Adrian

Only You #10
Berangkat agak pagi-pagi membantuku agar bisa lebih siap menghadapi pertemuan ini. Mandi subuh-subuh, lalu sarapan telur rebus sama sop sisa tadi malam, sedikit dandan dan berangkat tanpa grusa-grusu. Ada tiga jadwal kereta menuju Surabaya dari Kediri, aku memilih jadwal pemberangkatan yang pukul 06.18 WIB dari stasiun Kediri.
“Hubungi ayah jika sudah sampai disana,” kata ayah, sesampainya kami tiba di Stasiun Kediri. Aku beralasan untuk melihat kampus-kampus di Surabaya supaya kedua orang tuaku memberi izin untuk pergi. Aku tidak sepenuhnya bohong karna jika masih ada waktu aku akan benar-benar mengecek salah satu Universitas disana.
Adrian, nama cowok yang menggunakan akun Nahkoda Dini. Sebenarnya aku tak percaya jika Adrian itu nama aslinya. Tapi aku menghormati privasinya, kerna memang rawan jika nanti kami memaksa membobol iPad milik Arjun. Aku yang mengajaknya bertemu di Surabaya dan Adrian mengusulkan tempat kami bisa bertatap muka. Ia memberiku sebuah tempat bernama “SUB Co, Co-Working Space” tempat kami nanti akan bertemu.
Aku membuka google maps dan mengecek tempatnya, berada di jl. Raya Darmo Harapan dan aku sangat bersyukur tempat itu dekat dengan Institut Informatika Indonesia (IKADO) Surabaya, jadi nanti aku bisa mampir dan tidak terlalu berdosa karna berbohong terutama pada ayah.
Setelah tiba di Stasiun Gubeng Surabaya, aku lanjut lagi naik Grab menuju tempat yang diusulkan Adrian. Kota Surabaya yang terkenal panas sudah menyambutku dengan ganasnya sang mentari, padahal ini masih pukul sembilan pagi. Semoga apapun tempat yang dipilih Adrian, disana ada Ac-nya. Kota ini benar-benar membuatku gerah.
“Mau kemana mbak?” Tanya supir Grab yang membutuhkan sepuluh menit untuk menemukan lokasiku.
“Mau ke SUB Co, Co-Working Space pak,” jawabku.
Ternyata tempatnya bagus, tempat SUB Co ini. Dengan tempat parkir yang luas, berada di dalam lingkaran sebuah komplek ketika aku mengeceknya di maps, dan tentu saja tempatnya modern dengan sedikit gaya rumah Belanda jaman dulu yang dicat warna putih bersih.
{ aku sudah sampai } aku mengirim whastapp pada Adrian. Entahlah orang-orang sudah mulai jarang menggunakan Line, padahal lebih asik daripada Wa. Adrian juga online di Wa-nya.
Butuh beberapa menit aku bengong diluar gedung sampai akhirnya Adrian membalas, { masuklah, aku sudah di dalam. Nanti ada meja besar warna hitam dan aku memakai hoddie warna oranye } balasnya.
Segera kedua langkah kakiku masuk ke dalam untuk mencari Adrian. Aku melengok ke kanan dan ke kiri masih sedikit orang didalam. Aroma kopi sangatlah kuat memenuhi ruangan. Kopi selalu membuat perutku kembung, aku kurang menyukai minuman berbau kopi. Teh lebih baik untukku.
Seorang pria yang kupluk hoddienya dipake hampir menutupi seluruh wajahnya melambaikan tangan ke arahku. Itu pasti Adrian, aku menghampirinya.
Adrian berdiri, “hai, apa kabar,” sapanya dengan suara ceria sambil mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan.
“Hai,” balasku, “aku baik.” Kujabat tangan kanannya yang ternyata lumayan besar. Tanganku terasa sangat kecil digenggamannya.
“Mau kopi?” Tawarnya.
“Boleh.” Entah kenapa aku ingin kopi saat ini. Aku butuh suntikan adrenalin. Aku pernah membaca buku jika alkohol memberikanmu adrenalin jika sedang membutuhkan dorongan agar berani. Karna usiaku dibawah umur dan mengingat reputasiku hancur gara-gara kakekku penjual alkohol, aku memutuskan akan membenci barang haram itu selamanya. Kopi, yang kubutuhkan kopi.
“Americano? Or Cappuccino?” Usulnya.
“Cappucino saja,” balasku.
“Oke, tunggu disini,” Adrian berdiri dan melangkah menuju konter, “oh, ya, mau sarapan?” Tanyanya lagi.
“Oh, ngga, kopi saja sudah cukup.”
“Kalo gitu, risol ya?” Tambahnya.
“Oke, risol kedengarannya oke juga,” jawabku agar ia tidak menanyaiku lebih lanjut lagi.
Kami saling ngobrol sebentar membicarakan diri kami masing-masing. Seperti sekolah, kuliah, pekerjaan. Setelah basa-basi kami lumayan cukup. Kami memutuskan masuk ke inti masalah kami, alasan kami bertemu. iPad Arjun.
“Jadi? Apakah kau bisa membuka sandinya? Sandinya hanya berupa enam angka sih. Tapi aku takut mencobanya. Takut jika ke blokir dan malah mengacaukan segalanya,” tuturku.
“Semoga saja bisa. Password homescreen tidak terlalu menyulitkan seperti—jika harus membuka file-file yang disandi. Biasanya mereka memakai sandi yang cukup kuat.” Adrian fokus dengan laptopnya dan sesekali melirikku.
Adrian ternyata berusia dua puluh delapan, S1 jurusan sastra, ia mendapatkan bakat komputernya dari kakaknya yang katanya sangat suka bermain Point Blank di warnet. Adrian tidak terlalu tertarik dengan game waktu ikut kakaknya ke warnet, jadi dia menghabiskan waktu ABG-nya di warnet belajar bahasa pemograman. Ia semakin gencar belajar bahasa pemograman ketika film Jerman tentang seorang hacker “Who Am I” rilis.
“Apa alasanmu belajar sastra? Jika kau memiliki bakat terpendam yang luar biasa ini? Mengutak-atik akun milik orang lain?” Mulutku tak bisa jauh-jauh dari rasa kepo.
“Identitas ganda. Tentu aku menggunakan skill-ku, dan ya! Karna aku tak ingin teman-temanku atau bahkan keluargaku menggunakan skill-ku hanya untuk mengembalikan akun facebook mereka yang kena phising, jadi aku memutuskan untuk jadi dua orang sekaligus dalam satu waktu. Aku bekerja di fotokopi sambil baca buku Enny Arrow sambil menunggu anak-anak SMA minta difotokopikan majalah pornonya. Malamnya aku begadang membongkar akun-akun orang kaya dan mengembalikan uangnya pada yang berhak,” jelasnya.
“Kedengarannya keren, seperti Robin Hood,” kataku dengan datar. Tidak terkesan dengan penjabaran tentang dirinya.
“Mana iPad temanmu itu?”
“Ada ditas, aku ambil dulu.” Aku merogoh iPad milik Arjun dan menyerahkannya, “Ini.”
Adrian mengambil iPadnya dan mulai mengutak-atiknya. Mencoba memasukkan kabel satu ke kabel satunya lagi. Wajahnya serius membuatku sadar dia membutuhkan ruangnya sendiri. Aku mengawasinya dalam diam.
Kadang terlintas aku ingin bertanya apakah Adrian sudah menikah? Atau setidaknya sudah punya pacar apa belum. Pori-porinya terbuka hampir diseluruh kulitnya, yang menyebabkan bulu-bulu halus tebal memenuhi tangannya. Wajahnya ditumbuhi jambang, jenggot dan kumis tipis yang kasar minta di cukur. Kulitnya sedikit kuning kecoklatan dengan bekas bopeng jerawat di pipinya. Maklum, dia bekerja di tempat fotokopian, sehingga jarang terkena sinar matahari.
Adrian melepas kupluk hoddienya dengan tergesa-gesa. Apakah panas? Tapi ac-nya menyala dan aku sedikit kedinginan sebenarnya karna memakai gaun musim panas yang kubeli di mall tahun lalu. Gaunnya masih bagus dan cocok dengan cuaca panas Surabaya. Itu membuatku lupa untuk berjaga-jaga membawa jaket jika nantinya tempatnya dingin ber-ac.
Aku melihat rambut Adrian hitam legam dan ada bekas semir rambut warna ungu di ujung rambut diatas mata kanannya. Rambutnya sangat tebal dan lurus. Adrian menggosok-gosok rambutnya yang sedikit gondrong itu, menyugarnya ke arah kiri agar terlihat rapi.
Waktu memikirkan Adrian, visual yang kutangkap adalah; dia ini koko-koko cina atau cowok SMA introvert yang menghabiskan sisa hidupnya di depan internet. Atau cowok-cowok nerd berkacamata dengan wajah sedikit aneh. Jika Adrian cowok tampan dengan setelan stylish maka rasanya kisah ini akan berakhir seperti kisah-kisah klise di Wattpad. Sayangnya tidak, Adrian yang ini, yang nyata, bukan Adrian yang ada di dalam bayanganku, dia terlihat sangat normal.
Wajahnya biasa, tidak juga jelek, tampilannya seperti anak kuliahan pada umumnya, sama sekali tidak ada satupun gambaran yang berada dikepalaku tervisualisasikan di kehidupan nyata tentang dirinya. Adrian terlihat sangatlah normal, dan itu malah sedikit menggangguku. Takut-takut aku dikira berkencan dengan Om-om.
Selama hampir empat jam lamanya Adrian bekerja dengan gawai-gawai canggihnya. Dua laptop, ada iPhone, iPad, kabel OTG USB, layar-layar monitor kecil dan juga keypad yang sering sekali Adrian mengetikan sesuatu disana.
“Berhasil!!!” Ucapnya dengan sangat girang. Aku yang sudah bosan setengah mati ikut terlonjak berdiri menghampirinya karna ikut senang.
“Kau beneran berhasil?” Tanyaku tidak percaya.
“Lihat.” Adrian memamerkan hasil kerja kerasnya. Ia menggeser aplikasi di dalam iPad tanda ia berhasil masuk membobol iPad Arjun, “sandinya ternyata 526493,” aku Adrian.
“Pantesan saja sulit. Itu random sekali… tidak berpola sandinya semacam tanggal lahirnya atau nomor teleponnya,” kataku.
“Tidak, kau tidak mengerti,” Adrian terdengar sangat bersemangat, “temanmu ini jenius! Angka-angka ini bersuara Sehila.”
“Sheila,…” aku mengkoreskinya.
“Password temanmu ini huruf vokal dan ada maksudnya.”
“Apa maksudmu?” Adrian benar-benar membuatku penasaran setengah mati.
“526493 itu berkata ‘Kamikaze!’” Lontar Adrian, sampai-sampai jigongnya ada yang ikut keluar, “kau tahu kan maksudnya Kamikaze?”
“Apa?” Aku benar-benar dibikin Adrian mati penasaran.
“Ya, ampun… kau ini kan sekolah sudah dua belas tahun lamanya….”
“Adrian…”
“Oke, oke. Kamikaze artinya pasukan bunuh diri Jepang! Temanmu ini benar-benar gila!” Tegas Adrian.
Aku hanya bisa menatap layar monitor-monitor yang berkedip-kedip itu. “Bagaimana kau tahu jika sandinya berarti Kamikaze? Siapa tahu jika itu cuma nomor biasa, nomor random tanpa Arjun bermaksud mengarah kesana.”
“Bisa jadi” tiba-tiba kegirangan Adrian berkurang, “tapi kau tahu tidak? Sebenarnya cuma butuh dua jam saja aku berhasil menyelesaikannya. Lalu sisanya aku sedikit membongkar isi iPadnya dan menemukan ini…”
Adrian memperlihatkanku sebuah catatan bertuliskan huruf asing yang tak pernah kulihat sebelumnya.
“Temanmu ini gendeng jenius! Dia menciptakan huruf-hurufnya sendiri agar orang lain tidak bisa membaca tulisannya. Aku berhasil mendapat beberapa petunjuk. Aku berhasil mengungkap beberapa huruf. Jadi kesimpulanku tentang kode passwordnya yang berarti Kamikaze tidaklah salah. Mungkin aku harus memperingatkanmu, Sahila. Mending kau jauh-jauh dari masalah yang ditimbulkan temanmu ini. Mungkin semua ini lebih daripada sekedar bullying saja. Temanmu ini bisa jadi terlibat dengan masalah yang lumayan kompleks. Aku sarankan, move on dan nikmatilah hidupmu. Kau masih muda dan cantik,” desak Adrian.
Aku sudah sejauh ini, aku tak akan mundur. Aku harus mengungkap semua misteri yang ditinggalkan Arjun kepadaku. Aku siap menerima semua resikonya. Karna semua yang kutahu, hanyalah kau, Arjun. Aku akan maju terus.

Komentar Buku (82)

  • avatar
    AnwarSyamsul

    mantp

    09/09

      0
  • avatar
    MR.pasukan KeCe

    sangat menyenangkan

    07/08

      0
  • avatar
    Nurul Huda

    serruuu

    16/09/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru