Aku segera menarik tangan Farel. Dan kulihat senyum lebarnya tersungging di bibirnya. Dasar pria aneh. Dia hendak memelukku, tapi langsung kucubit perutnya. Gak lihat apa ada tante Billa sama mama. "Siapa?" tanya Tante Billa bingung. "Saya? Belahan jiwanya tante. Haha. Aw!" Kapok! Kucubit sekali lagi perutnya. Dia meringis, tapi tersenyum lebar ke arahku. Tahu saja, pipiku merah karena perkataanya tadi. Malu dong. "Oh. Haha... aku kira siapa. Kok manggilnya Yulia? Bukan Ha--" "Eh, Bil... sudah makan?" Napasku tercekat. Untung saja mama cepat bereaksi. Memotong perkataan tante Billa. Kulihat tante Billa tambah bingung. Jantungku berdegup. Farel sudah mendengar sebagian perkataan tante Billa yang menanyakan panggilannya barusan. Tapi setelah ku tatap takut-takut, ekspresinya biasa saja. "Belum, Ly. Mau nawarin makan ya?" Mama melirikku, memberi isyarat agar mengajak Farel masuk. Aku mengangguk dan menarik tangannya. "Ayo ke atas. Kamu belum mandi kan? Bau," tukasku. Dia malah merangkulku. "Bau-bau gini kamu sayang kan?" Aku merotasikan bola mata malas. Dan dia malah semakin tertawa. Sempat ku dengar tante Billa menanyakan tentangku. ******* "Dua hari lagi aku mau meninjau perusahaan di Singapura." Ku toleh ke arahnya sekilas. Kebiasaan. Dia melepas kemejanya dan menyisakan celana panjangnya saja. Duduk di kursi di depan meja rias, tapi arah pandangnya tertuju padaku yang sedang mengambilkan baju ganti untuknya. "Emm... terus?" ucapku tanpa menoleh. Pura-pura mencari keberadaan pakaian yang pantas di pakainya. Meski sebenarnya semua pantas sih. "Kamu ikut ya?" Kali ini aku benar-benar menoleh. Sayang sekali, mataku justru tertuju ke perut eight packnya. Membuat pasokan udara mendadak menyesak. "U-untuk apa? Maksudku, kenapa harus ikut?" Kupalingkan wajahku, grogi. Ku dengar kekehan kecil lolos dari bibirnya. Dia pasti puas melihat aku gugup. "Nemenin aku dong. Ya? Sekalian lanjutin bulan madu kita. Ntar abis urusan selesai, kita ambil hari libur buat berduaan. Oke?" Aku tak menyahut. Membayangkan berkunjung ke tempat-tempat romantis saja sudah cukup membuatku senyum-senyum sendiri. "Nah. Oke. Aku anggap jawabannya iya." "Eh, kata siapa? Aku belum nyetujuin ya," ucapku. Farel tersenyum. Beranjak dari duduknya dan menghampiriku, sedikit menunduk untuk mensejajarkan tinggi badannya. Aku memalingkan wajahku, tapi dia mengikuti terus. Tentu dengan senyum lebarnya. "Ih, apaan sih, Rel." Dia tertawa. Menangkup kedua pipiku dengan tangan lebarnya. "Aku melihatmu senyam senyum sayang. Jadi aku anggap kamu setuju. Tidak terima penolakan. Oke? Emuach!" Sial! Dia kembali mencuri kecup dibibirku. Lembut meski singkat. Lalu tanpa menghiraukan semburat di pipiku, dia kabur menyambar handuknya menuju kamar mandi. "Fareell!" Dia terbahak dari dalam kamar mandi. Diam-diam, aku tersenyu? Menyentuh sisa kecupannya yang masih terasa. Yah, ini indah. Andai saja ini nyata. ******* Kami sudah sampai rumah lagi. Masak iya harus nginep setelah tadi malam nginep di rumah mertua. Kasihan rumah ditinggal terus. Malam ini aku tidak masak. Tentunya setelah menghabiskan lauk di rumah mama tadi. Hehe. ****** Dua hari kemudian, aku benar ikut Farel ke Singapura. Sebelah tangannya menyeret koper kami, dan sebelahnya memegang erat tanganku. Seakan tak mau kehilangan diriku. Asal kalian tahu, semakin dekat dengannya, semakin takut aku kehilangan dirinya. Ya Tuhan, jika saja itu tiba, dan Yulia kembali datang, apakah aku siap pergi dari kehidupan Farel? Dan jika itu benar terjadi, maka memori itu hanya tersimpan di otakku. Karena bagi Farel, aku ini adalah Yulia. Meski dia nanti kembali bertemu Yulia, dia akan lupa dengan wajahku. Menganggap yang selama ini menemaninya adalah Yulia. Ah, membayangkan saja, dada ini terasa sesak. Pesawat membawa kami dan penumpang lain melintasi perjalanan udara. Farel tidur dengan bersandaran bahuku. Kumanfaatkan dengan menyimpan dalam-dalam wajahnya dalam memori. Entah kenapa, begitu berada di atas awan, perasaanku tak tenang. Seperti akan ada sesuatu buruk yang menanti. Berkali-kali ku tarik dan hembuskan napas. Mengusir kegelisahan yang menerpa. Tapi tetap saja. Mendadak aku ingin menangis. Tapi tak mungkin aku menangis diantara ratusan penumpang di pesawat ini. Apalagi ada Farel yang tengah bersandar padaku. Dia bisa bangun dan, yah, begitulah. Dia selalu over. Malah heboh nanti. Ya Tuhan, andai waktu itu sudah dekat, jangan kau hapus perasaanku padanya. Biarkan saja aku mencintainya meski pasti akan menyakitkan. Beri kesempatan untuk menciptakan kenangan yang indah. Aku masih berharap, akan ada keajaiban, dia tidak akan melupakanku, meski rasanya tak mungkin. Yulia, bolehkah aku egois? Jangan pernah muncul lagi di hadapan kami. Meski selamanya aku menjadi bayanganmu, tak masalah. Asal aku bisa bersama dengan seseorang yang aku cintai. Dan Farel, maafkan aku telah membohongimu. Kau akan membenciku begitu tahu caraku terlalu licik untuk mendapatkanmu. Terlalu lelah berfikir, aku ikut tertidur. Dengan kepala kami saling bersandar. ******* Bandara Changi. Farel bangun lebih dulu. Dia menepuk pelan pipiku, dan membuatku terbangun. Mendapati senyum manisnya yang menyapa. Dia menuntunku keluar dari pesawat bersama penumpang yang lain. "Kita nginep di hotel. Kita tunggu saja, ada yang akan menjemput kita. Masih sanggup kan?" "Emang kamu kira aku selemah itu? Naik pesawat Jakarta-Singapura mah gak lama, Rel." Dia tertawa. "Iya... iya. Aku tahu kok, istriku ini wanita terkuat. Apalagi hatinya, dia bahkan membuatku kagum." Aku menoleh. Hatinya? Apa maksud perkataannya. Namun mau bertanya rasanya enggan. Jadi memilih diam. Tak lama jemputan yang dimaksud Farel datang. Dia adalah Mr. Chou. Tangan kanan Farel di Singapura ini. Mr. Chou ramah memperkenalkan diri dengan bahasa Indonesia berlogat khasnya itu. Sampai di hotel yang dimaksud, Farel check ini. Barulah kita menuju kamar yang telah di pesan. "Ah, akhirnya..." Ku hempaskan bobot tubuhku di ranjang empuk ini. Farel tersenyum melirikku sekilas. Meletakkan koper di dekat lemari. "Mandilah dulu. Aku pesankan makanan untuk kita." "Tapi, aku capek," ucapku terdengar manja. Dia tertawa. Mengusak suraiku. "Mandilah. Biar segar. Habis itu makan, baru istirahat. Oke?" Aku mengangguk. Lalu beranjak lagi mengambil handuk dan pakaian ganti. Farel sendiri terlihat sibuk menghubungi seseorang. Aku tidak tahu dia menghubungi siapa. Karena setelahnya aku sibuk membersihkan diri di kamar mandi. Menikmati segarnya air setelah perjalanan yang lumayan.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
ceritanya bagusss👍👍
06/08/2022
0Good keren
13d
0seru guys
22/08
0Lihat Semua