi-jadia!" ringis Alvaro seraya memikat keningnya.
Bulan terkekeh, "Hihihi, Bulan cuma bercanda kak. Sini-dini, ngobrol sama Bulan. "
Alvaro speechless dengan tingkah ajaib gadis ini . Dengan ringannya gadis itu meraih tangannya lalu membawanya duduk di kursi taman, dan benar saja... Mereka mengobrol seolah dua orang yang sudah lama kenal.
"Kak, aku gak mau di panggil Adek! " ucap Bulan di sela percakapan mereka.
"Loh kenapa? " heran Alvaro.
Bulan cemberut, "Aku tuh udah punya kakak cowok. Satu kakak aja udah buat aku pusing, Bulan gak mau tambah kakak lagi! "emangnya.
Tawa Alvaro meledak. Bersama gadis ini membuat dirinya menjadi sering tertawa. Dengan gwmas Alvaro mencubit pipi Chubby Bulan, membuat sang empunya mendelik tajam.
Setelah itu, tiba-tiba suasana diantara mereka menjadi hening. Alvaro kheranan menatap Bulan yang tak berceloteh seperti tadi. Apa bercandanya keterlaluan ya?
Tapi yang Alvaro lihat. Ekspresi gadis itu tidak kesal atau marah, tapi lebih seperti orang yang linglung.
" Bulan, bulan hei... "Alvaro mengibas-ibaskan tangannya di depan gadis itu. Cowok itu bahkan sampai meraih wajah Bulan dan pandangan gadis itu masih tak fokus.
Dahi Alvaro mengernyit, " Bulan... "ia sedikit menepuk-nepuk pipi bulan, saat itulah pupil mata gadis itu baru terfokus kepadanya.
" H-ha? " Hanya kata itu yang Bulan ucapkan.
"Kamu gak papa? " tanya Alvaro khawatir.
"Aku___"
Drrrttt drttt
Ucapan Bulan terpotong oleh suara getaran di tas kecilnya. Gadis itu meraih ponsel dari dalam sana dan mengotak-atiknya sekilas.
Setelahnya ia berdiri, menatap Alvaro dengan pandangan yang tak bisa cowok itu artikan, seperkian detik setelahnya matanya mengerjap dan bibirnya tersenyum .
"Bulan pulang dulu!! "
"Eh, Bulan tunggu! "
Terlambat.
Gadis itu sudah berlari dari sana.
Alvaro masih menatap ke arah perginya gadis itu. Bibirnya tersenyum, masih menganggap tingkah bulan tadi menggemaskan dimatanya.
***
"Bulan pulang! "
Gadis mungil itu memasuki rumahnya dengan senyum sumringah. Ares dan Athena yang sedari tadi menunggunya tampak menyipitkan mata heran melihat tingkah laku gadis itu.
"Dari mana Bulbul? " Ares menodong gadis itu dengan pertanyaan. Adiknya itu sudah keluar rumah dari tadi pagi dan tidak izin kepadanya hingga menjelang sore. Ares tentu khawatir mengingat adiknya itu baru keluar dari rumah sakit, baru saja Ares mau mencarinya, Tiba-tiba makhluk mungil itu sudah muncul di hadapannya.
"Bulan, main di taman, " ucap gadis itu seraya menaruh tas dan kamera yang di meja ruang tamu. Setelah itu ia ikut duduk di sofa samping Athena dan memeluk gadis itu.
Athena terkekeh, mengusap rambut Bulan penuh sayang. Ia tau jika gadis manis ini senang sekali jika kepalanya di elus, "kayak anak kucing, " batin Athena.
"Kamu jangan manjain dia terus, Na. Nanti makin jadi kelakuannya! " cibir Ares dengan memutar bola matanya malas.
Bulan mendelik ke arah kakaknya itu, "Ish... Kak Ares gak sayang aku lagi. Harusnya yang jadi kakak aku itu Kak Al, bukan kakak! Ih sebel! "kesalnya dengan kaki terhentak dan tangan bersedekap.
Ares melotot, " AL SIAPA?! "
Bulan menepuk mulutnya sendiri, Duh... Pake keceplosan lagi. Kakaknya itu kan overprotective. Udah gitu hapal banget gelagat dia kalo lagi bohong.
"I-itu, kakak ganteng yang aku temuin di taman, " cicitnya gugup.
"Apa! Kamu ketemu sama orang asing?! Kalo kamu di culik gimana, Bulan?! "
Bulan memutar bola matanya malas, "Bulan bukan anak kecil, Kak! " ucapnya lalu melenggang pergi menuju kamarnya.
"Hah... Gitu tuh, kalo dikasih tau, gak tau apa kalau aku khawatir? " ujar Ares memijit pelipisnya.
Athena menggelengkan kepalanya melihat tingkah Kakak beradik itu, "Kamu jangan terlalu Over juga, Ar. Nasehatin nya juga jangan pake emosi. "
***
Hari-hari setelahnya banyak kebetulan yang datang di hidup Alvaro. Ya...dia sering bertemu Bulan akhir-akhir ini, gak susah juga sih kalau mau cari gadis itu... Cari aja tempat yang aestetic buat objek foto. Pasti gadis itu ada disana.
Alvaro juga sudah mendapat ID line gadis itu. Hampir setiap hari mereka mengobrol lewat chat. Tak jarang juga mereka janjian untuk bertemu. Seperti hari ini, Alvaro sedang menunggu Bulan di Dunia Fantasi alias Dufan.
"Kak Al udah lama nunggu? "
Alvaro yang semula memandang layar ponselnya seketika mengangkat wajahnya . Alvaro tersenyum melihat penampilan Bulan yang manis.
Gadis itu memakai Dress selutut berwarna kuning cerah dengan topi bucket yang bertengger manis dikepalanya. Ada yang berbeda dengan gadis itu hari ini, ada kaca mata bulat yang membingkai mata indahnya membuatnya terlihat cute dimata Alvaro.
"Kak, Alvaro... Hey, kok ngelamun?"
Alvaro tersadar, "Eh? Bulan tadi nanya apa? "
Bulan mencebikkan bibirnya, "Gak jadi. Kak Alvaro lagi mikirin apa sih? "
"Kamu hari ini manis banget, " Alvaro melebarkan matanya seperkian detik, Kata-kata itu spontan keluar dari mulutnya.
Alvaro mengamati reaksi Bulan, ia dapat melihat gadis itu mengalihkan pandangan darinya dengan pipi yang memerah. Alvaro bernapas lega, ia tersenyum, tak bisa menutupi perasaan senang di dadanya karena respon gadis itu. Alvaro yakin, ia telah mendapat lampu hijau.
"Yuk! " Alvaro mengulurkan tangan, mengajak gadis itu untuk segera mencoba berbagai wahana permainan.
Mereka bersenang-senang hari itu. Tawa tak hentinya berhenti dari mulut mereka, Setelah di rasa hari sudah menjelang sore, Alvaro mengajak Bulan untuk segera pulang.
"Ahahaha.... Kak Al cupu, masa naik Tornado sama Hysteria aja takut. Ya ampun, aku gak bisa lupain wajah pucat kakak hahaha!!! " Bulan tak bisa berhenti tertawa mengingat kegiatan mereka di dalam tadi, gadis itu bahkan sampai melupakan es cream yang mulai mencair di tangannya.
"Eh? Siapa yang takut? Gak! Kakak gak takut kok, " elak Alvaro, padahal jejak ketakutan di wajahnya masih belum hilang.
"Bulan merhatiin kakak tau... Ekspresi wajah Kak Al lebih bisa buat aku ketawa dari pada wahananya, " canda Bulan, "Kak Al tuh kelihatan lega banget waktu udah naik bianglala sama masuk rumah boneka. "
Alvaro membenarkan di dalam hati, mungkin karena ini pertama kalinya setelah bertahun-tahun tidak memasuki wahana bermain. Alvaro menjadi kaku dan was-was.
Bulan kini sibuk dengan ice creamnya yang mencair, gadis itu dengan terburu-buru melahap ice creamnya, membuat tangan dan mulutnya belepotan. Melihat itu, Alvaro menggelengkan kepala seraya terkekeh, mengambil sapu tangan di saku hoodienya dan mengelap sisa ice cream di bibir gadis itu.
Mereka saling berhadapan dengan jarak yang cukup dekat, semakin dekat karena Alvaro menunduk untuk menyesuaikan tingginya dengan gadis itu. Waktu seolah berhenti disekitar mereka, apalagi tatkala dua netra itu bertemu, menciptakan degup aneh didada masing-masing.
Alvaro tak sadar telah memiringkan wajahnya, mengecup bibir gadis itu sekilas. Ia masih dapat merasakan manis ice cream yang tertinggal. Bulan mengerjapkan mata bulatnya dengan semburat merah diwajahnya, bahkan setelah wajah Alvaro menjauhpun, gadis itu masih terlihat salah tingkah.
"Bulan... "Alvaro bersuara setelah beberapa detik suasana menjadi awkward.
Bulan menggigit bibir bawahnya, " H-ha? "
"Kakak boleh jadi pacar kamu? "
Deg
Wajah Bulan semakin memerah, kini menjalar sampai telinga dan lehernya. Gadis itu menunduk, memilihn ujung roknya dengan gugup, "T-tapi, Papa sama kakak pasti gak nge bolehin Bulan pacaran, " cicitnya hampir tak terdengar.
Alvaro mengangkat dagu gadis itu, "Kita pacaran dulu, nanti Saya yang akan minta restu sama kakak dan Papa kamu. "
"Gitu ya? " tanya Bulan dengan mata mengerjap.
Alvaro mengangguk, "Mau? "
Senyum Bulan kembali, gadis itu kini mengangguk semangat, "Iya, Bulan mau jadi pacar Kak Al! "
Alvaro turut melebarkan senyumnya lalu mengecup dahi gadis itu. Di dalam hati ia meringis, ia merasa menjadi oknum penculikan anak dengan menawarkan permen.
***
Alvaro menepati ucapannya. Pagi-pagi sekali Alvaro mengajak Bulan untuk Joging. Sebenarnya ini salah satu strateginya untuk mendekati kakak Bulan dengan perlahan. Bulan bilang kakak-nya baru kelas XII SMA, setahun lebih muda dari Alvaro. Alvaro rasa dengan jarak umur mereka yang tak terpaut jauh akan membuat mereka cepat akrab.
Alvaro sekarang sedang mengemudikan mobilnya menuju rumah kakak Bulan, Alvaro baru tau jika Bulan ternyata tinggal dirumah kakaknya. Bulan mengaku cukup kesepian berada di rumah Papanya karena beliau sibuk bekerja. Alvaro heran dengan kakak Bulan, baru kelas XII SMA sudah mempunyai rumah sendiri. Betapa beruntungnya gadis yang akan menjadi pasangan lelaki itu.
Setelah memarkir mobilnya di halaman rumah besar itu, Alvaro segera melangkahkan kaki menuju pintu rumah dan lalu memencet belnya. Sembari menunggu ada yang membukakan pintu untuknya, lelaki itu memblikkan badan, mengambil ponsel di sakunya dan mengabari gadisnya jika ia sudah sampai.
Tak menunggu waktu lama, Alvaro mendengar suara engsel pintu yang dibuka.
Ceklek
"Cari siapa ya? "
Lalu terdengar suara gadis yang bertanya padanya. Mata Alvaro terbelalak, ia mengenal suara itu, tanpa pikir panjang ia membalikkan badannya.
"Kak Alvaro ?!"
"Athena ?!"
Keduanya berucap bersamaan, Alvaro memandang gadis di depannya dengan senyum bahagia, tanpa aba-aba cowok itu melangkah mendekat dan memeluk Athena sangat erat.
"Kakak minta maaf Na, kakak sadar telah salah mengartikan perasaan kakak, kamu adik kakak, gak sepantasnya kakak punya perasaan lebih sama kamu", Alvaro berucap lirih, seminggu ini, Alvaro sering merenung dan mendalami perasaannya, ia menyayangi Athena.. dari dulu rasa itu tidak pernah berubah, tapi Alvaro sekarang baru menyadari jika perasaannya itu adalah rasa sayang seorang kakak pada adiknya, ya..ia menyalah artikan perasaannya sendiri, karena itu ia merasa begitu bodoh.
Mendengar pengakuan Alvaro membuat hati Athena terasa begitu lega, gadis itu melepas pelukannya lalu tersenyum pada kakaknya dengan sebulir air mata yang jatuh membasahi pipinya, "Kakak aku udah kembali, aku seneng banget , jangan berubah kak, aku beruntung punya kakak kayak kak Alvaro!"
Tiba-tiba ada sosok lelaki yang keluar dari pintu itu.
"Siapa sih Na, kok gak disuruh ma___", Ares terbelalak kaget, Lo !" Wajah Ares berubah merah padam, kedua tangannya mengepal kuat disamping tubuh.
Melihat kehadiran Ares, Alvaro juga terkejut bukan main, "Kenapa mereka ada di sini, bukannya ini rumah.. ?, Alvaro membatin bingung, "Tunggu, ini rumah siapa ?", Tanya Alvaro dengan jantung yang berdetak hebat.
Ares bersedekap dada, "Ini rumah gue !".
"Kak Alvaro kenapa bisa ada disini ?", Tanya Athena kemudian.
Alvaro memandang Ares dan Athena bergantian, "Ini maksudnya apa sih ?, Bukannya ini rumah Bulan ?".
Ares menatap Alvaro tajam bagaimana cowok itu bisa mengenal Bulan ?, "Dia adik gue ".
Deg.
Alvaro melotot kaget, tak lama kemudian muncullah sosok Bulan dari belakang Ares, "Eh, kakak udah dateng, yuk kita jogging sekarang", ucap Bulan mendekati Alvaro, tapi setelahnya ia merasakan bajunya di tarik dari belakang, siapa lagi pelakunya kalau bukan Ares, "Apaan sih kak ?".
"Dia siapa ?" tunjuk Ares pada Alvaro dengan nada suara yang tegas, perasaannya sangat tidak enak.
"Oh Kak Alvaro", Bulan tersenyum manis, "Kenalin, dia pacar aku".
"APA !" teriak Ares dan Athena bersamaan.
Lebih dari Ares dan Athena, Alvaro lebih terkejut, ia rasa... Jalan untuk mendapatkan restu untuk memacari Bulan tidak akan mudah.

Komentar Buku (762)

  • avatar
    VVia00

    seru banget,,,,,,,rekomen deh pokonya :>

    24/02

      0
  • avatar
    Muhammad Ghaisan Aksabena

    Ini yg dijadiin film antares ya kak?

    30/01

      0
  • avatar
    Sandii

    saya sangat menyukai nya

    04/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru