Beranda/Rumah Warisan Ayah/
Bab 16 Perang!
Rumah Warisan Ayah Part 16
Mataku mulai terbuka saat menyadari sekarang tubuhku sudah tergeletak di kasur tempat kosanku. "Akh." Kepalaku masih terasa pening. Tenggorokanku juga teras kering dan sakit. Ini berarti aku masih hidup.
Mas Hamzah berhasil membawaku pulang hidup-hidup ternyata.
Aku mulai pergi ke dapur, mengambil gelas dan minum air banyak-banyak. Kubawa secangkir air putih penuh kembali ke kamarku dan mengambil dua butir obat Tylenol untuk membantu mengusir rasa telerku.
Salah satu notifikasi di layar ponselku, Mas Hamzah mengirimi pesan; "Akan kujemput kau nanti jam lima sore," tulisnya. "Awas! Kalo kau masih teler nanti. Kuguyur air es!" Tambahnya.
Setelah berhasil membuat sarapan dan mandi, kehidupan mulai kembali mengisi hidupku. Masih jam sebelas, jadi aku masih punya banyak waktu sebelum Mas Hamzah datang. Kuputuskan untuk malas-malasan di depan teras karna memang aku tidak ingin melakukan apa-apa untuk hari ini.
Kubuka Instagram dan mulai menscroll reels yang tak berujung ini untuk membuang-buang waktu. Saat jempolku berhenti menggeser di sebuah video interacial couple---WNI yang menikah dengan WNA membuatku langsung ingat kembali tentang apa yang kupikirkan ketika aku mabuk kemarin. Tentang Asmi, ingatanku kembali mengingat tentang dia.
Kupencet tombol kembali dan masuk ke profil Instagram-ku, lalu kuklik bagian following dan kuketikan nama id Instagram milik Asmi. Sudah lama sekali aku tak melihat dia dan keluarga kecilnya.
Di akun milik Asmi, dipenuhi gambar-gambar, video dirinya bersama suaminya beserta anak-anaknya yang mulai beranjak remaja. Sebuah senyuman mengembang di bibirku. Ada rasa lega melihat Asmi sekarang bahagia.
Dihari dimana aku mengambil mahkotanya, ada keributan besar antara keluarganya dan keluargaku. Aku kabur, jadi Asmi sendirian menanggungnya.
Lima tahun kemudian setelah aku punya kehidupan stabil, aku memberanikan diri untuk mencarinya. Mulai dari mengkontak teman-temannya hingga salah satu sepupunya. Akhirnya, setelah mendapat informasi bahwa Asmi bekerja di Jakarta sebagai pelayan toko, aku segera menyusulnya.
"Sudah basi kalau mau minta maaf," katanya, waktu pertama kali kami bertemu setelah kejadian itu. "Kau jahat meninggalkanku menghadapi semuanya sendirian."
"Ma...."
Asmi menaruh jari telunjuknya di bibirku. "Sudah kubilang, sudah terlambat untuk minta maaf." Dan kemudian Asmi malah memelukku.
"...." Aku hanya bisa diam terpaku. Tak bisa berkata maupun bertindak. Bahkan menggerakkan tanganku untuk membalas pelukannya pun tak bisa.
"Terima kasih, Wan. Berkat dirimu aku jadi wanita tangguh. Aku jadi wanita yang berani bertindak dan mengambil keputusan. Kau tetap jahat karna meninggalkanku sendirian tapi berkat itu, aku bisa menghadapi ujian terburukku. Dihina, dicampakkan, dibully habis-habisan oleh keluargaku sendiri, membuatku bisa merasakan apa yang selama ini kau rasakan. Yah, mereka ( keluarga Asmi ) masih bilang bahwa derajatku turun, dan ga bakal dapat jodoh yang punya standar tinggi. Mereka bilang paling-paling aku bakalan menikah dengan duda," jelasnya.
"Maafkan aku," ucapku, akhirnya.
"Kamu apa kabar? Lima tahun kau sama sekali tidak ada kabar."
"Yah, aku punya banyak sekali cerita. Petualangan yang amat panjang. Mau ngopi?" Tawarku padanya. "Nanti akan kuceritakan semuanya."
"Tentu saja." Asmi tersenyum padaku. Sebuah senyuman sangat indah sekali.
Kami pun berbagi cerita masing-masing. Kuceritakan ceritaku sejak aku kabur. Dan Asmi menceritakan kisahnya setelah aku pergi. "Aku cuma takut, takut kalo.... Kau tahu sendirilah. Perawan adalah segalanya disini. Aku cuma takut jika menikah nanti membuat kecewa calon suamiku. Aku ga bakal bisa berbohong jika aku masih segel. Dan malah runyam nantinya saat kami menikah nantinya," aku Asmi
"Ya, aku tahu. Aku paham itu."
Setelah menghabiskan dua hari bersama Asmi. Lega rasanya, kami bisa kembali menjadi teman baik lagi. Aku tahu perasaan Asmi yang masih memikirkan soal keperawanannya yang telah kurenggut. Aku menyesal, sangat menyesal untuk itu. Asmi gadis yang sangat baik, dia pantas untuk bahagia.
Kembali ke Lombok, aku bertemu dengan tamu-tamu luar negeriku kembali yang memenuhi restoran milik Nyoman. Kyle, salah satu kenalan kami ngobrol asik malam itu bersama kami setelah restoran tutup.
"Apa kau punya adik perempuan?" Tanyanya.
"Adikku lelaki semua," jawab Nyoman. "Tuh, tu si Wawan punya."
"Aku ngga punya," sahutku dari konter bar. "Aku punyanya kakak perempuan, dan dia sudah menikah. Kalaupun belum menikah, tak akan kubiarkan lelaki Amerika bernama Kyle mengencaninya."
"Hahahaha..." Kyle malah ketawa. "Tidak bung! Bukan untukku, tapi untuk temanku Pierre Le Boufe, cowok Prancis. Dia lagi cari istri."
Mendengarnya, aku langsung teringat dengan Asmi. Segera saja aku membicarakan soal Asmi pada Kyle. Kamipun mulai serius membicarakan soal ini, karna Kyle memang sedang tidak bercanda. Temannya si Pierre itu memang sedang mencari pasangan hidup. Kata Kyle, dia orangnya sedikit kuno-old fashioned mengenai jodoh, dan itu sangatlah pas untuk Asmi.
Kyle tipe cowok bebas yang tidak akan memikirkan menikah kalo belum menginjak usia tiga puluh. Dan kalopun Kyle ingin menikah, tidak ada kata "monogami" disana. Kehidupan seks dan pernikahan bagi para bule-bule ini mengalami revolusi yang sangat signifikan. Kyle pernah bercerita ia diajak paman dan bibinya untuk ikut pesta Swinger* dan menurutku itu mengerikan. Jadi Kyle bukanlah cowok yang masuk kriteria suami idaman untuk saat ini.
Satu hal yang nilai positif bagi cowok-cowok bule ini. Mereka tidak akan memandang keperawanan adalah segalanya. Dan memang itulah yang kucari.
Dalam waktu tiga bulan berikutnya, Asmi sudah saling bicara dengan Pierre dan cowok Prancis itupun akan datang ke Indonesia sesegera mungkin. Asmi segera kuhubungi dan kuajak bertemu dengan Pierre di Lombok, tepatnya di Gili Trawangan tempatku berada.
Dua Minggu lamanya mereka mencoba saling mengenal satu sama lain. Meski Asmi ragu-ragu dan komplain padaku bahwa ia tidak terlalu tertarik punya pacar bule, "kulitnya terlalu putih dan merah-merah kayak babi," katanya.
Akupun mencoba menyakinkan Asmi bahwa Pierre adalah cowok baik-baik dan siap menerima dirinya apa adanya tanpa pertanyaan konyol soal keperawanan. Asmi pun mulai luluh di Minggu ketiga.
Bulan depannya mereka pun langsung menikah dan semua biayanya pernikahan Asmi kutanggung. Tentu Pierre dan teman-temanku juga ikut membantu. Jadinya Asmi bisa memboyong seluruh keluarganya untuk merayakan pesta pernikahannya disini, di restoran kami.
Seusai Pesta mereka kembali ke Lampung untuk pernikahan kedua sesuai adat istiadat di sana. Setelah Asmi dan Pierre menikah, Pierre kembali ke Prancis untuk kembali bekerja dan mempersiapkan tempat tinggal mereka nantinya.
Tahun depannya, Pierre berhasil memboyong Asmi kembali ke Prancis. Sejak itu, Asmi tinggal disana bersama suaminya di Prancis.
Begitulah ceritanya kenapa bisa Asmi sekarang tinggal di Prancis. Apakah aku masih mencintainya? Tentu saja. Aku masih mencintainya. Tapi kadar cinta itu tak sekuat dulu waktu kami baru saling kenal. Sekarang, perasaan cinta itu berubah menjadi kasih sayang, bentuk dari perhatian untuk orang-orang yang kita pedulikan. Sama seperti rasa sayangku pada sahabat terbaikku, Nyoman.
"Selalu sehat dan bahagia untuk kalian semua," ucapku, lalu kupencet tombol love difoto Keluarga mereka.
*
Mas Hamzah muncul sebelum jam lima. "Tumben ga telat. Biasanya bilang jam berapa datangnya jam berapa," ledekku.
"Kau pikir apa gunanya aku kerja selama bertahun-tahun di China? Kalo masih kayak gitu? Udah dipecat dari dulu!" Balasnya.
Kamipun berangkat menuju rumah Ayah. Kami berencana untuk bermusyawarah untuk urusan wasiat Ayah soal Suniyah. "Mbak Diana bakalan marah," komentarku.
"Tak hanya dia yang boleh marah! Kita juga boleh marah! Diana curang kau tahu itu. Pembagian warisannya tidak adil," gerutu Mas Hamzah.
"Ya, aku tahu itu."
"Kau seharusnya tuntut dia. Dia mengambil seluruh bagianmu. Aku yakin Ayah sudah mengganti surat wasiatnya saat kau mau pulang."
"Biarlah... Aku tak butuh."
"Kau sama saja membiarkan kejahatan merajalela kalau kau berpikir seperti itu," resah Mas Hamzah.
"Lagian Ayah benar. Toh, aku juga sudah bukan bagian dari rumah itu." Aku membuang muka. Mataku menatap pemandangan di luar jendela mobil yang diluar sana mulai gelap.
"Tidak begitu! Bukan begitu caranya. Dan lagian kenapa sih? Si Diana itu pengen banget jual rumah cepet-cepet?"
"Entahlah..."
Kami melanjutkan perjalanan selama sejam penuh dengan penuh pertanyaan-pertanyaan yang tidak kami temukan jawabannya. Mas Hamzah terus mengoceh dan akupun menanggapinya kurang antusias. Ingin rasanya aku pergi kembali ke Lombok dan tak ingin jadi bagian perebutan harta warisan ini.
Entah apa yang perlu dibanggakan memiliki harta milik orang lain. Aku tak tertarik dan kurang paham. Mungkin karena aku sudah merasa cukup dan sudah menjalani hidup mandiri dengan apa yang kupunya.
Kamipun akhirnya tiba di rumah warisan. Ketika kami keluar dari dalam mobil, kami mendengar teriakkan-teriakkan seorang perempuan.
Mataku dan mata Mas Hamzah saling pandang bertanya-tanya siapa gerangan? Kami pun langsung meluncur masuk ke dalam rumah.
"Ibuku punya hak tinggil disini!" Teriak seorang wanita muda yang berdiri disamping Suniyah yang sedang menangis di kursi ruang keluarga.
"Ini rumahku! Sudah jadi milikku! Hakku bila aku ingin ibumu segera pindah dari rumahku!" Suara Mbak Diana ikut-ikutan meninggi.
"Ada apa ini?" Tanyaku, ditengah-tengah pertengkaran dua wanita.
"Diam!" Mereka kompak menyerangku malah.
"Kau tak punya hak! Mengusir ibuku! Dia adalah istri ayahmu! Dan ibuku tetap pantas tinggal disini sampai kapan pun!" Bentak wanita muda itu lagi, yang ternyata anak Suniyah.
"Akan kupanggil polisi buat mengusir kalian berdua!" Tantang Mbak Diana.
"Dasar cewek Sundal! Tak tahu malu!" Geram anaknya Suniyah yang tiba-tiba maju menyerang Mbak Diana.
"Jangan sentuh aku!" Mereka saling menampar dan saling menjambak rambut satu sama lain.
Ketika tubuhku bergerak untuk melerai mereka, tubuhku ditahan oleh dua tangan. "Biarkan saja," ucap Mas Hamzah sambil nyengir. "Ini pemandangan langka! Kau tak akan menemukan ini lagi dalam sisa hidupmu," kekehnya lagi.
"Dasar pelacoer murahan! Tak tau diuntung!"
"Dan kau nenek sihir gila harta! Sudah bau tanah masih saja rakus! Dasar nenek sihir!"
Bodohnya aku malah menuruti permintaan Mas Hamzah. Mataku hanya bisa melongo, domblong melihat dua wanita saling gulat dan mengutuk satu sama lain. Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (61)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
mantap
05/09
0baik
05/03
0mnarik
23/12
0Lihat Semua