#65 Perempuan Tua

Suasana di dalam kastil sangat tentram. Bangunan zaman dahulu itu dihiasai dengan interior yang cantik serta pualam yang menawan. Namun, suasana tenang itu dalam sekejap hilang ketika suara alarm keadaan darurat berbunyi. Pelayan-pelayan di sana berlarian menuju tempat aman. Para penjaga telah berkumpul, mereka langsung membuka pintu.
“Apa ini tidak berlebihan?” Shin menatap ke depan.
Dua penjaga telah tak sadarkan diri di belakang mereka.
“Sudah terlanjur.” Yoshi melesat.
Shin mengikuti.
Penjaga-penjaga itu langsung jatuh dengan cepat, mereka tak terkulai. Tapi ketika mereka berdua akan masuk ke dalam, mereka diadang oleh dua orang berbadan tinggi besar. Mereka segera menjauh.
“Mau apa kalian kemari?” Salah satu orang langsung bertanya.
“Kami mau mengambil barang kami kembali.” Shin menimpali.
“Tidak ada barang kalian di sini.”
“Apa ini yang kalian cari?” Terdengar suara berat dari balik dua orang berbadan besar. Dia keluar dari ambang pintu kastil sembari mengacungkan sebuah kapsul di tangannya.
Dua orang berbadan tinggi besar itu langsung memberi jalan sambil menunduk pada Perempuan tua yang kini ada di hadapan mereka.
“Seharusnya Dewi tidak keluar dari kastil.” Satu orang bicara.
“Apa kau berani melarangku?” Perempuan tua itu berteriak ketus.
Dua orang itu langsung bungkam.
“Jadi, Nenek galak itu yang mereka sebut Dewi.” Shin bergumam.
“Itu barang kami.” bicara dingin.
“Keempat pelayanku telah susah payah membeli benda ini.”
“Ternyata kau tidak tahu, pelayanmu tidak membelinya, tapi mencurinya dan membunuh para penjahat itu!” Shin sedikit mengeraskan suara.
“Mungkin ada alasan pelayanku melakukan hal itu.”
“Berarti, kami juga punya alasan yang sama.” Yoshi membalas.
“Dewi, ini gawat.” Seorang pelayan datang dari ambang pintu, wajahnya tampak khawatir.
Perempuan tua itu langsung berlari ke dalam, disusul satu pelayan dan dua orang berbadan kekar.
“Nenek, tunggu.” Shin melipat dahi sembari melompat ke ambang pintu, dia segera masuk.
Yoshi melompat ke teras kastil, dia bergegas masuk, menyusul.
Mereka berdua melihat orang-orang itu ke lorong sebelah kiri. Mereka segera mengikuti.
Kali ini mereka melihat orang-orang itu berhenti di sebuah pintu yang berbeda dengan pintu-pintu lainnya. Perempuan tua, Gadis pelayan, dan dua pelayan Lelaki itu masuk ke dalam pintu tersebut. Mereka berdua juga segera ke sana.
Mereka berdua tiba di sebuah ruangan, itu adalah ruang medis. Ada beberapa pintu lagi di dalam sana, tapi ada satu daun pintu yang dijaga oleh dua pelayan berbadan besar tadi. Mereka hendak masuk. Namun, mereka langsung diadang.
“Jangan halangi kami.” Shin berniat memaksa. “Kalau begitu apa boleh buat.” Dia mengambil ancang-ancang.
“Izinkan mereka masuk.” Suara berat terdengar dari dalam.
Dua pelayan itu menyingkir, Shin mengurungkan niatnya untuk menerobos. Dia segera ke dalam, disusul Yoshi.
Seorang Gadis sedang terbaring tak berdaya di atas kasur medis, ada satu perawat di sana yang sedang sibuk memeriksanya. Perempuan tua itu memandang Gadis yang terbaring dengan tatapan berkaca-kaca. Pelayan di sampingnya memasang wajah khawatir.
Gadis itu memejamkan mata sembari meringis kesakitan. Dari leher hingga dagu, kulitnya tampak menghitam. Menjalar.
“Apa yang terjadi dengannya?” Shin melempar pertanyaan.
Tidak ada yang menimpalinya. Mereka semua fokus pada Gadis yang terbaring.
Perawat itu selesai memeriksa, lalu menyuntikkan suatu cairan ke tangan Gadis tersebut. Tak lama Gadis itu pun tenang.
“Tuan Puteri, sudah semakin parah. Obat penenang ini hanya membuat kutukan itu terus menjalar.” Perawat itu bicara.
“Apa yang kau maksud, kutukan?” Yoshi melempar pertanyaan.
“Ini alasanku mengambil kapsulnya. Aku ingin mengobatinya dengan tanduk Monster ini.” Perempuan tua itu menyeka mata.
“Itu sangat berbahaya, kau tidak bisa memakainya sebagai obat.” Shin menimpali.
“Dia benar.” Yoshi bersandar ke dinding sembari menyilangkan tangannya. “Jika kau ingin Puterimu segera mati, tanduk itu bisa melakukannya.”
“Aku tidak menginginkan itu. Hanya saja aku berpikir, jika kutukan Maou mungkin bisa disembuhkan dengan tanduk ini.”
“Aku belum pernah mendengar kalau Makhluk itu bisa mengutuk.” Shin melipat dahi.
“Ada seseorang yang harus melihat ini.” Yoshi telah menyalakan gelang di tangannya.
Beberapa menit kemudian ada yang membuka pintu, mereka semua menatap ke sana. Maki masuk ke dalam, di susul Yuki yang terlihat kesal meski raut mukanya tak berekspresi.
Maki memperhatikan sekitar. Dia menatap Gadis yang sedang terbaring. Tidak perlu diminta, dia langsung menghampiri ke samping tempat tidurnya. Dia segera memeriksanya. Dia memperhatikan warna hitam di leher Gadis itu menjalar perlahan. Tak perlu waktu lama dia langsung tahu penyebabnya.
“Kamu tahu penyakit apa itu?” Perempuan tua bicara.
“Gadis ini telah menghirup Nar Maou.” Maki langsung menimpali.
“Tapi selama ini hanya hewan yang bisa terkena.” Shin melipat dahi.
“Ini beda, Nar Maou ini lebih kuat dan juga tidak bisa dirasakan. Mungkin ada Maou yang sedang memunculkan tanduknya di sekitar benteng kastil ini.”
“Jika itu benar, pasti akan ada banyak orang yang tekena.” Shin menimpali.
“Satu-satunya cara, Makhluk itu harus dilenyapkan.” Yuki menatap Gadis yang terbaring.
Tangan Maki segera merogoh tas selempangnya, dia hendak mengambil sesuatu. Dia mengeluarkan botol kecil dengan cairan merah muda di dalamnya. Dengan segera dia mengambil suntikkan, lalu memasukkan obat itu ke dalamnya. “Semoga ini berhasil.” Kemudian dia menyuntikkannya pada tangan Gadis itu.
“Apa yang akan kau lakukan!” Perempuan tua menyeru.
Gadis itu sedikit meringis, lalu dia kembali tenang. Tak lama warna hitam pada dagunya perlahan menyusut. Kini pengaruh buruk di seluruh tubuhnya menghilang.
“Ternyata ini berhasil.” Maki menyeka dahinya.
“Kau berhasil menyembuhkannya.” Perawat itu penasaran.
“Cairan apa itu, Maki?” Shin ikut penasaran.
Perempuan tua itu segera mendekati Puterinya, dia memeluknya erat.
“Ini bukan cairan biasa. Prof. Yamato yang memberikannya kepadaku. Dia bilang, ini adalah obat yang telah dikembangkannya dari hasil penelitiannya. Dan ternyata obat ini benar-benar bekerja.” Wajah Maki cemerlang.
“Tugas kita selesai, kita pergi dari sini, bawa kapsulnya.” Yoshi hendak meninggalkan tempat itu.
“Tunggu, aku sebagai Dewi kastil ini punya satu permintaan kepada kalian. Tolong usir Maou itu dari sekitar hutan kami, akan kuberi kalian hadiah, jika bisa melakukannya.” Perempuan tua itu memberi hormat.
“Tidak bisa, itu bukan urusan kita.” Yoshi bicara tanpa menengok.
Gadis pelayan dan perawat yang ada di dalam ruangan itu menunduk, memberi hormat pada mereka.
“Yosh, apa kau tidak mau membatu mereka?” Shin mengersakan suara.
“Kita tidak ada waktu. Itu urusan mereka.” Yoshi bicara santai.
“Kau ....” Shin geram.
“Shin!” Maki segera mencegah. Dia mendekat. “Yosh, kalau kita bisa menangkap Maou itu, mungkin kita bisa mendapatkan tanduknya. Jadi, kita membawa pulang dua tanduk.”
“Benar. Tanduk itu pasti akan berguna untuk penelitian.” Yuki menambahkan.
Yoshi langsung melangkah ke arah pintu. “Terserah kalian. Aku akan menunggu di luar kastil ini.”
“Ayo, kita tangkap Makhluk meresahkan itu!” Shin bersemangat.
Maki dan Yuki mengangguk tegas
-Bersambung-.

Komentar Buku (112)

  • avatar
    SulaemanDADAN

    lanjut

    26/04

      0
  • avatar
    SaputraTugas

    bagus

    02/11/2024

      0
  • avatar
    ShogirBanu

    film ini seru sekali

    29/08/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru