Aku menunduk. Terpaksa harus menjelaskan semuanya. Bahkan percuma juga berbohong. Yulia juga sudah tahu. Tapi, tentunya aku akan menyembunyikan alasan pribadi melakukan penipuan ini. "Jadi--- ah, aku bahkan gak habis pikir, Rel. Tega kamu ya." Yulia menangis. Meski aku tahu, air mata buaya. "Maafkan aku Yulia. Aku hanya tidak mau kamu sakit hati karena membayangkan yang tidak-tidak tentangku dan kak Hana. Jadi, aku terpaksa harus berbohong." "Lalu, kenapa saat berada di Singapura kamu berpura tidak mengenalku?" tukasnya tajam. "Maaf. Saat itu aku belum ingat. Tapi, saat sudah di tanah air, aku mengingatmu. Makanya pas kamu ke kantor, aku langsung mengenalimu. Itu karena aku tak bisa berbohong tentang perasaanku Yulia." Yulia mendengkus. Ayolah, kenapa susah sekali membuatnya percaya. "Dan, kenapa aku berpura tak mengenal kak Hana, itu karena aku takut kamu sakit hati membayangkan hari yang telah aku lalui bersama wanita itu karena selalu menganggap dia adalah kamu, sayang." Kugenggam lembut kedua tangannya. Menatap manik mata yang sebenarnya cantik, sayang sekali. Bagiku sekarang manik itu bagai mata ular. Terlalu berbisa. "Hiks... hiks... aku takut, Rel. Aku takut kamu ninggalin aku demi wanita itu. Apalagi seperti yang kamu bilang, dia lagi hamil kan? Hiks... apa kamu akan menikahinya?" "Rel?" "Huft... menurutmu bagaimana?" "Aku tidak mau dimadu, Rel." "Baiklah. Aku turuti itu. Lagipula itu juga belum tentu anakku kan. Bisa jadi dia hamil dengan laki-laki lain. Apalagi saat aku kerja, dia kan hanya di rumah." Yulia mengangguk. "Sudah, habiskan makanan, lalu kita pulang." Yulia mengangguk lagi. Biarlah orang di restoran ini memandang aneh pada kami. Yang penting, untuk sekarang ini bisa ku kendalikan. Semoga saja Yulia tidak bermaksud menyakiti kak Hana. ****** (POV Author) "Hana, siapa dia?" Gadis itu memalingkan wajahnya. Mereka dalam perjalanan setelah gagal makan di restoran tadi. David, pria yang sedari tadi bersama Hana itu menghela napas. "Maaf jika pertanyaanku kembali menyakitimu. Aku hanya penasaran, Hana. Pria brengsek itu membuatmu menangis. Apa dia, ayah dari bayimu?" Ada sembilu tajam yang menghujam saat dia mengucap kata bayi. Ah, Hana hamil? "Terlalu sakit untuk dijelaskan, Vid," ujar Hana lirih. Pria itu menoleh selintas. Menghela napas. Sesak, tapi dia juga emosi. "Brengsek! Jadi benar? Dan siapa wanita yang bersamanya tadi? Selingkuhannya? Aish! Bahkan dia selingkuh, tapi dia masih bisa membentakmu? Gila!" maki David memukul stir kasar. Hana menggeleng. "Dia tidak salah," ucapnya disela isaknya. "Tidak salah bagaimana? Jelas-jelas dia tadi memakimu, Hana?" ujar David gemas sekaligus kesal. "Dia... dia amnesia, Vid. Dan sebenarnya, dia menikahiku karena mengira aku adalah wanita itu." David cengo. "Seharusnya dari awal aku tahu konsekuensi itu. Aku tahu, setelah wanita itu kembali, maka ingatannya tentangku juga akan hilang. Tapi, aku rasa dia sudah ingat, bahwa aku telah menipunya dengan mengaku sebagai Yulia. Wajar saja dia marah. Aku memang bodoh, Vid!" David menghela napas. Melihat wanita muda itu dengan sorot kasihan. Hana, gadis yang dia kagumi sejak semester pertama di kampus dulu. Wanita yang membuatnya terpana sejak Ospek kampus beberapa tahun yang lalu. Sikapnya yang ramah, dan senyumnya yang memukau membuatnya terkesima. Mereka sering bertemu, karena selain satu jurusan, juga satu kelas. Setelah wisuda, David tak pernah mendengar kabar Hana lagi. Dia juga tengah mengembangkan bisnis ayahnya, pengelola meubel besar di kota. Bertemu gadis itu kembali, setelah menghilang tanpa kabar, adalah anugerah baginya. Tapi, ah, kenapa justru kabar buruk yang dia terima. Wanita muda ini, bahkan sudah hamil, dan-- hanya menjadi bayang dari wanita lain. Ah! malang sekali nasibnya. Tangan David hendak terulur, tapi dia urungkan saat tahu dia bukan siapa-siapa. Awalnya, David tidak tahu kalau Hana hamil. Sebenarnya dia tadi di restoran juga cukup terkejut. Tapi yang lebih membuatnya terkejut justru keberadaan Yulia. Karena itulah dia sedari diam saja. Yulia memang tak mengenalinya, tapi dia tahu persis siapa Yulia. "Maaf, Na. Apa kamu benar-benar menyukai pria itu?" ucapnya hati-hati. Dan kediaman Hana adalah jawabannya. Sakit. Tapi David sadar akan satu hal, dia harus tahu keseriusan pria itu dan juga membongkar identitas Yulia. Kalau saja pria itu juga berbalas menyukai Hana, maka dia akan menyerah. Sebaliknya, jika pria itu adalah pria brengsek, maka dia tidak akan sekalipun melepas Hana dari sisinya. "Katakan, kamu mau makan dimana sekarang. Aku akan mengantarmu." "Aku tidak lapar lagi, Vid," jawabnya lirih. "Oke. Kalau begitu, kemana? Tenang saja. Hari ini aku siap mengantarmu kemana saja." "Taman. Dekat kompleks perumahan Asri," ucapnya. Itu adalah taman bermain yang dulu sering dia kunjungi bersama Farel saat kecil, sekaligus sangat dekat dengan rumah orang tua Farel. David mengangguk. Membelokkan stir menuju alamat yang diinginkan Hana. ****** Mereka saat ini sudah kembali ke kantor. Farel kembali berkutat dengan pekerjaannya. Berbeda dengan Yulia yang melirik sinis pria itu. Dalam hati dia merutuk. Apa pria itu pikir dirinya bodoh? Jelas-jelas perkataan Farel tadi adalah menunggu, bersabar? Huh! Wanita itu, telah berhasil mengambil Farel dari sisinya. Dan itu tidak bisa dibiarkan begitu saja. Dia harus bertindak. Atau rencananya untuk menguasai harta Farel akan sia-sia. Yulia, gadis itu kembali karena dorongan sang pacar dan dengan rencana barunya. Pasca kecelakaan yang mereka sengaja itu, mereka pikir Farel mati. Mereka bahkan tak peduli lagi kabar Farel. Hingga malam itu, Yulia yang melihat Hana bersama seorang pria di sekitar hotel. Dia membuntutinya. Alhasil Yulia mendapat fakta bahwa Farel masih hidup. Dia mencak-mencak kepada pacarnya, Frans. Dengan penyelidikan singkat, mereka mendapat fakta yang mengejutkan. Farel amnesia, dan parahnya, yang dia ingat hanyalah Yulia. Keduanya tersenyum puas. Rencana dibelokkan. Kalau Farel tak juga mati, maka sekarang, hartanya harus dikuasai. Apalagi misi Yulia datang ke Indonesia tak kunjung mendapatkan hasil. Misi untuk mencari mama kandungnya. Sengaja, dia datang kembali pada Farel. Yang pertama gagal. Farel menolak mengingatnya. Tapi, yang kedua dia berhasil. Lewat koneksinya, dia berhasil mendapat posisi yang diincar. Senyum asimetris terpatri di bibirnya. Pria macam Farel, tak berhak bahagia. Alasan Yulia membenci Farel? Hah! Hanya masalah sepele. Karena Farel yang posesif, Farel yang mengukung kebebasannya yang masih suka melebarkan sayapnya pada pria. Dan juga, pengaruh dari Frans, pria yang awalnya hanya selingkuhan, tapi mampu memberikannya pengaruh kuat. Yulia jadi benar-benar membenci pria yang pernah mengisi hatinya, walau hanya sesaat. "Kau dimana sekarang?" pesannya pada seseorang. Melirik Farel yang tetap sibuk pada pekerjaannya. Aman. "Ada apa sayang?" "Kau merindukanku ya?" "Jalankan misi sekarang. Sebelum wanita itu menggagalkan rencana." "Oke siap, sayang. Aku tunggu di markas biasa. Oke?" Yulia tersenyum licik. Hana, tunggulah masamu sebentar lagi akan berakhir.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
ceritanya bagusss👍👍
06/08/2022
0Good keren
13d
0seru guys
22/08
0Lihat Semua