logo text

37. Kemarahan Adrian

Adrian berontak saat dua lelaki berusaha menghalanginya. Walau begitu, dia mampu melepaskan diri dari kedua orang itu dan merangsek maju ke arah Keenan. Akan tetapi, kedua orang itu tidak tinggal diam. Karena tidak ingin bos mereka terluka, salah satu dari lelaki itu lantas memukul Adrian, hingga membuat pemuda itu termundur ke belakang.
"Hentikan!" teriak Keenan sambil menyeka sudut bibirnya yang basah dengan darah.
"Jangan ikut campur urusan kami! Kalian pergilah!" perintah Keenan pada anak buahnya itu.
Walau ragu, mereka akhirnya meninggalkan Keenan yang berdiri menatap Adrian dengan tajam.
"Kenapa? Apa kamu datang karena Zahrana?" tanya Keenan sambil meraih sebatang rokok di atas meja dan disulutnya. Kepulan asap terlihat saat lelaki itu mengembuskan asap dari mulutnya.
"Apa kamu tahu kalau Zahrana telah mengkhianatiku?" lanjut Keenan sambil membuang batang rokok yang masih setengah di atas lantai. Batang rokok itu lantas diinjaknya hingga hancur. "Bagiku, dia tidak lebih seperti puntung rokok itu!" lanjutnya sambil menatap puntung rokok yang sudah hancur.
"Dia sudah tidak berarti bagiku karena aku paling tidak suka dikhianati. Apa kamu tahu bagaimana perasaanku?" Keenan memukul dadanya dengan kasar. Matanya terlihat berkaca-kaca karena menanggung kesedihan akibat pengkhianatan.
Adrian menatap lelaki itu dengan senyum tipis. "Aku tidak menyangka dengan mudahnya kamu percaya kalau Zahrana telah mengkhianatimu. Apa hanya sebatas itu saja kepercayaanmu padanya? Apa kamu tidak bisa melihat kebenaran dari tatapan matanya?"
Ucapan Adrian begitu tajam, tetapi belum mampu membuka hati Keenan yang ternyata sudah tertutup rapat.
"Aku harap keputusanmu menceraikan Zahrana tidak akan membuatmu menyesal seumur hidup. Jika itu yang kamu pikirkan tentang dia, maka aku tidak akan menghalangimu menceraikannya. Setidaknya, masih ada yang mencintainya tulus tanpa ragu. Ingat ucapanku ini, suatu saat nanti kamu pasti akan menyesal karena telah menceraikan Zahrana! Camkan itu!"
Adrian lantas meninggalkan tempat itu. Sementara Keenan terduduk di atas sofa seraya mengepal. Ucapan Adrian membuatnya ragu, tetapi keraguannya itu tidak mampu menembus dinding kebencian yang sudah telanjur tertanam di hatinya.
Adrian melajukan motornya dan pergi menemui seseorang yang sudah dihubunginya sebelum meninggalkan halaman parkir. Adrian melaju dan berhenti di depan sebuah kafe. Lelaki itu kemudian turun dan disambut seorang gadis yang menunggunya di depan kafe tersebut.
"Ada apa?" tanya gadis itu sambil meraih tangan Adrian dan menggenggamnya erat.
Adrian lantas memeluknya. Dia tak peduli dengan lalu lalang orang-orang yang melihat ke arah mereka. Seakan paham dengan keadaan Adrian, gadis itu membalas memeluk sambil mengelus lembut punggung pemuda itu.
"Ayo, kita bicara di dalam!" ajak gadis itu sambil menuntun Adrian masuk lewat pintu belakang.
Di salah satu ruangan, Adrian duduk ditemani gadis itu. Gadis yang terlihat cantik dengan seragam pelayan kafe itu dengan lembut menyeka sudut bibir Adrian yang berdarah. "Apa kamu berkelahi lagi?" tanya gadis itu. Adrian mengangguk pelan.
"Apa aku boleh tahu kenapa kamu berkelahi?" tanya gadis itu lagi.
Adrian lantas memeluknya dan menangis di pelukan gadis itu. "Maafkan aku karena aku menangis untuk wanita lain, tapi aku tidak bisa menerima jika dia diperlakukan seperti itu!" ucap Adrian masih memeluk gadis itu.
"Maksudmu, Zahrana?" Gadis itu melepaskan diri dari pelukan Adrian sambil kedua tangannya memegang bahu pemuda itu. "Ada apa dengannya? Jangan bilang kalau Keenan meninggalkannya. Itu tidak benar, kan?" tanya gadis itu lagi.
"Mala, Keenan telah menceraikan Zahrana karena dituduh berselingkuh. Zahrana telah meninggalkan rumah Keenan dan dia ...." Adrian terdiam sesaat karena tidak sanggup melanjutkan ucapannya.
"Di mana Zahrana? Bawa aku menemuinya. Aku mohon!" pinta Mala yang terlihat mengkhawatirkan sahabatnya itu.
Sejak Mala bertemu dengan Adrian yang datang menemui Zahrana dan Keenan di pub, keduanya mulai dekat. Karena sama-sama peduli pada Zahrana membuat keduanya sering bertemu, hingga Mala memutuskan untuk meninggalkan pub karena Adrian menawarkannya bekerja di salah satu kafe milik Zafran.
Kedekatan mereka akhirnya menimbulkan benih-benih cinta, hingga mereka memutuskan untuk menjalin hubungan. Namun, semenjak Zahrana menikah, Mala sudah tidak pernah bertemu dengan Zahrana lagi.
Sebagai kekasih Adrian, Mala tahu dengan perasaan kekasihnya itu pada Zahrana. Walau begitu, dia tidak merasakan cemburu karena dia yakin saat ini hanya dia yang ada di hati Adrian. Dan Zahrana menganggap Adrian hanya sebatas teman.
Kepedulian Adrian hanya sebatas seorang kakak yang mengkhawatirkan adiknya.
Sore itu juga, Adrian membawa Mala ke rumah Zafran. Dia tahu kalau kekasihnya itu juga mengkhawatirkan keadaan Zahrana.
Melihat Mala, Zahrana memeluknya dan mereka menangis bersama. Mala begitu terkejut saat mendengar penjelasan Zahrana. Terlebih saat dia tahu kalau saat ini sahabatnya itu tengah berbadan dua.
"Zahra, apa kamu yakin baik-baik saja?" tanya Mala sambil menatap Zahrana lekat.
Zahrana hanya mengangguk walau sebenarnya keadaannya tidak baik-baik saja. Dia terpukul dengan keputusan Keenan. Namun, melihat Adrian dan Mala yang begitu peduli padanya membuat Zahrana lebih kuat menghadapi cobaan yang menderanya.
Zahrana tersenyum dan menggenggam tangan sahabatnya itu. "Selama masih ada kalian, aku pasti akan baik-baik saja. Walau Keenan tidak lagi percaya padaku, aku tidak mengapa asalkan kalian masih memercayaiku," ucap Zahrana dengan senyum yang dipaksakan.
"Apa kamu tahu siapa yang sudah menjebakmu?" tanya Mala. Zahrana menggeleng.
"Apa kamu yakin tidak punya musuh? Zahrana, coba ingat-ingat lagi siapa yang tidak menginginkanmu menikah dengan Keenan? Apa kamu yakin ini tidak ada hubungannya dengan mertuamu itu?"
Pertanyaan Mala sontak membuat Zafran menatapnya. Begitu pun dengan Zahrana yang sama sekali tidak berpikir sampai sejauh itu.
"Apa mungkin Tante Maya bisa melakukan hal itu?" batin Zafran.
"Sudahlah, jangan dibahas lagi. Sekarang fokus saja pada sidang perceraian bulan depan. Setelah itu, jangan pikirkan apa pun lagi karena bayimu lebih memerlukan perhatianmu. Paham?" ucap Adrian mengalihkan pembicaraan.
Adrian sudah tidak peduli perihal siapa yang mencoba menjebak Zahrana. Baginya, semua sudah terlambat. Tidak ada kata maaf bagi Keenan karena lebih memercayai foto-foto itu daripada istrinya sendiri.
Melihat Zafran yang begitu peduli dan mencintai Zahrana, Adrian lebih memilih Zahrana dimiliki lelaki itu daripada harus kembali ke pelukan Keenan.
Selama berada di rumah Zafran, Zahrana diperlakukan dengan sangat baik. Lelaki itu begitu peduli akan kesehatannya. Tak jarang, dia membawakan makanan ataupun buah yang disukai Zahrana. Kehadiran Zahrana di rumahnya membuat dia lebih suka berada di rumah. Setelah menyelesaikan pekerjaan kantor, Zafran langsung pulang karena ingin bertemu dengan Zahrana.
"Aku minta maaf, jika kehadiranku di rumah ini membuatmu repot. Aku akan meninggalkan rumah ini setelah aku resmi bercerai karena untuk saat ini aku masih memerlukan bantuanmu, tapi aku janji aku pasti akan membalas kebaikanmu," ucap Zahrana saat mereka sedang duduk bersama.
Zafran menatap Zahrana lekat dan perlahan meraih tangan gadis itu. "Tidak bisakah kamu tetap tinggal di sini? Aku tidak butuh balasan atas kebaikanku, aku hanya butuh kehadiranmu di sini. Apa itu sulit, Zahrana?" tanya Zafran dengan tatapan yang tidak berpaling dari wajah Zahrana.

Komentar Buku (357)

  • avatar
    Bagus Kusuma

    3 dulu baru buka soalnya

    28/02

      0
  • avatar
    NisaFadillah

    cerita nya bagus kak

    27/02

      0
  • avatar
    HasanIstiqomah

    terima kasih telah memberikan cerita yang bagus

    16/09/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru