"Huftt ... Kok gua deg-degan gini, ya?" tanya Cinta pada pantulan cermin besar di depannya. Sudah beberapa kali Cinta merapikan penampilannya sedari tadi, ia bahkan khawatir jikalau dress hitamnya kusut saat di mobil nanti. Ajakan makan malam Argantara sudah disetujui oleh Erdinan, Argantara rupanya sudah memesan salah satu restoran ternama di Jakarta entah sejak kapan. Namun, ada hal yang Cinta khawatirkan saat ini. Apakah Gilang akan senantiasa hadir? Mengingat hubungannya dengan Argantara begitu buruk, bisakah laki-laki itu menurunkan egonya hanya untuk malam ini? Suara ketukan di pintu kamar menyadarkan Cinta dari lamunannya, rupanya sang ibu datang berniat menjemputnya. "Eh, cantiknya anakku. Ayo dong turun kalau udah siap, ayah lagi manasin mobil," ucap Anita menatap putrinya dengan lembut. Cinta menganggukan kepalanya sambil tersenyum, semoga saja raut wajah khawatirnya tidak terlihat oleh Anita. Ketika menginjakkan kaki di tangga, langkah Cinta berhenti sejenak sampai Anita pun ikut terhenti. "Kenapa?" tanya Anita terlihat kebingungan. "Kak Rangga gak ikut?" tanya Cinta menatap Anita. "Oh ... itu, iya kakak kamu gak ikut. Katanya ada acara," jawab Anita mencoba mengingat. "Pfftt ... Alesan," gumam Cinta sambil memalingkan wajahnya, rasa kesalnya langsung terpampang jelas di wajahnya. Anita menyadari perubahan wajah anak bungsunya, ia merangkul pundak Cinta kembali menuntunnya pelan menuruni anak tangga yang sempat terjeda. Tempat yang mereka tuju tidak terlalu jauh dari rumah, dalam kurun waktu 10 menit pun sudah sampai lantaran tidak terjebak macet. Begitu sampai di restoran yang dijanjikan, rupanya Argantara sudah sampai lebih dulu. Argantara segera bangkit dari duduknya menyambut kedatangan keluarga Erdinan. "Selamat malam, Pak Erdinan. Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk hadir menerima undangan saya." "Tidak usah seperti itu, lagipula kebetulan jadwal saya sedang kosong hari ini," balas Erdinan membalas sambutannya ramah. Argantara menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu, silakan duduk." Setelah keluarga Erdinan menempati tempat duduknya, seorang pelayan datang membawakan daftar buku menu. Tidak perlu waktu lama bagi mereka untuk memesan beberapa menu makan malam. Sementara yang lainnya tengah bercakap-cakap, Cinta terus membuka ponselnya beberapa kali berharap mendapat balasan dari Gilang. Sejak sore Gilang menghilang entah kemana, apa mungkin laki-laki itu ketiduran? 'Gilang datang gak, ya?' gumam Cinta. Suara deheman Erdinan menyadarkan Cinta dari lamunannya, apa ayahnya bisa membaca raut wajah gelisahnya? "Ngomong-ngomong kemana Gilang? Apa dia tidak ikut makan malam?" tanya Erdinan seakan membaca pikiran Cinta. "Dia sedang dalam perjalanan, mungkin terjebak macet pak," balas Argantara berbohong sambil memasang wajah tenang, ia jelas tidak tahu apakah anaknya itu akan datang atau tidak. Meskipun Argantara terlihat biasa saja, Cinta tahu pria paruh baya itu sedang gusar. Cinta memaklumi apabila Gilang tidak mau hadir karena ia tahu pasti ayahnya itu sedang merencanakan sesuatu, kegusaran Argantara sudah pasti lantaran takut rencananya tidak berjalan entah apa. Sudah 10 menit berlalu dan tidak ada tanda-tanda kedatangan Gilang, sepertinya dia memang tidak datang. Makanan juga sudah tersedia di meja, Argantara menghela napas panjang berusaha tenang lantaran anaknya belum juga tiba. Argantara kembali memasang wajah tersenyum untuk mencairkan suasana. "Sepertinya Gilang ada kendala untuk hadir malam hari ini, jadi kita mulai saj–" "Maaf, saya datang terlambat." Kedatangan Gilang cukup mengejutkan Argantara dan Cinta, terlebih lagi ia terlihat rapi dengan pakaian kemejanya yang formal. "Akhirnya kamu datang juga Gilang, saya sudah menunggu kamu daritadi," kata Erdinan. "Maaf ya, Om, Tante," ucap Gilang. "Tidak apa-apa, ayo langsung makan saja sebelum dingin," balas Anita. Gilang menempatkan dirinya tepat di sebelah Cinta, gadis itu masih memasang wajah terkejut tanpa memalingkan tatapannya. "Kenapa?" tanya Gilang menatap Cinta. "Hm? Gak, gak apa-apa," balas Cinta. "Lu terpesona sama gua?" ledek Gilang. Cinta langsung melemparinya tatapan tajam, bagaimana kalau sampai terdengar oleh kedua orang tuanya? Rasanya malu setengah mati. Melihat kedatangan anaknya membuat Argantara tersenyum senang, selain karena acara makan malamnya tidak berantakan, ada hal lain yang tengah ia rencanakan juga. Acara makan malam akhirnya digelar, namun Argantara tentunya tidak akan menjadikan ini acara makan malam biasa. "Pak Erdinan, menurutmu Gilang orangnya seperti apa?" tanya Argantara tidak langsung basa-basi. "Anakmu baik, sopan, dan juga pintar. Masa depannya juga berpotensi bagus terlebih lagi jiga perusahaanmu dilanjutkan olehnya," balas Erdinan. "Iya, Gilang memang anak yang baik. Tapi sayang sekali dia tidak menempuh pendidikan di bidang management," komentar Argantara, dia memang sejak awal tidak setuju Gilang menempuh pendidikan di bidang sains. "Aku dengar Gilang masuk kelas 11 MIPA 1 bukan?" tanya Erdinan pada Gilang. "Iya, Om," jawab Gilang. Erdinan menganggukan kepalanya bangga. "Itu sudah cukup baik Gilang." "Terima kasih, Om," balas Gilang, rasanya senang disanjung seperti itu terlebih lagi oleh calon mertua. "Ngomong-ngomong karena kita sudah mengenal satu sama lain dan anak-anak kita juga sudah saling mengenal, bagaimana kalau kita jalin hubungan yang lebih serius, Pak Erdinan?" tanya Argantara. Penyataan Argantara yang tiba-tiba membuat semuanya terkejut, berbeda dengan Argantara yang terlihat santai seperti sudah tahu reaksi yang akan mereka keluarkan seperti apa. "Jalin hubungan serius maksudnya bagaimana, Pak Argantara?" tanya Anita mencoba mendapat penjelasan. "Jadi begini ... Sekarang kita sudah menjalin kerja sama beberapa bulan terakhir dan sejauh ini berjalan dengan baik, kan? Apa tidak sebaiknya jalin kerja sama kita berlanjut saja dan menjadikan perusahaan ini semakin naik? Saya rasa itu baik untuk kita semua. Bagaimana?" balas Argantara memantapkan rencananya. Erdinan terlihat berpikir sebelum membalas ucapan Argantara tawarannya memang tidak terlalu buruk, terlebih lagi Cinta juga sepertinya tidak keberatan bila dijodohkan dengan Gilang. Berbeda dengan Gilang yang tidak suka dengan obrolan ini, karena ia tahu jika Argantara hanya memanfaatkan kekuasaan Erdinan saja dan berniat 'bermain' dengan perusahaannya. Berjodoh dengan Cinta memanglah hal yang diinginkan oleh Gilang, tapi dia juga tidak ingin hal tersebut dimanfaatkan terlebih lagi oleh Argantara. "Saya rasa itu tawaran yang tidak terlalu buruk, tapi sepertinya masih terlalu buru-buru sampai menjodohkan Cinta dan Gilang sekarang. Mereka juga masih harus menempuh pendidikan untuk memantapkan diri," ucap Erdinan lalu meneguk minumannya. "Oh, iya, tentu saja Pak Erdinan, saya hanya mengeluarkan pendapat saja," balas Argantara sedikit kikuk. Jawaban Erdinan sedikit menenangkan Gilang, pasalnya jawaban itu berada di tengah-tengah. Setidaknya Erdinan tidak langsung mengiyakan ajakan Argantara. "Gilang?" panggil Erdinan. "Iya, Om?" balas Gilang. Erdinan melemparkan tatapan yang serius berbeda dengan sebelumnya, meski mimik wajahnya terlihat tenang namun itu cukup membuat Gilang sedikit merinding. "Tapi saya harap kamu dan Cinta bisa seterusnya bersama, karena saya sudah menaruh kepercayaan sama kamu.".
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus boss
30/06
0keren bingit iima
05/01
0keren!!!
08/12
0Lihat Semua