Lunchlovelicious

Cahaya menggerutu sambil meringis kesakitan. Langkahnya terlihat timpang. Ia menatap penuh dendam pada Ardian yang berjalan di depannya.
Tadi Cahaya terjatuh ketika turun dari sebuah wahana. Ia terlalu bersemangat turun setelah menaiki sebuah wahana. Terlalu senang melihat Ardian yang terlihat tidak menikmati wahana tersebut. Cahaya lengah. Ia kira sudah menginjak bumi. Ternyata masih ada satu anak tangga lagi yang harus dilewati.
Ia kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk. Punggung kakinya sedikit tertekuk tertimpa tubuh. Gadis itu langsung menjadi pusat perhatian. Ardian hanya menoleh lalu tersenyum geli. Tidak membantunya berdiri.
Bagus! Lelaki itu pura-pura tidak mengenalnya.
Cahaya bangkit sendiri. Pura-pura tidak peduli dengan keadaan sekitar dan melenggang pergi.
Ardian duduk di sebuah bangku kosong. Cahaya bergegas mengikuti dan ikut duduk di sebelahnya. Gadis itu membaca sebuah tulisan dan berkata pada Ardian, "aku ke toilet dulu ya."
Ardian memperhatikan Cahaya yang berjalan menjauh. Menyadari langkah tertatih gadis tersebut yang memasuki sebuah bangunan.
Setelah selesai dengan hajatnya, Cahaya menuju wastafel. Membasahi telapak tangannya dengan air yang mengalir kecil dari kran. Ia sedikit mengernyit ketika merasakan perih dan menyadari sikunya yang sedikit lecet akibat insiden tadi.
Cahaya meraih tempat tissue dan berdecak sebal. Meraba-raba ke dalamnya yang ternyata kosong.
"Bagaimana ini? Masa tempat hiburan sekelas Pulau Fantasia kehabisan tissue toilet," gumam Cahaya gemas. Di toilet tidak ada seorang pun selain dirinya, jadi ia merasa bebas untuk mencerca tempat tersebut.
Gadis itu melupakan tissue toilet dan memandang pantulan dirinya di dalam cermin. Ardian memang tidak bohong. Scarf di atas kepalanya memang membuat Cahaya terlihat berbeda dan ..., cantik.
Tapi gadis itu memutuskan membuka ikatan di atas kepalanya. Membasahi kain itu dengan air, kemudian mengusapkan ke sikunya yang lecet. Menutup luka tersebut dengan sebuah plester luka kecil. Sepatunya sering menjadi tidak nyaman jika dipakai berjalan jauh, karena itu Cahaya selalu menyiapkan plester penutup luka.
Selesai dengan luka, Cahaya menatap pantulan dirinya lagi. Rambutnya jadi terlihat kusut dan bergelombang. Ia tidak bisa memasang scarfnya lagi karena sudah kotor dan basah. Gadis itu merapikan rambutnya dengan sedikit air dan segera beranjak dari toilet.
Ardian menoleh ketika Cahaya menjatuhkan diri duduk di sebelahnya. Ia menyadari Cahaya membuka ikatan scarfnya, tapi tidak berkomentar.
"Mau ke mana lagi kita?"

Entah mengapa, sebuah kata terakhir yang diucapkan gadis itu terasa menyenangkan di telinga Ardian.
"Kamu lapar?" Cahaya menyeringai, mengingat siang tadi mereka hanya melahap sosis bakar.
"Ayo, kita cari makan dulu." Mereka beranjak bangkit, tapi Cahaya mengaduh. Ia terduduk kembali.
"Sepertinya kram." Cahaya membuka sepatunya. Sebelum ia merunduk, seseorang keburu duduk bersimpuh di hadapannya.
"Kak Ardian, apa yang ..." Cahaya berjengkit ketika sepasang tangan menyentuh kemudian memijat kakinya ringan.
"Mana yang sakit? Di sini?" Cahaya meneguk ludah ketika lelaki itu mendongak ke arahnya.
"I-iya, di situ." Ardian kembali memijat. Membuat Cahaya tersadar.
"Sebelahnya lagi, Kak. Aduduh, pelan-pelan. Tidak, sedikit lebih kuat memijatnya." Ardian menyadari Cahaya yang sedang mengerjainya. Tapi ia sengaja mengikuti permainan gadis tersebut.
"Pergelangan kakimu sepertinya lecet," gumam Ardian.
"Memang selalu seperti ini." Cahaya mengeluarkan plester penutup luka yang sudah dipersiapkan. Ardian merebut benda tersebut. Menempelkannya pada bagian yang lecet.
"Kakiku memang menyusahkan," lanjutnya menutupi debar yang perlahan melonjak. Ardian sudah menempelkan plester tersebut, tapi tangannya masih mengalungi pergelangan kaki Cahaya. Tampak berpikir.
Kaki itu menendang pelan, menyadarkan Ardian. Ia bangkit sambil masih memperhatikan kaki Cahaya yang sedang masuk ke dalam sepatu.
"Baiklah, ayo kita makan dulu. Aku sudah lapar," ucap Ardian lalu meninggalkan Cahaya.
Gadis itu beranjak bangkit lalu mencoba berjalan. Agak tertatih. Ia melihat berkeliling, mencari Ardian yang seakan menghilang. Tapi kemudian ia melihat lelaki itu berjalan menghampirinya.
"Di sebelah Pulau Kurcaci ada sebuah restoran enak. Kita bisa makan di sana, Kak."
Ardian terdiam. memperhatikan Cahaya.
"Kamu bisa berjalan?" tanyanya.
"Sedikit kaku karena kram tadi. Tapi sudah baikan kok."
Cahaya bertolak pinggang sambil menunjukkan kaki, kemudian memutar pergelangannya, tapi ia meringis ketika sepatunya menyentuh luka di punggung kaki yang tidak tertutup plester.
Ardian berjalan mendekat. Membelakangi Cahaya lalu sedikit merundukkan bahunya.
"Cepatlah naik."
"Naik kemana?" Cahaya takut salah memahami perkataan Ardian.
"Naik kemari." Lelaki itu menepuk pundaknya sendiri.
"Aku akan menggendongmu," lanjutnya tanpa menoleh lagi.
"Tapi, Kak ...," Pipi Cahaya menghangat.
"Aku berat."
"Tidak apa-apa. Jalanmu lambat sekali. Aku sudah terlalu lapar." Cahaya memanyunkan bibir. Ia terlalu percaya diri melihat sikap romantis Ardian.
Baiklah, rasakan ini. Cahaya memeluk leher Ardian erat-erat lalu naik ke punggung lelaki itu. Ardian mengendurkan pegangannya. Ia menoleh pada gadis di gendongan belakang. Cahaya menahan napas ketika hidungnya hampir menyentuh pipi Ardian. Tapi lelaki itu bersikap biasa saja.
"Tenang, Nona. Anda mencekik saya." Ardian memperbaiki posisi mereka lalu mulai melangkah. Beberapa pengunjung sejenak melemparkan pandang ke arah mereka. Tersenyum-senyum.
"Berat ya, Kak?" tanya Cahaya tidak enak. Tapi kan bukan dia yang memaksa naik ke gendongannya. Siapa suruh lelaki ini menawarkan punggungnya yang ternyata begitu nyaman.
"Memang berapa timbanganmu?" tanya Ardian masih dengan langkah konstan, seakan tanpa beban di punggung.
"Lima puluh kilo," jawab Cahaya malu-malu lalu melanjutkan, "Seperti memanggul sekarung gula, ya." Ia tertawa. Geli sendiri dengan perumpamaan yang dibuatnya. Cahaya melirik Ardian yang tidak bereaksi apa-apa. Mencibir sebal di balik bahu lelaki itu.
***
Ardian menatap Cahaya setelah pelayan itu pergi.
"Yakin tidak ingin es batu untuk mengompres kakimu?" Cahaya mendecak sebal. Pertanyaan itu lagi.
"Tidak, Kak Ardian. Kakiku baik-baik saja." Cahaya berniat menunjukkan kakinya ke atas meja. Menggerak-gerakkannya ke segala arah agar Ardian tahu kalau ia baik-baik saja.
Cahaya memperhatikan tempat makan yang mereka kunjungi. Sebuah restoran mewah dengan lampu gantung di setiap meja. Nuansa romantis sangat kental terasa. Tapi laparnya langsung hilang begitu membaca daftar menu yang disodorkan pelayan dengan gaya sopan dan formal. Baru menyadari mengapa restoran tersebut begitu sepi.
Jadi Cahaya hanya memesan bakso kosong. Tanpa mie, bihun, tauge, juga isiannya yang lain. Menu paling murah di restoran tersebut. Ia harus memikirkan kemungkinan mereka membayar makanan masing-masing. Jujur saja, ibunya hanya membekalinya dengan uang pas-pasan. Apalagi, sepertinya sikap lelaki di hadapannya ini agak susah ditebak.
Pesanannya datang tidak lama kemudian. Cepat sekali. Cahaya curiga, jangan-jangan mereka hanya memasukkan beberapa butir bakso kosong ke dalam mangkuk lalu menyiramnya dengan air panas. Tapi segala prasangka menguap begitu aroma gurih bakso mencapai cuping hidungnya.
"Boleh aku makan duluan?" tanya Cahaya, dan tanpa menunggu jawaban segera menyeruput kuah baksonya. Pesanan Ardian belum datang sehingga ia hanya memperhatikan gadis di depannya makan. Cahaya terlihat begitu kelaparan, tapi Ardian senang melihatnya.
Gadis itu terlihat sedikit repot dengan rambutnya. Cahaya menoleh padanya, lalu menyeringai.
"Sepertinya aku lebih butuh karet rambut dari pada es batu," ucapnya sambil menyingkirkan rambutnya dengan punggung tangan.
Padahal Ardian tidak melihat ada yang aneh dengan rambut gadis itu. Ia beranjak bangun lalu duduk di sebelah gadis itu. Menyuruhnya agar berbalik.
"Ikuti saja," perintahnya lagi, membuat Cahaya menurut patuh.
"Ada ap ..." Cahaya berdesir ketika sepasang tangan meraup seluruh rambutnya lalu mengumpulkan anak-anak rambut yang tertinggal.
Ardian pasti mengikat rambut panjang tanggungnya dengan sesuatu, karena Cahaya tidak merasakan anak rambut yang merecoki wajahnya lagi.
"Selesai." Ardian tampak puas dengan hasil kerjanya.
"Waktu kecil sebenarnya aku ingin punya adik perempuan," ucapnya sambil tersenyum. Cahaya ingin menyentuh rambutnya yang terikat, tapi tangannya pasti sudah kotor akibat memegang botol sambal.
"Terima kasih," kata Cahaya ringan lalu kembali menghadapi makanannya.
"Oh ya, kenapa Kak Ardian ingin punya adik perempuan?" tanya Cahaya sambil menyesap air mineralnya.
"Aku butuh seseorang untuk diusili." Cahaya tersedak. Ia mengambil tissue lalu mengusap matanya yang berair. Membayangkan Ardian kecil datang ke rumahnya. Menemui Nawan sambil membawa sang adik untuk ditukar tambah dengan dirinya.
Pelayan datang membawakan pesanan Ardian. Lelaki itu tetap duduk di sebelah Cahaya lalu mulai makan.
Lihatlah, Cahaya, batin gadis itu sambil memperhatikan Ardian.
Lelaki ini makan dengan begitu rapi dan sopan. Sangat beradab. Beda sekali denganmu yang membuka mulut lebar-lebar untuk memasukkan tiga butir bakso kosong, mengunyah sekedarnya, kemudian membiarkan lambungmu bekerja keras mencernanya macam hewan pemamah biak. Beda sekali dengan Varel dengan nafsu makannya yang bar-bar.
Menu yang dipesannya terlihat begitu enak ... pasti jauh lebih lezat dari menu bakso kosong tadi.
Ardian menoleh dan menangkap basah Cahaya yang tengah menelan ludah sambil memperhatikan makanannya. Lelaki itu tersenyum.
"Oh ya, biar aku yang mentraktir makan siangmu hari ini."
***
Hari menjelang malam. Ardian mengajak Cahaya meninggalkan Pulau Fantasia dan membawanya ke sebuah coffee shop. Mereka duduk di sebuah sudut. Ardian dengan kopi esspressonya dan Cahaya dengan segelas matcha greentea latte.
Lelaki itu memandangi wajah letih Cahaya yang tengah menekuri jalanan lengang lewat jendela kaca besar di sebelah mereka. Jemarinya memainkan bandul dari kalung yang melingkari leher. Ardian mendesah.
Setelah ini ia tidak punya alasan lain untuk menahan Cahaya lebih lama lagi berada di sisinya. Akhirnya ia memutuskan menyudahi kebersamaan mereka yang menyenangkan hari ini. Ardian menyadari, betapa ia banyak tersenyum dan tertawa hari ini. Bukan seperti dirinya yang biasa, tapi terasa menyenangkan.
"Bagaimana kakimu?"
Pertanyaan itu terulang kembali setelah mereka sampai di depan rumah Cahaya. Ardian tertawa melihat wajah gemas gadis di hadapannya. Sebenarnya ia hanya ingin memperpanjang waktu kebersamaan mereka dengan pertanyaan tidak penting.
Nawan muncul dari balik pintu. Menyambut kedatangan mereka. Matanya melirik bungkusan di tangan Cahaya. Sang anak segera tanggap dan menyerahkan bungkusan tersebut. Nawan pun kembali ke dalam lagi.
"Terima kasih, Kak," ujar Cahaya setelah ibunya masuk. Ia menahan napas ketika Ardian maju kemudian mendekatkan bibirnya. Sejenak ia berpikir Ardian akan menciumnya. Hati Cahaya berdesir ketika napas hangat menyentuh pipinya.
"Jangan lupa laporannya."
Cahaya menghela napas mendengar bisikan itu. Ia memutar bola mata mendengar ucapan Ardian. Lelaki itu menjauhkan tubuhnya. Mengucapkan beberapa kata basa-basi sebelum pergi. Cahaya tersenyum memandang punggung yang menjauh tersebut lalu masuk. Ia melihat Nawan yang sedang menikmati donat kesukaannya.
"Bagaimana kencanmu hari ini?"
Cahaya memutar bola mata mendengar ucapan ibunya.
"Melihat dari wajah kamu, sepertinya menyenangkan," goda Nawan kembali.
"Sudahlah, Aya mau mandi dulu." Cahaya berusaha berkilah. Ia masuk ke kamar. Sejenak tertegun menatap pantulan dirinya di balik cermin.
Hei, siapa perempuan cantik yang begitu semringah di sana? goda Cahaya pada bayangan wajahnya. Ia tersipu-sipu kembali.
Cahaya melepaskan ikatan rambutnya. Hendak menggelung rambutnya setinggi mungkin agar tidak basah ketika mandi. Tapi ia terdiam memandangi benda di tangannya.
"Ini seperti jepit rambut yang hilang tadi ..." gumamnya sambil meneliti benda tersebut.
***

Komentar Buku (119)

  • avatar
    Taalsarti

    ceritanya sangat lah seru dn menarik

    31/07

      0
  • avatar
    abangabang

    keren

    23/03

      0
  • avatar
    SukriandiMHD sukriandi

    bagus

    22/03

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru