Beranda/Salah Sebut Nama/
Bab 70 Yaya Marah
Bab 70 Yaya Marah
Bima menjemput Anna pulang sekolah. Sepanjang perjalanan ada yang dirasakan berbeda dalam diri Anna. Tak seperti biasanya mengoceh dan bercerita tentang harinya yang menyenangkan ataupun sebaliknya.
“Ann, kamu kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
“Tidak mau cerita sama Ayah?”
“Tidak.”
Suasana hening kembali sampai tiba di istina mereka. Kanaya sudah menyambut kepulangan putri sululungnya. Sementara Alya sudah lebih dahulu pulang.
Anna masuk rumah begitu saja tanpa salam. Bahkan mamanya yang di ambang pintu ia lewati begitu saja. Ia pun langsung naik ke lantai dua dan terdengar membanting pintu kamar.
“Bim, kenapa Anna?”
“Anna tidak mau cerita.”
“Apa Anna punya pacar?” selidik Bima. Meski mereka terbilang akrab, tetapi untuk urusan cinta, Anna enggan membagi kepada ayah sambungnya.
“Iya. Dia jadian sama anak yang bernama Rangga itu, lho.”
“Oh.”
Kanaya sudah paham, walau suaminya hanya bilang ‘oh’, ia pasti akan melakukan sesuatu.
“Aku mau temui Anna dulu, ya!”
“Iya. Saya juga mau pergi lagi. Dari tadi pengacara papi menghubungi terus.”
“Hati-hati di jalan.”
“Ok, cinta. Mmuah.” Bima memberi kecupan singkat di bibir istri.
Sekarang Kanaya sudah ada di kamar Anna untuk mencari tahu kenapa anak gadisnya bersikap demikian.
“Sayang, ada masalah?”
“Enggak.”
“Kamu nangis?” tanya Kanaya lantaran pipi Anna sembab.
“Enggak.”
“Apapun masalahnya, tapi sikap kamu tadi tidak baik, lho. Kalau kesal sama orang, jangan di bawa-bawa ke rumah.”
“Mama juga gitu, kalau kesal sama Ayah, kita suka kena omel.” Sakakmat Anna.
“Hadeuh, anak zaman sekarang kalau dibilangin ngeyel.”
“Emang kenyataannya begitu.”
“Iya-iya. Jadi mau cerita apa enggak nih?”
“Enggak.”
“Ok. Mama enggak maksa.”
Karakter Anna memang keras dan mudah ngambeuk. Sebagai orang tua, Kanaya harus menghadapinya dengan sabar. Dulu, Elanglah yang selalu bisa menaklukkan anaknya ini. Wajarlah, sebab darah lebih kental daripada air.
**
“Istriku, ada yang mau dibeli lagi tidak?”
“Beli apa? Aku bosen belanja terus.”
“Kok, sama jawabannya dengan anak-anak?”
“Ya iyalah suamiku, kamu tuh setiap hari nawarin ini itu. Gimana kita enggak bosan?”
“Habis ini uang udah dibelanjakan, udah dipake ini itu, udah dibagi-bagi, masih saja tebel.”
“Emang gitu kan kata pak ustadz juga. Kalau uang dipake untuk menyenangkan keluarga, terus dibagi-bagi sama yang membutuhkan, sama yang berhak, Tuhan akan menggantinya berlipat-lipat. Bahkan ada dalilnya, lho.”
“Apa tuh dalilnya?” tanya Bima.
“Aku lupa bunyi ayatnya. Tapi artinya kurang lebih seperti ini, seumpama kita menafkahkan harta di jalan Tuhan, itu serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir ada seratus biji. Jadi Tuhan melipatgandakan ganjarannya,” jelas Kanaya semangat.
“Wah, ternyata istriku sudah cantik, behenol, shalehah lagi,” puji Bima.
“Kamu ini. Aku ini lagi hamil, jadi harus melakukan kegiatan-kegiatan positif. Salah satunya, ya mendengarkan ceramah di TV. Saat ustadz bahas pahala sedekah, aku langsung teringat sama kamu.”
“Oh begitu. Ada ceramah tentang kewajiban istri kepada suami tidak?”
“Tentu saja ada. Itu ceramah hari kemarin.”
“Eum … jadi tahu dong, kalau istri itu wajib taat kepada suami.”
“Tahulah.”
“Terus tahu juga dong, istri itu dosa kalau menolak ajakan suami bercocok tanam.”
“Dih, emang pernah gitu aku nolak?”
“Pernah.”
“Kapan?”
“Waktu ngambeuk mau tahu daftar donasi Yayasan, terus waktu ngidam juga.”
“Ampun, punya suami pedendam banget. Masih ingat saja soal itu. Kan udah minta maaf dan masalahnya juga udah clear.” Bibir Kanaya mengerucut.
“Hehe … serius banget. Canda kali.”
“Ih, sejak kapan suka becanda?”
“Sejak nikah sama kamu.”
“Dasar! Oya, pengacara papi getol banget panggil kamu. Masih membahas soal warisan?”
“Ya begitulah.”
“Terus.”
“Ya sudah kelar, tapi malas.”
“Malas kenapa?”
“Saya sudah nyaman memiliki banyak waktu bersamamu.”
“Jangan bilang kamu disuruh ngurus Emba Grup lagi.”
“Hemm.”
Kanaya tepok jidat. Kalau sampai suaminya gabung lagi dengan perusahaan, waktunya pasti akan tersita. Namun mau bagaimana lagi, itu perusahaan sudah sah dan resmi diwariskan kepada Bima. Sementara Beni hanya mendapat saham 10% dan ia terntu akan terus mendekam di balik jeruji besi. Sebab hukuman seumur hidup sudah dijatuhkan hakim kepadanya dalam putusan sidang.
Elang sendiri masih bergabung di perusahaan. Semenjak Beni dipenjara, posisinya sebagai dirut aman. Ia juga sedikit demi sedikit bisa memperbaiki kekacauan yang ditinggalkan Beni. Akhirnya Elang bisa fokus memimpin perusahaan tanpa intimidasi atau tekanan apapun lagi. Kini yang ada dalam pikirannya hanya kerja, kerja dan kerja.
Setelah hidup dalam penyesalan, ia tidak mau terkukung tanpa memperbaiki diri. Statusnya yang masih sah sebagai suami dari Kamila dipertanggungjawabkan. Meski tak ada cinta dan pernikahannya terpakasa, ia tidak menceraikan istri dalam keadaan gila. Ia hanya akan menceraikan, apabila Kamila sudah waras dan dinayatakan sehat. Maka dari itu, Elang selalu rutin berkunjung ke rumah sakit jiwa dan terus membiayainya.
**
“Kamu, ngapain kamu ke sini?” tanya Anna dengan mata membola.
Ia sungguh tidak mengira kalau Rangga nekat datang ke rumahnya di hari libur.
“Ann, tamunya disuruh masuk saja,” pinta Kanaya.
“Enggak, Mah. Di sini saja,” tolak Anna. Ia mempersilahkan Rangga duduk di kursi kayu berukir yanga da di teras.
Kanaya memilih memperhatikan putri dan pacarnya dari jauh. Ia pura-pura sedang merawat tanaman dalam jarak 10 meter. Sepertinya ada yang sedang mereka obrolkan serius.
“Ann, kenapa chat aku enggak dibalas-balas? Telpon juga enggak diangkat.”
“Kan kita sudah putus.”
“Tapi aku mau kita balikan lagi.”
“Enak saja. Setelah kamu duakan aku dan memilih Si Jesi, kamu dengan mudahnya minta balikan?” nada Anna menghentak.
“Aku benar-benar menyesal. Ini semua karena Jesi menggoda aku terus.”
“Alah, bilang saja kalau Si Jesi sudah campakkan kamu dan memilih cowo lain.”
“Kamu kok tahu?”
“Tahulah.”
Anna sendiri masih bingung, entah siapa yang telah mengirimkan foto-foto Jesi dengan pacar barunya. Dari situ dia tahu, kenapa Rangga akhir-akhir ini gencar deketin dia lagi.
“Tapi aku serius mau balikan lagi.”
“Coba kalau Si Jesi enggak campakkan kamu, pasti kamu masih sama dia kan? Sorry, aku bukan rumah untuk kamu pulang.”
“Tapi Ann ….”
“Sana pulang!” usir Anna.
Sebetulnya dia masih menyukai Rangga, tetapi dia tidak akan sudi diperbudak cinta. Bagi Anna, kalau sudah kandas, ya kandas.
“Eh, ada tamu?” seru Bima yang baru sampai rumah.
“Om apa kabar?” sapa Rangga seraya mengulurkan tangan.
“Kabar Om baik,” balas Bima.
“Kebetulan Ayah pulang. Rangga, aku sudah ada janji dengan ayah mau pergi ke suatu tempat. Jadi baiknya kamu pulang sekarang,” usir Anna halus.
“Oh, baiklah kalau begitu. Om, saya permisi dulu. Ann, mari,” pamitnya.
Melihat sikap Anna kepada Rangga, Bima yakin kalau putri sambungnya tersebut belum mau memaafkan. Pasalnya Bima tahu, tangisan Anna tempo hari adalah ulah Rangga yang berselingkuh. Tentu sebagai ayah, ia tidak akan tinggal diam.
Setelah dapat informasi dari seseorang yang disuruhnya, Bima sengaja membuat Jesi mencampakkan Rangga, seperti Rangga mencampakkan Anna. Tidak akan dibiarkan seorang pun melukai keluarga seorang Bima Anggara.
“Sayang, memangnya kita mau pergi kemana?”
“Ayah tidak peka. Aku sengaja berbohong, agar Si Rangga cepat pulang.”
“Oh. Kok begitu?”
“Sudahlah, jangan dibahas. Ayah kepo!”
“Rangga pulang? Ada apa sebenarnya?” tanya Kanaya yang nimbrung.
“Ini lagi. Suami istri sama-sama kepo,” ejek Anna.
“Ya iyalah, kita kan sehati,” sahut Bima.
“Aku jadi iri. Pengen deh punya cowok kayak Ayah.”
“Nanti Ayah carikan.”
“Dih, awas jangan main jodoh-jodohkan!” ancam Anna.
“Haha ….” Kanaya dan Bima terbahak bersama.
Anna hanya geleng-geleng. Dalam hati ia sangat bersyukur dikirim Tuhan seorang ayah sambung yang selalu membuat mamanya tertawa lepas.
Semoga kalian langgeng sampai maut memisahkan. Doa Anna dalam hati.
**
Perut Kanaya kini sudah membesar. Usia kehamilannya yang menginjak delapan bulan membuat ia selalu gerah. Gerakannya juga sudah melamban karena beratnya kandungan. Malam hari juga sudah sering keram kalau ia bergerak secara tiba-tiba. Belum lagi tulang punggung yang kadang terasa panas dan sakit. Posisi tidur pun serba salah. Begitulah wanita hamil trisemester akhir. Makanya Kanaya semakin manja kepada suami.
“Ini kan sudah lewat magrib, Bim. Mau kemana lagi?” protes Kanaya yang melihat Bima sudah rapi lagi.
“Iya, ada masalah di BM Media.”
“Hadeuh!”
Kanaya sudah bosan mendengar urusan bisnis dan pekerjaan suaminya. Bagaimana tidak meski Bima tidak terjun langsung ke perusahan, tetap saja dia sibuk. Apa lagi semenjak mendapat warisan dari Wirawan. Sebetulnya bukan dari Wirawan, melainkan harta yang sudah seharusnya menjadi hak dia sebagai anak tunggal Hartawan.
Bisnis dan usaha yang diwariskan menambah panjang daftar kegiatannya. Mau tidak mau Bima harus mengurusi dan menyelesaikan jika ada masalah yang tak dapat dihandle oleh para bawahan. Alhasil waktu untuk keluarga semakin tersita.
“Tidak lama, kok. Hanya satu jam, Cinta.”
“Janji ya, hanya satu jam.”
“Tidak bisa janji juga.”
“Tuh kan.” Bibir Kanaya makin manyun saja saking kesal.
Pekerjaan yang bergejibun membuat Bima membagi fokus. Dia yang biasanya rajin mengajak istri bercocok tanam, sekarang jadi kebalikannya. Waktu dan pikiran yang tersita membuat Bima sering kelelahan. Tidak jarang sampai rumah, ia langsung tertidur pulas. Hati Kanaya dongkol dibuatnya. Padahal sudah menanti dan berdandan cetar untuk menggoda Sang Suami.
Tepat jam 12.00 malam, Bima terjaga dari tidurnya. Tak dipati Kanaya di sampingnya.
“Ya ….”
Panggilan Bima tak mendapat sahutan. Ia beringsut dari ranjang dan mulai mencari. Ruang demi ruang ia periksa untuk memastikan keberadaan istri. Namun Kanaya tak kunjung ditemukan.
Bima cemas dan panik. Dinyalakannya semua lampu penerang dalam rumah agar mempermudah pencarian. Setelah cek kamar Anna dan Alya, Kanaya juga tak ada jejak di sana. Rumah yang luas itu ia datangi setiap sudutnya dengan berlari hingga keringat bercucuran serta napas terengah.
Ia berhenti sejenak sambil mendinginkan pikiran. Dalam keadaan panik sering kali akal sehat tak jalan. Memorinya mencoba memindai waktu beberapa jam yang lalu saat ia baru pulang di jam 22.00 WIB.
Kanaya menyambutnya hangat seperti biasa. Usai membersihkan diri dengan guyuran rain shower yang hangat, badannya menajdi rileks. Rasa kantuk pun menyergap tak terelakan lagi. Padahal Kanaya sudah bersiap-siap menyiapkan kata untuk mengajaknya menyelami malam panjang.
“Bim, ayolah jangan dulu tidur.”
“Hem,” sahut Bima dengan mata yang kian rapat.
“Jagoan kamu, katanya mau ditengok,” dalih Kanaya.
Anak yang dikandung Kanaya memang diprediksi berjenis kelamin laki-laki.
“Ya,” sahutan Bima semakin pelan terdengar.
“Kalau kamu enggak bangun juga, aku pergi nih,” rajuk Kanaya.
Bima mendengarnya samar. Karena alam sadarnya mulai terbang, tetapi ia bisa mengingat jelas sekarang.
Apa Kanaya pergi gara-gara aku tidak bangun? Tanyanya dalam hati.
Ia sungguh menyesal karena tidak bisa melawan rasa kantuknya beberapa jam yang lalu. Akan tetapi, ia benar-benar tidak menyangka kalau istrinya serius dengan apa yang diucapkan.
“Yaya ….” Teriak Bima membelah malam.
Dihubungi lewat ponsel pun percuma, sebab ponsel Kanaya tergeletak begitu saja di nakas kamar. Bima waswas dan gamang mengingat istrinya itu tengah hamil besar. Kalau sampai terjadi hal yang tidak diinginkan, dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri.
*** Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (253)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
bagus banger
29/07/2025
0bgus
26/07/2025
0bagus banget
24/07/2025
0Lihat Semua