logo text

83. Panggilan Sayang

Ada yang bilang cemburu itu adalah tandanya cinta, tetapa jika cemburu yang berlebihan tentu saja bisa membuat cinta itu justru tersamarkan. Sikap posesif akan lebih menonjol yang berakibat cinta hanya layaknya sebuah obsesi dan nafsu belaka, dan ketulusan cinta itu seakan sirna.
Nadia menyadari perubahan sikap Gio terjadi setelah dirinya bertemu dengan Rama pada saat empat puluh hari kepergian Nabila. Dia tahu, lelaki yang berstatus sebagai suaminya itu sedang cemburu. Ada rasa tersanjung di sudut hatinya, saat mengetahui Gio terbakar api cemburu, yang menunjukkan betapa besar rasa cinta untuk dirinya. Tetapi tentu saja ada juga rasa kecewa, karena setelah sekian lama mengarungi bahtera rumah tangga, tetapi rasa percaya itu seakan belum tumbuh di hati Gio untuk dirinya.
Situasi seperti ini tentu saja tidak baik untuk rumah tangga mereka jika dibiarkan terus berlarut-larut. Nadia sangat berharap mereka bisa duduk bersama membicarakan masalah tersebut dengan hati yang tenang. Tetapi sepertinya apa yang diharapkan Nadia tidaklah mudah untuk bisa terwujud, karena setelah peristiwa itu, Gio sangat sibuk dengan pekerjaannya. Gio sering pulang malam dan lebih banyak menghabiskan waktunya di ruang kerja, selain itu Gio juga disibukkan dengan beberapa proyek yang berada di luar kota dan mengharuskannya untuk mengecek langsung ke lapangan.
Nadia meraih ponsel dan tas jinjing yang berada di depannya. Hari ini dia akan ke ruko untuk mengecek laporan keuangan dan pengiriman order yang sudah menumpuk. Mungkin dengan menyibukkan diri mengelola toko onlinenya yang semakin berkembang, Nadia bisa melupakan masalahnya sejenak.
Nadia hanya bisa berdoa, memasrahkannya pada Yang Kuasa, semoga segera diberi petunjuk jalan keluar dari segala masalah yang sedang mendera.
***
Ada sesal dan rasa bersalah dalam diri Gio, seharusnya dia segera menyelesaikan masalah pada saat itu juga. Bukan diam dan mengacuhkan istrinya, seharusnya Gio mengajak bicara Nadia dari hati ke hati untuk mendapatkan penjelasan, bukan hanya menebak-nebak hingga dia tenggelam dalam kubangan rasa cemburu yang menyiksanya.
Selama bekerja pun Gio terus kepikiran dengan masalah yang sedang mendera. Dirinya yang tidak bisa fokus pada pekerjaan hingga berakibat pada banyak pekerjaan yang tertunda dan dia serahkan pada asistennya. Tentu hal ini bukan sesuatu yang bagus jika terus dibiarkan saja. Gio bertekad untuk segera menyelesaikan masalah ini dengan Nadia, nanti setelah pulang kerja. Gio tidak ingin rumah tangganya hancur, kini dia sudah sangat merindukan kehangatan rumah tangga bersama Nadia.
Keberuntungan sepertinya belum berpihak pada Gio, saat dirinya ingin pulang lebih awal agar bisa menyelesaikan masalah dengan istrinya, tiba-tiba Satria Argawinata menghubunginya untuk melakukan pertemuan, membicarakan perkembangan proyek yang di Semarang.
Di kantor Satria, dua pengusaha muda itu duduk saling berhadapan. Setelah Satria memberikan laporan perkembangan proyek, dia mengungkapkan rencananya untuk melakukan ekspansi ke beberapa kabupaten dan kota di Jawa Tengah. Satria pun berharap hubungan kerjasama mereka bisa berlanjut pada proyek-proyek berikutnya.
Bukan hanya tentang proyek, mereka pun memperbincangkan urusan rumah tangga mereka, hubungan mereka dengan istri mereka masing-masing. Satria bercerita tentang hubungan jarak jauh yang harus dia jalani dengan istrinya yang masih kuliah di Semarang. Tentunya Gio masih menjaga privasinya dengan tidak menceritakan masalah yang sedang dia hadapi saat ini. Dia lebih memilih menceritakan usaha online yang ditekuni Nadia hingga saat ini.
Tanpa terasa waktu terus bergulir, dan kini waktu sudah malam. Gio baru sadar, tentu saja Satria bisa menghabiskan waktu di luar sesuka hatinya, karena tak ada istri yang menunggunya di rumah. Berbeda dengan dirinya, saat ini Nadia pasti sudah menunggunya di rumah, dan Gio hanya bisa mencaci dirinya dalam hati, betapa bodoh dirinya yang tidak memberi kabar pada Nadia jika dia akan pulang terlambat lagi.
***
Menunggu memang merupakan kegiatan yang sangat membosankan, apalagi jika harus menunggu suami yang pulang terlambat. Ada rasa lelah, cemburu, dan curiga yang tidak menentu. Apalagi saat ini, jam di kamar Nadia sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam, tetapi sosok yang dari tadi ditunggu-tunggu belum datang juga. Nadia duduk sambil menyeka air mata yang sesekali menetes membasahi pipinya.
Karena rasa lelah yang mendera, Nadia bergegas menyimpan benda yang sejak tadi berada di dalam genggamannya ke dalam laci meja riasnya. Nadia bangkit dari duduknya hendak melangkahkan kaki menuju ke ranjang tidur untuk merebahkan tubuhnya. Tiba-tiba pintu terbuka, dan munculkan Gio dari balik pintu dengan tampang yang kusut. Nadia tetap berusaha menjadi istri yang baik bagi Gio, dia segera menghampiri suaminya tersebut untuk mencium punggung tangan sebagai bentuk penghormatan, lalu diraihnya tas kerja kemudian diletakkan di atas meja.
Saat Nadia membalikkan tubuhnya untuk membantu suaminya melepas sepatu dan pakaian kerjanya, ternyata Gio masih bergeming di posisinya sedari tadi. Berdiri memperhatikan istrinya. Gio melangkah perlahan menghampiri Nadia, lalu dia merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukannya, sambil memejamkan mata diciumnya pucuk kepala sang istri.
"Maaf."
Satu kata lolos dari bibir Gio. Satu kata yang justru mengusik hati Nadia, kesalahan apa yang dilakukan oleh Gio hingga dia harus mengucapkan kata maaf? Apa karena telah mengabaikannya? Atau ada kesalahan yang lain yang mungkin lebih besar telah dia lakukan di luar sana?
"Bersihkanlah dulu dirimu, nanti kita bicarakan berdua." Nadia berusaha tetap tenang, dia tidak ingin pikirannya dijejali dengan prasangka.
Tak butuh waktu yang lama, Gio sudah keluar dari kamar mandi. Rambutnya yang sudah terpangkas rapi tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mengeringkannya. Kini dia sudah mengenakan celana training dan kaos oblong yang sudah disiapkan oleh Nadia.
Sesaat pasangan muda itu saling bertukar pandang, tampak ada rasa canggung dan gugup. Gio melangkah menuju ke ranjang lalu membaringkang tubuhnya dengan siku tangannya menjadi tumpuan, sedangkan tanganya yang bebas dia ulurkan kepada istrinya. Nadia meraih tangan Gio, kemudian menyusul berbaring di sampingnya hingga mereka saling berpandangan.
"Aku cemburu," ucap Gio lirih, sambil merapikan anak rambut Nadia dan menyelipkannya ke belakang telinga.
Nadia memalingkan mukanya, yang terjadi seperti apa yang sudah dia duga. Gio meraih dagu Nadia hingga mereka kembali saling berhadapan.
"Aku takut kau akan berpaling pada pria yang lain."
"Serendah itu aku di matamu?" ucap Nadia dibarengi dengan keluarnya bulir bening dari sudut matanya.
Nadia merubah posisinya menjadi miring membelakangi Gio, sambil menyeka air matanya. Gio segera melingkarkan tangannya ke pinggang Nadia, agar istrinya tidak menjauh dari dirinya.
"Telingaku terasa panas saat mendengar kau memanggil mas pada Rama dengan begitu mesra."
"Kapan?" tanya Nadia dengan nada tinggi memotong pembicaraan Gio. Nadia kembali ke posisi semula, menatap tajam ke arah Gio.
"Waktu di rumah Bapak, berulang kali kau memanggilnya mas dengan begitu mesranya, Rama itu hanya mantan, tapi kau punya panggilan sayang untuknya."
Setahu Nadia, mas adalah panggilan yang sangat biasa diberikan untuk seorang laki-laki, dan itu bukanlah sebuah panggilan sayang baginya, hanya sebagai bentuk penghormatan pada Rama yang usianya memang di atasnya dan selain dia adalah mantan suaminya, Rama juga pernah menikah dengan Nabila, kakaknya. Jadi bagi Nadia adalah hal yang sangat wajar jika dia memanggil Rama dengan embel-embel Mas di depannya.
"Sedangkan aku, suamimu. Sekian lama kita menikah kau hanya memanggilku Gio, Gio, Gio, tak ada panggilan sayang untukku."
Awalnya Gio tidak mempermasalahkan panggilan dari istrinya, karena selama tinggal di luar negeri adalah hal yang sudah biasa sepasang suami istri hanya menyebut nama saat mereka saling memanggil. Tetapi hati Gio terusik sejak dia mendengar Nadia memanggil Rama dengan sebutan Mas. Seperti Handa yang memangil Satria dengan Mas yang terdengar begitu mendayu dan seperti dibarengi dengan desahan.
"Panggilan sayang?" tanya Nadia, seolah tidak percaya dengan sikap berlebihan suaminya itu. Sejujurnya dia ingin tertawa keras dengan tingkah Gio yang seperti ABG labil tersebut.
Nadia merubah posisinya menjadi duduk, dan Gio pun mengikutinya. "Kita bukan ABG lagi, Gio," ucap Nadia sambil membelai lembut rahang keras Gio.
Sepertinya Nadia sengaja menggoda Gio, sampai-sampai suaminya itu memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut tangan Nadia yang sudah sangat dia rindukan.
"Kalau pun ada panggilan sayang, aku rasa panggilan Mas sudah tidak pantas untukmu." Nadia mengakhiri ucapannya dengan mengecup singkat bibir Gio, lalu dia bergegas berdiri meninggalkan Gio.
Nadia melangkah menuju ke meja riasnya, tampak tangannya telah mengeluarkan sesuatu dari laci meja.
"Terus, maunya panggilan sayang apa? Bapak?" ucap Nadia membelakangi Gio dan tampak asyik sendiri di depan cermin.
Gio tersenyum sendiri karena teringat awal pertemuan mereka, saat Nadia masih memanggilnya Pak Gio, yang terdengar sangat formal. Kala itu Nadia tak berani menatapnya, dan hanya sesekali curi pandang dengan wajah yang merona karena godaannya,
"Kau istriku, kenapa harus panggilan seformil itu?"
"Kalau tidak suka, mungkin bisa papa atau daddy?" lanjut Nadia dengan nada manja.
Gio segera berdiri lalu melangkah menuju ke tempat istrinya berada, Gio terusik dengan benda pipih yang kini berada di tangan istrinya. Gio berdiri di belakang istrinya, seakan tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.
"Sungguh?"
Anggukan kepala istrinya membuat Gio tersenyum lebar seolah kehabisan kata untuk menggambarkan kebahagiannya.
"Ijinkan aku menyapanya." Gio segera membimbing Nadia kembali ke ranjang mereka.
"Apa maksudnya, Gio?" Nadia menyesal telah menggoda suaminya, ada sedikit kekhawatiran yang tiba-tiba menyergapnya.
"Aku akan menyapanya dengan lembut," ucap Gio, sebelum dia mendaratkan bibirnya menyatu dengan Nadia.

Komentar Buku (329)

  • avatar
    WindrianiKartika

    iiiihhhhh..... seru.... mo cari tau alasan kenapa orang tua nya ngelakuin itu. kalo memang saling mencintai kenapa nikah sahnya ama Nadia. kenapa gak dari awal aja sama Nabila. pengen liat mereka pada nyesel. semangat terus wahai penulis^^

    17/03/2022

      1
  • avatar
    NailiLitsa

    sumpah seru bangget novelnya seru

    10/04

      0
  • avatar
    Annaznissa

    menarik cerita nya

    24/02

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru