#71 Tugas Kota

Seorang anak muda yang hampir dewasa berdiri di atap gedung dua belas lantai sedang memandang kota modern yang kini telah berpenduduk padat. Dikarenakan sebagian para warga dari berbagai desa telah berpindah ke kota untuk mencari pekerjaan ataupun berbisnis.
Kota Shirogane sekarang telah dilengkapi pelindung transparan, jadi tidak akan ada musuh yang berhasil menyusup, dan kejadian penyerangan seperti dulu tidak akan terulang kembali.
“Siapa wajah Wanita dan Pria di mimpiku tadi malam?” Shin bergumam, bertanya pada dirinya sendiri. Dia memegang kepala yang mulai terasa sakit saat memikirkan hal tersebut.
“Ternyata kau di sini.”
Shin tersadar dari lamunannya, lalu segera menengok ke belakang.
“Ada apa denganmu?”
“Kenapa kau mencariku, Yosh?”
“Mencarimu? Aku kebetulan lewat sini.”
“Lewat sini? bukankah pertemuannya diadakan di ruangan Go ... maksudku Musume?”
“Bukan, tapi di tempat penelitian.”
“Kenapa tidak ada yang menghubungiku?” Shin melipat dahi.
Yoshi balik kanan. “Sepertinya kau tidak mengangkatnya.”
Mata Shin segera menatap gelang yang melingkar pada tangannyanya. Dia terkejut, karena telah dihubungi Maki beberapa kali. Kemudian dia bergegas menyusul. “Tunggu, Yosh!”
Mereka berdua telah berlari dan melompat lincah di atas gedung-gedung kota.
“Kenapa kita tidak naik angkutan umum saja?”
“Kau lelah?” Yoshi menjawab dingin.
“Aku hanya bertanya.” Shin sedikit kesal.
Tempat penelitian sudah terlihat dari posisi mereka mendarat. Mereka segera masuk ke dalam pintu atap gedung. Kemudian keluar dari bangunan itu menuju tempat penelitian yang tak jauh dari sana. Dengan cepat mereka segera ke dalam.
Tempat itu ingar-bingar oleh para peneliti yang tengah sibuk bolak-balik mengambil bahan penelitian. Juga ada yang sedang bereksperimen di sana. Di tengah lorong, Shin dan Yoshi berjalan menuju ruang pertemuan.
Sudah ada beberapa orang di sana yang tengah duduk di sembarang tempat, menunggu. Tak lama ada yang mengetuk pintu.
“Masuk, kalian berdua.” Duplikat Musume yang sudah duduk di meja paling depan menanggapi.
Yoshi dan Shin muncul dari balik pintu.
Mereka semua telah lengkap di dalam ruangan itu, kecuali Musume asli, Hozuki, si Kembar dan Toru.
“Kenapa kau tidak menjawab panggilanku?” Maki sedikit cemberut.
“Tadi, aku tidak mendengarnya.” Shin nyengir.
“Ehem.” Musume berdehem di depan, kemudian berdiri dari kursi. “Baiklah, semua sudah di sini. Kita akan mulai, Profesor yang akan menjelaskan semuanya.”
Prof. Yamato yang juga sudah ada di depan segera beranjak dari kursinya.
“Kenapa Musume dan Toru tidak di sini?” Shin berbisik.
“Entahlah.” Maki mengangkat bahu.
“Karena aku sedang ada urusan di Desa Tetsu dan tengah Toru ikut bersamaku.” Boneka itu telah ada di belakang memasang wajah seram. “Kalian, perhatikan ke depan!”
Prof. Yamato menjelaskan kepada mereka semua, “... setelah aku mendapat dua tanduk Maou itu sesuatu yang tidak masuk akal terjadi saat keduanya bereaksi pada serum yang ku buat dari darah orang yang bisa berubah menjadi Maou dan juga darah hewan. Ketika aku suntikkan serumnya, tanduk-tanduk tersebut berubah menjadi semacam tulang tengkorak manusia. Namun, beberapa menit kemudian, satu tanduk kembali ke bentuk semula dan yang satu lagi terbakar sampai tak tersisa.”
“Maksudmu dua tanduk itu bereaksi berbeda?” Yoshi menimpali.
“Kau benar, tapi yang sebenarnya ingin kukatakan bukan itu. Jadi, jika salah satu tanduk Maou itu berubah menjadi tengkorak manusia berarti ada kemungkinan ....”
“Cukup, Prof, biar aku yang menjelaskan secara halus kepada mereka.” Musume memotong. Pandangan semua orang yang ada di ruangan itu kini tertujunya.
“Bisa jadi, selama ini sebagian Maou yang kita lawan tercipta dari manusia.” Dia mengucapkannya dengan lantang tidak ada halus-halusnya sama sekali.
Mereka semua malah terkejut dengan penjelesan dari boneka duplikat itu.
“Jadi, Maksudmu Maou yang kami serang adalah manusia?” Shin langsung maju menghadap dua orang yang berada di depan.
“Ada kemungkinan. Namun, kami belum tahu jelas. Kita harus bisa mengungkapnya. Mungkin Pemerintah Pusat punya jawabannya. Karena mungkin ini semua perbuatan mereka.” Musume memegang dagu.
“Ayo, kita ke sana!” Shin hendak pergi dari ruangan.
“Semua orang tidak tahu di mana Pemerintahan Pusat berada.”
Ucapan Musume langsung menghentikan langkah kaki Shin. Dia memutar badan perlahan.
Maki, Yuki, Noburu dan Kiku beranjak dari kursi mereka.
Yoshi yang bersandar di dinding segera menegakkan badan. “Apa maksudmu?”
“Kita semua, orang-orang kota hingga desa hanya tahu bahwa Pemerintah Pusat terletak di Kota Rubi, tapi ternyata kita semua salah besar. Mereka bukan berada di kota tersebut, di sana hanya cabang Pemerintahannya yaitu Kerajaan. Namun, pasti di Kerajaan itu ada petunjuk di mana sebenarnya Pemerintah Pusat berada. Tapi masalahnya kita tidak punya akses untuk masuk ke kota itu.”
Shin tertunduk kembali ke kursinya. Dia bergumam, “Jadi, selama ini ....”
“Memangnya seperti apa akses ke sana?” Maki menimpali.
“Guru pernah bilang padaku, jika dia pernah masuk ke kota itu. Dia berkata ‘jika kau punya sebuah kartu, maka kau akan bisa masuk ke kota itu’. Dia berkata padaku pada saat kami sedang memandang Kota Rubi dari atas gunung.”
Shin yang tadi tertunduk segera mengangkat kepalanya, mengigat sesuatu. “Aku baru ingat, jika Gojo sebelum dia menghembuskan napas terakhirnya ....” Dia mengingat kejadian waktu itu, dia tertunduk, tapi dia mengangkat kepalanya kembali. “Gojo pernah bertanya padaku ....”
Semua pasang mata kini tertuju ke sana.
“Dia menanyakan soal kartu kepadaku, tapi saat itu aku tidak mengerti maksud ucapannya.”
“Mungkin dia bermaksud mengatakan kalau kau punya kartunya, Shin.” Kiku menimpali.
“Iya, mungkin itu yang maksud, Guru.” Yuki ikut bersuara.
“Aku bahkan belum pernah ke sana mana mungkin aku mempunyainya.” Shin melipat dahi.
“Tapi mungkin saja kau mempunyainya.” Noburu menggaruk kepala.
“Coba kau periksa di dalam tasmu.” Musume mendekat.
Tas selempang yang selalu Shin pakai, dia langsung melepasnya. Lalu dia simpan di atas meja di hadapannya. Kemudian dia merogohnya, kemudian mengeluarkan semua barangnya. Dia tidak menemukan apa pun di dalamnya, kecuali beberapa perlengkapan, sebuah botol air, dan buku kecil berwarna hitam yang tampak sudah tua serta tidak pernah dia buka.
Musume telah berada di sana, kemudian langsung memperhatikan buku tua itu. Dia menunjuk. “Kau dapat dari mana benda itu.”
Sejenak Shin berpikir keras. “Aku tidak tahu pasti, tapi jika buku ini ada di dalam tasku mungkin peninggalan seseorang untukku.”
Buku usang bersampul hitam itu segera Musume ambil, kemudian dia buka. Dia menggeser dari halaman pertama hingga pertengahan. Tidak ada tulisan apa pun pada lembar buku tersebut, tapi saat dia membuka satu halaman berikutnya ada sebuah catatan. “Shiba?” Dia bergumam. “Shin, apa kau kenal dengan nama ini.” Dia segera menunjukannya.
Beberapa saat Shin memperhatikannya, tapi dia langsung menggeleng. “Aku tidak mengingat apa pun.”
Musume membalik buku itu langsung ke halaman belakang, lalu melipat dahi seakan sedang memikirkan sesuatu. Ternyata ada sebuah tulisan di sana. Namun, dia tidak dapat membacanya. Kemudian dia balik kanan menuju ke arah Prof. Yamato.
Mereka semua penasaran, lalu segera mendekat juga ke sana. Mereka kini berkerumun di depan meja Profesor.
Dria menyodorkan buku itu. “Prof, kau tahu tulisan apa ini?”
Prof. Yamato segera memperhatikan halaman terakhir buku tersebut serta bergegas memakai kacamatanya yang tergantung di saku baju penelitiannya. “Aku sedikit tahu tentang bahasa tulisannya, ini ....”
Seseorang mengetuk pintu. Semua orang di sana menatap ke sana. Musume segera menyeru siapa pun yang ada di balik pintu tersebut untuk segera masuk.
Mai masuk ke dalam. Kemudian memberi hormat. “Maaf, aku ....”
“Sudahlah, cepat kemari.” Musume memotong.
Kepala Mai mengangguk, lalu segera menghampiri.
“Ayo, lanjutkan, Prof.” Shin penasaran.
“Ini adalah bahasa tradisional yang dipakai orang-orang Desa Do.” Prof. Yamato segera menjelaskan.
“Kalau itu bahasa desaku, aku sedikit bisa bahasa itu.” Mai segera menimpali. Dia pindah ke samping Profesor. Kemudian langsung menatap tulisan tersebut.
“Apa kau bisa?” Prof. Yamato menyimpan kacamatanya kembali.
Mata Mai memperhatikan kalimat pertama. “Benteng ... tepi danau ....” Dia langsung beralih ke kalimat kedua. “Kartu ... di dalam kolam ikan.” Dia melipat dahi tidak tahu apa yang di maksud dua paragraf rangkaian kata tersebut.
“Bukankah benteng tepi danau adalah Benteng Gojo dan kemungkinan itulah kartu yang di maksud Gojo.” Maki langsung menyimpulkan.
“Kau benar, ada kemungkinan. Kita harus memastikannya sendiri.” Musume menimpali.
“Baiklah, segera kita ambil kartu itu.” Shin mengepalkan tangan.
“Kalian harus berhasil mendapatkannya! Sekarang, aku harus kembali bekerja.” Prof. Yamato meninggalkan ruangan.
“Tunggu aku kembali besok, hari ini selama aku di Desa Tetsu kalian punya tugas masing-masing di kota. Jadi, sebelum besok aku mengirimkan sebagian dari kalian untuk menjalankan misi ke Benteng Gojo, sebaiknya kalian telah menyelesaikan dulu tugas kalian hari ini.” Musume berbicara cepat.
Mereka semua mengangguk tegas. Kemudian balik kanan meninggalkan ruangan.
-Bersambung-

Komentar Buku (112)

  • avatar
    SulaemanDADAN

    lanjut

    26/04

      0
  • avatar
    SaputraTugas

    bagus

    02/11/2024

      0
  • avatar
    ShogirBanu

    film ini seru sekali

    29/08/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru