Beranda/Rumah Warisan Ayah/
Bab 3 Darah Lebih Kental Dibanding Air
Rumah Warisan Ayah Part 3
Jam dua siang pesawat mendarat di Bandara Lampung. Setelah turun dari pesawat aku segera berjalan keluar menuju pintu gerbang kedatangan.
Baru saja sampai, Mas Hamzah langsung menelponku lagi. "Halo?"
[ Woi! Kamu jadi pulang engga? ] Teriaknya disambungan telepon.
"Ini sudah sampai di Lampung!"
[ Beneran? ]
"Ngga! Cuma mimpi!"
[ Perlu dijemput, engga? ]
"Ngga usah. Aku naik taksi aja. Udah dulu ya, mas. Aku laper, mau makan dulu."
[ Oke. Langsung pulang ya, nanti. Masih ingat jalan pulang kan? ] Ledek Mas Hamzah, sebelum kami saling menutup telepon.
Tak kusangka aku akan kembali lagi ke tanah ini. Tanah kelahiranku.
Setelah makan di salah satu rumah makan di Bandara. Aku langsung meluncur pulang. Perasaan campur aduk memenuhi perutku. Ada perasaan kangen dengan tempat kelahiranku. Tak bisa kubohongi masa kecil yang kuhabiskan dengan teman-temanku disini cukup mengasyikan.
Berenang dan bermain sampan di sungai, mencuri mangga milik Pak Tani, bermain petak umpet tiap malam Jum'at, bermain benteng Takeshi. Dan masih banyak lagi yang kami lakukan dan semuanya mengasikan. Ku skip bagian tentang keluargaku. Karna memang porsi kebahagiaan yang disediakan di keluargaku sangatlah sedikit bila kuingat-ingat.
Dua jam lamanya waktu yang kutempuh dari bandara menuju rumah. Banyak hal yang berubah setelah bertahun-tahun lamanya rumah ini kutinggalkan. Ayah banyak melakukan renovasi ternyata.
"Om, om, om Wawan!" Teriak si bocil Kiki anak ketiga Mas Hamzah.
"Hei! Jagoan, om!" Kiki berlari dan melompat ke arahku. Akupun langsung memeluknya dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
Aku sangat senang di dalam rumah sepi. Tak bisa kubayangkan bila keluarga besar berada disana. Mereka pasti akan mengolok-olok diriku.
"Eh, Wawan. Dah sampai ternyata," sambut Ling Mi, istri Mas Hamzah.
Ling Mi adalah cewek asli Cina yang dinikahi kakakku beberapa tahun lalu. Ling Mi wanita yang berhasil melembutkan hati keras kakakku setelah Mas Hamzah bercerai dari istri pertamanya. Aku sangat menyukai Ling Mi, karna tak hanya membuat Mas Hamzah lebih baik tapi ia wanita yang lembut dan sabar. Kamipun juga saling klop satu sama lain. Kali pertama bertemu dengannya saat Mas Hamzah membawanya ke Lombok untuk berbulan madu, karna aku tak bisa mendatangi pernikahan mereka berdua yang diadakan di Denmark.
"Iya, ini. Baru sampai." Kuserahkan Kiki ke ibunya. "Mana Mas Hamzah sama Mbak Diana?" Mataku clingak-clinguk tidak menemukan mereka berdua.
"Mbakmu masih ada di Jambi. Mengurusi perceraiannya. Mas Hamzah sedang di rumah sakit, nungguin Ayahmu."
"Mbak Diana cerai?" Aku tak percaya apa yang barusan kudengar.
"Iya. Mbakmu mau bercerai sama suaminya. Malah sekarang suaminya sudah balik ke Kalimantan," tambah Ling Mi.
Seorang nenek-nenek tiba-tiba muncul dari dapur. Ia membawa nampan yang berisi teko, gelas dan juga kaleng biskuit. "Hamzah bilang tadi, kalo adiknya sudah pulang," ucapnya.
Wanita tua itu tersenyum kepadaku. Tapi aku sama sekali tidak mengenalinya. Mataku melirik ke arah Ling Mi. Bertanya-tanya siapa dia?
"Dia istri baru Ayahmu," bisik Ling Mi.
Mulutku membentuk huruf "O" besar setelah mendengar jawabannya. Sungguh aku baru tahu kalo Ayah menikah lagi. Tak kusangka Ayah mampu move on dari Bunda. Mas Hamzah maupun Mbak Diana bahkan para keponakanku tak pernah sekalipun memberi tahuku soal istri baru Ayah.
"Aku Suniyah, sudah tujuh tahun hidup bersama Ayahmu."
Akupun menghampiri Suniyah dan menyambut tangannya lalu mencium tangannya yang sudah dipenuhi keriput. Setidaknya Ayah tidak menikahi wanita yang jauh lebih muda darinya. Jika dilihat-lihat umur Suniyah tak jauh beda dengan Ayah.
"Wawan buk. Wawan Suherman anak bungsunya Ayah." Kuperkenalkan diriku meski aku yakin sudah banyak orang menceritakan soal diriku kepadanya.
Kamipun mengobrol panjang lebar lalu mereka menyuruhku untuk masuk ke kamar untuk beristirahat.
"Kamu datang sore aja, habis Maghrib gantiin Mas Hamzah," ujar Ling Mi.
Kubalas dengan anggukan dan senyuman tipis sebelum aku masuk ke dalam kamar yang telah mereka siapkan untukku.
Suniyah bercerita kalo kamar kami; Mas Hamzah, Mbak Diana dan kamarku sudah dirombak dan di tiadakan. Karna Ayah sudah tua jadi mereka melakukan renovasi dan memindahkan semua ruang utama ke lantai dasar. Dulu semua kamar terletak di lantai dasar. Sekarang lantai dua dijadikan kamar tamu dan juga untuk acara keluarga.
Kamarku yang dulunya terletak di ujung lantai dua kini juga sudah dibongkar. Suniyah bilang saking tak teganya, Ayah merenovasi rumah untuk ditambah satu lantai lagi untuk menyimpan semua benda-benda yang anak dan istri pertamanya tinggalkan.
Suniyah juga bilang Ayah tak berani naik ke lantai atas bukan karna nyeri sendinya, tapi tak kuat melihat kenangan tiap kali melihat barang-barang yang ada disana. Katanya Ayah menangis bila naik ke lantai atas.
Saat Suniyah mengatakannya aku hampir saja berkata "bulshit" saking tak percayanya mendengar Ayah menangisi kami.
Selesai tidur meski hanya sebentar, aku dan Ling Mi berangkat menuju rumah sakit. Jantungku berdetak sangat cepat, gelisah tak karuan. Sebentar lagi aku akan bertemu dengan monster yang hatinya sedingin es itu. Aku sama sekali belum menemukan kata-kata apa yang harus kuucapkan saat bertemu dengannya nanti.
Sesampainya di rumah sakit, Ling Mi menggiringku menuju ruangan bernama Ruang Melati. Mas Hamzah duduk diluar sambil bermain ponsel. Ia langsung mematikan ponselnya dan berjalan ke arah kami ketika menyadari kehadiran kami.
"Akhirnya sampai juga. Lama amat!"
"Emangnya robot. Tidur bentar tadi aku."
Mas Hamzah menarikku berniat mengajak ngobrol empat mata hanya denganku.
"Ada apa? Pake tarik-tarik segala?"
"Dengar," ucap Mas Hamzah terdengar sangat serius. "Pokoknya, apapun yang Ayah ucapkan. Kamu tidak boleh tersinggung, oke? Kamu diam aja dan ga usah bales ucapannya," pesan Mas Hamzah padaku.
Aku menelan ludah. Memang yang Mas Hamzah katakan benar adanya. Aku takut bila aku tersinggung dan marah dengan ucapan Ayah nantinya. Ini bukan waktu yang tepat untukku mengemukakan pendapatku padanya.
"Kamu mau mengalah, kan?" Desak Mas Hamzah.
Aku hanya bisa mengangguk. Tak berani berjanji jika aku tidak akan meledak bila Ayah mencibirku.
"Oke, kamu masuk sana sekarang," suruh Mas Hamzah.
"Kamu ngga nemenin aku?" Tenggorokanku seperti tercekat saat mengatakannya.
"Aku laper. Aku juga mau bertemu istri dan anakku. Mau nemenin mereka makan malam. Nanti aku kesini lagi. Dah, sana masuk." Mas Hamzah melangkah pergi membawa Ling Mi dan Kiki menjauh dariku.
Entah berapa kali aku menelan ludah. Jujur saja, aku masih belum siap untuk bertemu dengannya.
Tanganku gemetaran saat menggenggam gagang pintu. Hidungku bernafas pendek-pendek. Dalam hati aku menghitung dari satu sampai tiga lalu dengan sedikit tekad yang sudah kubulatkan aku pun masuk ke dalam.
*
"Kamu baru pulang setelah Ayah sakit begini?" Cibir Ayah langsung saat aku duduk disampingnya.
Rasanya ingin kubalas, tapi lidahku tak mampu. Tubuh Ayah kurus tinggal tulang, wajahnya pucat dan seluruh tubuhnya penuh selang-selang yang membantunya bertahan hidup. Anehnya, mulutnya masih bisa julid terhadap anak bungsunya.
"Kamu pulang pasti di suruh Hamzah, kan? Bukan karena keinginan sendiri?"
Aku mengambil selimut Ayah yang sudah bau, lalu mengambilkannya selimut baru yang disediakan rumah sakit. Kumasukkan selimut bau itu ke dalam laci nakas di samping tempat Ayah berbaring. Kemudian menyelimuti badannya yang rapuh itu dengan selimut bersih yang baru.
"Kamu juga selama ini tak pernah mengirimi Ayah uang sepeserpun. Lihat kakak-kakakmu? Mereka selalu mengirimi Ayah uang! Cuma kamu yang tidak," omelnya.
Dulu, setiap kali Ayah mencibirku pasti selalu kubalas. Masih ingat waktu itu ketika aku masih kecil, bahkan masih sangat kecil. Waktu itu Ayah kehilangan kacamatanya dan menuduhku kalo akulah yang menghilangkannya.
Karna aku tidak melakukannya aku pun membalas ucapannya. Kukatakan padanya bahwa bukan aku yang mengambilnya.
Tentunya aku langsung dimarahi habis-habisan. Saking takutnya aku sampai menangis sangat keras dan Ayah mencengkram rahangku dengan sedikit mencekiknya. Mengancam pipiku akan dipukul bila aku tidak segera diam. Ayah sangat benci anak-anak yang cengeng.
Itu pengalaman yang mengerikan bagiku yang masih anak-anak. Tak bisa kulupakan sampai sekarang.
Sekarang, melihat tubuhnya yang lemah tak berdaya hanya bisa mengandalkan mulutnya yang memang setajam silet, kuanggap tiap katanya angin lalu.
"Hamzah bilang saat ibumu meninggal kau datang ke pemakamannya setelah semua orang pergi. Kenapa kau tak pulang? Semua orang sedih di rumah," lanjut Ayah.
Setahun setelah kepergianku Bunda meninggal. Itu jadi momen paling menyakitkan dalam hidupku. Tak bisa kumaafkan diriku sendiri kenapa aku tidak bertahan di rumah demi Bunda? Betapa bodohnya diriku meninggalkan Bunda sendirian bersama lelaki yang hatinya sekeras batu ini.
Hidungku menghirup nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya seperti orang yang sedang mengeluh. Ketika mulutku terbuka untuk membalas ucapan Ayah, suster masuk ke dalam ruangan.
"Waktunya suntik vitamin dulu mas," kata suster.
"Oh, ya. Silahkan sus." Kupersilahkan suster mendekat menggantikan posisiku yang tadinya disamping Ayah.
"Ini juga waktunya istirahat, mas bisa nunggu diluar setelah ini," imbuh suster.
"Oh. Siap, sus." Sebelum aku keluar kutengok sekali lagi Ayahku yang berbaring lemas. Mulutnya masih berkomat-kamit mengucapkan sesuatu yang tidak jelas.
Ada kesedihan tersirat saat aku melihatnya. Apakah ini rasa iba? Jika iya, ini pertama kalinya aku merasa iba atas keadaan Ayah. Sebelumnya, tak pernah sekalipun aku merasa kasihan terhadapnya.
Kenapa, sih? Kita harus dipaksa menyayangi dan menghormati orang yang sama sekali tidak kita cintai? Sekalipun mereka ada ikatan darah dengan kita?Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (61)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
mantap
23d
0baik
05/03
0mnarik
23/12
0Lihat Semua