logo text

38. Pergolakan Batin

Zahrana tersenyum dan membalas genggaman tangan Zafran. Walau dia tahu lelaki itu mencintainya, tetapi tidak mungkin baginya untuk menerima cinta yang lain di hatinya. Saat ini, luka di hatinya belum sembuh dan itu membuatnya berpikir seribu kali untuk menerima cinta dari hati yang lain. Terlebih, Zahrana menyadari kalau dia akan menjadi seorang ibu.
"Aku mengerti perasaanmu, tapi aku belum bisa menerima cintamu. Zafran, lihat aku! Apa aku pantas menerima cinta darimu? Aku kini sedang mengandung anak dari lelaki lain dan apa mungkin kamu akan menerimanya? Carilah gadis yang masih lajang, gadis yang bisa memberikanmu kebahagiaan bukan seperti diriku yang ...."
"Yang apa? Apa kamu pikir aku main-main dengan perasaanku? Apa kamu pikir aku melakukan semua ini hanya untuk mencari perhatianmu? Zahrana, aku tidak peduli dengan statusmu saat ini karena yang aku pedulikan hanya dirimu dan juga bayi di dalam kandunganmu. Apa kamu tidak percaya kalau aku bisa menerima anakmu menjadi anakku?"
Zahrana tersenyum tipis saat mendengar ucapan Zafran yang begitu menggebu. Semua ucapan itu terlontar begitu saja hingga membuat Zahrana terbuai, tetapi dia sadar itu hanya perasaan sesaat yang dirasakan Zafran kepadanya.
"Kalau kamu tidak percaya dengan ucapanku, maka aku akan membuktikannya padamu. Aku akan menunggu hingga kamu mau menerimaku. Lihat saja, aku tidak akan pernah membiarkanmu menjalani situasi rumit seorang diri. Aku tidak akan membiarkanmu dan juga anakmu hidup dalam penindasan orang-orang yang membencimu. Aku akan melindungi kalian dengan segenap nyawaku walau aku sadar aku belum pantas untuk mendapatkan cintamu."
Ucapan Zafran tidak main-main. Cinta yang dia rasakan pada Zahrana benar-benar tulus walau dia sadar ungkapan cintanya itu tidak dalam situasi yang tepat. Zahrana belum resmi bercerai dan itu artinya Zahrana masih menjadi istri Keenan. Entah mengapa, ungkapan cinta terlontar begitu saja dari mulutnya.
"Sudahlah, Zafran! Jangan menyakiti hatimu dengan penantian yang tak berujung. Aku menghargai perasaanmu, tapi untuk saat ini aku hanya bisa menganggapmu sebagai sahabat, tak lebih!"
"Kalau begitu, jangan pernah berpikir untuk menjauh dariku. Baiklah, kamu boleh menganggapku sahabat, tapi bagiku kamu lebih dari itu. Kini, nanti, dan sampai kapan pun kamu lebih dari itu!"
Zafran lantas bangkit dan membelai puncak kepala Zahrana dengan lembut. "Ayo, aku antar ke kamar!"
Zahrana bangkit dan masuk ke kamar dengan dipapah oleh Zafran. Kondisi tubuh Zahrana yang sering mual dan tidak berselera makan membuat kondisi tubuhnya melemah. Karena itulah, Zafran terlihat begitu khawatir.
"Istirahatlah. Jika butuh apa-apa, panggil aku," ucap Zafran saat mendudukkan Zahrana di atas tempat tidur.
Zahrana mengangguk. Zafran kemudian keluar dari kamar. Setelah kepergian pemuda itu, Zahrana lantas berbaring. Dia menatap langit-langit kamar bercat putih polos. Sekilas, penggalan kisah di masa lalu kembali melintas. Kisah bahagia yang pernah dia rasakan bersama Keenan. Tak terasa, dia menitikkan air mata karena saat ini dia sangat membutuhkan kehadiran suaminya. Setidaknya, untuk sekali saja Keenan menghubunginya sekadar mendengar penjelasan darinya.
"Keenan, apa sebenci itukah dirimu padaku? Apa egomu telah menutupi mata hatimu? Andai saat ini kamu memintaku untuk kembali, aku pasti akan kembali padamu, tapi kamu ternyata tidak melakukan itu."
Zahrana memejamkan mata seiring tangis yang mendera. Air matanya jatuh di sudut matanya karena kekecewaan. Kecewa karena Keenan sudah tidak bisa lagi dihubungi. Walau di mulutnya mengatakan kecewa dan terluka, tetapi di dalam hatinya rasa cinta masih ada. Tak mudah baginya untuk melupakan Keenan begitu saja.
Sementara Zafran, hatinya kian bergejolak. Mendengar ucapan Zahrana yang menganggapnya sebagai sahabat, itu lebih dari cukup asalkan Zahrana tidak meninggalkannya. Tak peduli dengan cintanya yang bertepuk sebelah tangan asalkan dia bisa membuat Zahrana bahagia.
"Aku tahu sulit bagimu menerima cintaku karena aku tahu di hatimu masih ada Keenan. Namun, apakah kamu tahu kalau selama ini di hatiku hanya ada kamu?" batin Zafran dengan perasaan sedih.
Di tempat lain, Keenan tengah duduk di ruang kerjanya. Tatapan matanya tertuju pada lembaran foto yang membuatnya semakin membenci Zahrana. Rasa benci yang kian menjadi, hingga membuatnya tidak ingin mendengar atau melihat gadis itu lagi.
Semua kenangan Zahrana telah terkubur bersama rasa benci dan kecewa. Terkubur bersama cinta dan kasih sayang yang terlihat samar dengan rasa benci dan rindu yang membaur menjadi satu.
Keputusannya untuk menceraikan Zahrana telah bulat. Dia tidak ingin lagi terikat tali perkawinan dengan Zahrana. Dia tidak ingin memaafkan walau berulang kali dia mencoba membuka pintu maaf, tetapi pintu itu kembali tertutup saat kilasan foto-foto itu bermain di depan matanya.
Hari berlalu hingga tiba di hari di mana Zahrana harus menerima keputusan perceraiannya.
"Apa? Kamu ingin menghadiri sidang perceraian?" tanya Adrian saat Zahrana meminta untuk menghadiri sidang perceraiannya. Padahal, dari awal mereka sudah sepakat kalau Zahrana tidak akan pernah menghadiri sidang putusan perceraiannya itu.
"Kenapa kamu berubah pikiran? Apa kamu pikir kehadiranmu di sana bisa mengubah keputusan Keenan?" tanya Adrian kesal.
Zafran hanya diam saat mendengar permintaan Zahrana. Tidak mungkin baginya untuk melarang karena semua keputusan Zahrana tidak ingin dibantahnya. Walau dia sadar, kehadiran Zahrana mungkin saja membuat Keenan luluh atau membatalkan perceraian mereka.
Permintaan Zahrana bukan tanpa alasan. Walau dia sadar telah menandatangani surat perceraian, tetapi dia masih mengharapkan mereka bersatu kembali. Dia ingin menjelaskan semuanya dan berharap Keenan akan mendengarnya.
"Zahra, apa kamu yakin ingin menghadirinya?" tanya Mala.
Zahrana mengangguk walau dia tahu teman-temannya begitu kecewa dengan keputusannya.
"Baiklah, jika itu maumu! Aku tahu kamu masih mengharapkan Keenan mendengar penjelasanmu dan berharap kalian bisa kembali bersama. Baik, kita pergi dan lihat apa yang akan terjadi, tapi aku punya syarat untukmu," ucap Zafran.
"Syarat apa?"
"Aku akan membiarkanmu kembali pada Keenan kalau kamu berhasil menjelaskan semua padanya, tapi jika dia tidak datang atau tidak mendengarmu, maka mulai saat ini aku akan menunaikan janji yang sudah aku ucapkan padamu."
Zahrana menatap Zafran heran. "Janji apa?"
"Janji untuk membuatmu menghilang dari kehidupan Keenan. Bukankah, itu yang kamu minta padaku?"
Zahrana terdiam dan mengingat kembali apa yang pernah dia minta pada pemuda itu.
"Sekarang, apa kita boleh pergi?" tanya Zafran saat melihat Zahrana yang kini terdiam.
Mereka lantas pergi dengan membawa beban di hati. Zafran telah menyiapkan hatinya jika Zahrana benar-benar akan kembali pada Keenan. Sementara Zahrana tengah menata hatinya untuk menjelaskan semuanya pada suaminya.
Di ruang sidang, mereka duduk. Zahrana tampak cemas karena menunggu Keenan yang belum juga muncul. Di sampingnya, Mala duduk sambil menggenggam tangannya sekadar menguatkan dirinya.
Jam yang dijadwalkan telah lewat dan Keenan masih belum juga tampak, hingga pandangan Zahrana tertuju saat pintu ruangan tiba-tiba terbuka.

Komentar Buku (357)

  • avatar
    Bagus Kusuma

    3 dulu baru buka soalnya

    28/02

      0
  • avatar
    NisaFadillah

    cerita nya bagus kak

    27/02

      0
  • avatar
    HasanIstiqomah

    terima kasih telah memberikan cerita yang bagus

    16/09/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru