Pov Author "Pak, kita gak bisa diam gini saja, Pak! Ludes semua harta kita kalau begini caranya!" gerutu Bu Ratna. Pak Bimo hanya diam mendengar ocehan istrinya sambil sesekali memijat pelipisnya. Setelah kepulangan Bu Erna dan rombongan, istrinya tidak berhenti mengoceh. Pak Bimo tidak tau harus melakukan apa lagi. Pikirannya benar-benar buntu. Daripada dia harus masuk penjara, biarlah hidup biasa saja. Tapi ocehan dan gerutu istrinya, Bu Ratna menambah beban pikirannya. Pak Bimo tau istrinya dan Dini memang tidak pernah hidup susah. Selama ini mereka sudah nyaman hidup bergelimang harta. Namun dia bisa apa. Harta yang mereka nikmati memang bukanlah hak mereka. Jadi wajar saja, jika sewaktu-waktu akan diambil pemiliknya. "Pak …denger gak Ibu ngomong?! Kok cuma diam saja dari kemarin! Usaha, Pak …usaha!" Kembali Bu Ratna mengoceh. Pak Bimo menghela napas kasar. Dia kemudian menatap istrinya yang tengah duduk di hadapannya itu. "Bu, Bapak bisa usaha apa? Ibu mau, Bapak masuk penjara? Sudahlah, Bu. Kita pasrah saja dengan keadaan. Toh kita masih ada sisa satu minimarket. Masih cukuplah untuk kebutuhan kita sehari-hari. Sama kebun yang Bapak beli dari menjual rumah sewa kan juga ada hasilnya. Yah …walaupun gak seperti biasa kita dapatnya tapi kan lumayan, Bu. Gak sampai buat kita miskin juga!" Pak Bimo mengambil kotak rokok di atas meja dan membukanya. Kemudian dia menyalakan sebatang rokok. Kebiasaan Pak Bimo, jika ada hal yang membuat pikirannya tak tenang, pelariannya adalah rokok. Bu Ratna bertambah manyun. Dia gak habis pikir dengan sikap suaminya itu. Bukankah selama ini suaminya selalu berusaha dan tidak pernah menyerah pada apapun juga. Tapi mengapa, masalah ini membuatnya pasrah dan tak berkutik. Bu Ratna tidak rela harta yang sudah susah payah didapat oleh suaminya harus diberikan kembali pada Bu Erna. "Iya memang kita tidak miskin, tapi apa kata orang, Pak?! Ibu gak bisa lagi bebas belanja dan arisan! Mau tarok di mana muka Ibu! Kalau Bapak gak bertindak, biar Ibu saja yang berusaha!" "Kamu mau lakukan apa, Bu? Jangan aneh-aneh! Sudah syukur Bapak tidak dilaporkan sama Mbak Erna! Kamu jangan nambah-nambah masalah!" tukas Pak Bimo. Dia tau istrinya itu suka nekad. Buktinya, dia bisa menyetujui ide gila Dini untuk berpura-pura kehilangan rahim demi bisa mendapatkan Bagas. Sekarang, apa jadinya. Dini dicerai oleh Imron. Dan keadaan Dini sekarang sedang tidak baik-baik saja. Bukankah lebih baik berfokus pada kesembuhan Dini, ini malah ngomongin harta melulu. Kadang Pak Bimo merasa, inilah mungkin akibat perbuatannya dimasa lalu. Merampas harta anak yatim. Dan sekarang anaknya sendiri jadi begini. "Ibu gak akan melakukan yang aneh-aneh, Pak! Ibu cuma mau minta bantuan Imron dan Ibunya agar menyuruh Wita membujuk mertuanya untuk tidak mengambil kembali harta yang ada pada kita. Toh, mereka juga sekarang sudah hidup enak. Untuk apalagi harta itu. Iya, kan?!" "Ibu …Ibu ya gak mungkin Imron mau, Bu! Dan Bapak juga yakin Wita adiknya gak akan mau bujuk mertuanya untuk merelakan harta tersebut untuk kita. Apalagi, setelah yang Dini perbuat pada Wita!" "Ya kan usaha dulu, Pak! Mana tau Imron luluh hatinya. Ibu akan bilang bahwa Dini butuh pengobatan dan biayanya tidak sedikit!" Pak Bimo hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia sama sekali tidak setuju usul istrinya tadi. Memohon-mohon agar Imron membantu mereka. Ah, rasanya juga tidak mungkin mereka mau membantu setelah apa yang terjadi. "Sudahlah, Pak! Biar Ibu coba ngomong dulu! Nanti kalau ini tidak berhasil Ibu pikirkan cara lain!" Bu Ratna berdiri dan melangkah menuju kamarnya. Kemudian mengambil gawainya yang berada di atas meja rias. Setelah itu dia kembali ke ruang tamu di mana Pak Bimo berada. Melihat suaminya yang hanya diam sambil merokok membuat Bu Ratna bertambah kesal. "Ibu mau nelpon Imron! Jadi Bapak cukup dengerin saja! Ini Ibu keluarin suaranya ya!" ujar Bu Ratna. Pak Bimo memutar bola matanya dengan malas. Dia merasa malu dengan usul istrinya itu. Bu Ratna kemudian menekan tombol di gawainya. Tak lama terdengar nada sambung. Cukup lama, sampai akhirnya panggilan terjawab. "Ha …halo assalamu'alaikum," Terdengar suara Imron menjawab. "Waalaikumsalam, Im. Ini Bu Ratna, Ibunya Dini." "Iya, Bu! Ada apa, Bu?" tanya Imron dengan nada bingung. "Im, maaf ya Ibu ganggu kamu! Ibu butuh bantuan kamu, Im!" "Bantuan …bantuan apa ya, Bu?" tanya Imron lagi. "Ibu minta bantuan agar kamu dan Mak Esah supaya menyuruh Wita membujuk mertuanya agar jangan mengambil harta yang sudah kami dapatkan itu, Im. Kamu kan tau, Dini lagi sakit dan butuh biaya yang tidak sedikit. Dia harus rutin ke psikiater untuk menyembuhkan traumanya. Jadi, Ibu mohon tolong Ibu ya!" pinta Bu Ratna. "Aduh …gimana ya Bu?! Saya sebenarnya gak ada hak untuk mencampuri hal itu. Karena itu bukan ranah saya lagi, Bu. Rasanya tidak pantas juga saya nyuruh Wita melakukan itu!" jawab Imron. "Kenapa tidak pantas?! Toh, Bagas dan Wita juga tidak kekurangan, kan? Untuk apalagi mereka harta itu! Ibu jelas-jelas membutuhkannya untuk pengobatan Dini!" Bu Ratna berkata dengan nada kesal. "Maaf, Bu! Kalau untuk masalah itu saya gak mau ikut campur! Maaf sekali, Bu. Untuk pengobatan Dini, biar nanti saya kirimkan sejumlah uang, mudah-mudahan bisa meringankan," jawab Imron. "Eh, Im! Kamu pikir saya ini pengemis apa?! Saya gak butuh uang kamu! Saya cuma mau harta kami itu balik lagi ke kami! Apa susahnya sih kamu tinggal bilang sama adikmu itu! Itukan hasil jerih payah suami saya. Kok jadi enak-enakan adik kamu yang menikmatinya!" Bu Ratna tak terima penolakan Imron. "Maaf ya, Bu! Saya juga gak anggep Ibu pengemis. Saya tulus mau bantu Dini. Kalau Ibu tidak terima ya gak papa. Tapi kalau untuk mencampuri soal itu, saya gak mau, Bu!" Kembali Imron menolak dengan tegas. "Dasar kamu! Ini juga terjadi kan gara-gara kamu! Seharusnya kamu bertanggung jawab! Dasar keluarga edan!" maki Bu Ratna. Dengan segera Pak Bimo merampas gawai di tangan Bu Ratna dan mematikan panggilan. "Kenapa Bapak matikan?! Ibu belum selesai bicara!" "Gak perlu! Malu-maluin! Minta tolong malah maki-maki! Kan sudah Bapak bilang dari awal gak usah, Ibu masih ngotot juga." Bu Ratna bertambah kesal dengan perkataan Pak Bimo. Dia belum puas rasanya memaki-maki Imron. Sok mau ngasih duit, berapa emangnya gaji sales, belagu banget batin Bu Ratna. Sementara, di tempat lain Imron merasa terkejut dengan makian Bu Ratna. Awalnya Bu Ratna berkata dengan lemah lembut. Setelah Imron menolak langsung memaki-maki. Imron menghela napas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Wes, Im gak usah dipikirkan. Keluarga yang edan itu ya mereka. Harta dapat merampas kok ya masih mau minta balik!" ujar Mak Esah. Memang sewaktu menerima panggilan tadi, Imron sempat bingung kok tiba-tiba Bu Ratna menghubunginya. Atas usul Abil, Imron mengeluarkan suara dari panggilan tersebut, sehingga Abil dan Mak Esah pun bisa mendengar semua perkataan Bu Ratna. "Iya, Im. Biar saja udah bener kok kamu jawab gitu tadi. Kan kamu udah niat mau bantu tadi. Bu Ratna aja yang gak punya etika," timpal Abil. "Ya sudah, yok kita jalan," ajak Imron akhirnya. Setelah bersalaman dengan Mak Esah mereka berdua masuk mobil dan kemudian melaju meninggalkan rumah. Sekilas sebelum masuk ke dalam rumah, Mak Esah seperti melihat mobil lain mengikuti Imron dan Abil. Tapi Mak Esah menepis semua itu. Mungkin hanya kebetulan saja. Mak Esah kemudian masuk ke dalam rumah.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
ceritanya ada banyak pelajaran yang bisa diambil
29/05/2022
0good
13/12/2024
0mantap.seru..
08/12/2024
0Lihat Semua