logo text

Bab 7 Hippocampus

Rumah Warisan Ayah Part 7
Malam ini aku sangat gelisah. Bagaimana aku bisa tidur? Kalo otakku memikirkan banyak hal sekaligus. Sampai-sampai aku tak tahu apa yang sedang kupikirkan.
Ketika pikiran sedang sibuk berkelana. Kupingku mendengar notif wa dari Risa. Tentu aku itu Risa, begitu mendengar nada dering wa-nya yang kusetting berbeda.
Risa : aku ingin bicara sama kamu. Kamu ada waktu?
Aku yang sedang sendirian bersama isi pikiranku yang menggila memilih berbicara dengan Risa. Meski kemungkinan terburuknya Risa bakal membuat mood-ku makin kacau karna Risa suka sekali membahas masa lalu kami, dan mencoba sangat keras menyakinkan-ku bahwa aku bersalah, dan berhutang maaf padanya.
Aku : ya, aku bisa. Telepon saja.
Dari sofa aku pindah ke kamar tidur. Supaya aku bisa bersandar di guling yang empuk dan lebih luas. Sofa di kosanku terlalu kecil soalnya.
Risa dalam sekejap langsung menelponku tanpa memberiku waktu bersiap-siap.
"Halo?" Suara khasnya mulai mengisi telingaku. "Kau disana?"
"Ya, ya, ya. Aku disini, hanya pindah ke kasurku. Akh, dah, aku sudah di kasurku sekarang."
"Mau video call?" Ajak Risa.
Otakku berpikir selama dua detik, tapi mulutku sudah berkata "ya" sebelum otakku membuat keputusan.
Dari telepon suara, kini kami saling menatap gambar satu sama lain. Betapa cepatnya teknologi berkembang. Dulu saja mau menelpon orang jauh harus mengantri di wartel. Itu pun dibatasi.
"Hai, apa kabar?" Risa tersenyum. Kuakui Risa memiliki senyum yang sangat indah. Senyumannya jadi salah satu alasan kenapa aku jatuh hati padanya.
"Baik. Bagaimana denganmu?" Tanyaku balik.
"Aku baik. Apa kau benar-benar baik-baik saja?"
"Ya, memangnya kenapa?"
"Aku memikirkanmu seharian penuh. Perasaanku tidak enak, serasa ada sesuatu yang terjadi padamu. Kau tak perlu menyimpan itu sendiri, kau tahu? Terkadang membicarakannya membuatmu menjadi lebih baik."
Aku tak tahu, membicarakan masalah pribadi pada orang lain akan mengubah sesuatu. Aku pun tak yakin membicarakan soal Ayah pada Risa.
"Yah, kau tahu. Aku pulang. Menjenguk Ayah. Ayah sakit. Aku harus meninggalkan pekerjaanku sementara waktu. Tapi aku tak tahu sampai kapan. Dan kelihatannya Ayah tak akan mampu bertahan lebih lama lagi." Dan aku baru saja menceritakan semuanya. Buku rayu Risa memanglah sangat manjur.
"Ayahmu? Ayahmu yang...."
"Eh Hem." Ternyata aku lupa, kalo aku sudah pernah cerita pada Risa soal hubunganku dengan Ayah yang kurang baik.
"Kau menjenguknya? Kau baik-baik saja? Aku hanya ingin memastikan. Soalnya pasti berat bagimu untuk menghadapinya." Risa terdengar sangat berhati-hati saat mengucapkannya.
"Yah, awalnya memang sangat sulit bagiku. Aku sampai gemetaran dan berkeringat dingin. Tapi syukurlah, untungnya aku berhasil melewatinya." Dasar mulut! Berhentilah bercerita lebih dalam lagi! Suruh otakku.
"Aku tahu. Itu pasti sangat sulit. Apakah kau sudah memaafkannya?"
Pertanyaan Risa yang ini membuat diriku diam sebentar. Sejenak mulutku mau diajak bekerja sama. "Entahlah. Aku tak tahu apakah aku sudah memaafkannya atau belum. Tapi akhir-akhir ini perasaanku padanya melunak. Aku merasa kasian terhadapnya."
"Itu hanya responmu sebagai manusia normal. Kau masih punya empati."
"Yah. Kelihatannya kau benar. Aku tak yakin kalo aku sudah memaafkannya sepenuhnya. Maksudku, aku tak akan pernah lupa perbuatannya padaku. Entahlah, semuanya masih begitu menyakitkan bagiku."
"Bagaimana kondisi Ayahmu?"
Tangan kiriku mengambil remot dan mematikan televisi. "Semakin memburuk," ucapku setengah hati.
"Kau bisa jujur padaku. Aku tahu kalo itu sangatlah sulit. Tapi ada satu hal yang perlu kau pahami Wan, mungkin jika kau jujur padaku, aku bisa membantumu untuk setidaknya menyembuhkan lukamu. Tak apa bekasnya tak hilang, asalkan kau sembuh," saran Risa padaku.
Kepalaku menunduk. Tiba-tiba mataku terasa panas dan perih. Hippocampus* di otakku tanpa sengaja memutar kenangan-kenangan menyakitkan itu lagi.
Ayah memilih menonton pacuan kuda bersama teman-temannya dibandingkan mengambil raport sekolahku. Jadi, selama aku sekolah mulai dari taman kanak-kanak sampai SMA, raport-ku selalu diambilkan oleh tetanggaku.
Dicengging, ditendang, digampar hanya gara-gara menginjak bawang merah di sawah. Itupun tidak sepenuhnya benar. Aku dan teman-temanku hanya berniat mencuci kaki di pengairannya saja karna badan kami kotor selepas mencari ikan di sawah. Tiba-tiba pemilik sawah muncul dan mengacungkan celuritnya pada kami. Tentu saja anak-anak seperti kami dulu langsung lari terbirit-birit, ketakutan.
Waktu Maghrib, pemilik sawah yang memang terkenal garang itu memaki-maki Bunda. Ayah mendengarnya langsung memukuliku di depan pemilik sawah. Aku meronta-ronta dan bilang bahwa kami tidak bermaksud begitu, tidak ada satupun dari mereka mau mendengarkan.
Esok harinya aku tidak bisa masuk ke sekolah karna bokongmu lebam-lebam dan memar penuh nyeri.
Semua itu hanya gara-gara bawang merah. Dan aku pernah melakukan hal yang lebih dari itu dengan hukuman yang lebih menyakitkan lagi.
"Aku memang belum bisa memaafkannya. Mungkin kau benar, Ris. Sedih yang kurasakan kemarin hanyalah rasa empatiku saja," kataku setengah hampa. "Sebagian besar diriku masih membencinya." Aku berharap semoga mataku saat ini tidak sedang berkaca-kaca di depan Risa.
"Aku tak bisa menyembuhkan langsung luka hatimu, tapi aku punya cerita untukmu," cetus Risa.
Aku pura-pura bersin dengan keras, sehingga aku punya alasan untuk mengusap hidung dan kedua mataku. Semoga Risa tak menyadarinya. "Ya, tentu saja. Aku mau mendengarnya," ucapku sehabis bersin.
"Tidak apa-apa? Kita bicara lagi? Soalnya ini juga sudah tengah malam."
"Santai saja. Tidak apa-apa. Sebenarnya aku tidak bisa tidur. Mungkin mendengar ceritamu bisa membuatku ngantuk. Kalo kau sendiri?"
"Tenang saja. Aku akan selalu ada waktu untukmu. Lagian, besok aku libur."
"Oke." Aku tersenyum padanya.
"Oke, kita balik ke cerita. Ini kisah nyata yang dialami boleh ibuku sendiri. Jadi, Bapak ibuku dulu sama persis seperti ayahmu. Keras dan kasar. Kakekku punya anak enam dan tak ada satupun dari mereka yang dekat dengannya, kecuali ibuku. Bisa dibilang ibuku satu-satunya dari kelima saudaranya yang bisa ngemong dirinya."
"Waktu kakek jatuh sakit, Ibuku lah yang merawatnya sampai kakek mendekati sekarat. Tapi anehnya, kakek tidak segera pergi. Seolah-olah ada yang menahannya. Ibuku bilang, ia menyandari bahwa kakek menyesal tapi sudah terlambat. Kakek sudah tak bisa berbicara fasih lagi. Lalu ibuku mengumpulkan semua saudaranya, menasehati mereka semua kalo kakek tidak segera pergi karna mereka semua. Mereka semua belum mau memaafkan kakek lahir batin."
"Setelah saudara-saudaranya satu persatu mendatangi kakek, dan meminta maaf sambil mengucapkan bahwa mereka juga telah memaafkan kakek. Akhirnya kejang-kejang kakek berkurang. Kakek jadi rileks, tapi kakek juga belum pergi. Itulah momen dimana ibuku sadar kalo kakek paling ingin mendapatkan maaf dari ibuku."
"So, ibuku duduk disampingnya, bicara banyak-banyak sampai menangis tersedu-sedu. Ibu bilang sama kakek, ibuku telah ikhlas, ia telah memaafkannya dan yang paling penting, ibuku berbisik ditelinga kakek, bahwa ibuku menyayanginya."
"Semua orang bilang kakek tersenyum sebelum meninggal. Waktu itu aku masih sebelas tahun kalo tidak salah, aku tidak menyadarinya," pungkas Risa.
Saking khidmat aku menyimak ceritanya, aku tak sadar kalo Risa telah selesai bercerita. Otakku membeku dan mulutku kaku. Tak ada kata yang keluar selain gumaman tak jelas. "Je... Jad... Jadi, aku harus bagaimana?"
"Yang kau perlukan hanyalah, datangi ayahmu. Minta maaf padanya, katakan kalo kau juga sudah memaafkannya, dan yang paling penting. Katakan padanya kalau kau mencintainya."
"Aku tidak bisa. Maksudku, aku tak bisa mengatakan untuk hal yang terakhir. Ayahku bukan bule, dia cuma orang desa kolot yang tak punya kasih sayang."
"Cukup kau bilang kau menyayanginya. Kau tak perlu mengucapkannya lewat megafon," sindir Risa.
"Memangnya ada? Anak cowok yang lahir di negeri ini bilang sama bapak-bapak mereka dengan ucapan "aku menyayangimu ayah?" Memangnya ada?" Sindirku balik.
"Ada. Dan kaulah orangnya," jawab Risa dengan mantap. Dan jawaban Risa membuat seluruh tubuhku membeku dalam diam.
*
Keesokan harinya, aku menjenguk Ayah ke rumah sakit lagi. Kondisinya membaik, sekarang Ayah sudah sadar meski mulut dan lidahnya sudah tak bisa cerewet lagi.
Kalo saja keadaan Ayah saat ini terjadi dua belas tahun yang lalu, maka aku akan merayakannya. Sekarang, aku sama sekali tak ingin itu terjadi
"Bagaimana keadaan Ayah," tanyaku pada Mas Hamzah.
"Kau bisa menjenguknya, tapi jangan ajak dia bicara dulu. Kondisi fisiknya menurun drastis." Mas Hamzah langsung pulang setelah sarapan bersamaku.
Suara nafas Ayah yang berat sampai terdengar meski Ayah menggunakan masker oksigen.
Aku duduk disampingnya memegang tangannya yang melemah.
"Wan...," Ayah mengerang mengucapkan sesuatu. "Wan.... Wan...."
"Ayah istirahat, oke? Nanti saja bicaranya kalo Ayah sudah sembuh."
Kondisi Ayah memburuk sangat cepat. Aku sampai tak yakin ia akan bertahan sampai minggu depan.
"Ibumu...," Ucap Ayah terbata-bata dan tangannya berusaha menggapai masker oksigen yang ia kenakan.
Karna percuma menahannya, jadi kuputuskan membantunya melepas maskernya. Mulut Ayah terbuka lebar saat Kulepas maskernya. Butuh waktu lima menit penuh sebelum Ayah melanjutkan omongannya.
"Ibumu. Lantai tiga. Rumah," ucapnya.
Awalnya mata dan alisku saling beradu bingung tak mengerti apa yang Ayah bicarakan dan apa yang ia maksud? Karna Ayah sudah kehilangan kekuatannya hanya dengan mengucapkan tiga kata itu, aku langsung mengembalikan masker oksigennya dan membiarkan otakku berpikir.
Ibu, lantai tiga, rumah? Apa maksudnya? Apa Bunda ada di lantai tiga? Tapi itu tidak mungkin! Bunda sudah tiada, dan aku sudah mengikhlaskannya. Apa jangan-jangan Ayah mencuri jasad Bunda? Dan membawanya ke lantai tiga? Itu juga sangatlah mustahil sekali.
Otakku bekerja keras sampai kelelahan. Mataku tak kuasa menahan kantuk lagi. Kurasa aku jatuh tertidur disamping kamar Ayah.
Dan ternyata aku beneran tertidur saat menemani Ayah. Suster membangunkanku saat akan menyuntik Ayah. Aku pergi keluar sebentar untuk kencing dan makan malam. Setelah itu kembali ke kamar Ayah.
Sampai disana, Suster telah pergi dan Ayah kini tersadar. "Yah," ucapku. Aku sama sekali tidak menyadarinya saat mengucapkannya. "Ayah tidur lagi. Ayah istirahat saja." Aku kembali duduk disampingnya.
Mata Ayah memandangku begitu lama. Beberapa kedipan lalu memandangiku lagi. Tangannya bergerak, menggeser posisi tanganku yang sedang memeganginya. Tangan Ayah bergerak memegangi wajahku, menangkupnya meski hanya dengan satu tangan. Ayah mengusap-usap tangannya di wajahku. Mimik wajahnya bicara menggantikan lisannya yang sudah tidak mampu lagi berbicara. Ayah tersenyum disana sambil memandangku seperti orang kagum.
Mungkin ini saat yang tepat untuk mengantarkannya. Inilah momen yang paling tepat dibandingkan harus menunggu momen seperti kakek Risa.
Kedua tanganku membalas tangkupannya, memegangi tangannya yang sudah dipenuhi keriput. "Yah," kataku. Tenggorokanku menelan ludah sebelum melanjutkan. "Wawan mau minta maaf, untuk semuanya. Wawan mohon, maafkan semua kesalahanku. Saking banyaknya kesalahan yang Wawan perbuat, Wawan tak bisa menyebutnya satu persatu. Jadi, Wawan mohon maafkanlah Wawan. Atas semua kesalahan yang Wawan perbuat."
Entah apa yang kulihat ini benar atau tidak, aku bisa merasakan sesuatu yang hangat mengalir dalam diriku lewat tangan Ayah. Kuduga, ini pasti respon Ayah. Ayah mendengarnya. Ayah mendengarkanku. "Yah," lanjutku. "Wawan juga telah memaafkan Ayah. Wawan telah memaafkan semua kesalahan Ayah di masa lalu, tak terkecuali." Aku tersenyum saat mengatakannya. Karna dari dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku mengatakan yang sebenarnya. Aku benar-benar telah memaafkan Ayah, memaafkan Ayahku.
Genggaman Ayah melemah, aku pun menurunkan tangannya. Air mata mulai menetes di pipi kami masing-masing. Tapi mata Ayah masih memandangiku, seolah-olah masih menungguku.
Kuambil telapak tangannya, lalu menciumnya setelah belasan tahun lamanya terakhir kali kucium tangan besarnya. Kupegangi tangannya dengan lembut sambil kubisikan padanya, "Wawan sayang Ayah."
Air mata yang tadinya hanya menetes satu-dua tetes kini mengalir lancar di kedua matanya. Perlahan-lahan matanya berkedip-kedip, kemudian Ayah jatuh tertidur. Ayah belum pergi, karna aku bisa merasakan detak di urat nadinya.
Kini Ayah tertidur pulas, dan mataku menangkap kalo Ayah saat ini tidur dalam keadaan lega sekaligus penuh kedamaian.
Ketika Mbak Diana datang untuk menggantikanku berjaga, perasaanku jernih. Aku merasa sangat lega dan juga seperti bebas dari kurungan penjara yang kubuat sendiri dalam pikiranku.
Kukecup kening Ayah untuk pertama kalinya, sebelum aku pulang ke rumah Ayah untuk mengecek apa yang barusan telah Ayah katakan padaku. Aku akan mencari Bunda di lantai tiga rumah itu. Aku belum tahu apa artinya itu, tapi aku penuh semangat untuk mencari tahu apa yang dimaksud oleh Ayah.
****************************
1. Hippocampus bagian dalam otak yang berfungsi untuk menyimpan & mengolah memori.

Komentar Buku (61)

  • avatar
    IkhwanNiel

    mantap

    05/09

      0
  • avatar
    HklJkt

    baik

    05/03

      0
  • avatar
    anantafaradila

    mnarik

    23/12

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru