logo text

Bab 61 Surga Naya, Neraka Mila

Bab 61 Surga Naya, Neraka Mila
Tangannya tergesa membantu menanggalkan dresshome yang Kanaya kenakan. Akhirnya kerinduan keduanya bermuara. Hasrat yang tertahan-tahan sekarang bisa tersalurkan sepuasnya. Bahkan Bima lupa akan tahapan yang ia baca dalam artikel tentang cara memulai untuk pertama kali. Ia hanya mengikuti instingnya saja sebagai lelaki.
Setelah melakukan pemanasan, Bima lekas membaringkan istri di kursi pantai yang telah dilapisi bed yang sangat empuk. Agar proses penyatuan keduanya berjalan dengan sangat nyaman.
Suami selalu menyentuhnya dengan lembut dan penuh kasih. Sehingga sentuhan demi sentuhan sudah mulai menjadi candu yang akan terus dirindukan.
Usai pergulatan, Bima mencium dahi Kanaya dan mengucapkan terima kasih. Ia juga membantu membersihkan Sang Istri dengan tisu khusus. Lalu membantu memakaikan bikini yang sudah disiapkan tadi.
Setelah rehat sejenak, keduanya berenang di air laut yang dangkal dan bersih. Tentu saja sebuah kegiatan renang yang tidak luput dari saling rangkul dan c*mbu. Lelah main di air, mereka duduk santai di pasir putih. Kanaya menyandarkan kepalanya ke dada bidang suami. Tak banyak kata yang mereka ungkapkan, hanya sentuhan demi sentuhan mewakili segalanya.
“Terima kasih, aku bahagia,” bisik Kanaya.
Bima memberi isyarat untuk melakukannya sekali lagi sebelum mereka memutuskan pulang. Tentu saja Kanaya tidak menolak karena sama-sama menginginkan. Sejujurnya mereka juga ingin menginap di Resort ini, tetapi anak-anak tidak bisa ditinggal lama-lama. Bahkan niat bulan madu keliling eropa juga harus pending sampai Anna dan Alya libur sekolah. Pasalnya mereka ingin ikut kemanapun mamanya pergi.
Bima membopong kembali istri ke dalam tirai tadi. Lagi-lagi kenikmatan surga dunia menghujani dua pengantin baru itu seolah tanpa henti.
Mengingat hari sudah lewat duhur, Bima mengajak istri meninggalkan tempat indah itu. Ia tidak mau ingkar janji kepada Alya di hari keduanya menjadi seorang ayah sambung.
Mereka sudah berada dalam kabin jet lagi. Kali ini Kanaya duduk di atas pangkuan suami karena memang diminta. Rupanya Bima belum puas mengeksplor tubuh istri, apalagi setelah tahu bagaimana rasanya. Kedua tangan serta bibirnya sungguh tidak mau diam selama perjalanan.
Kanaya hanya geleng-geleng kepala dan sesekali tertawa saking gelinya. Tentu saja ia harus maklum karena ini adalah hal baru bagi suaminya yang perjaka. Dia saja yang janda merasa ketagihan, apalagi Bima. Pada akhirnya penyatuan yang ketigakali terjadi dalam kabin sewaktu mengudara. Sudah dipastikan posisi mereka aman dari pilot, ya. Sebenarnya tanpa melihat ataupun mendengar, pilot sudah bisa memprediksi akan hal tersebut.
Hampir dua jam sudah jet menembus awan, sekarang sudah siap landing di landasan Halim kembali. Bima dan Kanaya segera membenahi penampilan yang acak-acakan agar tidak terlihat mencolok sebelum keluar dari kabin.
Teringat lagi akan Alya yang pasti menunggu, mereka segera meninggalkan Bandara.
“Eh, Mama sudah pulang?”
“Ya, Sayang.”
“Kalian dari mana, sih?”
“Kami dari Bali.”
“Bohong.”
“Yang dikatakan ayah benar, Sayang.”
“Masa Mama dandanannya kayak gitu?”
“Soalnya kami naik jet pribadi.”
“Wih keren. Ih enggak ajak-ajak,” desis Alya.
“Maaf Sayang, lain kali Ayah pasti ajak Alya dan Kakak jalan-jalan dengan jet pribadi.”
“Sekarang saja, yuk!” rengek Alya.
“Nanti kita rencanakan dulu. Tidak bisa mendadak, Sayang.”
“Ya sudah, tapi janji ya!”
“Ok.”
“Pak Dewa, kalau begitu aku mau pulang sekarang boleh?” tanya Marisha yang sedari tadi hanya menyimak.
“Boleh. Terima kasih ya, sudah menemani Alya.”
“Sama-sama. Aku juga senang kok, main di sini.”
Marisha pun pulang diantarkan sopir keluarga Bima dengan membawa banyak oleh-oleh untuk anak panti.
“Ayah, yah …,” panggil Anna sesampai di rumah kegirangan.
“Ada apa Ann, sampai teriak-teriak begitu?” tanya Kanaya.
“Ayah mana Mah?” tanyanya seraya mencium punggung tangan Kanaya.
“Ada apa Ann?” tanya Bima yang mendadak muncul karena mendengar panggilan.
Anna segera meraih punggung tangan Bima seperti yang dilakukan kepada mamanya. Kemudian ia mengajak Bima sedikit menjauh dari Kanaya.
“Itu ide Ayah kan? Akhirnya aku bertemu dia,” ucapnya senang.
Bima memang sengaja meminta Ujang-sopir anak-anak untuk mengantarkan sesuatu ke komplek dimana Rangga tinggal. Kebetulan ayah Rangga adalah salah satu staff yang bekerja di perusahaannya. Jadi pertemuan mereka tidak terelakan.
“Iya, tapi Ayah tidak akan sering-sering melakukan hal seperti ini. Tidak baik,” tegasnya.
“Ya, aku juga paham. Lagipula kita masih bisa telponan dan chatingan. Bisa janjian juga untuk kete--,” Anna keceplosan.
“Ketemuan maksdunya? Boleh, Papa tidak melarang. Asal di hari libur, ada yang menemani, sudah mendapat izin dan bukan di sembarang tempat.”
“Iya, aku paham Yah.”
“Good!”
Anna dan Alya naik ke lantai dua di mana kamar, ruang belajar, dan ruang bermain mereka ada di sana. Sementara kamar utama Kanaya dan Bima ada di lantai satu.
“Kalian ngobrolin apa sih?”
“Eum, kepo.”
“Ih, baru saja dua hari jadi ayahnya sudah main rahasia-rahasiaan,” delik Kanaya.
“Mau tahu?”
“Ya, iyalah.”
“Yuk, saya kasih tahu di kamar.”
“Modus!”
Bima cengengesan mendengar tuduhan istrinya. Mereka pun gegas masuk kamar.
“Ya, sebaiknya mandi dulu apa anu dulu?”
“Anu apa, hah?” goda Kanaya sambil melingkarkan tangan ke tubuh suaminya.
“Eum, apa boleh saya minta lagi? Apa saya tidak keterlaluan?” tanya Bima ragu.
“Sebaiknya kita mandi bareng saja,” usul Kanaya.
“Hanya mandi atau ….?”
“Kita lihat saja nanti!” Kanaya melerai pelukan dan menarik tangan suami memasuki kamar mandi yang besar itu.
Di dalam kamar mandi mereka menyelami samudra cinta yang keempat kalinya. Kanaya mulai berani menunjukkan kelincahannya saat bermain.
“Istriku, besok-besok kita mandi bareng terus ya!” ajak Bima.
Kanaya hanya tersenyum lebar mendengar keinginan suaminya itu.
**
Di tempat berbeda pasca pernikahan terpaksa itu, Elang dan Kamila memang tinggal satu rumah sebagai suami istri. Namun hari yang dijalani Kamila amatlah menyedihkan. Betapa tidak sedikit pun suami tidak mau menganggapnya ada. Elang bersikap acuk dan angkuh.
Dengan sabar Kamila menyiapkan sarapan dan melakukan pekerjaan rumah lainnya. Sebenarnya Elang sengaja memberhentikan tukang bersih-bersih hanya untuk menyiksa Kamila. Jadi memiliki istri berasa babu, bukan ratu.
Malam ini Elang masih belum pulang juga ke apartemen. Kamila masih setia menunggu kedatangannya. Meski mengantuk, ia terus tahan. Akhirnya yang dinanti pulang juga dalam keadaan mabuk lagi. Sama seperti malam pertama mereka. Kamila ditinggal sendiri di apartemen, sementara Elang bersenang-senang di sebuah club malam.
“Mas, kenapa kamu mabuk lagi?”
“Diam kamu jal*ng!”
Sakit hati Kamila setiap mendengar suami memanggilnya ‘jalang’. Walau begitu ia tetap memapah Elang yang berjalan sempoyongan ke kamar.
“Mas istirahatlah. Jika ada yang kamu perlukan panggil saja aku,” pinta Kamila. Karena mereka memang tidur di kamar terpisah.
“Jangan pergi!” racau Elang sambil menarik tangannya.
“Baiklah, aku tetap di sini,” sahut Kamila senang.
Detik kemudian Elang mulai menci*m Kamila dan berlanjut ke yang lain-lain. Kamila tersenyum, lantaran akhirnya merasa diinginkan oleh suami. Akan tetapi senyumnya terampas begitu saja saat Elang terus meracau menyebutkan nama Kanaya. Lagi-lagi di luar kesadaran, ia dianggap sebagai kakaknya. Perih jenderal!
Buliran bening berjatuhan, Kamila hendak melepaskan diri dari cengkraman Elang. Namun sia-sia, karena lelakinya kini dalam keadaan sangat bernafs*.
“Ay, aku sangat mencintaimu. Oh Kanaya istriku ….”
**
Sebulan sudah pernikahan Bima dan Kanaya berjalan. Suasana pengantin baru masih menyelimuti mereka. Bima juga sudah menepati janjinya mengajak anak-anak jalan naik jet pribadi.
Hubungan keduanya kini sudah tidak malu-malu lagi. Bahkan sudah pandai saling mengekpresikan. Hari-hari Kanaya saat anaknya sekolah dan suami ngantor, ia habiskan di butik. Ia belajar banyak mode dan gaya yang selalu update. Sehingga penampilan Kanaya juga sangat modis dan lebih berkelas dari sebelumnya.
Di jam makan siang, Bima sering mendatangani istri untuk mengajak makan bersama atau sekadar melepas rasa kangen. Padahal berpisah baru hitungan jam. Ya, kehadiran Kanaya sekarang menjadi candu yang tidak bisa diobati selain bertemu langsung. Sama halnya dengan Kanaya, ia juga selalu merindu suaminya. Seperti hari ini, ia masih setia menunggu di jam makan siang.
“Istriku, maaf saya tidak bisa datang,” ucap Bima di sambungan telpon.
“Lho kenapa? Aku sudah menunggu lho.”
“Ini Pak Erwin tiba-tiba datang, sama anaknya lagi.”
“Apa, anaknya? Si Renata itu?” sentak Kanaya memastikan.
“Iya. Katanya mulai besok dia akan jadi sekretarisku.”
“Apa maksdunya?”
Bima tahu, istrinya pasti akan marah-marah lantaran cemburu. Akan tetapi Bima tetap memilih jujur dan bercerita. Daripada nanti dia tahu dari orang lain, justru akan menyebabkan kesalah pahaman yang lebih besar. Sebenarnya Bima juga sudah menolak mati-matian, tetapi Erwin terkesan memaksa. Bukan apa-apa, Renata dari awal sudah terlihat sekali menyukainya. Barusan pun, saat bersalaman, Renita sampai tidak mau lepas, erat menggenggam tangannya.
“Iya, ini saya lagi berusaha melobi beliau. Semoga Renata juga tidak terus kukuh kalau saya kasih alasan penolakan lagi.”
“Pokoknya tolak saja!”
“Iya. Kalau begitu sudah dulu ya, tidak enak meninggalkan Pak Erwin lama-lama di ruangan.”
“Nanti kalau sudah beres, cepetan datang ke sini!”
“Diusahan, tapi tidak janji. Soalnya sebentar lagi waktu rehat habis dan ada jadwal meeting dengan klien.”
“Serah, pokoknya aku menunggu.”
“Is--.”
Tut … Kanaya memutus sambungan sepihak.
Bima terus memberi alsan untuk menolak Renata jadi sekretarisnya, tetapi Erwin tampak lebih berkuasa untuk mematahkan alasan Bima.
“Saya tersinggung kamu menolak Renata. Putri saya ini lulusan terbaik di fakultasnya. Dia tentu sangat berkompeten jika menjadi sekretaris seorang dirut. Lagipula bukankah sekretarisnya sudah lama cuti karena sakit semakin parah. Sebentar lagi perusahaan akan memberhentikan dia. Saya ini pemilik perusahaan, jadi wajar kalau putri saya mau bergabung di perusahaan papanya. Apa ada yang salah?” tekan Erwin.
“Baik Pak. Nanti saya pertimbangkan kembali. Maaf sekali sepertinya waktu rehat akan segera habis dan saya juga ada meeting dengan klien.”
“Ok. Kalau begitu saya dan Renata pamit.”
Akhirnya Bima terlepas untuk sementara waktu. Ia bahkan belum sempat makan siang. Dilirknya arloji yang melingkar sudah menunjukkan pukul 12.50 WIB. Hanya tersisa waktu sepuluh menit. Ia membuka ponsel kembali, tadinya mau menelepon Kanaya lagi. Akan tetapi ia melihat story WA istri yang berupa fotonya sedang berdiri di balik jendela dengan caption ‘aku masih menunggumu’.
Tahu kalau status itu ditunjukkan kepadanya, Bima segera melesat ke butik tempat Kanaya berada. Sesampai di sana para pegawai menyapa dengan ramah, Bima tidak sempat membalasnya. Ia terus berjalan menuju ruangan Sang istri yang ada di lantai tiga. Lift dengan cepat membawanya ke sana.
Ceklek. Knop pintu ia putar dan Kanaya yang berada di dalam langsung menoleh.
“Bimbim?”
“Masih menunggu istriku?”
“Lama sekali.” Bibir Kanaya mengerucut.
“Ayo kita selesaikan secepatnya.”
Kanya terkejut dengan serangan mendadak suaminya itu, tetapi ia tetap senang dan bersemangat. Rasa cemburu yang sempat membakarnya tadi perlahan terlupakan sejenak. Bagi Bima hubungannya dengan istri bukan sekadar penyatuan, melainkan bisa membuat ia terlepas dari rasa tertekan ataupun mood buruk yang ia alami seperti beberapa menit yang lalu. Kanaya benar-benar mampu membuat ia tenang juga rileks. Kanaya-lah Sang penakluk hati seorang Bima Anggara.
Hubungan kilat itu berakhir dalam waktu lima menit. Ia segera membenahi diri karena harus secepatnya balik ke kantor. Jangan sampai klien menunggu lama di ruang meeting.
“Bim, aku masih kangen. Kamu kan Bos, bisa enggak sih suruh orang lains aja untuk gantikan meetingnya?” rengek Kanaya.
“Ini meeting penting istriku. Lagipula nanti kan di rumah kita bertemu lagi.”
“Tapi kan masih lama. Awas ya kalau menemui Si Renata di sana!”
“Ya enggaklah. Saya pergi dulu ya, cinta.”
“Ya udah, hati-hati.”
Tadinya saat bertemu, Kanaya ingin mencecar suami dengan banyak pertanyaan. Ia juga ingin memastikan bahwa Bima beanr-benar sudah menolak Renata untuk jadi sekretarisnya. Namun karena waktunya sangat singkat dan malah digunakan untuk bercinta, jadi rasa gondok dan penasarannya kembali hadir.
Terpaksa ia melepas suami pergi dengan berat hati. Rasanya sudah tidak sabar ingin segera bertemu di rumah nanti. Setelah suami keluar dari ruangannya, ia kembali duduk di meja kerja dan membuka laptopnya.
“Desainnya keren-keren,” gumam Kanaya saat melihat gambar desain gaun di layar laptop.
Ting, satu notip bunyi dari ponselnya. Segera ia meraih karena mengira itu dari Bima yang mengatakan kalauia baru sampai kantor. Biasanya memang begitu yang dilakukan suami. Memberi tahu hal apa saja kepada istri. Terlebih Kanaya sedikit posesif dan cemburuan. Padahal dulu kepada Elang, ia tidak sampai begitu. Wajarlah karena ternyata Bima banyak sekali wanita yang mengincar.
Diusapnya jendela chat dan seketika terbuka. Nomer anonim telah mengirimkannya sebuah foto dimana Bima sedang duduk berdua dengan Renata. Dalam foto tersebut, Bima memang terlihat biasa-biasa saja. Namun di mata seorang istri yang tengah cemburu, itu terasa sangat menyesakkan dada.
Kanaya mengatupkan bibir dan dua manik matanya mulai berembun.
***

Komentar Buku (253)

  • avatar
    PutriAtika

    bagus banger

    29/07/2025

      0
  • avatar
    MaulanaRina

    bgus

    26/07/2025

      0
  • avatar
    RohatiTiti

    bagus banget

    24/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru