logo text

Cerita Milik Brian

Only You #29
( "Brian adalah kakak sahabatku, Sheila. Sejak pertama kali aku bertemu dengannya, aku sudah merasakan jika ia tak menyukaiku. Entah kenapa kadang kita membenci seseorang tanpa alasan yang jelas, dan Brian ini membenciku makin hari makin kuat. Bukannya aku berburuk sangka, hanya saja empati yang kumiliki sudah sering kali dijajah dan disiksa orang lain bahkan sejak aku masih dalam kandungan, sehingga preferensi amigdala di otakku selalu mengirim sinyal tanda-tanda ketika ada orang yang membenciku. Kekuatan yang tak seharusnya kubanggakan, karna prosesnya berarti mengalami trauma emosional yang mendalam." )
Kuraih tangan Brian, kugenggam erat-erat. Kali ini aku tak akan kabur, aku akan ada disini untuknya. Menemaninya mendengarkan prespektif milik Arjun.
( "Kukira, orang yang nampak normal mulai dari fisik sampai orientasi seksualnya benar-benar manusia normal yang sejati. Tak ada cacat fisik maupun secara mental. Lelaki jadi lelaki, wanita jadi wanita lalu menikah dan punya anak. Fisik mereka juga sempuran tak ada cacat secuilpun dan mereka lah yang pantas disebut normal. Sementara, jika terlahir berbeda sedikit saja! Maka itulah yang disebut tidak normal. Mulai perilaku hingga fisiknya disebut abnormal! Sakit! Dan perlu disembuhkan. Nyatanya ke-abnormalan manusia lebih luas daripada itu. Brian secara fisik sangatlah sempurna, rupanya dipahat bak pangeran negeri dongeng dengan kulit terang bercahaya, struktur tulangnya bagaikan para ksatria-ksatria perang membuat orang-orang pertama kali melihatnya akan terperdaya oleh pesonanya." )
Ini juga salah satu pemikiranku, 'kadang aku berpikir terlahir di keluarga yang salah.' Saking tidak miripnya aku dengan Brian.
( "Seperti kisah pemuda Narcissus, yang mencintai dirinya sendiri saking terpesonanya dia pada bayangannya sendiri. Brian pun juga begitu. Bahkan tak hanya narsistik, karna kesempurnaan miliknya mampu mengundang decak kagum orang lain. Brian juga seorang Autoseksual*, aku pernah memergoki dirinya menciumi diri sendiri di cermin. Bahkan pernah sekali, saat aku mau naik kelas satu SMA saat Sheila memintaku datang kerumahnya untuk membahas melanjutkan sekolah bareng bersama dia lagi, aku memergoki Brian sedang onani di depan cermin telanjang bulat sambil menjilati cermin yang dipenuhi gambar tubuh sempurnanya sendiri itu." )
Brian bergeming dalam tatapan kosong, pegangan tangannya mengendur. Bukan Arjun kalo ia tidak membuatku shock berat. Sekaget apapun informasi baru yang kudapat, aku sudah punya penawar untuk mengangkat efek shock saking tidak masuk akalnya semua hal yang pernah Arjun alami.
Tapi kali ini keberadaanku untuk Brian. Aku sudah berjanji jika saat ini, akan kukesampingkan kebencianku atas perbuatan Brian terhadap Arjun. Jadi, sekarang. Kucoba untuk tidak menghakimi Brian dan mensuport-nya meski aku tak menyangka jika Brian pernah melakukan hal aneh seperti yang Arjun ceritakan.
Kulepas earphone-ku, agar Brian punya privasi mendengar cerita Arjun.
Brian menarik tanganku lagi, "Tidak, kau boleh mendengarkannya. Aku tahu kau tak akan tertawa mengejekku. Aku ingin kau disini," pinta Brian.
Aku duduk kembali disampingnya, memeluknya sebentar untuk memberikan energi untuk kuat menghadapi ini.
( "Jika itu hari pertama kali aku melihat Brian, mungkin saja aku akan punya nafsu padanya karna seolah aku melihat malaikat sedang bercinta. Aku sudah terlalu sering melihat Brian, dan ketampanannya memudar seiring berjalannya waktu aku melihatnya. Mungkin perasaan yang sama yang dialami orang-orang kenapa mereka bahkan berani berselingkuh, padahal sudah memiliki pasangan yang sempurna! Pesona keindahan mereka seiring waktu memudar, membuat orang-orang terheran-heran kenapa orang bodoh itu meninggalkan pasangannya yang sudah sempurna itu. Sama dengan wajah Brian yang nampak biasa-biasa saja lama-lama, seperti orang kebanyakan di mataku." )
Kakek sering sekali mengkhianati nenek, padahal nenek adalah kembang desa. Nenek adalah gadis paling cantik sekampung saat ia muda dulu. Meskipun begitu kakek tak pernah mau melepaskan nenek. Tak peduli seberapa boajiengoanya kakek, tak peduli seberapa kuatnya nenek berusaha mengakhiri hubungan mereka, kakek tetap ingin mempertahankan nenek.
( "Hari dimana setelah Sheila menyatakan cinta, dan aku berani jujur padanya bahwa aku tak bisa menyukai wanita sebagai pasangan hidup, itu hari dimana semuanya berakhir bagi hubunganku dengan Sheila dan keluarganya selamanya. Brian memergokiku saat aku sedang berkencan dengan bule Jerman di Malang. Itu juga salah satu alasan kuat kenapa Brian melakukan "itu" padaku.")
Brian kali ini menatap ke arahku, memastikan apakah aku cukup kuat menghadapi kisah mengerikan ini dari sudut pandang Arjun. Aku siap! Tanpa mengucapkannya. Kamipun kembali mendengarkan.
( "Sheila mengirimkan pesan padaku, dari nada tulisannya, aku tahu jika itu bukan Sheila apa lagi tempat yang ia tunjukkan agar kami bertemu. Itu pasti Brian, dan aku tetap datang kesana untuk menemuinya. Sekalipun jika Brian menghajarku, mungkin aku pantas mendapatkannya setelah membuat hati Sheila patah hati. Saat aku tiba Brian sudah disana, di gudang kosong samping sekolahan. Awalnya dia seorang diri, lalu teman-temannya bermunculan setelah aku sampai. Aku hanya ingin minta maaf padanya, minta maaf pada Sheila dan seluruh keluarganya karna telah mengecewakan mereka. Terutama aku ingin minta maaf pada Brian, karna aku tahu jika dia sangat-sangat menyayangi adiknya. Belum sempat aku mengatakannya,..." )
Brian menundukkan kepalanya semakin kebawah.
( "...Brian dan teman-temannya mulai menyakitiku. Mereka menghajar tubuhku dengan berbagai pukulan, tendangan, sesekali mereka juga mengumpat ke arahku. Ketika Brian mengeluarkan ponselnya, ia menunjukan pada teman-temannya foto saat aku bersama teman Jermanku. Tak ada skandal di foto itu, hanya foto berdua biasa. Yang membuat teman-temannya Brian mulai bersorak mengumpat dan meludah ke arahku karna Brian mengompori soal foto itu. Mengatakan bahwa kami "'homo pembawa azab!'" Dan "'boolku habis ditusuk k#&7#! Gede'" milik si '"bule."' tak hanya sampai disitu, mereka mulai melepas celana mereka untuk mengencingi ku. Tubuhku yang sudah babak belur terasa sangat perih, ketika air najis itu mengalir membasahi seluruh tubuhku." )
Brian tak kuat mendengarkan-nya, punggungnya ikut naik turun seiring dada dan paru-parunya memompa udara sebanyak-banyaknya.
( "Tubuhku yang terlalu lemah untuk melawan saat itu hanya bisa pasrah. Aku tergeletak tak berdaya menunggu mereka ber-enam puas membully ku." )
Sengatan panas menyerang kedua mataku. Hatiku mulai teriris-iris kembali mendengarkan kebenaran ini untuk kedua kalinya.
( "Setelah mereka puas, kupikir semua ini telah berakhir. Brian ternyata kembali lagi kepadaku dan menyeret tubuhku masuk ke gudang kosong yang bau penuh debu. Brian melepas semua pakaianku tanpa merasa jijik dengan air kencingnya sendiri yang telah menempel di sekujur tubuhku, lalu ia mulai melepas celana dan sempakku." )
Rasanya benar-benar terasa teriris-iris hati ini, tidak hanya sebagai ungkapan perasaan belaka. Mirip ketika tanganku tak sengaja terkena pisau dapur saat memotong sayur atau bawang-bawangan. Bedanya rasa sakit di hatiku perihnya sampai ke ulu hati. Sakit menyesakan.
( "Aku tak tahu apa yang Brian akan lakukan terhadapku sampai akhirnya ia mengeluarkan sebuah mentimun. Ia mengolesi mentimun itu dengan air ludahnya. Menaruh mentimun yang ukurannya cukup besar itu ke pintu lubang anus ku. Timun itu dipaksanya supaya masuk ke dalam dengan hentakan kasar keras-keras. Otot-otot dinding anusku melawan sekuat tenaga sampai akhirnya tak mampu lagi menahannya. Mentimun itu masuk ke dalam anusku, membobol anusku hingga robek berdarah-darah." )
Aku tahu jika Brian sudah tak tahan lagi mendengar cerita Arjun. Aku langsung memeluknya, mencoba menguatkannya. "Kita hadapi bersama," bisikku padanya. Brian mulai terisak, tangisnya ikut-ikutan menyayat hati. "Maafkan aku," ucapnya dalam keadaan terguncang.
( "Aku pulang hari itu dalam keadaaan sudah mati. Tak hanya ragaku yang telah diperkosa, tapi jiwaku juga diperkosa. Tak ada yang tersisa dariku di hari itu." )
Rumah sakit terasa sepi, padahal rumah sakit ini dipenuhi mobil-mobil, motor-motor keluarga yang sedang menjenguk ke rumah sakit. Jumlah orang sakitnya pun tidak sedikit. Pegawai rumah sakitnya juga lumayan banyak. Aneh rasanya tempat ini terdengar begitu sunyi dan sepi.
( "Apakah gara-gara ini pada akhirnya aku benar-benar ingin memutuskan mengakhiri hidupku? Tidak juga. Bukan hanya Brian yang membenciku. Kebanyakan orang membenciku, dilecehkan begini mungkin orang-orang yang membenciku juga akan melakukannya jika mereka diberi kesempatan. Bagi mereka aku hanyalah makhluk pembawa sial, pembawa azab, tidak normal, aneh, menjijikkan dan bahkan pantas disiksa sampai mati. Tapi mereka lupa, jika diriku ini bahkan tak pernah ingin dilahirkan dengan keadaan begini." )
Suara kesedihan milik Brian satu-satunya suara yang bisa kudengar. Mungkin jika aku bukan adik kandung Brian, mungkin aku hanyalah netizen biasa di internet. Pasti sudah kukirim bom spam di DM medsos milik Brian, menyuruhnya mati saja.
Perbuatan Brian tak akan pernah kubenarkan. Aku mengutuknya, dan tak akan pernah memaafkan apa yang telah ia perbuat. Tapi rasanya aku mampu memaafkan dirinya, dirinya yang sekarang yang telah mengatakan kejujurannya dan mengakui kesalahannya.

Komentar Buku (82)

  • avatar
    AnwarSyamsul

    mantp

    19d

      0
  • avatar
    MR.pasukan KeCe

    sangat menyenangkan

    07/08

      0
  • avatar
    Nurul Huda

    serruuu

    16/09/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru