Beranda/PRIA BERKEKUATAN MONSTER DI DALAM DINDING YANG TAK AKAN MUDAH DIHANCURKAN/
#68 Tahta
Langit tiba-tiba mendung, lalu rintik air turun begitu deras. Ladang-ladang hijau di desa terguyur. Rumah kayu di tengah salah satu ladang yang baru digarap diterpa hujan. Dua anjing berteduh di bawah rumah panggung itu. “Kau harus minum” Kotaro menyodorkan air pada Shiba yang baru siuman di atas kursi kayu. Shiba segera meleguknya sampai tak tersisa. Dia kembali tertuduk sambil menaruh cangkir pada meja di hadapannya. Dia kali ini memegang pundak kirinya yang telah terbalut perban. Dia sedikit meringis. “Kau akan segera sembuh, aku sudah mengobati lukamu dengan racikan tumbuhan obat.” Kemudian Kotaro melangkah, keluar dari sana. Dia duduk di ambang pintu sambil memandang rintik hujan. Sembari menunduk, air mata Shiba tak bisa terbendung. Dia menggebrak meja. Menyalahkan dirinya sendiri. “Sebenarnya apa yang terjadi, aku tadi merasakan ada hawa berbahaya dari sini?” Kotaro segera melayangkan pertanyaan yang dari tadi telah dia pikirkan. “Orang licik itu telah mengambil paksa kebahagianku, istriku.” Shiba masih menunduk. “Kau beruntung bisa memiliki istri seperti Ayano, tapi di saat yang bersamaan kau juga tidak beruntung, karena dia dari keluarga kalangan atas. Namun, jika aku ada di posisimu, aku akan mengejarnya ke kota.” Kotaro bicara sembari memandang langit. “Kau benar!” Shiba menyeka wajahnya, dia bangkit. “Tapi, aksesku telah ditolak untuk masuk ke Kota Rubi.” Kotaro beranjak, dia membalikkan badan. “Mungkin ada cara lain selain aksesmu.” Sejenak Shiba berpikir. Dia hampir lupa dengan itu. “Milik Ayano! Semoga saja dia tidak membawanya.” Dia segera melangkah cepat ke dalam kamar. “Kau mencari apa?” Shiba keluar dari kamar, dia langsung mengacungkan sebuah benda berbentuk kotak warna merah muda. “Ini kartu kunci milik Ayano untuk ke kota. Tunggu saja, aku akan menjemputmu kembali.” “Aku akan ikut denganmu.” Kotaro segera menimpali. “Tidak! Kau harus tetap di desa ini.” Shiba menggeleng. “Aku harus ikut, kau akan butuh bantuanku. Lagi pula aku masih berhutang nyawa padamu. Saat aku hampir terbunuh di akademi kau menolongku.” “Baiklah, jika itu maumu. Tapi mungkin ini akan berbahaya.” Kotaro mengangguk tegas. Lima menit kemudian, mereka berdua telah berada di depan rumah kayu. Mereka sudah membawa tas selempang masing-masing. Shiba memegang tongkat besinya, kemudian dia simpan di belakang punggung. Kotaro telah membawa pedang hitamnya. Dia menyarungkannya di pinggang. Dia ahli pedang terbaik di desa. Portal biru menyerupai hologram terbuka di hadapan mereka saat Shiba menarik kartu itu dengan kedua tangannya. “Kita berangkat!” Kepala Kotaro mengangguk. “Aku sudah tidak sabar ingin melihat kota.” Dia langsung berlari. Shiba menyusul, melompat.” Mereka berdua muncul di dalam sebuah tempat makan. Banyak orang di sana, tapi mereka tidak memperdulikan dua orang yang baru muncul. Pakaian semua orang di tempat itu cemerlang, kecuali pakaian mereka berdua. Sebuah benda mirip manusia berjalan pada mereka. “Mau pesan apa, Tuan?” Shiba tidak menjawab benda itu, dia segera melangkah ke arah pintu otomatis. “Ayo!” Pandangan Kotaro masih tampak takjub dengan robot pelayan itu. “Di luar sana banyak yang lebih menakjubkan.” “Baiklah, ayo!” Kotaro segera mengejar. Pintu otomatis itu tidak bergeser, tapi berubah menjadi hologram. Mereka berdua langsung menembusnya. Kotaro membelalakkan mata ketika melihat kota yang sangat modern. Hanya ada sedikit kendaraan terbang canggih di atas kota. Semua orang telah memakai teleportasi untuk berpergian di sana. Mereka bisa mendapat kartu teleport dengan membelinya. Namun, mereka berdua tidak mempunyai uang kota itu sedikit pun. “Kita lanjut nanti takjubnya. Sebaiknya kita bergegas” Shiba mengusap wajah temannya itu. “Kenapa manusia di samping gedung-gedung tinggi itu bisa sangat besar?” Kotaro menunjuk. “Itu hanya hologram, orang-orang itu sedang beriklan.” Kotaro mengangguk-ngangguk. “Menakjubkan.” “Kita tidak ada waktu memikirkannya.” Shiba segera berlari. Kotaro bergegas menyusul dari belakang. Awan mendung baru datang. Rintik hujan mulai turun. Namun, tidak mengguyur seluruh kota modern tersebut. Tempat itu seperti dilindungi sesuatu yang tidak terlihat. Gedung-gedung di kota itu sejajar, semuanya mempunyai delapan belas lantai. Hanya ada restoran-restoran yang berlantai tiga atau dua. Kota itu tetap cerah meski langit mendung, karena semua dinding bangunan di sana bersinar dalam gelap. Shiba dan Kotaro belari di jalanan yang sudah tak di pakai. Di setiap tempat, mereka berdua dipandangi oleh orang-orang yang akan berteportasi. “Berhenti!” Kotaro menyeru. “Ada apa?” Shiba melipat dahi. “Mungkin kita bisa menggunakan kartu itu untuk berteleportasi di sini. Kartu itu, kan, tidak akan membawa kita keluar dari sini.” “Tapi ini hanya kartu untuk masuk. Lihat.” Shiba menunjukkannya. Kotaro mengambilnya. “Aku lihat kartu ini warnanya berbeda dengan kartu-kartu yang di pakai orang-orang di sini.” Dia membolak-baliknya. “Perjalanan kita masih jauh. Itu hanya kartu biasa.” Shiba langsung menariknya. Kartu itu langsung menyala, dalam sekejap mereka menghilang. Kemudian kembali muncul di depan restoran tadi. “Kau benar. Kartu ini ....” “Ayo, cepat, kita ke tempat tujuan.” Shiba mengangguk tegas. Mereka dalam sekejap menghilang. --- Istana megah di dekat dinding benteng selatan kota bersinar terang. Itu adalah satu-satunya istana di kota tersebut, bangunan itu tempat Ketua Kota atau juga disebut Raja. Ayano sedang duduk di atas kasur empuk, dia mengelus-elus perutnya. “Kau akan baik-baik saja, Nak.” Seseorang mengetuk pintu kamar. “Masuk!” pelayan perempuan masuk ke dalam kamar megah itu, dia langsung memberi hormat. “Putri Ayano, sudah di tunggu di bawah.” “Baiklah, aku akan segera turun.” Pelayan itu kembali memberi hormat, lalu bergegas pergi. Ayano turun menggunakan tangga ke bawah menuju ruang tengah yang megah berinterior mewah, dengan pualam mengkilap. Dia masih memakai baju lusuhnya. Sudah ada beberapa orang yang duduk di hadapan meja besar di tempat itu. Mereka semua melihat Puteri yang berwajah masam. “Kakak, kenapa kau tidak menggunakan lift?” Kogu bersuara. Ayano tidak menjawab, dia kini berjalan menuju meja. Ada seorang Pria yang tersenyum ramah kepadanya. Dia segera duduk di samping Pria itu. “Anda jauh-jauh kemari katanya ada yang mau Kakak bicarakan.” Kogu tersenyum. “Apa yang ingin kamu bicarakan, Putriku?” Raja gagah yang duduk di hadapan mereka bicara. “Ayah, a-ku mau mengalihkan tahtaku untuk Kogu.” “Apa kamu bilang? Apa kamu sudah menghinaku dengan cara menolak kesepakatanku?” Raja membentak. “Bu-bukan begitu ....” “Oh iya, kita melupakan sesuatu, harus minum dulu supaya pikiran kita tetap dingin. Jadi, silahkan diminum.” Kogu tersenyum. “Ide yang bagus!” Salah satu dari mereka langsung meleguk air pada gelas mewah. Mereka semua yang duduk di sana meminum airnya. Namun, tak berselang lama pikiran mereka seperti kosong. Mereka semua kini melihat dengan tatapan kosong, kecuali Kogu dan Ayano. “Raja, apa kau setuju?” Kogu mengetes. Raja mengangguk-ngangguk dengan tatapan kosong. Kogu beranjak dari kursinnya. Seorang penjaga datang mendekat, menyerahkan sebuah tablet transparan. Dia segera mengambilnya. Dia menghampiri. “Kakak, sebaiknya kau tanda tangan di sini.” Dia menunjuk layar alat tersebut. Ayano mengangguk, dia menunjukkan jempolnya pada layar. Namun, dia langsung dihentikan oleh seseorang yang langsung memegang tangannya. “Kenapa kau ....” Kogu terkejut. “Kau terkejut, aku tidak jadi seperti mereka? Jangan tanya.” Pria berparas tampan itu tersenyum. “Paman Gojo! Meski kau tidak terkena racunku, kau tidak akan bisa menghentikan rencanaku.” Kogu menyeringai. “Ayano, sebaiknya kamu segera tuntun mereka dari sini.” Gojo berbisik. Kemudian dia maju memasang kuda-kuda. “Ayo, kita buktikan.” Mereka berdua kini berhadapan. Bersiap untuk memulai pertarungan. -Bersambung-
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
lanjut
26/04
0bagus
02/11/2024
0film ini seru sekali
29/08/2024
0Lihat Semua