"Zahrana, tunggu!" Zafran keluar dari mobil dan mengejar Zahrana yang pergi meninggalkannya. Dia lantas berdiri di depan Zahrana dan menatap wanita itu dalam-dalam. "Maafkan aku! Aku tidak bermaksud membuatmu marah. Zahrana, tolong dengar penjelasanku!" "Penjelasan apa? Apa kamu juga berpikir kalau aku ini wanita rendahan? Aku masih menjadi istri Keenan walau dia telah mengatakan cerai. Apa pantas bagimu mengucapkan hal itu padaku?" Zahrana terlihat marah dan berjalan meninggalkan Zafran yang masih mengikutinya, hingga tiba-tiba langkahnya terhenti. Zahrana menunduk menahan rasa sakit yang sejenak membuatnya meringis. Melihat Zahrana kesakitan, Zafran lantas menggendongnya dan membawanya ke dalam mobil. Zahrana yang mencoba menolak, tiba bisa berbuat apa-apa karena sakitnya kian menjadi. Zafran lantas membawa Zahrana ke rumah sakit. Melihat kondisi Zahrana yang menahan sakit membuat lelaki itu tak tega. "Bertahanlah, aku mohon," ucap Zafran sambil menggenggam tangan Zahrana. Setibanya di rumah sakit, Zahrana lantas dibawa ke ruang IGD. Zafran menunggu dengan cemas di depan ruangan itu. Dia terlihat mondar mandir seakan takut terjadi sesuatu yang buruk pada Zahrana dan juga bayi yang dikandungnya. Pintu ruang IGD terbuka. Zahrana terbaring di atas brankar dan dibawa menuju ruang perawatan. Sementara dokter yang memeriksa Zahrana lantas menemui Zafran. "Untung Bapak cepat membawa istri Bapak ke rumah sakit. Terlambat sedikit saja, Bapak bisa saja kehilangan bayinya," jelas dokter yang mengira kalau Zafran adalah suami dari pasiennya itu. "Apa yang terjadi padanya, Dok?" "Istri Bapak sepertinya mengalami tekanan dan itu berpengaruh pada janinnya. Saran saya, jaga istri Bapak dan jangan biarkan dia sendirian. Masa hamil muda seperti ini sangat rentan dengan stres. Emosinya bisa berubah-ubah. Karena itu, sediakan waktu untuknya karena seorang wanita yang sedang hamil sangat membutuhkan perhatian dari suaminya," jelas dokter itu panjang lebar. Setelah menjelaskan semuanya, dokter itu kemudian pergi. Sementara Zafran bergegas menuju ruang perawatan di mana Zahrana dirawat. Melihat Zahrana yang terbaring lemah, Zafran menunduk sedih. Dia lalu menatap wajah Zahrana seraya menggenggam tangannya. "Zahrana, tidak bisakah aku ada di sisimu untuk menjagamu dan juga bayimu? Aku sadar, aku bukan siapa-siapa, tapi aku tidak bisa membiarkanmu hidup seperti ini!" batin Zafran sedih. Zafran menitikkan air mata. Dia tidak peduli dengan status Zahrana yang saat ini masih menjadi istri Keenan walau lelaki itu telah mengucapkan kata cerai. Dia tidak peduli pada keadaan Zahrana yang saat ini tengah mengandung walau itu bukanlah anaknya. Yang dia pedulikan hanyalah Zahrana yang selama ini dicintainya dalam diam. "Andai dari awal aku tahu kamu akan bernasib seperti ini, aku tidak akan meninggalkanmu. Aku tidak peduli walau kamu akan membenciku seumur hidup asalkan kamu tidak disakiti seperti ini!" Zafran mengepal. Dia begitu marah pada Keenan dan keluarganya yang telah memperlakukan Zahrana dengan sangat keji. Dia marah karena mereka tidak memedulikan keadaan Zahrana yang saat ini tengah mengandung penerus keluarga mereka. Tanpa Zafran sadari, Zahrana mendengar apa yang diucapkannya. Zahrana masih memejamkan mata walau air mata tidak bisa dia tahan. Dia tidak menyangka, lelaki yang dianggapnya bajingan dan berengsek ternyata sangat perhatian padanya. Perlahan, Zahrana membuka mata dan menatap Zafran yang seketika menghapus air matanya. "Jangan khawatir, bayimu baik-baik saja. Istirahatlah dan jangan pikirkan apa pun. Pikirkanlah dirimu dan juga bayimu," ucap Zafran sembari tersenyum. Zahrana terdiam dan air matanya kembali jatuh. Andai saja saat ini lelaki itu adalah Keenan, dia pasti sangat bahagia. Namun, itu tidak akan pernah terjadi. Keenan telah membencinya karena perbuatan yang sama sekali tidak dilakukannya. "Kenapa kamu tidak bertanya tentang foto-foto itu? Apa kamu tidak penasaran kenapa aku bisa foto bersama lelaki lain?" tanya Zahrana yang kini menatap Zafran lekat. "Aku tahu siapa dirimu. Aku tahu tabiatmu walau kita bertemu dalam keadaan yang salah. Wanita yang rela melukai dirinya karena tidak ingin ternoda tidak mungkin melakukan hal seperti di dalam foto itu. Apalagi dalam keadaan dirimu yang saat ini tengah mengandung. Apa kamu pikir aku akan percaya begitu saja dengan foto-foto itu?" Zahrana tersenyum dan tanpa sadar air matanya kembali jatuh. Ya, Zafran tahu siapa dirinya. Pertemuan mereka di masa lalu yang tidak mengenakkan membuat Zahrana membencinya, tetapi tidak bagi Zafran yang begitu kagum dengan pendirian Zahrana yang rela terluka asalkan dia tidak ternoda. Zahrana masih menatap lekat ke arah Zafran. "Dia telah berubah. Tatapan matanya tidak seperti dulu lagi," batin Zahrana sambil mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Zahrana kini memikirkan nasibnya. Dia tidak punya siapa-siapa lagi. Dia tidak mungkin kembali ke desa dengan keadaan seperti itu. Lagi pula, dia sudah tidak punya rumah untuk kembali. Zahrana perlahan mengelus perutnya dan menangis karena memikirkan nasib anaknya kelak. Dia menangis karena tidak tahu harus melakukan apa. "Aku tidak akan meninggalkanmu. Tinggallah di rumahku hingga bayimu lahir. Aku akan menjaga kalian hingga kamu mampu untuk berdiri sendiri. Bangkitlah dan tunjukkan pada mereka kalau kamu bukan wanita lemah." Ucapan Zafran tidak main-main. Dia terlihat serius dengan ucapannya itu hingga membuat Zahrana kembali menangis. "Zahrana, izinkan aku untuk membantumu. Aku tidak akan meninggalkanmu seperti yang dilakukan Keenan. Aku ...." "Apa kamu mencintaiku?" Zafran terkejut dan menatap Zahrana lekat. "Aku tahu aku salah, tapi aku tidak bisa menghilangkan perasaan ini. Aku mencintaimu, tapi aku tidak tahu sejak kapan rasa ini menggangguku. Zahrana, aku sungguh-sungguh dengan apa yang aku katakan." "Walau kamu tahu aku tidak mencintaimu? Walau kamu tahu aku tengah mengandung janin dari lelaki lain? Apa kamu senaif itu?" Zafran tersenyum. Dia lalu duduk di samping tempat tidur. Melihat Zahrana yang menatap ke arahnya, Zafran lantas meraih tangannya. "Ya, aku memang naif dan bodoh, tapi itu semua karena cintaku padamu. Tak peduli pandangan orang terhadapmu, karena aku tahu siapa dirimu. Aku tidak akan membiarkanmu terluka untuk kedua kali karena aku akan menjagamu dan juga bayimu. Aku berjanji!" Zahrana tersenyum kecut dan tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Semua ucapan itu bagaikan kata-kata manis tanpa makna. Kata-kata yang sering dia dengar, tetapi nyatanya semua musnah karena tak sepadan dengan kata fitnah nan keji yang menguasai hati dan pikiran. Zahrana terdiam dan tidak memberikan tanggapan atas ucapan Zafran. Baginya, itu hanya omong kosong yang tidak berarti. Mana ada lelaki yang mencintai wanita tidak sempurna seperti dirinya? Mana mungkin seorang lelaki seperti Zafran benar-benar serius dengan ucapannya. Sekali lagi, baginya itu semua hanyalah omong kosong belaka. Di saat Zahrana tengah merasakan luka dan kebimbangan, jauh di sana Keenan juga merasakan hal yang sama. Sekuat apa pun dia ingin membuang rasa bencinya pada Zahrana, tetapi bayangan foto yang dilihatnya menjadi dinding pemisah antara akal sehat dengan egonya. Bukti-bukti yang diberikan sudah cukup baginya untuk tidak mepercayai Zahrana. Istri yang sangat dia cintai nyatanya tega menghancurkan hati dan mahligai rumah tangga yang sudah mereka bina. Sementara Maya terlihat puas dengan rencana busuk yang sudah berhasil menyingkirkan Zahrana. Dia tersenyum puas saat menyerahkan uang sisa pada dua lelaki yang sudah menjebak menantunya itu. "Kerja bagus. Ingat, ini adalah rahasia kita. Jika kalian berani membocorkan rahasia ini, aku tidak akan segan-segan menyeret kalian ke polisi. Mengerti!" "Tenang saja, Nyonya. Rahasia ini aman di tangan kami," jawab salah satu lelaki yang tersenyum sambil mengambil amplop coklat dari tangan Maya. Kedua lelaki itu kemudian pergi. "Jika kalian berani mengkhianatiku, lihat saja apa yang akan aku lakukan pada kalian!" batin Maya sambil meninggalkan tempat itu.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
3 dulu baru buka soalnya
28/02
0cerita nya bagus kak
27/02
0terima kasih telah memberikan cerita yang bagus
16/09/2025
0Lihat Semua