Only You #11 “Bisakah kau melakukan sesuatu untukku sekali lagi, Adrian?” Pintaku. “Apa?” “Tolong temukan pengguna nomor-nomor ini?” Aku menunjukan nomor-nomor luar negeri yang kutemukan tempo hari lalu di hape Arjun, “Gampang…” Adrian mengambil iPad milik Arjun dan membuka aplikasi skype. Adrian memasukan nomor-nomor itu satu persatu dan muncul para penggunanya. Terutama nomor Jerman yang paling Arjun sering hubungi. “Kenapa dengan nomor-nomor ini?” “Bukan apa-apa,” “Aku sudah memperingatkanmu Sahila.” “Namaku Sheila bukan Sahila.” “Terserahlah, pokoknya lebih baik kau akhiri saja pencarianmu ini. Biarkan temanmu tenang diatas sana.” “Kau kesini untuk membantuku, bukan untuk menghalangi jalanku,” protesku padanya. Adrian langsung diam tidak memprotes lagi. Pemilik nomor Jerman 4492 bernama Walter Wolfgang dengan foto profilnya yang cuma bergambar potongan kaos bertuliskan “I’m here what do you want.” Arjun menyembunyikan semua bekas chat dan entah dimana ia menaruhnya atau bagaimana cara membukanya. Aku tak ingin Adrian ikut campur lebih lanjut lagi. Mungkin cukup sampai disini perjalanan Adrian membantuku. “Terima kasih banget lho, atas semua bantuanmu.” Aku mengambil iPadnya dan mulai beres-beres. “Nanti aku yang bayar tagihannya,” imbuhku. “Ya, sama-sama.” Jawaban Adrian singkat dan suaranya terdengar seperti orang kecewa. Adrian tidak mencoba menghentikanku atau apa. Dia membiarkanku beres-beres dalam diam. “Aku saja yang bayar,” kataku lagi. “Ya, kau sudah bilang tadi. Hubungi aku jika kau butuh bantuan lagi,” pamitnya. Adrian pergi mendahuluiku. “Adrian,…” “Ya?” “Sekali lagi, trims. Makasih atas segalanya. Waktu dan usahamu.” “No problem.” Adrian melangkah pergi meninggalkanku. Aku memastikan Adrian sudah pergi lalu aku menuju konter bagian kasir dan membayar tagihan kami. Setelah itu aku pergi menuju ke kampus dekat Co-working space ini, kampus IKADO Surabaya. Aku berada di kampus selama dua jam untuk berbicara dengan salah satu senior kampun dan juga staff bagian adminitrasi. Setelah puas mendengar mereka mengoceh yang bahkan tak satupun masuk dalam kepalaku, karna aku hanya mengangguk-ngangguk saja setiap kali mereka bicara, aku pun kembali pulang dengan naik kereta lagi. Di dalam kereta, iPad milik Arjun bagaikan sebuah puzzle yang harus bisa kususun agara bisa kembali utuh. Di dalam iPad ini isinya lebih kompleks dibanding hapenya. Ada banyak sekali catatan dan foto-foto yang terlihat sangat asing penuh misteri. Aku membuka browser google-nya untuk mengecek hasil penelusuran namun tidak menemukan apa-apa. Lalu aku membuka browser bawaan produk apple, Safari. Sama dengan browser sebelumnya, tidak ada apa-apa disini. Mungkin Arjun memakai mode incognito, sehingga histori browser-nya tidak terekam. Jariku memencet tombol home, dan kembali ke catatan milik Arjun. Arjun menulis sesuatu disini namun Arjun memakai entah huruf dari negara mana aku tak tahu. Tak sekalipun tulisan ini pernah kulihat atau bahkan pernah ada di dunia. Apakah Arjun benar-benar menciptakan huruf-huruf tulisannya sendiri? Ada ribuan email yang masuk dan sama sekali tidak terbaca. Kubuka satu-satu dan melihat apakah ada petunjuk penting. Kebanyakan hanyalah notif dari facebook, marketplace semacam Lazada, Shopee sampai Tokopedia. Sisanya email berbahasa inggris yang ku tak tahu artinya. Sial! Aku sangat menyesal tidak mau meng-upgrade kemampuan bahasa inggrisku. Ternyata sepenting ini bahasa inggris. Aku membuka akun Shopee-nya dan mengecek histori belanjaan maupun keranjangnya. Disana aku menemukan beberapa barang yang telah dibeli Arjun. Ada beberapa buku novel; All The Bright Place karya Jennifer Niven, Gone Girl karya Gillian Flynn juga novel Thirteen Reason Why karya Jay Asher. Jari-jari kananku kembali sibuk membuka tap baru di Google dan mencari tahu tentang apa, buku-buku ini. Dan aku sama sekali tidak terkejut apa bila buku-buku ini membahas tentang bunuh diri. Bulu kudukku entah kenapa berdiri tiba-tiba. Aku tak bisa menebak sejak kapan Arjun sakit begini; sejak kapan ia memiliki keinginan untuk mengakhiri hidupnya? Aku mengirim Wa pada Adrian karna aku tahu aku sudah tidak punya lagi harapan, { apakah ada cara agar aku bisa melihat histori browser orang lain yang menggunakan mode incognito? } kukirim pesan ini dan tidak mengharapkan jika Adrian mau membantuku lagi. { apa ini masih terkait dengan iPad temanmu? } { ya, ini masih terkait dengan iPad Arjun } { sebenarnya aku telah menambah emailku pada iPad temanmu, jadi aku bisa masuk kesana tanpa perlu memakai iPad milik temanmu, ada akunku disana. Aku bisa masuk kapan saja } { bantu aku memulihkan hasil penelusuran di browser-nya } pintaku sekali lagi padanya. { oke. Tunggu sebentar } Dalam waktu sekitar sepuluh menit, Adrian mengirim pesan lagi padaku. Memberitahu jika ia sudah berhasil mengembalikan beberapa hasil penelusuran Arjun selama menggunakan iPad ini. Adrenalin mengalir diseluruh tubuhku, memberiku semangat yang menyala-nyala. Mataku fokus ke layar iPad milik Arjun dan menyelami setiap histori browser miliknya. Setelah penelusuran panjang akhirnya aku menemukan sesuatu yang penting. Sebuah website bernama Dignitas, salah satu tempat yang pernah Arjun kunjungi. Aku membuka tab baru dan mengetikan kata “Dignitas” disana, muncul dipencarian paling atas, artikel yang ditulis Merdeka dot com bahwa; “Dignitas merupakan organisasi nirlaba yang berdiri sejak tahun 1998. Penggagasnya adalah Ludwig Minelli, seorang pengacara asal Swiss. Dalam situs web mereka, Dignitas mengklaim kalau mereka mendukung pilihan manusia dalam memilih 'kehidupan dan akhir kehidupan' masing-masing.” Itu artinya ada orang gila di dunia ini yang melegalkan mencabut nyawa orang lain itu oke. Pikiranku jadi kalut. Tak bisa membaca pikiran Arjun lagi. Semakin aku mencoba membongkar rahasianya, semakin aku merasa tidak mengenalnya sama sekali. “Kau juga sama gilanya Arjun,” batinku. Kukuatkan hatiku agar bisa kembali menelusuri jejak-jejak kehidupan milik Arjun hingga tak terasa kereta yang kutumpangi sudah berhenti. Kami sudah tiba kembali ke Stasiun Kediri. Kututup iPad milik Arjun lalu mengikuti orang-orang ini untuk keluar dari dalam perut kereta. Hal yang kubenci dari Stasiun Kediri adalah, tempat ini sempit untuk salah satu stasiun teramai di Indonesia. Juga sama sekali tidak ada rest area bagi penumpang. Semua sudut di tempat ini sudah dipenuhi orang. Tak ada tempat untuk beristirahat sejenak. Aku memutuskan memanggil Grab saja dan pergi ke suatu tempat sebelum pulang. Supir Grab datang dan aku masuk ke dalam mobil Avanza warna putih kemudian langsung kubuka hapeku dan mengirim pesan ke kedua orang tuaku, { buk, yah, nanti aku pulang agak sorean, soalnya masih banyak yang harus diurus } semoga mereka percaya. Aku memutuskan pergi GraPARI Kediri sebentar memastikan aku tidak akan menemukan hal yang lebih mengerikan lagi di dalam iPad milik Arjun. “Semoga,” doaku.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
mantp
19d
0sangat menyenangkan
07/08
0serruuu
16/09/2025
0Lihat Semua