"Ponsel siapa sih itu yang bunyi? Berisik sekali tahu." Kesal Adrian seraya menutup kedua telinga sekaligus kepalanya dengan bantal, posisi tubuhnya masih berbaring menelungkup. Pada saat itu pula, Naomi menangkap wujud ponsel yang berderit minta diangkat berada di dekat lemari. Mana mungkin dia berjalan untuk mengambil ponsel tersebut dengan kondisinya sekarang, kan? "Itu ponsel kamu, Mas." Naomi berseru dengan muka cemberut. Nggak pasal-pasal, Adrian malah menuduh ponselnya yang berisik pagi-pagi. Menyebalkan. "Ponsel Saya?" Sontak Adrian berbalik, menajamkan telinga ke sumber suara, sebelum akhirnya ternampak olehnya bibir Naomi yang manyun menunjuk ke arah almari. Adrian pun mengikuti arah petunjuk Naomi, lalu mendengkus sebal. Memang ponselnya yang bergetar terus dari tadi. Siapa sih yang menelpon pagi-pagi begini? Adrian mengira masih pagi karena tak menyadari cahaya matahari sudah menembus masuk ke kamarnya. Astaga. "Kamu bisa ambilin ponsel Saya?" Cepat Naomi menggeleng, walaupun suara Adrian lebih terdengar seperti perintah, bukan pertanyaan. Masa bodoh. Kalau memang dia bisa jalan, pasti sudah dari tadi dia bangun mengambil ponsel tersebut dan mematikannya. Tak perlu menunggu diminta sang empunya ponsel. Heuh. "Aku lagi nggak bisa jalan, Mas," keluhnya seraya menunjuk sekujur tubuhnya yang kelelahan. "Nggak bisa jalan bagaimana? Kenapa?" tanya Adrian dengan tampang curiga seolah lupa dengan apa yang dia sendiri lakukan tadi malam pada Naomi. Naomi mendengkus sebal sebagai jawabannya. Suami macam apa Adrian ini? Masa hal begitu saja dia tak mengerti, harus dijelaskan dulu. Ya tidak mungkin juga Naomi bilang kalau dia tak bisa jalan karena Adrian terlalu bersemangat menungganginya tadi malam. Yang ada, bikin malu dia sendiri. Mas... Mas. Kamu kalau soal kerjaan aja pintarnya nomor satu, berintegritas, bertanggung jawab, seperti yang Tristan bilang. Tapi urusan memahami wanita, istri kamu sendiri, kamu nol besar. "Kenapa diam? Kamu itu kalau ditanya ya jawab. Jangan pakai kode-kode. Saya nggak paham." Kode? Ck. Paham pula Adrian soal kode. Dengan ekspresinya yang seperti sedang menahan sakit dan gerakan yang lemah menunjuk ke tubuhnya, Naomi ingin Adrian sadar kalau ia jadi begini itu akibat ulah siapa. Adrian sendiri, kan? "Kenapa? Jangan pakai kode. Saya nggak paham." "Ih, Mas, apaan sih? Nggak ada yang kode-kodein kok. Kamunya aja yang lamban mikirnya." Geram, akhirnya Naomi menyerocos mulutnya mengomeli Adrian. Memang, suaminya itu sesekali harus diomeli biar paham. Punya otak bagus tapi tak dimanfaatkan dengan baik. "Ya udah, kamu ambil aja sendiri ponselnya. Punya kaki sendiri kok. Entar keburu mati. Kali aja telpon penting." Ia pun membuang muka ke samping. Bukan tanpa alasan, Naomi tau pasti Adrian juga sedang dalam kondisi yang toples, mereka sama-sama toples. Karena setelah bagian panas semalam, baik Naomi maupun Adrian kelelahan dan langsung tertidur. Jadi, lebih baik Naomi pura-pura membuang muka ke arah lain saja, jika tak ingin matanya melihat yang tidak seharusnya dilihat di jam yang masih terbilang pagi begini. "Itu kenapa kamu buang muka? Kamu masih belum jawab pertanyaan Saya loh." "Ya udah lah, Mas. Anggap paham aja. Ambil ponselnya sana!" Naomi bicara seraya tangannya mengibas-ngibas udara kosong dengan maksud agar Adrian segera mengambil ponselnya. Dengan tanda tanya besar sampai kepalanya berdenyut nyeri, Adrian pun memilih mengambil ponselnya dan dibuat heran mendapati nama Zifanya sebagai yang menelpon, tapi panggilannya sudah berakhir, sehingga Adrian harus menelpon balik. Ada apa sampai sekretarisnya menelpon pagi sekali? Pagi? Melihat jam di ponselnya, lalu mendapati tubuh tegapnya sudah memiliki bayang dan apa ini? Kenapa pakaian dalam berserakan di lantai? Adrian terlambat menyadari. Jadi, yang tadi malam itu beneran? Bukan mimpi? Tentu Adrian cuma bicara dalam hati lalu menurunkan pandangan mengamati tubuhnya yang ternyata tak mengenakan sehelai benangpun. Bergegas, Adrian membawa tubuh polosnya menuju kamar mandi sebelum mukanya menebal karena menahan malu. Ya ampun. Dia mengutuk kebodohannya sendiri. Jadi, yang dibilang Naomi tidak bisa jalan itu karena ... "Halo Pak Adrian, bapak di mana? Kita ada meeting dengan klien dari Singapura jam 9.30 pagi ini, Pak." Suara Zifanya mengangkat panggilannya di seberang telpon, Adrian pun masuk dan menutup pintu mandi dengan ponsel menempel di telinga. Meeting? Jam 9.30? Mengecek jam digital dari ponselnya lalu mendapati angka 08.50, Adrian memijit pelipisnya yang berdenyut. Ia harus segera bersiap jika tak ingin terlambat bertemu klien. "Halo Pak Adrian, bapak masih di sana?" Suara Zifanya lagi. "Iya, Saya dalam perjalanan mau ke kantor kok." Bohong Adrian, lalu tanpa ba-bi-bu, dia menyegerakan mandi yang selesai dalam waktu tak lebih dari 5 menit. Adrian keluar dengan handuk yang melilit pinggangnya tanpa mempedulikan Naomi. Berdiri di depan cermin untuk mengecek kembali tampilannya, Adrian menyempatkan untuk melirik ke ranjang yang sama sekali belum dirapikan. "Saya tahu kamu berpura-pura tidur. Saya cuma mau bilang minta maaf soal yang tadi malam, mungkin Saya terlalu kasar sama kamu." Ya, saking kasarnya sampai Naomi tidak bisa berjalan untuk kedua kalinya. Di dalam selimut, Naomi memang sengaja berpura-pura kembali tidur. Dia tak berniat keluar dari persembunyian dan pergi mandi dengan tubuh yang tak memakai sehelai benang pun. Nanti saja, setelah Adrian berangkat kerja, baru dia membersihkan diri. ***
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (122)
Valda
kl update yang cepett ya soalnya cerita nya bagus bangetttt
kl update yang cepett ya soalnya cerita nya bagus bangetttt
08/05/2022
0bagusss cepetan lanjut😄
18/04/2022
4seru bangt
07/06
0Lihat Semua