Beranda/Salah Sebut Nama/
Bab 66 Bayi Mungil
Bab 66 Bayi Mungil
Kamila selalu berjuang sendirian di kehamilan trisemester akhir ini. Sebelumnya Mira selalu ada membantu. Sebetulnya sampai sekarang ibu kandungnya itu masih perhatian dan selalu menawarkan bantuan. Namun semenjak menikah dengan Elang, ia memutuskan untuk berhenti merepotkannya.
“Taka pa, Bu. Ada Mas Elang kok.” Selalu itu yang ia ucapkan.
Mira pikir Elang benar-benar menjaga calon cucunya, sehingga ia percaya saja. Kamila ingin terlihat baik-baik saja dan bahagia di mata ibunya. Terlalu gengsi jika harus memberitahu kenyataan kalau selama menikah tak ubahnya ia seperti babu. Tak ada yang namanya perhatian atau kasih sayang. Bahkan Elang tidak pernah menemani Kamila saat memeriksakan kandungannya.
Terus bersabar dan berharap semoga Elang bisa berubah serta menerima anak mereka. Bagaimanapun dulu pernah ada cinta yang mereka siram bersama dalam hubungan terlarang.
“Auw,” ringis Kamila kesakitan.
Rasa mulas yang ia rasakan semakin intens. Minggu ini memang hari perkiraan lahir calon bayinya. Dengan susah payah ia berdiri dari sofa menuju kamar untuk mengambil ponsel.
Tut … berulangkali kontak Elang ia panggil, tetapi tak kunjung diangkat. Elang sendiri sedang berada di sebuah club malam untuk menghempas penat seperti biasa. Akhir-akhir ini Beni terlalu menekan dan banyak permintaan.
Saat dirasa ponsel bergetar dalam saku, Elang hanya mengeluarkannya tanpa ingin mengangkat. Lantaran kontak Kamila yang muncul di layar membuat suasana hati semakin buruk.
“Paling suruh pulang,” gumamnya sambil melirik jarum jam di benda bulat yang melingkar setia di pergelangan tangan.
Pukul 22.00 wib., seharusnya Elang sudah pulang ke rumah dan siaga menjaga istri yang sedang hamil tua. Namun ia tidak mau tahu dan tidak peduli. Ia rasa dengan memberi Kamila uang bulanan saja sudah cukup. Toh, pernikahan ini sebuah keterpaksaan.
Kamila semakin gusar. Ini adalah pengalaman pertama menghadapi proses persalinan. Bingung, gugup, was-was, takut, lelah dan kesakitan bercampur menjadi satu. Buliran bening berjatuhan dari manik mata menemani rasa panik yang hinggap.
Ia pun menghubungi Mira pada akhirnya untuk menemani ke rumah sakit. Begitu ditelpon anaknya, Mira segera berangkat. Ia meminta agar Kamila juga segera berangkat dengan taksi onlen. Lantaran jika menunggu ibunya, dikhawatirkan Sang bayi keburu brojol. Sebab jarak yang membentang antara keduanya lumayan jauh. Jadi mereka akan bertemu di rumah sakit saja.
Sesampai di rumah sakit, Kamila segera ditangani oleh bidan dan dokter spesialis kandungan. Setelah melakukan pemeriksaan, ia langsung di bawa ke ruang khusus bersalin. Mira yang baru tiba terus menyemangati Kamila. Doa pun tak henti-henti dipanjatkan agar proses melahirkannya lancar dan bayi yang terlahir sempurna serta sehat.
Sebenarnya Mira ingin mencecar Kamila karena tidak mendapati Elang di saat penting seperti ini, tetapi diurungkan. Ia tidak mau menambah pikiran anaknya yang tengah berjuang dan kesakitan luar biasa. Dengan sabar Mira menemani proses demi prosesnya.
“Bu, tolong …,” lirih Kamila. “Sakiit!” teriaknya kemudian.
Menarik napas berulang-ulang agar bisa mengejan dengan kuat. Keringat sebesar biji jagung pun sudah mengalir dari sela anak rambutnya. Kamila merasa berada dalam hidup dan mati untuk bayi yang selama ini jadi sumber kekuatannya.
“Sekali lagi, tarik napas … dorong! Ya, ya, ya terus ….” Dokter terdengar mengomando.
“Oe, oe, oe,” suara bayi Kamila terdengar menangis begitu nyaringnya. Seketika plong yang dirasakannya.
Bayi mungil itu berjenis kelamin laki-laki dan langsung diserahkan kepada dokter spesialis anak sebab tampak mengalami sesak. Dokter mengatakan bayi terminum ketuban yang sudah tercampur dengan kotorannya. Setelah dipasang oksigen, keadaannya mulai membaik.
Kamila sudah dibawa ke ruangan pemulihan, sedangkan Mira mencoba menghubungi Elang. Akhirnya Elang mengangkat telpon dari mantan mertua yang kembali jadi mertuanya. Ia begitu terkejut saat mendengar bahwa Kamila sudah melahirkan. Ada rasa hangat menjalar ke hati yang selama ini dingin membeku.
Elang secepatnya segera mendatangi rumah sakit. Di temuinya Kamila di ruang inap yang tampak sudah terlelap karena kelelahan. Dia mendekati istri dan untuk pertama kali sepanjang menikah mengusap kepalanya dengan lembut. Kemudian ia juga melihat bayinya di ruang berbeda yang masih menggunakan bantuan selang oksigen.
“Nak, ini papa,” lirihnya.
**
Pagi mengganti malam. Keluarga Elang diberitahu. Meski Sanjaya dan Rosa tidak suka dengan pernikahan anaknya dengan Kamila, tetapi mereka tetap saja datang untuk melihat cucu barunya. Cucu laki-laki yang dinanti-nanti selama ini.
Begitupun dengan Kanaya yang baru saja dikabari oleh ibu sambungnya. Ia langsung memberitahukan kepada Bima.
“Suamiku, Kamila sudah lahiran. Bayinya laki-laki.”
“Oya, bagus dong. Apa mau mengunjunginya?”
“Iya. Bagaimanapun Kamila adalah adikku. Bayinya adalah adik biologis Anna dan Alya.”
Mereka pun bersiap-siap untuk ke rumah sakit. Anna dan Alya tentu saja mereka pada mau ikut. Mereka antusias ingin menemui adik bayi. Kehadiran Bima sebagai ayah sambung sudah berhasil membalut luka-luka kedua putri Kanaya. Mereka tak lagi begitu membenci Kamila dan Elang seperti sebelum Bima hadir.
~Rumah Sakit~
Sesampainya ternyata di sana memang sudah ada orang tua Elang, mantan mertua Kanaya. Suasana pun terasa menjadi canggung sebab budi keduanya tak hangat lagi. Rosa, mama-nya Elang sangat menyayangkan sekali atas keputusan Kanaya untuk bercerai. Padahal selama menjadi menantu, Rosa sangat menyayanginya seperti anak sendiri.
“Apa kabar Mah, Pah?” sapa Kanaya.
“Seperti yang kamu lihat, kami baik-baik saja,” delik Rosa.
“Syukurlah.”
“Om, tante, selamat ya atas kelahiran cucunya.” Bima menimpali.
“Iyalah. Akhirnya kami punya cucu laki-laki,” sahut Rosa jumawa.
Melihat suasana sedikit panas, Mira langsung menyela. “Nay, terima kasih lho sudah mau menjenguk.”
“Iya, Bu. Ini anak-anak tidak sabar mau melihat adek bayi.”
“Bayinya masih di ruang khusus. Semalam sempat sesak, tapi syukur sekarang sudah membaik.”
“Kenapa bisa sesak, Bu?”
Mira menjelaskan sesuai apa yang telah dokter sampaikan juga kepadanya semalam. Kanaya manggut-manggut sebagai tanda paham, sekaligus prihatin. Sementara Kamila sedari tadi hanya membisu. Ia tidak merespon kepada siapapun. Hanya terbaring lemah dan terlihat pikirannya kosong.
“Ya, itu Mila tidak apa-apa?” bisik Bima.
“Tidak tahu.”
“Mah, mana adek bayinya? Aku mau lihat,” rengek Alya.
“Adek bayinya ada di ruangan lain, Sayang,” sahut Elang tiba-tiba yang baru saja keluar dari kamar mandi ruangan.
“Papa, aku mau lihat adek bayi,” ulang Alya manja.
“Iya. Ayuk ikut Papa. Ann, kamu mau lihat juga?”
“Iya, Pah.” Anna menyahut cepat.
Anak-anak pergi ke ruangan bayi bersama papa-nya. Di sana mereka hanya bisa lihat lewat kaca yang menjadi pembatas antara penjenguk dengan Si bayi.
Setelah Anna dan Alya melihat, sekarang giliran Kanaya dan Bima yang ke sana. Namun tidak bersama Elang. Kanaya melihat gemas bayi Kamila yang sedang menggeliat itu.
“Bimbim, ih lucunya. Aku jadi mau.” Nada Kanaya so’ imut.
“Iya, nanti sepulang dari sini kita coba bikin lagi.”
“Ah, itumah modus. Dasar omes!”
“Kata Si Indra juga kan kita harus rajin.”
“Kita sudah rajin tahu.”
Baik Kanaya atau Bima dinyatakan cukup subur dan tidak memiliki masalah serius. Akan tetapi Kanaya memang belum diamanahkan Tuhan, benih yang tumbuh di rahimnya. Mungkin pernikahan juga baru seumur jagung, masih banyak waktu untuk bercocok tanam lagi dan lagi.
**
Satu hari kemudian.
“Tidak, tidak!” teriak Kamila histeris.
“Sabar Mila, sabar.” Mira terus berusaha menenangkan.
Sementara Elang luruh di lantai saat mendengar kabar duka yang baru saja dokter sampaikan. Bayinya yang baru berumur dua hari kembali diambil Tuhan untuk selamanya.
Kenapa Tuhan, Kau ambil anak lelakiku? Apa ini hukuman untukku? Batin Elang frustasi.
Bayi Kamila dan Elang dikebumikan di pemakaman umum dekat komplek rumah tinggal Mira. Selepas acara pemakanan, ba’da magrib, diadakan pengajian dan doa bersama di rumah Mira. Tetangga yang dulu mencemooh kelakuan Kamila kini berempati serta merasa iba. Namun masih ada saja yang justru menggunjing dan mengatakan bahwa itu adalah hukuman untuk pelakor tukang zina.
“Mana bayiku?” teriak Kamila tiba-tiba berlari dari kamar.
Ia berlari tidak tentu arah sampai melangkahi orang-orang yang sedang mengaji begitu saja.
“Mila,” panggil Mira dengan isak tangis. Sebagai ibu kandungnya, ia sungguh miris dan sedih melihat nasib Kamila.
“Hahaha ….” Detik kemudian Kamila berhenti di tengah kerumunan tetangga yang hadir dan tertawa sekerasnya.
Ditatap satu demi satu orang disekitarnya. Ia ambruk dan menangis kejer sampai meronta-ronta di atas karpet yang digelar. Tak ubahnya anak kecil yang meminta dibelikan eskrim, tetapi tidak diberi. Rambut panjang lurusnya pun awut-awutan.
Di ambang pintu kamar, Elang hanya bisa mematung dan menelan saliva. Ia tidak tahu harus berbuat apa? Setelah bayinya meninggal, ia dipenuhi penyesalan. Kenapa tidak bisa memperhatikan Kamila barang sedikit saja? Mungkin semua ini terjadi karena selama hamil, istrinya stress dan merasa tertekan. Inilah puncak dari rasa lelah dan kesakitannya itu.
Begitulah Elang menjalani hidup setelah tidak mensyukuri keharmonisan rumah tangganya dulu dengan Kanaya. Kufur nikmat membuat hidupnya dipenuhi rasa penyesalan tak berujung. Rasa penyesalan yang terus menghimpit dada hingga sesak.
“Kamila sudah gila kali, ya?” tetangga berbisik-bisik.
Mira membujuk putrinya itu agar mau masuk ke kamar lagi biar tidak menjadi tontonan para tetangga.
**
Berbeda dengan kehidupan Beni. Hidupnya dikendalikan oleh cinta buta. Cinta tak bersyarat yang ia berikan seumur hidup kepada Melinda. Cinta yang membuat ia terus semakin berambisi.
Semenjak Melinda seperti kerasukan sepulang dari rumah Wirawan, Beni sadar bahwa cinta istrinya untuk Bima tidak pernah pudar. Ia dibuat murka oleh kenyataan ini. Terlebih setelah banyak hal ia korbankan untuk wanitanya tersebut. Andai ia tak memiliki banyak harta, mungkin Melinda sudah lama mencampakkannya seperti ia mencampakkan Bima dulu. Melinda memang tidak tahu sebanyak apa harta yang sudah menjadi adik iparnya itu.
Semakin hari, Beni semakin serakah. Ia mulai membujuk Wirawan kembali untuk memasukkannya ke dalam perusahaan. Ia sungguh-sungguh belajar bisnis dan manajmen sampai sering menemui Bima hanya untuk konsultasi juga berguru. Tentu karena sekarang Bima memiliki banyak waktu luang, ia tidak keberatan untuk mengajarkan Beni tentang perusahaan papi mereka. Ia juga tidak menaruh kecurigaan apa-apa selain berpikir positif.
Berkat kesabaran Bima membingbing, akhirnya Beni yang sangat tidak berkompeten itu berubah jadi bisa diandalkan. Wirawan merasa bangga, lantaran sudah lama ia mengharapkan Beni benar-benar berubah menjadi mumpuni. Wirawan juga sangat senang sebab kedua anak lelakinya bisa tampak akur. Ia pikir bisa menikmati sisa umurnya dengan penuh kedamaian. Sekarang hanya kehadiran cucu dari Bima yang ia harapkan.
Wirawan pun membuat surat warisan yang ia percayakan kepada pengacara pribadinya. Takut sewaktu-waktu ia dipanggil untuk menghadap Tuhan, dirinya akan merasa tenang. Sebab harta peninggalan yang dikenal tidak akan habis sampai 7 turunan itu sudah ia bagi adil menurut versi pribadinya.
Wirawan merahasiakan surat warisan yang telah ia buat. Surat itu hanya akan disampaikan pengacara setelah dirinya meninggal nanti. Namun dengan tidak sengaja justru Beni mengetahuinya.
*** Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (253)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
bagus banger
29/07/2025
0bgus
26/07/2025
0bagus banget
24/07/2025
0Lihat Semua