Beranda/Dalam Cinta Dua CEO Tampan/
Hanya Salah Dengar
Melisa memanggil Cahaya yang sudah duduk manis di atas ayunan tersebut, lalu berjalan menghampiri.
"Sudah bangun?"
Cahaya mengangguk sambil menyeringai. Ia tidak bisa tidur semalamam suntuk, dan bangun terlalu pagi. Menunggu matahari sedikit menampakkan diri, dan segera kemari. Ia sungguh-sungguh jatuh cinta pada ayunan dari ban bekas ini.
Melisa mengambil tempat di ayunan sebelah Cahaya, dan mulai berayun dengan kaki yang masih berpijak pada tanah.
"Ayunan ini dibuat oleh Ardian. Khusus untukku."
Cahaya menghentikan ayunannya secara mendadak. Membuat sandalnya bergesekan dengan tanah. Menimbulkan sedikit suara.
"Ma-maaf, Kak. Aku tidak tahu."
Melisa berdecak gemas.
"Hei, aku hanya bercerita."
Cahaya jadi merasa serba tidak enak. Akhirnya ia mengayunkan dirinya pelan-pelan.
"Ketika mama meninggal, aku begitu kehilangan. Dan Ardian mencoba menghiburku dengan membuatkan ayunan ini."
Melisa menunjuk ke sebuah pohon, "Kamu lihat, dia mengukir nama kami di sana. Masih ada sampai sekarang."
Cahaya mengangguk pelan.
"Romantis sekali," lirihnya sambil menahan malu.
Ternyata ayunan ini dibuat khusus untuk gadis yang Ardian cintai. Dia, dengan tidak tahu malu, merajuk seakan ayunan ini miliknya sendiri.
"Bagaimana dengan Varel? Dia lelaki yang romantis?"
Cahaya meringis mendengar pertanyaan tersebut. Ia hendak menjawab ketika melihat Melisa melambaikan tangan pada seseorang. Refleks ia menoleh dan mendapati Ardian yang tengah berjalan mendekat.
"Tidur nyenyak semalam?" goda Melisa begitu Ardian tiba di hadapan mereka.
Cahaya merasa canggung mengingat kelakuannya semalam. Apalagi raut Ardian terlihat tidak menyenangkan pagi ini. Ia tidak menatap ataupun menyapa Cahaya. Seakan gadis itu tidak berada di sana.
Cahaya mengerti, dalam hati Ardian pasti dongkol sekali melihat sesuatu yang ia buat dengan susah payah dipersembahan untuk gadis terkasih, malah seenaknya diklaim oleh gadis sembarangan seperti dirinya.
Ia jadi merasa tidak pantas berada di sana, atau memainkan ayunan tersebut. Cahaya segera meloloskan dirinya dari sana.
"Sebaiknya aku mandi sekarang."
Rahang Ardian menegang mendengar ucapan Cahaya. Teringat lagi kejadian tadi, ketika ia mengetuk pintu kamarnya dan mendapati Varel tengah berada di sana, dengan wajah bangun tidurnya.
“Semalam hebat banget, Bang.“
Kalimat itu membuat Ardian mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih. Berusaha keras untuk tidak menghajar sang adik.
***
"Itu bisa dimainkan?" tanya Cahaya sambil menunjuk beberapa sepeda yang berbaris di pelataran villa.
"Tentu saja," sahut Varel pongah.
Cahaya mendelik mendengar jawaban tersebut. Setelah mandi, ia memutuskan untuk tidak kembali ke tempat Melisa dan Ardian berada. Ia cukup tahu diri, dan cukup tahu malu untuk tidak menampakkan diri lagi. Jadi ia mengajak Varel mengelilingi bagian villa yang lainnya.
"Itu punya siapa?"
Varel mengernyit mendengar pertanyaan tersebut.
"Maksudnya?"
"Itu bukan milik seseorang kan?" tanya Cahaya memastikan. Ia tidak ingin mengulang kesalahan yang sama.
"Tentu saja itu milikku. Milik villa ini."
Cahaya menghampiri barisan sepeda tersebut. Membunyikan loncengnya sambil menyeringai.
"Kalau ibu tidak melarang, aku sudah jadi atlet sepeda balap," ucapnya sombong.
Varel mendekati, lalu memilih sebuah sepeda.
"Aku juga bisa naik sepeda beroda satu,” sahutnya tak mau kalah.
Cahaya tertawa, menunjukkan sarkasmenya. Ia menaiki sepeda dan mulai mengelilingi pelataran villa.
"Lihat ini."
Cahaya memutar setang sepeda hingga terbalik, lalu melepaskan kedua tangan. Sesekali ia mengangkat roda depan sepeda itu. Varel menepuk dahi melihat kelakuannya.
"Aku ini master."
Cahaya tertawa sambil mengelilingi Varel menggunakan sepedanya.
"Kejarlah aku kalau bisa," ledeknya sebelum berlalu meninggalkan Varel yang mendecih sebal.
***
Varel bertanya penuh khawatir ketika mereka sudah berkumpul di atas sepeda masing-masing, "Sudah ketemu?"
Melisa dan Ardian menggeleng. Varel berdecak sebal. Ia kehilangan jejak ketika mengejar Cahaya tadi dan memutuskan untuk kembali ke villa. Tapi gadis itu tidak kembali lagi sampai siang hari. Membuat semua orang khawatir.
"Kita cari sekali lagi," ucap Ardian.
Berusaha menyembunyikan kekhawatirannya.
"Jika tidak ketemu juga, kita minta penjaga villa untuk ikut mencari."
Mereka berpencar kembali.
Sudah cukup lama ia mengayuh sepedanya, tapi Cahaya masih belum tampak. Ardian mulai resah. Ia berhenti lalu membentuk corong di depan mulutnya sambil berteriak memanggil.
Ardian menatap berkeliling dan di kejauhan ia melihat punggung seorang perempuan yang tengah menuntun sepeda. Ia mengayuh pedal lebih cepat. Setelah cukup dekat, ia berteriak memanggil. Gadis itu menoleh dan terlihat lega melihat kedatangannya.
Ardian tiba di hadapan Cahaya dan turun dari sepeda. Ia sudah hendak mengomel ketika melihat gadis itu meringis. Pandangannya turun ke bawah dan mendapati lutut Cahaya yang sobek terlihat gemetar. Kulit di dekat kelingking kakinya pun nampak mengelupas. Berdarah. Pasti terasa perih. Ardian membuang sepedanya, lalu meraih Cahaya.
"Kamu jatuh?"
"Sepedaku tadi terlalu mepet dengan batu."
Gadis itu menunjukkan mata kakinya yang ternyata lecet juga. Ardian berdecak.
"Lalu kamu mau kemana?"
Cahaya mengenyitkan alis mendengar pertanyaan aneh tersebut.
"Tentu saja pulang," sahutnya seakan Ardian baru saja melontarkan pertanyaan bodoh.
"Ke Jakarta?"
Cahaya mendelik sebal menyadari Ardian tengah mengejeknya.
"Villanya berada di sana, Nona."
Cahaya mengikuti telunjuk Ardian yang mengarah ke suatu tempat yang justru ia jauhi tadi. Gadis itu melongo sejenak, kemudian mencibir.
Sekarang ia malah menampakkan kebodohannya di hadapan lelaki ini.
"Kamu bisa berjalan?"
Ardian tidak memedulikan ekspresi Cahaya. Ia justru terlihat mencemaskan keadaannya.
"Sakitkah?"
"Tadi terasa perih. Tapi sudah agak berkurang."
Ardian tahu Cahaya berbohong. Gadis itu masih meringis-ringis menahan sakit.
"Sayang sekali, sepeda kita tidak ada boncengannya, jadi mau tidak mau, kamu harus berjalan, Ay."
Sepasang mata bulat makin membesar.
"Jauhkah?"
Ardian menahan geli melihat ekspresi horor Cahaya.
“ Naiklah.” Ia membungkukkan tubuh, menawarkan punggungnya. Cahaya mendesah lega. Tanpa basa-basi segera naik ke gendongan Ardian.
"Terima kasih, Kak."
Cahaya melirik dari balik punggung Ardian. Tapi lelaki itu tidak menjawab. Mereka menyusuri jalan tanpa suara.
"Ay...,"
Sebuah panggilan memutus keheningan.
"Ya? " Cahaya kembali melirik wajah lelaki yang sedang menggendongnya. Ardian terdiam sebelum melanjutkan ucapannya, "Kamu tidak ingat?"
Cahaya mengernyitkan alis mendengar pertanyaan tersebut.
"Ingat apa?"
Ardian kembali terdiam.
"Tidak. Lupakan."
Mata Cahaya memicing curiga.
"Oh ya, berapa berat kamu?"
"Lima puluh."
Ardian terdiam lagi.
"Kenapa?" tanya Cahaya.
Sepertinya lelaki di depannya ini mulai menunjukkan sikap aneh.
"Seperti berat sekarung gula, ya."
Cahaya mengernyitkan alis. Ardian mengembuskan napas.
"Sudahlah, lupakan saja."
Langkah Ardian terhenti ketika Cahaya menjatuhkan kepala ke pundaknya.
"Bolehkan aku tertidur sebentar, Kak?" bisik Cahaya di telinga Ardian.
Membuatnya merasakan sensasi yang aneh.
“Kurang tidur semalam?"
Ardian kembali teringat kata-kata Varel tadi pagi.
“Aku tidak bisa tidur semalaman, dan bangun terlalu pagi."
Ardian mendengar Cahaya yang menguap lebar. Ia terdiam, membayangkan semalam....
“Tempat tidurku keburu dikuasai Varel. Dasar bocah itu ... "
Cahaya berdecak sebal lalu menumpahkan kekesalannya.
"Tidurnya pulas sekali. Aku tidak tega membangunkannya. Ingin pindah kamar, tapi pintunya terkunci. Akhirnya aku tidur di luar. Berbaring dengan tubuh tertekuk-tekuk di sofa. Sekarang mulai terasa pegalnya."
Cahaya tidak menyadari perubahan raut Ardian. Tidak pula menyadari senyum tipis yang tercetak di bibir Ardian, yang segera dihapusnya.
Kruyuk … Kruyuk …
“Aduh, perutku bunyi."
Cahaya mengangkat kepalanya, berseru malu.
"Aku belum sempat makan."
Kruuuuukkk …
Cahaya tertawa mendengar suara dari perut yang lainnya.
“Kak Ardian lapar juga ya?"
Cahaya tertawa bisa mendapat kesempatan menggoda Ardian.
“Aku seharian ini mengkhawatirkan kamu. Mana bisa makan. Kamu membuatku tidak nafsu makan sejak pagi," gumam Ardian, membuat Cahaya mengernyitkan alis. Apakah ia salah dengar?
"Coba ulangi."
“Kami seharian ini mengkhawatirkan kamu. Mana sempat makan."
Ardian membelokkan ucapannya.
“Yang terakhir.“
“Tidak ada yang nafsu makan sejak pagi."
Ternyata benar. Hanya salah dengar. Cahaya menghela napas. Menepiskan harapan semunya.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (119)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
ceritanya sangat lah seru dn menarik
31/07
0keren
23/03
0bagus
22/03
0Lihat Semua