Bab 33.2

Nabila melirik jam yang tergantung di dinding. Sudah pukul setengah lima sore. Sebentar lagi waktunya pulang. Nabila mencoba menghubungi Hesti yang sekarang sedang berada di ruang packing.
"Ya, Bil! Ada apa?"
"Kamu masih di ruang packing?" tanya Nabila.
"Iya, kenapa?"
"Ntar mampir tolong temui Lastri, ya! Bilang dia nanti pulang tunggu aku!"
"Oh, oke ntar aku sampein!"
"Makasih ya, Hes!"
"Sama-sama!"
Panggilan diputus Nabila. Kemudian Nabila mematikan laptopnya. Kepalanya sedikit pusing. Dia tidak mengerti, hari ini bertubi-tubi kejadian menimpanya dan keluarga Mak Esah. Dimulai dari penggerebekan Bagas, Bu Leli yang melabrak dan sekarang pesan teror. Tapi entah kenapa hati Nabila merasa hanya dia yang mampu melakukannya. Apakah karena dendam dan sakit hati. Bukankah dia seharusnya bersyukur dia tidak dilaporkan karena menipu, kenapa dia harus berbuat sejauh ini.
Mungkin dia merasa iri kami saling menerima dan berbagi. Dia tidak ingin kami bahagia, pikir Nabila.
Ponselnya yang berada di dalam tas berbunyi. Segera diangkatnya panggilan tersebut.
"Halo, assalamu'alaikum!" jawab Nabila.
"Wa'alaikummussalam, Kak!" sahut Wita.
"Iya, Dek! Ada apa?" tanya Nabila.
"Kak, Wita cuma mau ngabari. Tadi Pak Ibrahim nelpon dan Wita udah cerita apa adanya. Dia katanya mau bantu dan punya bukti namun harus nunggu lusa karena dia nunggu adiknya datang bergantian menjaga orang tuanya yang sakit," jelas Wita.
"Syukurlah, walau harus menunggu dua hari lagi, yang penting udah ada titik terangnya!"
"Iya, Kak. Wita mau ngabari itu aja dulu!"
"Oke, Dek makasih ya!"
"Iya, Kak! Udah dulu ya, Kak, assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikummussalam," balas Wita.
Alhamdulillah ucap Nabila dalam hati. Semoga cepat selesai kasus Bagas ini. Jangan sampe berlarut-larut.
Nabila kembali menaruh ponselnya di dalam tas. Kemudian keluar dari ruangannya. Di lobi dia melihat Ical yang sedang menunggu sambil membaca majalah. Di hadapannya, Lastri yang celingukan melihat ke sekeliling. Ketika melihat Nabila dia langsung berdiri. Ical yang sedang membaca, menoleh ke arah Lastri yang berdiri menatap Nabila.
"Udah lama, Cal?" tanya Nabila.
"Gak, barusan aja! Tadi dari warung depan lumayan ada teman ngobrol!" *jawab Ical.
"Ya sudah kalau gitu, Lastri udah selesai kerjaannya?" Kini dia bertanya pada Lastri.
Lastri menganggukkan kepalanya kemudian menunduk lagi.
"Ya udah, pulang ikut bareng kakak, ya!"
"Iya, Kak! Nanti, Lastri ngikutin mobil Kakak dari belakang!"
"Oh iya ya, kamu tadi pake motor, lupa kakak!" ujar Nabila seraya menepuk jidatnya.
"Ayok keburu sore! Aku udah janji sama teman di rumahmu buat pasang alarm sama kunci tambahan," ucap Ical.
Nabila mengangguk, kemudian mereka bertiga keluar dari butik. Lastri dengan motornya mengikuti Nabila dan Ical yang berada di dalam mobil.
"Kamu kayaknya benar ya, Bil! ucap Ical sambil menyetir.
"Bener apaan?" tanya Nabila tak mengerti.
"Lastri berbeda dari ibunya. Anaknya gak cerewet malah terkesan pendiam. Tapi pas ketemu karyawan kamu yang lain dia ramah. Padahal dia baru, kan di sini. Seperti sudah bekerja lama kalau melihat sikapnya itu.
"Alhamdulillah kalau begitu! Tadi, Hesti juga bilang Lastri anaknya cekatan. Sekali dijelaskan langsung mengerti. Seperti telah bekerja lama. Yah, mudah-mudahan saja dia betah," harap Nabila.
Ical menganggukkan kepala mengiyakan ucapan Nabila. Sekitar setengah jam mereka sampai di rumah Nabila. Lastri menuntun motornya ke dalam garasi sesuai perintah Nabila.
"Cal, di mobil tadi ada koper Lastri, aku minta tolong bawakan ke dalam, ya!" pinta Nabila.
"Eh, gak usah, Kak! Biar Lastri aja. Bang buka bagasinya, Lastri aja yang ambil!" sela Lastri.
Ical menatap Lastri. Anak ini lumayan mandiri juga. Mirip sama almarhum Dinda, batin Ical. Dinda merupakan adik Ical satu-satunya yang meninggal karena kecelakaan. Ical melihat sosok Dinda ada pada diri Lastri.
Lastri yang ditatap seperti itu merasa tidak enak hati.
Kenapa pula Bang Ical bersikap begitu, batin Lastri.
Ical membuka bagasi mobil, kemudian dengan cekatan menarik koper yang ada di dalamnya.
"Sudah, biar abang saja!" elak Ical.
Lastri berusaha menahan kopernya.
"Bang, biar Lastri saja, Bang! Gak papa, kok! Abang istirahat saja!"
"Udah, kamu masuk saja!" perintah Ical.
Nabila muncul di ambang pintu. Dia menggelengkan kepalanya melihat mereka saling berdebat.
"Sampai kapan kalian mau berdebat di sana! Lastri, biar Bang Ical yang bawa! Kamu masuk dulu!" titah Nabila.
Lastri pasrah kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Dia mengikuti Nabila.
"Lastri, ini kamar kamu, ya!" Maaf ya, seadanya. Lastri mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar.
"Kak, ini malah terlalu bagus buat Lastri!"
"Ah, kamu bisa aja! Ya udah kalau kamu bersih-bersih dulu. Kamar mandinya udah ada di dalam," jelas Nabila.
"Kak, makasih banyak ya! Udah nerima Lastri dan memberikan pekerjaan. Gak tau apa jadinya kalau Lastri gak ketemu sama Kakak!" ucap Lastri lirih.
"Udah, gak usah kamu pikirin! Kakak ikhlas membantu!" Nabila menepuk pundak Lastri seraya tersenyum. Kemudian ditinggalkannya Lastri yang masih berdiri di depan pintu.
Nabila menuju dapur membuatkan segelas kopi untuk Ical, dan teh untuk dia dan Lastri.
Tak lama muncul Ical seraya membawa koper. Lastri menerimanya dan berkali-kali mengucapkan Terima kasih.
"Ini kopi untuk aku, kan Bil?" Ical duduk di kursi makan.
"Iya, untuk kamu! Udah datang, ya teman kamu itu?" tanya Nabila.
"Lagi di depan, masang alarm dulu," jawab Ical.
"Mau dibuatkan kopi atau teh teman kamu itu?" tawar Nabila.
"Gak usah, tadi udah aku kasih air mineral."
"Ya udah, aku bersih-bersih dulu, ya! Kamu yang nungguin teman kamu itu"
"Sip!" jawab Ical seraya mengacungkan jari jempol.
***
Sudah tiga hari Bagas ditahan. Pak Ibrahim belum memberi kabar juga. Wita sudah gelisah dari pagi tadi. Mencoba menelpon Pak Ibrahim namun nomornya di luar jangkauan. Ya Allah, apa Pak Ibrahim ngebohongin kami, ya. Tapi, rasanya gak mungkin dia begitu tega. Pikiran buruk berdatangan dalam pikiran Wita.
Tiba-tiba dari arah luar, terdengar suara teriakan. Wita heran apa gerangan yang terjadi. Wita dan Mak Esah segera menuju ke depan disusul Gilang dan Bu Erna yang baru saja sampe pagi tadi.
"Ada apa ini?" tanya Mak Esak kebingungan. Terlihat sebagian warga berkumpul di depan rumahnya.
"Jangan pura-pura tidak tau, Mak Esah! Sampe hari ini, Bagas belum juga dibebaskan! Kami tidak mau menerima keluarga pemerkosa seperti kalian. Anak-anak kami bisa jadi korban. Kaml ingin ketenangan seperti dahulu!" Bu Leli berkoar-koar.
"Maaf, Ibu-ibu dan Bapak! Bagas bukannya tidak dibebaskan, tapi kami masih menunggu!"
"Menunggu apalagi? Kami maunya Mak dan keluarga pindah dari sini. Meresahkan!!!!"
Wita menatap tajam pada Bu Leli. Bisa-bisanya dia yang menghasut semua warga disini.

Komentar Buku (63)

  • avatar
    Diyanatum Mufidah

    ceritanya ada banyak pelajaran yang bisa diambil

    29/05/2022

      0
  • avatar
    LiaYul

    good

    13/12/2024

      0
  • avatar
    MarlinaErlin

    mantap.seru..

    08/12/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru