logo text

85. Tujuh Bulan

Bersyukur, tak ada yang lain selain bersyukur atas segala anugerah dan kebahagian yang mereka dapatkan. Kehamilan yang ditunggu-tunggu pun berjalan dengan lancar, Nadia dan janinnya dalam keadaan sehat. Setiap pulang dari kontrol kandungan wajah yang dipenuhi rona bahagia seakan terus melekat pada pasangan yang sebentar lagi akan menjadi orang tua.
Di awal-awal masa kehamilan, Nadia masih bisa turut mengelola Miraishop untuk mengisi waktu menunggu Gio pulang dari kantor. Barulah setelah memasuki bulan ke enam, Nadia istirahat di rumah, meskipun sering merasa bosan, tetapi Nadia tidak berani membantah perintah suaminya tersebut. Gio sering meluangkan waktu pulang, sekedar untuk makan siang bersama Nadia, dia ingin memastikan jika Nadia benar-benar mendapat asupan gizi yang baik selama kehamilan.
Jika biasanya Gio lari pagi sendiri, kini dia lebih sering olah raga pagi menemani Nadia jalan-jalan keliling taman di kompleks. Tak sia-sia Gio memberikan dana pada Pak RT untuk merenovasi taman, hingga kini menjadi taman yang indah dan ramah bagi anak-anak dan wanita. Selain itu ada banyak pedagang kaki lima yang bisa mengais rejeki di sana. Harga dari informasi yang diberikan oleh Pak RT, keutuhan rumah tangganya dan juga kebahagiaan banyak orang yang menikmati suasana taman tersebut.
Perusahaan yang dipimpin Gio pun menunjukkan perkembangan yang sangat menggembirakan. Hampir semua proyek berjalan dengan lancar, jika ada masalah, itu pun bisa segera Gio tangani, meskipun harus meninggalkan Nadia ke luar kota, atau bahkan ke luar negeri.
"Berapa hari di sana?" tanya Nadia dengan wajah yang terlihat lesu, saat dia menata pakaian yang akan dibawa Gio dalam perjalanan bisnisnya.
"Kurang lebih satu minggu," jawab Gio.
Gio tahu jika Nadia sebenarnya tidak ingin dia tinggalkan, sama seperti dirinya yang sebenarnya juga merasa berat untuk meninggalkan sang istri yang sedang hamil tersebut. Apalagi perutnya yang membuncit membuat pergerakannya tak leluasa dan selincah dulu.
"Acara tujuh bulanan nanti sudah bisa di rumah kan?"
Pertanyaan yang Nadia lontarkan lebih terdengar seperti sindiran bagi Gio. Akhir-akhirnya ini dia memang lebih sering lembur dan harus keluar kota. Nadia kadang sangat pengertian dengan kesibukan Gio, bahkan dengan bijak dia bisa berkata bahwa semua itu rejeki anak yang sedang dikandungnya. Tetapi kadang muncul sikap manjanya, hingga dia merajuk dan tak ingin pisah dari Gio. Mungkin semua itu pengaruh hormon kehamilan yang membuat mood Nadia berubah secara tiba-tiba.
"Kalau urusannya belum selesai, apa acara tujuh bulanannya bisa diundur?"
Nadia mendengkus kesal saat mendengar pertanyaan dari Gio. "Nanti waktu kontrol, mungkin bisa ditanyakan pada dokter, kalau aku sudah kontraksi, terus kamu masih sibuk, lahirannya bisa diundur atau tidak?"
Meskipun membandingkan acara tujuh bulanan dan proses kelahiran tidaklah apple to apple, tepati Gio sudah menangkap maksud dari Nadia. Istrinya yang sedang mengandung buah hati mereka ingin mendapat perhatian yang lebih dan tak ingin berpisah jauh dalam waktu yang lama dengan suaminya. Gio memeluk Nadia dari belakang dan mengusap lembut perut sang istri. Dilihatnya pakaian yang tak seberapa itu dari tadi belum beras juga. Mungkin mood Nadia sedang tidak baik sehingga pekerjaan ringan yang biasanya bisa dia selesaikan dalam waktu singkat, kini menjadi lama.
"Setelah ini, aku akan mengatur ulang jadwalku, mungkin seminggu atau sebulan sebelum HPL aku akan cuti," ucapan Gio berhasil membuat senyum merekah di bibir Nadia.
"Sebulan." Singkat Nadia berucap, dia yang mengambil keputusan dan berharap Gio tak membantahnya.
"Baik, satu bulan sebelum HPL." Gio segera menuruti permintaan Nadia, dia tak ingin berdebat lagi, Gio tak ingin kepergiannya kali ini harus diiringi dengan wajah masam sang istri. "Dia, kamu tidak pernah meminta sesuatu, kamu tidak ngidam?"
Nadia terdiam, mengingat moment-moment selama kehamilan. Hanya bahagia yang dia rasa selama menanti kelahiran anaknya. Mual dan muntah yang biasanya terjadi pada wanita hamil pun tak mengganggu Nadia, karena hanya terjadi saat dia mencium bau tertentu yang sangat menyengat saja. Tak ada kendala yang berarti, jika lebih cepat lelah, itu adalah hal yang biasa pada wanita hamil. Nadia membalikkan tubuhnya, dipandanginya lelaki yang telah menanam benih di rahimnya itu, sambil mengusap lembut rahang suaminya.
"Mungkin melalui dirimu, Tuhan telah mencukupkan segala. Hanya kehadiranmu yang aku idam-idamkan, hingga tak ada ngidam yang lainnya."
Kalimat yang terlontar dari bibir Nadia seperti kata-kaya bijak yang menenangkan hati Gio. Tetapi juga terdengar layaknya sebuah gombalan yang membuat melayang, dan terasa semakin berat meninggalkan istrinya.
"Seandainya semua urusan bisa diwakilkan, tentu aku akan memilih untuk menghabiskan waktu bersama kalian."
Gio segera menyingkirkan pakaiannya yang hendak Nadia tata untuk dibawa ke luar kota dari atas ranjang mereka.
"Nanti biar aku tata sendiri."
"Maaf, akan aku bereskan segera," ucap Nadia penuh rasa bersalah, dia berusaha meraih kembali pakaian-pakaian Gio. Tetapi Gio menggelengkan kepala dan menjauhkan dari jangkauan Nadia, apalagi dengan perut buncitnya membuatnya kesulitan meraihnya dari tangan Gio.
"Sebelum berangkat, aku ingin menyapa anak kita dulu, mau pesan, jangan nakal, dan jagain bunda selama ayah pergi!"
Nadia tersenyum sambil memukul manja dada bidang Gio. Dengan lembut Gio menyatukan bibirnya, lalu berlanjut dengan sentuhan-sentuhan halal yang membuat pasangan suami istri itu menikmati panasnya surga dunia.
***
Gio merasa beruntung karena kali ini tidak berurusan dengan Satria Argawinata, yang biasa menunda-nunda pekerjaan. Gio bersyukur urusan yang membuat dia harus meninggalkan rumah bisa berjalan lancar hingga dia bisa kembali dalam waktu yang lebih cepat dari yang diperkirakan.
Karena tidak tahu apa saja yang dibutuhkan untuk acara tujuh bulanan, Nadia dan Gio mempercayakan semuanya pada Noorma. Tak ingin berlebihan, karena Noorma tak ingin Nadia menjadi kelelahan jika acara terlalu bertele-tele. Acara tujuh bulanan hanya mengundang beberapa santri dan tetangga untuk membacakan doa-doa dan sholawatan. Lalu dilanjutkan dengan siraman rohani berupa nasihat dan petuah dari uztaz yang biasanya menjadi imam masjid di perumahan tempat tinggal Nadia dan Gio.
Acara yang sederhana, sebagai ungkapan rasa syukur atas karunia yang telah mereka terima, dan juga untuk menyambung silaturahim dengan para tetangga di sekitar mereka. Karena tidak bisa dipungkiri, tetangga merupakan saudara jauh yang berada di dekat kita. Setelah seluruh rangkaian acara sudah terlaksana dengan lancar, para tamu undangan pun pulang dengan membawa bingkisan sebagai kenang-kenangan dan ucapan terima kasih karena telah turut mendoakan.
***
Acara telah usai, dan malam telah larut. Karena merasa tak tega akhirnya Gio mengantar Helena dan Hanna beserta Alta kembali ke rumah Helena. Supir yang biasanya mengantar kemanapun Helena pergi, hari ini ijin tidak bekerja karena sakit. Sedangkan Pak Selamet mengantarkan Permadi dan Yunita, yang datang dengan taksi online karena mobil tua mereka harus masuk bengkel lagi.
Helena duduk di seat depan di samping putranya. Selama perjalanan Gio dan Helena mengisi waktu dengan obrolan ringan. Sambil berbincang Helena memperhatikan sang putra yang tampak sedang fokus mengemudikan mobilnya, tidak ada yang perlu dia curigai dari setiap tindak tanduk Gio. Tetapi saat Helena menatap spion tengah untuk bisa melihat Hanna yang duduk di seat belakang sambil memangku Alta yang sudah tertidur pulas, ada rasa takut dan bersalah, wanita yang telah melahirkan cucunya tersebut sering mencuri pandang untuk bisa memperhatikan Gio.
Setelah menempuh perjalanan, akhirnya mereka telah tiba di tempat yang mereka tuju yaitu rumah Helena. Setelah mobil terparkir sempurna, dalam waktu yang hampir bersamaan tiga pintu terbuka. Gio dan Helena segera keluar dari mobil, tetapi Hanna tampak kerepotan karena Alta yang tertidur di pangkuannya, dengan sigap Gio menggendong Alta dan segera melangkah memasuki rumah bersama dengan Helena.
Tiba di depan pintu kamar, Hanna bergegas membukanya agar Gio bisa segera menidurkan Alta dengan nyaman di tempat tidurnya. Setelah menidurkan Alta dan merapikan selimutnya, Gio pun segera pamitan untuk kembali ke rumahnya. Helena mengantar putra sampai di teras rumah.
"Setelah Nadia melahirkan, boleh Mama tinggal bersama kalian?" Helena menjeda kalimatnya menatap tajam mata putranya. "Mama akan menyerahkan rumah dan saham mama untuk Alta, agar kamu bisa fokus pada keluargamu, dan tidak harus terus dihantui rasa bersalah pada Hanna. Karena memang bukan kamu yang salah."
"Kalau masalah Mama yang ingin tinggal bersama kami, pintu rumah kami akan selalu terbuka untuk Mama," ucap Gio dengan senyum yang menghiasi bibirnya. "Tetapi, untuk masalah Hanna, kita tidak bisa lepas tanggung jawab begitu saja, atas apa yang pernah Leo lakukan pada Hanna."
"Mama tahu, apa pun yang akan kamu lakukan, Mama harap itu tidak akan menghancurkan rumah tanggamu."
Gio menganggukkan kepala sambil tersenyum meyakinkan sang mama. "Percaya sama Gio, Ma! Gio akan berusaha melakukan yang terbaik untuk kita semua, terutama untuk Alta, satu-satunya peninggalan Leo."
Helena menghambur ke pelukan putranya. Setelah semua pengabaian yang dia lakukan selama ini, Gio tetap menyayanginya dan tidak menyimpan dendam padanya. Bulir-bulir bening menetes mengiringi rasa sesal yang menyesakkan dada Helena.
"Pulanglah! Hati-hati di jalan, anak dan istrinya menunggumu di rumah!" ucap Helena, mengurai pelukannya dari sang putra.
Gio bergegas memasuki mobilnya, terdengar bunyi klakson mobil dan disambut dengan lambaian tangan Helena. Mobil Gio pun segera melaju meninggalkan rumah Helena.
Setelah mobil Gio hilang dari pandangannya, Helena bergegas memasuki rumah. Helena melihat Hanna yang melangkah menaiki tangga, sepertinya Hanna baru saja mengambil minum untuk persediaannya di kamar karena terlihat tangan kanannya membawa tumbler berisi air putih.
"Hanna!" panggil Helena dengan tegas.
"Ya, Ma," sahut Hanna, dengan perlahan dia kembali menuruni anak tangga untuk mensejajarkan dirinya dengan Helena, sebagai bentuk penghormatan pada orang yang lebih tua.
"Maafkan Mama! Karena pernah menumbuhkan harapan padamu. Mama mohon! Jangan pernah berharap lebih pada Gio! Dia sudah bahagia bersama Nadia, sebentar lagi anak mereka akan lahir. Seperti kau memanggilnya, anggaplah Gio sebagai kakakmu sendiri! Jangan pernah berharap menjadi pendamping Gio, untuk mengantikan posisi Nadia, karena akulah orang pertama yang akan menjadi penghalangmu."
Hanna meneteskan air mata mendengar semua kata-kata yang terlontar dari bibir Helena. Meskipun suaranya terdengar lembut, tetapi nadanya cukup tegas terdengar seperti sebuah peringatan yang tak bisa dia abaikan begitu saja.

Komentar Buku (329)

  • avatar
    WindrianiKartika

    iiiihhhhh..... seru.... mo cari tau alasan kenapa orang tua nya ngelakuin itu. kalo memang saling mencintai kenapa nikah sahnya ama Nadia. kenapa gak dari awal aja sama Nabila. pengen liat mereka pada nyesel. semangat terus wahai penulis^^

    17/03/2022

      1
  • avatar
    NailiLitsa

    sumpah seru bangget novelnya seru

    10/04

      0
  • avatar
    Annaznissa

    menarik cerita nya

    24/02

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru