Only You #32 ( "Saat aku dilahirkan ke bumi, aku sama sekali tidak mengharapkannya. Kedua orang tuaku lah yang mengharapkan kelahiran ku. Saat aku lahir aku sudah dipilihkan beberapa pilihan dalam hidupku; misalnya pakaian, agama, sekolah juga tempat tinggal. Meski setelah dewasa nanti pada akhirnya aku bisa memilih, nyatanya ada satu hal yang tak akan pernah bisa ku pilih, cinta. Tentunya bagi sebagian besar manusia sangatlah mudah bagi mereka memilih cinta, tapi bagi makhluk aneh sepertiku sangatlah sulit." ) Ini bagian yang cukup sulit kudengar, memangnya gae itu alami? Aku juga penasaran sejak kapan Arjun menyadari dirinya gae. ("...aku terlahir menjadi lelaki, sudah seharusnya aku menyukai perempuan. Aku harus menyukai perempuan, membayangkan fantasi liar bersama perempuan, nantinya pacaran dengan perempuan lalu menikah dengan perempuan. Bagian tersulit dalam menjalani hidupku sebagai lelaki, aku tak punya nafsu pada perempuan. Jujur, ketika Allah menciptakan perempuan sebagai makhluk paling indah aku sama sekali tidak menyangkalnya. Tak hanya indah, perempuan juga sangatlah kuat. Contohnya ibuku, ia mampu mengurus anak yang banyak yang setiap hari membuat kepala tetangga-tetangga pada pusing mendengar suara teriakan dan tangisan kami tiap hari." ) Ada seekor burung Sri Bombok terbang melintasi bagian waduk di depanku. Burung Sri Bombok-nya berwarna hitam putih yang membuat bulunya terlihat sangat halus. Membuat ku ingin sekali menyentuhnya. ( "...aku punya sahabat yang sangat dekat bernama Sheila, dan aku mematahkan hatinya karna ku tolak cintanya. Aku tak bisa bohong! Dia sahabat ku, jika aku normal pasti aku bakalan mau jadi pacarnya. Kenapa aku harus terlahir begini? Aku sama sekali tak mau jadi begini. Saking keadaan ini membuat ku frustasi, aku hampir saja melakukan zina, aku berencana menyewa seorang PSK hanya untuk mengetes apakah ada kemungkinan aku bisa kembali normal atau tidak." ) Kau sudah tidak bisa membuatku kaget lagi Arjun. Aku sudah kebal dengan semua plot twist di setiap cerita mu. "Halah! Jangan bohong!" Cetus alter ego di dalam kepalaku.
Arjun memang tak pernah berhenti mengagetkan ku. ( "...untungnya aku tak melakukannya, aku tak ingin merendahkan martabat perempuan. Aku menyayangi ibuk dan adikku. Aku sudah mencoba berbagai cara agar diriku sembuh. Minum obat-obatan, menonton porno straight, melakukan olahraga maskulin, mendatangi pengajian lebih sering; aku berdoa, berdzikir, sholat lebih tepat waktu, doa sepertiga malam, tapi tetap saja perasaan ganjil itu masih ada." ) Kuhitung ada sekitar tujuh orang yang sedang memancing di ujung tepian waduk yang lain. Aku bertanya-tanya apakah para bapak-bapak itu pekerjaannya mancing? Dijual kemanakah ikannnya? Atau dimakan sendiri? ( "...aku mulai menyadari jika pengobatan seperti itu tidak berlaku padaku. Jadi aku mulai berani memasuki dunia pelangi saat usiaku lima belas tahun. Bukan untuk menjadi bagian komunitas ini. Meski aku menyukai sesama jenis, sebenarnya aku sangat membenci diriku sendiri juga komunitas pelangi. Aku mulai mencari informasi tentang dunia pelangi sebanyak-banyaknya. Dulu gae di masukan salah satu kategori penyakit mental sampai tahun 1992, ketika WHO mencabutnya dari daftar penyakit mental. Belanda jadi negara pertama yang melegalkan pernikahan sesama jenis. Aku menggali informasi lebih dalam lagi hingga terkadang aku tergiur untuk masuk kedalam dunia pelangi." ) ( "...setahun lamanya aku berjibaku mendalami dunia pelangi, mencari-cari sesuatu yang mungkin menggerakkan hatiku untuk menerima diriku apa adanya. Sayang aku sama sekali tidak menemukan hal itu. Di dunia dating Lagiebete yang kucoba, aku menemukan pola percakapan yang hampir sembilan puluh persen mirip, nanya "hai apa kabar," "ada dimana," "kamu top apa bot," "have fun yuk?" Sampai mengirimi gambar alat vital mereka sendiri. Serasa percakapannya cuma modal templat teks doang." ) ( "...Sampai suatu hari aku membuka aplikasi Badoo dari rekomendasi pasangan gae Filipina-Amerika. Akupun mencobanya. Di Badoo, aku sama sekali tak mengharapkan apapun, sampai aku menemukan beberapa cowok yang mungkin pantas diberi kesempatan. Bagian terdalam diriku bilang, "'aku ingin mati, tapi setidaknya aku ingin mencobanya satu kali saja.'" ) Ini akan jadi cerita yang berat bagiku. Alasannya, aku tak terima jika Arjun mencintai orang lain. Yang lebih menyakitkan, saingan ku bukan cewek berjilbab Sholehah atau gadis biasa-biasa saja yang suka memakai kacamata. Melainkan seorang cowok! Aku masih tak bisa menerimanya. ( "...aku memantapkan diri jika aku benar-benar ingin mencobanya satu kali saja dalam hidupku. Antara mati atau bertobat kupikirkan nanti. Cowok Badoo itu mengajakku berkencan ke kota, akupun menyanggupinya. Sehari sebelum pertemuan kami, aku tak sengaja mengklik mesin pencarian di aplikasi Badoo, dan aku diarahkan ke anggota yang berada luar negeri. Profil berbagai cowok bule muncul disana. Aku mencoba mengirimi beberapa dari mereka pesan, ada satu yang nyantol denganku. Ia bernama Walter." ) Ini dia, jantungku mulai memompa lebih cepat ketika mendengar kata Walter. Kupikir podcast kali ini membahasa bagaimana Arjun bisa jadi gae, ternyata podcast kali ini membahas Walter. Cowok yang telah menghancurkan hati Arjun berkeping-keping. ( "...saat aku pertama kali menemukan-nya usiaku masih enam belas menuju ke tujuh belas. Jarak usia kami terpaut sepuluh tahun. Meski aku masih di bawah umur, ternyata kimestri kami berjalan sangat mulus. Walter tak hanya berminat pada obrolan kami yang sangat asik, ia mulai menyukaiku. Sampai Walter mengatakan padaku jika ia akan datang ke Indonesia mengunjungiku." ) ( "...kami bertemu di bandara Soekarno-Hatta, lalu melanjutkan perjalanan ke Kediri dan menghabiskan liburan di Malang. Bertemu dengan Walter sedikit memberiku harapan mungkin saja aku bisa bahagia. Aku bisa menerima diriku sendiri. Mencintai hidup dan melanjutkannya tanpa penyesalan lagi. Hari kelima kencan kami adalah hari dimana aku mengorbankan segala-galanya untuknya. Aku melakukan salah satu dosa terbesar yang juga paling di laknati Allah." ) Aku tak mau mendengarkan bagian ini. Meski Arjun tak menjabarkan secara rinci, namun aku sakit saat mendengarnya. Rasa cemburu membakar seluruh tubuhku. ( "Sejak bertemu dengan Walter, aku mulai berani menyimpulkan jika menjadi gae tak hanya disebabkan oleh satu faktor saja. Ada banyak jenis gae, berdasarkan pengalaman ku sejauh ini menyelami dunia pelangi." "...Ada beberapa hal yang menyebabkan seseorang bisa jadi gae." "...Gae yang pertama sering disebut orang awam sebagai penyakit menular. Orang normal pun bisa menjadi gae karna tertular. Aku pun tak menyangkalnya, memang benar adanya. Sebenarnya jenis gae ini biasanya faktor trauma, fantasi seks yang liar, ataupun akibat pergaulan yang terlalu bebas. Bisa jadi yang awalnya normal pun mau melakukan hubungan sesama jenis---tapi hanya sekedar berhubungan seks, tidak terikat hubungan. Gae yang ini lebih besar presentasinya untuk bisa disembuhkan. " "...Gae yang lain jenis gae yang biasanya dialami lelaki yang pembawaannya kemayu. Sisi feminim dalam jiwanya lebih kuat, ikut menyebabkan ketertarikannya berubah. Mereka merasa seolah jiwanya membutuhkan kasih sayang seorang lelaki. Menginginkan belaian lelaki seperti perempuan. Gae yang ini lumayan sulit disembuhkan." "...Gae yang ketiga berdasarkan pengamatan ku, jenis paling langka. Ia bisa memanipulasi keadaan dirinya sampai sesama gae pun tak tahu jika ia gae. Sejenis biseksual, tapi yang ini lebih dominan menyukai lelaki. Gae jenis ini biasanya orang-orang perfeksionis yang tak ingin kehidupan pribadinya jadi konsumsi publik, tak peduli jika orientasi seksualnya menyimpang." "...Gae yang ini bersikap seperti lelaki seutuhnya; suaranya tetap maskulin, sikapnya seperti lelaki normal lainnya, hobinya, kegiatannya tak ada satupun yang berbau feminim. Bahkan ada yang menikah dan menjalani dua kehidupan sekaligus pulang kerumah istri maen serong dengan cowok dilain waktu. Banyak yang bilang kalo ciri-ciri cowok gae tidak bisa bermain bola, ini sama sekali tidak benar. Gae jenis ini pun jago maen bola." "...Gae yang jadi idaman para boty-botita." "...Walter jenis gae yang seperti ini, fisiknya, maskulin, suka bermain bola, sama sekali tidak melambai, membuatku tak berdaya dihadapannya. Kami pun memiliki komunikasi yang sangat baik." "...Meski begitu, dunia pelangi adalah dunia fana, tak ada kesetiaan yang seorang pun mampu melakukannya. Drama mulai bermunculan, puncaknya Walter sudah tak mau menghubungiku dan aku tak sengaja menemukan salah satu akun teman Instagramnya memosting dirinya telanjang yang tubuhnya di tutupi selimut putih. Pemuda itu selfi diatas ranjang milik Walter di Munchen sana." "...Aku tau ini akan terjadi, maksudku, meskipun aku sudah mempersiapkan diri menerima resiko jika dunia pelangi memanglah begini, aku tidak bisa. Aku terlalu mencintainya. Aku sangat mencintai Walter. Ia satu-satunya makhluk ciptaan Tuhan yang mau menerima ku apa adanya. Ia tak pernah sekalipun mengejekku, meski hanya candaan. Koneksi kami begitu kuat antara satu sama lain. Aku tak percaya itu semua berakhir. Walter pun benar-benar sudah tak peduli padaku ketika ku ceritakan apa yang telah terjadi padaku saat Brian memperkosaku, ia hanya mengucapkan kata maaf turut menyesal atas kejadian yang menimpaku." ) Walter si brengsek ini memang harus segera dihajar! Tak kusangka Arjun menceritakannya pada orang lain. Aku ikutan benci pada diriku sendiri, gara-gara aku terlalu baper sampai harus memusuhi Arjun hanya gara-gara dia menolak pernyataan cintaku, menyebabkan ia mengalami semua ini. ( "...Ditengah malam sehabis ujian nasional, aku kehilangan seluruh semangatku. Aku jadi zombie, punya raga tapi tak berjiwa. Kosong, tak berperasaan lagi. Ku kutuk diriku sendiri, ku ancam Allah kenapa ia menciptakan ku begini. Semua yang ku alami begitu pedih tak terkira. "Aku kan terlahir jadi muslim! Kenapa kau memberiku rasa menyukai sesama jenis jika Engkau! Mengecam perasaan itu!?" Meski aku menyadari jika ini adalah cobaan terberat yang harus aku jalani, dan jika aku berhasil melewatinya ganjaran yang besar sebagai gantinya. Mungkin saja aku bisa melewatinya, jika semua yang terjadi padaku tidak terjadi." ) Kau bilang jika aku sahabat terdekatmu Arjun. Memangnya kau tidak bisa merasakannya, kah? Jika cintaku sangat tulus padamu? Kenapa kau tak mau menceritakannya padaku? Apa kau tak pernah memperhitungkan ku? ( "...Aku mencoba memberi diriku satu kesempatan lagi, kesempatan untuk diriku menggagalkan rencana jahatku. Kudatangi gedung MUI dan kuberanikan diri mengungkapkan pengakuan atas dosa terbesarku. Aku datang tak hanya pada satu ulama saja, aku mendatang beberapa ulama besar Ormas Islam yang di akui negara. Jumlahnya ada tujuh, ormas Islam yang ku datangi, meminta bantuan mereka. ( "... Tiap-tiap ormas Islam memberiku nasehat banyak-banyak, memberiku penghakiman atas dosaku, juga taubat macam apa yang mereka sarankan untuk kujalani. Tak ada satupun dari nasehat mereka yang menentramkan jiwaku. Dari tempat perkumpulan ulama itu aku malah makin linglung, lelah selalu disalahkan. Bahkan sebagian besar dari para ulama itu melihat ku dengan pandangan jijik. Aku memang menjijikkan, karna itulah aku mencari tempat yang mau menerima dan menolongku dari tempat gelap ini." ) Sepanjang perjalanan dari waduk pulang ke rumah nenek, aku merenungkan kisah milik Arjun. Ia sudah berusaha semaksimal mungkin mencoba menyembuhkan dirinya sendiri. Tapi itu tidak akan pernah cukup! Kenapa Arjun tidak pernah minta tolong padaku? Aku orang terdekatnya. Sia-sia saja jika Arjun harus mengalami semua itu seorang diri, manusia tetap saling membutuhkan. Tugas orang terdekatnya membantunya, jika Arjun membutuhkan suport. Meski aku tak yakin jika Arjun memberitahukan semuanya padaku, maka akan membuat perbedaan antara hidup dan matinya. Aku mencoba optimis, meyakini jika Arjun menceritakan semuanya padaku, maka semuanya akan berakhir berbeda. Aku menginap dirumah nenek selama sehari penuh, lalu pulang kembali ke rumah untuk bersiap berangkat ke Jakarta. Brian tetap nekat ikut mengantarkanku ke Jakarta. Kami berdua naik travel kali ini, karna Brian tak suka lama-lama berkendara naik kereta. Brian merasa kebebasannya direnggut jika naik kereta. Aku lebih suka naik kereta sebenarnya, cuman kali ini memang sebaiknya aku mengalah. Kami di jemput mobil travel dengan sopir Pak Modin tetangga kami yang sudah terkenal bekerja di dunia private travel. Orangnya pendiam, cocoklah dengan kondisi hatiku saat ini. Tak perlu banyak bicara nantinya. "Pake jalan tol lebih cepat, jadi ga usah capek-capek naik kereta dua belas jam lamanya," kata Brian, mencoba menyakinkan ku sekali lagi. "Iya, iya," dengusku, masih sedikit dongkol. Kami mampir dulu ke rumah sakit menjenguk kakek. Ayah dan ibuk sudah ada dirumah sakit, sekalian aku pamit pada mereka. "Aku pamit dulu ya, kek," tuturku lembut ditelinga kakek. Ku cium kening kakek yang sangat dingin itu. Kakek terlihat semakin lemah dari hari ke hari. "Semoga sukses," bisik kakek. Kakek memberikan senyuman manis sebagai perpisahan sementara kami. "Semoga kakek cepet sembuh." Kukecup tangan kakek yang terasa dingin. "Dah sana berangkat," omel kakek, dengan nada penuh perhatian. Aku berpamitan dengan ayah dan ibuk. Mereka memelukku lama.... Sekali. Mereka sangat-sangat ingin ikut mengantarku, tapi mereka lebih memilih menemani kakek dan nenek disini. "Bakal kangen kalian," kataku. "Kami juga. Ga terasa ya, buk. Anak kita udah gede." Ayah memperhatikan ku masih belum yakin merelakan ku pergi. Kakek sudah memberi tahuku jika mereka berdua----kedua orangtuaku dinasehati kakek habis-habisan supaya berani membiarkan ku pergi ke Jerman. Berkat kakek, ibuk dan ayah akhirnya mengizinkan ku pergi. "Semoga betah kamu disana sayangku. Jaga diri baik-baik," pesan ibuk sambil memelukku sekali lagi. Rasanya aneh mau meninggalkan zona aman ini. Semuanya terasa sudah sempurna disini, bersama keluarga ku. Aku tak ingin pergi, tapi harus. Aku ingin disini saja, tapi aku tak akan dapat apa-apa. Hatiku hampir goyang, jikalau kakek tidak mengingatkanku dengan nasehatnya, aku harus berani mengambil jalan hidupku sendiri beserta resikonya. Kutinggalkan orang-orang yang ku cinta ini dengan perasaan ikhlas. ****** Aku kurang menikmati perjalanan kami ke Jakarta. Brian asik dengan gadget-nya sampai baterainya habis lalu dicas, tidur, bangun lalu dipake lagi gadget-nya sampai baterainya habis lagi. Begitulah siklus Brian selama perjalanan. Sementara diriku mencoba menikmati pemandangan meski hanya bisa melihatnya beberapa detik saja. Aku butuh 'me time' tanpa gadget, tanpa memikirkan Arjun, tanpa orang lain mencoba mengajakku mengobrol. Aku ingin menikmati kesendirian ini sebentar saja. Kami tiba di kamar menginap kami di Jakarta pukul sepuluh malam. Aku dan Brian langsung melanjutkan istirahat panjang selama sepuluh jam kedepan. Jam sebelas pagi, giliran kami mendapat jatah wawancara dengan pihak embassy Jerman. Mereka mulai sibuk menanyakan dokumen-dokumen serta alasanku pergi ke Jerman. Tak lupa aku harus membayar uang sebesar delapan ratus ribu dan harus menunggu beberapa hari lagi untuk pemeriksaan dokumen. Semua persiapan ini mendadak, pihak embassy kurang suka sebenarnya. Biasanya mereka butuh waktu minimal seminggu untuk mengecek dokumen sebelum menerbitkan Visa-nya. Sialnya, jika mereka menolak dokumenku, uang delapan ratusnya ikut lenyap. Maksimal mereka punya tiga hari sebelum tiket jutaan rupiah ikutan melayang, menguap tak bisa diambil lagi kalo mereka menolak ajuan kunjunganku. "Tenang saja, pasti mereka bakal menerima ajuan Visa-mu," ucap Brian dengan sangat yakin, setelah kami keluar dari gedung embassy. "Kenapa kau bisa seyakin itu?" Tangkas ku. "Aku tahu saja," ucapnya, dengan enteng. Brian memasukan kacang goreng kedalam mulutnya sambil lalu. "Mau kemana?" "Jalan-jalanlah, mau ikut?" "Ngga," jawabku langsung. Aku tak tertarik dengan tempat tujuan Brian. Paling museum motor atau mobil bekas jaman baheula. "Ya udah kalo gitu, kita nanti ketemuan aja pas dinner. Wa aja tempatnya. Bye!" Brian sudah kembali ceria, itu membuatku sedikit terganggu. Egoku ditempat lain, masih menginginkan Brian harus bersedih atas perbuatannya pada Arjun. Sementara egoku saat ini, ikutan senang ia mulai membaik. Aku memutuskan pergi ke perpustakaan Nasional RI dekat Monas saja. Seperti biasa aku naik ojek online menuju kesana. Gedung perpustakaan yang mewah, bersih dengan view salah satu terbaik di kota Jakarta membuatku langsung betah ketika pertama kali memasukinya. Aku masuk ke dalam perpustakaan bagian buku fiksi. Mencari-cari buku novel yang mungkin bakal Arjun sukai. Aku mengambil selfie dan beberapa foto yang menurutku cukup estetik yang nantinya bakal ku pos di Instagram. Kubawa beberapa buku yang menurutku bagus ke salah satu meja perpustakaan yang kosong. Kutata buku yang kuambil dan kucek satu persatu sambil kubaca bagian yang menarik. Aku kembali menyetel YouTube, mendengarkan podcast yang lain milik Arjun. Kuputar video ke delapan setelah earphone kesayanganku terpasang. Satu-satunya hal yang bisa kulakukan ketika mendengar pembuka isi videonya adalah, aku langsung mematikan videonya. Tubuhku kaku tak berani menggerakkannya. Isi podcast kali ini menyebut namaku. ( "...Sheila..." ) Suara Arjun ketika menyebut namaku terkesan horor, membuat seluruh kulitku merinding ketika Arjun menyebut-nyebut namaku.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
mantp
27d
0sangat menyenangkan
07/08
0serruuu
16/09/2025
0Lihat Semua