Kinara memberi kode ke meja seberang ketika Cahaya melintas di hadapan mereka. Kode rahasia itu segera ditanggapi dengan cepat. "Cahaya, kemari deh.“ Vivian memintanya mendekat. Cahaya yang sedang memfotokopi sebuah dokumen mendekati meja gadis itu. “Ada apa, Mbak?" Vivian dan Kinara saling pandang. “Pulang kerja nanti kita mau karaokean." Cahaya mengeryitkan alisnya. “Kamu mau ikut, Cahaya?“ “Boleh," jawab Cahaya penuh semangat. Ia memang belum pernah karaokean. Pasti seru. "Tapi hari ini kan kita disuruh lembur sama Pak Ardian." Kinara memulai rencana bulusnya. “Kamu bilang dong sama Pak Ardian kalau lemburnya ditunda, besok saja. Malah kalau bisa kita pengen pulang cepat hari ini.“ Kinara memberikan kode yang diikuti pelototan Vivian. “Tapi aku kan masih anak baru, Mbak?" Cahaya mengernyit bingung. “Nanti, yang ada aku bakal digantung sama si bos kalau bicara seperti itu." Kinara mengibaskan kedua tangan. “Tidak akan deh. Percaya padaku." "Pak Ardian kan sayang banget sama kamu.“ Vivian menambahi. Yang membuat dahi Cahaya mengernyit semakin dalam. "Please dong, Cahaya. Kalau kamu yang menyampaikan pasti dia setuju,” bujuk Vivian sambil pasang wajah innocent. “Malah jangan-jangan minta diajak juga," celetuk Kinara. Cahaya memandang bingung kedua gadis di hadapannya yang terkekeh. *** Ardian menatap Cahaya dari balik kacamatanya. Jemari yang sedang bergerak di atas tuts laptop itu terhenti. “Kamu digaji bukan untuk bernyanyi, Ay,“ tandasnya dingin. Entah mengapa, pada akhirnya ia menyebut nama Cahaya seperti panggilan Varel kepada gadis itu. “Menurut saya juga begitu, Pak." Cahaya pura-pura mendukung perkataan Ardian. Tangannya memainkan si bandul mutiara. "Tapi anak-anak …, maksud saya, Mbak-Mbak itu … Eh, teman-teman …“ Tatapan tajam di wajah tanpa senyuman itu membuat Cahaya lupa akan kata-kata yang sudah disiapkan. Sama seperti saat ia mendapatkan senyum Ardian di pom bensin berapa waktu lalu. Terpesona. Benar-benar lupa diri dengan aura dan kewibawaan lelaki di hadapannya. “Bilang teman-teman kamu itu, pekerjaan mereka harus sampai di meja saya besok lusa." Cahaya menatap bingung, lalu mencoba memastikan. “Tapi ini diizinkan, Pak?" Ardian menutup laptop dengan gemas. Menatap wajah Cahaya. Sejenak berpikir, apakah wajah polos di hadapannya itu betul-betul mencerminkan kepribadiannya yang lugu atau hanya sekedar pura-pura. “Cahaya!“ geram Ardian sambil menggertakkan gigi, menahan diri. “Saya tidak peduli, kamu dan teman-temanmu itu mau bernyanyi atau jungkir balik di tengah jalan. Yang penting, besok lusa pekerjaan mereka sudah ada di meja saya. Dan cepat kamu fotokopi kertas-kertas di tangan kamu itu. Sekarang!“ Akhirnya Ardian berbicara dengan nada yang tinggi. Refleks Cahaya melepaskan tangannya dari si bandul mutiara. “I-iya, Pak. Maaf. Nanti saya sampaikan.“ Cahaya bergegas mohon diri sambil membawa berkas-berkasnya. Ia menutup pintu ruang Ardian dengan senewen. Disayang dari Hongkong?! gerutu Cahaya dalam hati sambil melangkah menuju mesin fotokopi. Heran, kenapa orang-orang bisa berpikir kalau ia disayang Ardian? Mereka tidak ada di tempat sih waktu orang itu marah-marah tadi. Cahaya seakan melihat asap yang mengepul dari kepala Ardian ketika lelaki itu menggeram kesal. Kalau ia tidak segera beranjak dari sana, Cahaya yakin, rambut klimis itu akan berubah jadi api. Dengan sekali gerakan kepalanya, ia akan mengusir Cahaya keluar. Gadis itu harus berlari menghindar sebelum terkena sambitan sulur apinya. Cahaya mendengus kesal. Mengapa juga ia sudi diplonco seperti ini. Mentang-mentang anak baru yang hanya dikontrak tiga bulan ... Lain kali ia tidak akan sudi lagi kalau dijadikan utusan seperti ini. Dan, awas kalau aku jadi bos nanti. Cahaya nanar mengingat kedua senior yang mengerjainya. Kalian orang kedua dan ketiga yang akan aku pecat setelah si gadis resepsionis. Rasanya Cahaya ingin menangis setiap mengingat perlakuan Ardian. Tapi begitu mulai bernyanyi di tempat karaoke, kekesalan di hatinya menguap entah kemana. *** “Sepertinya kita pulang kemalaman nih, Ya," seru Vivian ketika mereka keluar dari tempat karaoke. Suaranya terdengar serak. Mereka semua kehabisan suara setelah bernyanyi tadi. “Iya, Mbak. Mbak Vian pulang naik apa?“ “Taksi." “Mbak Kinar?" “Dia minta dijemput pacarnya." Cahaya hanya membulatkan mulut tanpa bersuara. “Mbak Vian berani naik taksi malam-malam begini? Sendirian pula?" Vivian tersenyum sebal. “Sebenarnya takut, Ya. Tapi mau bagaimana lagi. Tidak mungkin aku menginap di sini sampai pagi." “Nebeng sama aku saja, Mbak.“ Cahaya menawarkan diri. “Tapi rumah kita kan beda arah.“ “Tidak apa-apa. Dari pada Mbak Vian pulang sendiri." Vivian nampak berpikir lalu menemukan sebuah ide. "Kamu menginap di rumahku saja, Ya. Besok kita berangkat ke kantor bersama-sama. Kamu bisa pinjam bajuku nanti. Cahaya nampak berpikir. "Aku tidak bisa." Ia teringat Nawan yang harus tidur sendirian di rumah. "Tidak apa-apa aku antar Mbak Vian dulu, lalu pulang ke rumah." Tidak lama pacar Kinara datang menjemput. Cahaya segera mengajak Vivian ke tempat parkir untuk mengambil motor. Ia hanya membawa satu helm. Semoga saja tidak ada polisi insomnia yang iseng-iseng melakukan razia tengah malam begini. “Kamu yakin tidak mau menginap saja, Ya? Nanti kamu pulang semakin malam." Vivian membujuk lagi begitu Cahaya mulai menjalankan motornya menuju parking ticketing. “Tidak apa-apa, mbak. Aku bahkan pernah pulang lebih malam dari ini." “Oh ya?" Vivian memandang takjub pada ‘gadis kalong’ di depannya. "Memang kamu habis ngapain?" “Macam-macam. Mengerjakan tugas kelompok, pulang kerja ..." Cahaya membayar sewa parkir lalu meninggalkan kompleks tempat gedung karaoke itu berada. "Oh ya, bagaimana kamu bisa kerja di PF?" Vivian mulai menginterogasi diam-diam. Ia mendekatkan wajahnya ke bahu Cahaya. Berusaha mencari informasi. "Ditawarkan sama adiknya Pak Ardian,” sahut Cahaya dari balik helm sambil menoleh sekilas. "Kamu temannya Mas Varel? Teman apa?" Vivian takjub pada akses Cahaya terhadap keluarga bos besarnya. "Aku teman kuliahnya." Cahaya menjawab sambil memperbaiki spionnya yang miring. "Sebelumnya aku kerja jadi badut kepi di lapangan. Terus Varel menawarkan aku untuk kerja di kantor selama tiga bulan ini. Menggantikan asisten kakaknya yang cuti melahirkan." Gadis itu berbicara sambil sesekali menoleh ke belakang. Ia tahu angin menerbangkan suaranya. Cahaya masih menjalankan motor dengan santai karena belum memasuki jalan besar. Vivian yang berada di boncengan hanya menganggukkan kepala. “Memang kenapa, Mbak?“ Vivian terkesiap, lalu memperbaiki sikap. “Tidak apa-apa." Ia hanya tertawa. Mungkin Cahaya mulai menyadari interogasi terselubung yang dilakukannya. “Sepertinya Pak Ardian naksir kamu deh." Motor sempat oleng ketika melintasi polisi tidur. Vivian mengaduh pelan. “Maaf, Mbak. Tidak kelihatan.“ Cahaya tertawa. Merasakan desir aneh dalam dada. “Mbak Vian, ada-ada saja. Mana mungkin lah, Mbak, dia naksir aku.“ Vivian ikutan tertawa. “Kamu kaget sampai lupa mengerem ya?" Cahaya tertawa lagi. “Benar lho, Ya. Aku dan Kinara menebak begitu. Sikapnya terhadap kamu berbeda sekali." “Berbeda bagaimana? Ngomel-ngomelnya lebih parah, gitu?" Untuk yang satu itu Cahaya setuju sekali. Tapi Vivian berdecak gemas. “Pokoknya beda deh, Ya.“ Cahaya terdiam. Apakah itu mungkin terjadi? Seorang Ardian Amru menyukai ... Ah, Cahaya terlalu malu melanjutkan kalimatnya. “Mungkin karena aku ini teman adiknya, Mbak. Jadi dia agak sungkan." Vivian tertawa, lalu mengiyakan kemungkinan tersebut. “Ah, Mbak Vian ini, bikin aku geer saja.“ Cahaya tertawa garing. Mencoba menepiskan harapan semunya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
ceritanya sangat lah seru dn menarik
31/07
0keren
23/03
0bagus
22/03
0Lihat Semua